Spread the love

Pembangunan yang sesuai dengan keinginan masyarakat memerlukan strategi komunikasi yang diawali dengan manajemen sistem informasi untuk menyampaikan pesan dan mendorong partisipasi warga masyarakat.

Internet dan media sosial (medsos) berperan penting dalam strategi komunikasi itu. Dua instrumen komunikasi ini digunakan secara umum. Hampir semua  pengguna internet juga menggunakan medsos.

Kaplan dan Haenlein, seperti yang dikutip dari Wikipedia,  mendefinisikan medsos sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang terbangun atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0—memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content (isi pesan yang dibuat oleh pengguna).

Pesan itu, dapat dipublikasi melalui akun personal. Satu orang bisa mempunyai banyak akun untuk mengakses berbagai situs media sosial.

Dengan demikian, Kaplan dan Haenlein melihat peran medsos yang sangat luas. Media sosial merupakan pilihan praktis dalam menyampaikan dan menerima informasi antar pengguna. Yang penting adalah menyadarkan pengguna untuk memetik manfaat optimal medsos dalam memenuhi  kebutuhan informasi personal atau kelompok.

Kehadiran  internet  yang kini diakses 171,18 juta jiwa di Indonesia memang sangat efektif menjembatani komunikasi dengan cara yang luar biasa.

Kini, mengundang rapat, diskusi dan pembicaraan apa saja dilakukan melalui forum online sehingga dapat menciptakan efisiensi luar biasa. Belum lagi kemampuan menjangkau audiens. Media sosial memungkinkan satu kali memasang informasi untuk dibaca ribuan orang dalam hitungan detik.

Semakin mudahnya fasilitas untuk mengakses internet membuat perkembangan media sosial sangat pesat, bahkan banyak orang yang memanfaatkan media yang satu ini untuk keperluan pribadi dan lainnya.

Pemanfaatan teknologi informasi, khususnya media sosial dalam penyebaran informasi publik menjadi salah satu terobosan yang sangat populer saat ini, karena sifatnya cepat, mudah dan tepat waktu.

Dalam kaitan dengan pembangunan, medsos dapat memiliki beberapa fungsi; 1) menjadi sarana yang sangat baik untuk menyampaikan pesan pembangunan; 2) menumbuhkan partisipasi warga dalam program pembangunan.

Sementara penggunaannya sudah menjangkau berbagai lapisan masyarakat, medsos masih kurang dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah dalam perencanaan dan pelaksanaan pembanguan. 

Padahal, medsos dapat menjadi salah satu sarana untuk mempercepat pembangunan, menyederhanakan proses alur birokrasi, dan yang paling penting penggunaan medsos akan membentuk masyarakat informatif.

Medsos dan Partisipasi Warga

Media sosial adalah alat yang efektif membangun partisipasi warga desa. Medsos yang disebut juga dengan media pertemanan bisa menciptakan persepsi baru bagi warga desa.

Persepsi baru yang menciptakan ketertarikan dan keterlibatan dalam mengikuti perkembangan desanya. Beberapa desa kini telah ‘moncer’ di tingkat nasional karena keberhasilan menggenjot pembangunan desa.

Salah satu faktor di balik keberhasilan itu adalah karena desa-desa tersebut sukses mendorong kesadaran dan partisipasi warga.

Contoh kasus, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Para perangkat desa di desa ini  rajin mengunggah setiap kegiatan desa di dalam laman media sosialnya. Selain lewat  website resmi desa,  para perangkat  menyebarkan setiap perkembangan di sudut-sudut desanya melalui media sosial.

Dampaknya masyarakat menjadi paham apa yang sedang terjadi di desanya dan tertarik mengikuti setiap info yang ada. Desa ini bahkan menggunakan siaran radio komunitas untuk memaksimalkan komunikasi massa.

Hal yang sama terjadi di Desa Panggungharjo. Pemenang Desa Terbaik se-Indonesia ini bahkan memiliki beberapa akun media sosial yang khusus menyiarkan berbagai kegiatan desa secara intens.  Bukan sekadar “say hell”’ saja tetapi media sosial itu dijadikan alat komunikasi secara efektif efisien.

Misalnya, ketika sedang membangun embung desa, akun facebook desa ini membuat semacam angket online untuk menanyakan pada warganya, apa saja yang seharusnya dikembangkan di embung itu. Hanya dalam hitungan menit beragam jawaban muncul di dalam kolom komentar tanpa harus melakukan kegiatan rapat warga di kantor desa.

