Spread the love

Anda pernah keliru malam?. Malam dapat membuat semua kita keliru melihat sesuatu. ‘Keliru Malam’ itu judul sebuah lagu yang sering diputar dalam pesta-pesta di Ngada.

Kalau opereter sudah kasih bunyi ini lagu, anak-anak ‘muda batang’ langsung menyerbu tempat pesta, lalu menari ja’i.

Kalimat pertama dari lagu ini adalah ‘keliru malam, kami sangka masih muda batang’. Ini bahasa Indonesia gaya Ngada. Frasa ini maksudnya adalah malam membuat kita salah melihat seorang pria atau wanita.

Kita kira masih ‘batang muda’ seperti jagung yang mulai berisi, padahal sudah tua. Malam membuat dia nampak muda.

Malam di sini bisa berupa malam benaran, yakni periode waktu setelah siang. Malam juga bisa berarti dandanan yang menyamarkan ketuaan. Yang berdandan itu bisa wanita atau laki-laki.

Kita sering keliru malam dalam banyak hal. Termasuk keliru dalam memaknai dan menyerap ke-modern-an.

Gampangnya, keliru dalam menerima hal-hal baru,—keliru memandang bahwa semua yang modern itu bagus, seperti pria atau wanita muda yang menarik. Yang modern, yang baru, yang muda pasti menarik.

Demi yang modern, yang tradisional, yang lama ditinggalkan. Padahal yang modern juga mengandung sisi-sisi ‘malam’ yang membuat kita keliru,—keliru mengadopsinya hingga keliru menerapkannya,—di luar terlihat modern, tapi di dalam belum.

Baca Juga: Supaya Kita Orang Jangan Hanya Menganga

Pokoknya asal modern. Dampaknya, kita seperti daun pohon koli di pusaran air muara Wae Mokel. Putar-putar terus, tidak tahu mau ke mana. Yang belum tahu Wae Mokel di mana, tanya Om Google. Itu di Florida (Flores bagian Ngada),—bukan bagian Ngada saja—lebih tepatnya perbatasan Manggarai dan Ngada.

Apa dampak keliru malam?

Pertama, kita pake produk teknologi dan industri modern, tapi dengan cara pikir lama. Lihat saja di jalan-jalan Ngada, anak-anak SD seperti ‘bajingan kecil’ naik motor ngebut. Sangat berbahaya, bagi tulang tempurung kepala mereka dan bagi orang lain.

Bapa-mama lupa bahwa motor itu bukan kuda. Kuda kalau sudah akrab dengan anak-anak yang kasih dia makan rumput, air dan garam, akan ‘mengerti’ kalau yang ada di punggungnya itu anak-anak yang sayang sama si kuda.

Kalau tidak ada sebab yang bikin agresif, seperti kalau lihat betina, kuda mudah dikendalikan. Apalagi kalau rajin kasih mandi, makan dan kasih minum teratur, kuda akan jinak sekali.

Motor bukan kuda. Dia tidak peduli yang naek itu anak-anak yang masih suka kencing di celana, pemuda batang atau orang tua. Sekali salah tarek gas, dia akan lari macam setan dioles balsem. Karena itu, ada syarat umur naik motor. Tujuh belas tahun ke atas dan punya rebewes (surat izin mengemudi).

Alasannya apa? (a) usia harus cukup dewasa, emosi sudah lebih stabil, bisa ukur jarak, kecepatan dan bagaimana naik motor dengan benar dan aman. (b) Kalau sudah 17 tahun dan punya SIM, dia sudah jadi subyek hukum.

Kalau dia lari naek orang dan celaka, dia bisa mempertanggungjawabkan di depan hukum. Anak-anak naek motor dan seruduk orang? Bapa-mama yang akan masuk hotel prodeo.

Masalahnya itu tadi. Mungkin saat lihat orang-orang naik motor bolak-balik macam seterika, kita lalu ingin anak-anak bisa tarik gas juga. Kita ‘keliru malam’ bahwa motor bukan kuda atau kerbau jinak. Motor harus dikendalikan dengan prinsip-prinsip mesin.

Kamu kasih gas kencang, dia loncat di luar kemampuan kamu untuk mengendalikannya. Orang dewasa saja yang sudah lama naik motor, bisa terbang ke jurang karena salah tarik gas. Apalagi anak-anak yang belum bisa hapus ingus.

Kedua, kita pakai alat komunikasi modern, tapi semakin tidak komunikatif. Punya alat penghubung tapi tidak bisa dihubungi. Punya alat yang bikin dekat tapi malah makin berjauhan. Banyak omong, tapi tidak pernah saling omong.

Kita omong dari mata hari baru bangun dengan orang-orang jauh lewat HP, orang-orang yang kita tidak kenal lewat fesbuk, wazap, skaip,ige atau tuiter. Kita lupa omong sama Bapa mama kita yang satu rumah.

Bapa-bapa bilang ‘sayang’ tapi bukan dengan ‘karna sa sayang’ yang di rumah, tapi dengan nona Maya di semak belukar internet.

Ini baru dua contoh soal ‘keliru malam’ dalam menyerap teknologi modern. Masih banyak kasus lain.

Kita ingin punya hape, motor, mobil, tas bermerek atau produk budaya modern lain, tapi kita lupa pada satu nilai budaya industri modern yakni produktivitas.

Ine Ebu (nenek moyang) sudah pernah bilang, manusia harus bugu kungu, ne’e uri logo (sampai jari tumpul, dan punggung retak terbakar). Jari tumpul karena mengerjakan kebun sampai tuntas, meski panas menghanguskan punggungmu.

Dalam masa kini, adagium itu disebut etos kerja (keras). Masalahnya itu dia, ada orang ‘keliru malam’. Mau bergaya modern, tetapi tidak mau menyerap salah satu prinsip hidup modern yakni kerja produktif.

Singapore, September 2019

Salam hangat

Arnoldus Wea

Co-Founder Gerakan DHEGHA NUA


Spread the love