Spread the love

Kabar kematian Daniel Dhakidae bukanlah kabar yang sedap. Semakin tidak sedap dan tidak mengenakkan manakala kabar ini tiba-tiba menghampiri kita yang tengah dikepung COVID-19 yang entah kapan usai, flu babi yang dalam sekejap merobohkan pertahanan ekonomi kelas menegah ke bawah, dan bencana alam yang meluluhlantakkan beberapa wilayah di NTT tepat saat/setelah Paskah.

Meski demikian, apapun caranya, Doktor yang lahir 5 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini tidak akan pernah hidup lagi secara fisik-ragawi.

Dan kita hanya bisa mengenangnya, mengenangnya, mengenangnya: pola hidup, pemikiran, sikap kritis, dan pada gilirannya, inspirasi.

Daniel tentuk tidak kenal saya, tapi saya sudah “dekat” dengan pimpinan Majalah PRISMA dan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) ini sejak masih duduk di bangku SMA, lewat buku dan tulisan-tulisannya.

Seseorang, kalau bukan pernah bertemu secara langsung, ada alternatif: mendengar cerita tentangnya, membaca tulisannya, atau menyimak pemberitaan terkaitnya.

Yesus misalnya, hanya mungkin kita kenal lewat alternatif ini, bukan face to face, kecuali kalau memang Anda punya kekuatan supranatural yang membedakan Anda dengan manusia biasa pada umumnya.      

Informasi lebih detail dan semacam obituarium yang lebih lengkap, bisa Anda lacak sendiri dengan bantuan google. Apa yang sedang Anda baca ini hanyalah sebuah catatan teramat kecil dari pinggiran, tentang seorang cendekiawan yang terlampau besar yang disiplin berdialektika di tengah pusaran transformasi multidimensional sepanjang usia hidupnya.

Beberapa kali, di facebook, saya menulis tentang Daniel, dalam kebanggaan bahwa dari rahim Flores yang tergolong amat terlambat disentuh Negara dalam hal pembangunan ini, pernah lahir seorang ilmuwan yang selalu menarik diperbincangkan, sampai kapan pun.

Catatan-catatan pendek tidak penting, dan ini merupakan catatan agak panjang pertama saya tentang pemikir yang disertasi doktoralnya berjudul “The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesian News Industry” yang diselesaikannya di Cornell University, meraih Penghargaan Lauriston Sharp dari Cornell Southeast Asia Program (SEAP).  

18 – 20 November 2017, saya mengikuti International Conference On Education, Culture, and Humanities bertajuk “Social Science and Humanities in Light of The Challenges of A Globalized World” yang diselenggarakan oleh STKIP St. Paulus Ruteng, Flores.

Saat pertama mendapat informasi tentang acara positif ini, saya langsung tertarik mendaftar sebagai participant, karena alasan ini: Daniel Dhakidae merupakan salah satu pembicaranya dan kapan lagi saya berkesempatan bersua secara langsung dengannya?

Pada hari kedua,  Daniel Dhakidae dan  Ignas Kleden – keduanya putra terbaik NTT yang berkontribusi besar bagi perkembangan jurnalisme, politik, eklesiologi, teologi, dan ilmu-ilmu sosial di Indonesia – sama-sama satu panggung. Ignas sangat monoton. Terlalu tekstual. Isinya berat, tampilan powerpoint-nya tidak gampang dicerna. Ignas bicara tentang “Social Science and Humanities” yang diperhadapkan dengan “Globalization”, tapi gaya Ignas membawakan materinya seakan-akan tidak peduli pada semua yang mendengarkannya: slow, duduk, sesekali ngopi.

Sedang Daniel, agak militan. Berdiri sambil tunjuk-tunjuk teks kala menekankan hal penting dalam makalahnya. Daniel membahas “Catholic Church and Social Change in Flores”. Pada pengantar yang tak ada dalam teks, saya sempat rekam, Daniel tegaskan,

“Flores bisa saja dilupakan oleh Jakarta, tapi tidak oleh para antropolog, sosiolog, atau sejarawan dari mana-mana!”

Sungguh suatu statement imperatif yang membesarkan hati. Hati saya, hati kita.

Selepas acara di hari kedua itu, saat hari sudah malam, saya memotret dari jarak tak terlalu jauh. Daniel dan Ignas bercakap-cakap, serius sekali, entah apa topiknya. Ingin rasanya saya menyapa, karena bagaimana pun, keduanya dan juga saya, pernah menimba ilmu di tempat yang sama, STFK Ledalero, Maumere, Flores.