Aktivitas mengunggah ini tak hanya mujarab menarik warga desa untuk aktif mengikuti perkembangan desa,  melainkan juga menjadi semacam media promosi bagi desanya pada dunia luar.

Setiap kegiatan yang diunggah para admin, selalu muncul komentar positif dari para tokoh di luar desa. Para tokoh ini umumnya memberi dukungan dan merasa selalu terinspirasi oleh langkah-langkah inovatif yang dilakukan desa pemilik akun.

Medsos dan Pembangunan Desa di Flores

Dalam lima tahun terakhir,   media internet telah menjangkau desa-desa di pelosok  Flores. Dapat dikatakan  bahwa warga desa di Flores sudah sangat siap berpartisipasi aktif melalui media sosial untuk membangun desanya.

Pembangunan yang dimaksud bukan hanya dalam soal fisik, tetapi kritik dan input gagasan yang disampaikan kepada aparat desa.  Input itu dapat disampaikan secara timbal balik melalui media sosial.

Baca Juga: Membangun Pariwisata Model CBT di Flores

Warga menyampaikan kritik dan input melalui medsos. Aparat desa mempublikasi rencana, program, pelaksanaan dan hasil melalui medsos juga.

Satu kasus yang dapat mengindikasikan kesiapan penggunaan medsos dalam pembangunan desa di Flores adalah keberhasilan pemasaran produk komestik.  Medsos berada di balik keberhasilan bisnis jejaring seperti HWI dan Oriflame.

Dua bisnis ini menjamur di kalangan ibu-ibu pelosok desa di Flores saat ini. HWI dan Oriflame berhasil membangun jaringan pemasaran melalui ibu-ibu rumah tangga dan pemuda-pemudi desa.

Jejaring bisnis dikembangkan dengan cara promosi dan diskusi di sosial media facebook. Image Flores sebagai pasar dengan daya beli rendah  mampu dipatahkan oleh keberhasilan beberapa bisnis jejaring yang disebutkan di atas.

Belajar dari strategi HWI dan Oriflame, dalam konteks membangun partispasi warga, medsos akan mampu meningkatkan dan menguatkan “suara” dari individu, masyarakat atau kelompok masyarakat.

Media sosial sangat memungkinkan setiap warga desa menyampaikan aspirasi atau gagasan dalam menunjang pelaksanaan pembangunan yang partisipatif. Hal ini didukung oleh realitas bahwa masyarakat kita lebih berani menyampaikan kritik dan usulan lewat medsos, dibandingkan dengan menyampaikan secara face to face dalam rapat di kantor desa.

Penggunaan medsos untuk mendorong partisipasi warga di Flores membutuhkan beberapa aspek.

Pertama, kemampuan aparat desa dalam menulis narasi di medsos. Ini sangatlah penting agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh warga desanya.

Tidak semua aparat desa di Flores bisa menulis dengan baik. Dibutuhkan pelatihan menulis yang baik dan benar.

Beberapa desa di Flores yang sudah memiliki website desa tetapi tidak berfungsi dengan baik karena tidak ada interaksi antara admin website dengan masyarakat desa. Tidak ada informasi yang terus diperbarui  di website desa setiap hari. 

Kedua, dibutuhkan sikap terbuka kepala desa  dan aparat desa untuk menerima kritik dan saran dari warga desa. Butuh pemimpin dengan keberanian tinggi, jujur dan terbuka terutama soal penggunaan dana.

Ketiga, memberi peran kaum milenial sebagai kreator konten medsos milik desa agar lebih menarik. Isi yang menarik akan mendorong warga menjadikan medsos sebagai sarana informasi dan urun rembug pembangunan desa.

Penggunaan medsos dalam pembangunan akan memperluas ruang partisipasi dari  kantor fisik desa ke  kantor virtual. Sifatnya yang tidak langsung meningkatkan keberanian warga dalam memberikan kritik, saran dan gagasan dalam pembangunan desa.

Kepala desa dan aparat desa harus mampu mengimbangi kemampuan ibu-ibu rumah tangga, “mama lele 4.0” yang sukses menggunakan medsos dalam pengembangan bisnis.

Jika “mama lele 4.0” mampu memanfaatkan medsos dalam berbisnis, aparat desa juga harus belajar menggunakan medsos ketika hendak memobilisasi dukungan dan partisipasi warga dalam proses pembangunan.

 

Salam hangat

Arnoldus Wea

Co-Founder Gerakan DHEGHA NUA dan Yayasan ARNOLDUS WEA


Spread the love