Spread the love

Orang Jepang punya sake, orang Korea memiliki soju—melalui budaya pop seperti drama korea, mereka mengenalkan soju ke seluruh dunia. Hal yang sama juga ditunjukan Cina dengan rasa bangga mereka akan baijiu. Lalu bagaimana dengan alkohol lokal di Indonesia yang bermayoritas penduduk Muslim?. 

Indonesia secara umum bukan tempat yang ramah bagi peminum. Alkohol sangat mahal di sini, dengan bea masuk mencapai 150 persen. Selain itu, larangan pengecer kecil yang menjual minuman beralkohol diperkenalkan oleh pemerintah sejak tahun 2016 dalam upaya untuk membatasi konsumsi.

Tetapi, meskipun telah diatur dengan regulasi yang ketat minuman alkohol adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya asli di banyak komunitas lokal di seluruh Indonesia.

Dari sudut pandang etnografis, di banyak wilayah nama minuman lokal dikenal dengan banyak nama seperti saguer, legen, tuak, brem, sopi, swansrai, cap tikus, lapen dan ballo.

Konteks konsumsi minuman ini, sebagai bagian dari ritual mistis dan ikatan kekerabatan, yang lain dapat menjadi tanda kelas sosial, dan sisanya dikonsumsi di waktu luang atau saat bekerja berat dan keras.

Sejarah minuman lokal Indonesia sudah ada sejak lama. Di dinding-dinding candi Borobudur yang terkenal di Yogyakarta, relief-relief pada abad kesembilan menggambarkan penjual minuman di kalangan penduduk lokal.

Bukti budaya minum Indonesia juga disebutkan dalam buku Yingya Shenglan, yang ditulis Ma Huan tentang ekspedisi angkatan laut Laksamana Tiongkok, Cheng Ho, dari dinasti Ming, Ma menyebutkan bahwa ketika kapal mereka sampai di pulau Jawa, mereka melihat penduduk asli mabuk tuak, minuman lokal yang dibuat dari getah pohon aren.

Sejarah panjang minuman alkohol lokal di Indonesia tersebar luas di beberapa wilayah, tak terkecuali di Flores, Nusa Tenggara Timur. Di wilayah ini minuman alkohol lokal umumnya disebut dengan tiga nama seperti moke, sopi, atau arak.

Tiga jenis minuman beralkohol ini dibuat dengan cara disuling, sebuah corak produksi alkohol lokal yang umum di negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan yang sangat dipengaruhi oleh sejarah panjang dalam pola relasi sosial kemasyarakatannya.

Setiap daerah di Flores memiliki metode tersendiri dalam memilih bahan dasar untuk menghasilkan minuman keras terbaik. Tetapi, secara umum terbuat dari proses fermentasi getah Borassus palmyra palm (koli atau saboak) atau Arenga pinnata neera (enau) yang menghasilkan zat yang disebut etanol sebagai bahan dasar cita rasa alkohol.

Keberadaan moke, sopi, atau arak seperti yang disebutkan di atas memiliki implikasi yang luas di kalangan masyarakat Flores, dalam banyak studi, kita menemukan bahwa baik moke, sopi, ataupun arak sangat berkaitan erat dengan ritual adat, pola relasi sosial, upacara kematian, upacara perdamaian, dan lain sebagainya.

Baru-baru ini dengan adanya pertumbuhan pariwisata yang masif di sepanjang pulau Flores, keberadaan minuman lokal telah memberikan daya tarik tersendiri. Sebagai bagian dari culture trip, minuman lokal dijadikan oleh wisatawan sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya mereka. Selain dengan mengkonsumsi langsung, wisatawan biasanya juga tertarik untuk mengikuti proses pembuatannya yang cendrung masih tradisional dan menggunakan 100% bahan alam.

Dalam banyak web trip wisata yang tersebar di internet, kita melihat beragam panduan wisata yang menyasar soal alkohol lokal yang tentu saja secara langsung akan memberikan dampak yang bagus bagi perekonomian masyarakat kecil dan dalam bagian yang lain, hal ini dapat menjadi pertanda bahwa ada apresiasi yang tinggi pada budaya masyarakat lokal.

Peluang yang terlihat ini mestinya dapat dijaga dengan baik, harus ada budaya inspiring trust dalam masyarakat kita untuk membuat apa yang kita tawarkan seperti minuman alkohol lokal tetap dijaga sisi “tradisionalnya”.

Baca Juga: Bikin Cape Saya Saja

Kita harus membuat para wisatawan yakin bahwa apa yang kita tawarkan adalah orisinalitas sebagai kekayaan budaya sekaligus sesuatu yang berbeda yang tidak ditemukan di tempat lain.

Kasus moke atau arak oplosan dengan bahan dasar gula pasir yang merebak di Aimere baru-baru ini adalah kasus serius yang perlu mendapat perhatian. Tindakan tegas dan terukur harus dilakukan pemerintah dan kita semua yang mencintai kekayaan budaya kita sekaligus sumber mata pencaharian sebagian masyarakat kita.

Kita mesti menempatkan minuman alkohol lokal secara bijak diantara aturan, budaya dan tuntutan ekonomi. Mengejar nilai ekonomi dengan mengasingkan nilai budaya dan aturan akan berdampak sangat buruk.

Hadirnya moke berbahan dasar gula untuk menggenjot peningkatan jumlah produksi demi mengakumulasi pendapatan keuangan adalah seburuk-buruknya sikap yang tidak tunduk pada budaya dan aturan. Sebab, ketika ketidakseimbangan ini terjadi dalam jangka panjang akan memberikan dampak buruk.

Minuman lokal kita akan kehilangan nilainya sekaligus kehilangan peminat, jika dibiarkan berlarut-larut, ke depan wisatawan atau penikmat moke jelas tidak akan mengkonsumsi moke berbahan baku gula pasir. Dan sumber uang yang seharusnya dekat digenggaman akan menguap pergi.

 

Salam hangat 

Arnoldus Wea

Co-Founder Gerakan DHEGHA NUA dan Yayasan ARNOLDUS WEA


Spread the love