Namun, saya tidak cukup percaya diri. Saya hanya percaya pada imajinasi saya sendiri: “Jangan-jangan mereka mau buat Negara dan Agama baru sendiri?” Dengan segala kapasitas mereka, bukan tidak mungkin. Tentu bisa, sangat bisa!

Lain kesempatan, di Februari 2018, saya membaca artikel Daniel, “Agama dan Negara. Tinjauan Teologi Politik Perspektif Katolik” yang dibukukan dalam antologi berjudul “Agama dan Negara. Perspektif Islam, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, dan Protestan” (Interfidei: Yogyakarta, 2017, hlm. 35-53).

Dalam artikel itu, Daniel menjelaskan pemikiran Carl Schmitt (1888-1985), seorang ahli hukum dan pakar ilmu politik asal Jerman. Menurut Schmitt, hampir semua konsep politik atau ilmu politik, tidak lain merupakan sekularisasi dari konsep-konsep teologis. Daniel kemudian memberi contoh, mengapa orang macam Dr. Th. Sumartana, seorang doktor teologi, berbicara masalah politik dengan lancar. Dari mana asalnya? Daniel lanjut menyimpulkan, itulah kira-kira konsep Carl Schmitt,

“…. sekali Anda memahami teologi hanya tinggal selangkah lagi untuk memahami politik karena politik tidak lain adalah teologi yang sudah disekulerkan, diterjemahkan dalam istilah-istilah sekuler ilmu hukum, politik, dan lain-lain. Dengan itulah teologi politik menjelaskan gejala-gejala, gejala politik, gejala hukum, gejala yurispudensi dan lain-lain.”

Sehabis membaca artikelnya ini, iseng-iseng saya memprovokasi netizens. “Mendekati Pemilu, banyak politisi yang berkunjung ke Seminari-seminari, beberapa makan bersama di Ledalero, Seminari tersebar di dunia saat ini. Mengapa?” Lalu saya jawab sendiri sambil mengutip Daniel,

“… karena jarak antara agama dan politik tidak jauh, dan jarak antara ilmu politik dan teologi sangat dekat …”

Rumusan provokatif saya yang lain, “.. mengapa para calon pastor jago omong politik; mengapa jebolan Seminari kalau bukan kemudian maju dalam pemilu legislatif, pasti lantang kritik rezim; mengapa kalau Anda cek baik-baik, semua politisi di NTT misalnya pasti punya minimal satu pastor yang dijadikan sebagai ‘konsultan’? Yah, itu tadi: … sekali Anda memahami teologi, selangkah lagi politik dipahami …”

Penegasan Daniel yang lain, masih dalam artikel yang sama ini, kurang-lebih: “Yang mau disampaikan di sini yaitu dengan begini mempelajari teologi Katolik menjadi sangat relevan dan menjadi sangat efektif untuk mempelajari Orde Baru” (hlm. 52) dan “Salah satu yang perlu diingat adalah bahwa teologi politik sangat memungkinkan pemeriksaan agama masing-masing, doktrin masing-masing karena jarak antara agama dan politik tidak jauh, dan jarak antara ilmu politik dan teologi sangat dekat dan dua-duanya memperkaya cara kita melihat politik dan melihat agama” (hlm. 52-53).

Saya tidak mengenal Daniel secara lebih dekat lewat pengalaman-pengalaman lain. Dua referensi yang saya anjurkan sebagai alternatif untuk mengenal mantan Kepala Penelitian dan Pengembangan (Litbang) KOMPAS ini, ialah buku terkenal miliknya sendiri, “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru” dan “Menerjang Badai Kekuasaan”.

Demikianlah, Daniel Dhakidae telah pergi. Salah satu “Orang Besar” milik Negara ini tak akan tampak lagi rupa-geraknya. Namun, jejaknya dalam banyak hal tentu berbekas dan akan selalu abadi.

Akhirnya, hanya sedikit saja orang yang secara pribadi saya sapa “Tuan Besar” oleh sebab integritas dan kecakapannya. Daniel satu dari sedikit itu.

Selamat jalan dan terima kasih. Rest in Power, Tuan Besar! ***

 

Oleh: Reinard L. Meo

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Reinard L. Meo


Spread the love