Spread the love

Tak terbayangkan sejak berpisah lima tahun lalu, suatu waktu akhirnya saya bertemu lagi dengan Ama Tias. Ama adalah sebutan untuk pria Sabu.

Ama Tias masih setia seperti dulu, melakoni “side job” sebagai driver ojek. Saya mengenalnya di penghujung 2014, di bandara Sabu.

Senyum Ama Tias kala itu menarik perhatian disaat saya kebingungan hendak mencari penginapan. Saya pun menyapa dan meminta jasanya, mengantarkan saya ke salah satu penginapan di kota Seba.

Sabu mungkin menjadi tempat tugas yang tidak diminati oleh orang kebanyakan. Tentu saja ada alasan dibaliknya. Seperti transportasi lewat udara hanya dengan Susi Air, –pesawat capung–, atau menempuh perjalanan laut, menggunakan kapal penyebrang lambat atau cepat.

Waktu itu, saya memilih Susi Air yang amat menantang adrenalin saya, sebab itu menjadi pengalaman pertama naik pesawat capung tersebut.

Sabu benar-benar negeri baru bagi saya. Dalam keterbatasan informasi tentang Sabu, saya melangkah ringan dan merasa tertantang dalam pertualangan saya ke negeri yang berada di antara tapal batas Samudera Indonesia dan Laut Sawu itu.

Senyum Ama Tias membuyarkan kebingungan saat memijak kaki di Sabu. Saya pun merasakan ada “keluarga” di Sabu. Ama Tias-lah yang membantu saya selama saya bertugas dan jalan-jalan ke Kampung Adat Namata dan Pantai Lede Ana saat itu.

***

Kali ini, Ama Tias menghantar saya menuju tempat persinggahan dewa di pesisir selatan Pulau Sabu. Masyarakat setempat menyembutnya, Kelabba Madja. Spot wisata yang tak lagi asing. Menjadi tourism iconic milik Kabupaten Sabu Raijua.

Kelabba Madja berbentuk seperti kawah. Pengunjung dapat turun hingga dasarnya. Yang unik, dinding-dinding kawah ini berawarni-warni. Permukaannya menampilkan degradasi warna yang memesona.  

Tak sulit untuk menggapai Kelabba Madja,–hanya  1 jam dari ibukota Kabupaten Sabu Raijua. Jalan menuju sana terbilang cukup baik.

Separuhya sudah di-hot mix, sisanya masih bekas jalan lama yang belum diperbaiki. Itu bila pilihan jalurnya melalui Sabu Mesara.

Pengunjung dapat melewati jalur lain. Lewat Liae, jalur tengah yang menghubungkan Seba dengan pesisir selatan. Jalan ini juga terbilang baik.

Tapi saat kami tiba, sedang ada proyek pengerjaan jalan. Jalur ini belum benar-benar menghubungkan Kelabba Madja dengan Seba. Bagi pengendara roda dua, jalur ini dapat menjadi jalur alternatif.

Kami meninggalkan penginapan tepat pukul 14.30. Sore itu, kami berangkat lewat jalur Sabu Mesara. Melewati ruas jalan yang lebar membentang sepanjang pantai utara. Di tengah terik matahari, kami mampir di sebuah toko guna membeli minuman sebagai bekal dalam perjalanan.

Sepanjang perjalanan saya terus bertanya, “Ama, masih jauhkah?”

“Masih, kaka.”

“Wah, kita bisa pulang sebelum gelap?”

“Bisa, kaka

Ama Tias terus melajukan motornya yang telah berusia tua. Itu terdengar dari bunyi krik-krak dan shock yang tidak luwes lagi. Motor itu pula yang setia mengantar saya selama bertugas di Sabu lima tahun lalu.

Belum sampai setengah perjalanan ke Kelabba Madja, jalan sudah tak beraspal lagi. Ama Tias mulai mengeluh, “Kaka, jalan jelek. Bagaimana orang mau datang ikut acara festival?”

Festival yang dimaksud adalah festival Kelabba Madja. Event budaya terbesar dan pertama di selenggarakan di Sabu Raijua. Kegiatan budaya akbar ini akan dilaksanakan mulai tanggal 9-13 September 2019.

“Katanya ribuan orang akan datang, tapi tanda-tanda orang mau datang belum tampak, kaka” lanjut Ama Tias.

“Ya, mungkin tamu lewat laut menjelang hari H, “ jawab saya.

Auiii, perbaikan jalan belum selesai.”

“Ama, ini permulaan yang baik. Yang terpenting pemerintah dan masyarakat Sabu Raijua mau memulai untuk mengadakan festival ini. Faktor utama itu berasal dari diri sendiri (baca: tuan rumah). Fasilitas, jalan raya dan lain-lain akan terpenuhi jika semakin banyak kegiatan diselenggarakan di Sabu.”

Penjelasan saya mungkin masih jauh dalam bayangan Ama Tias. Tapi, sebagai masyarakat kecil, ia sedang mengalami kegelisahan.

Menghitung hari, festival akan digelar tetapi arus wisatawan belum menunjukkan tanda-tanda. Sehingga kegelisahan Ama Tias adalah kegelisahan yang lumrah.

Soal jalan raya yang belum memadai mejadi kekhawatiran Ama Tias pula. Dalam perspektifnya, pada saat festival digelar, semua ruas jalan sudah diperbaiki atau diaspal.

Melihat waktu festival semakin dekat, maka tak mungkin semua jalan raya diaspal. Tetapi, pemerintah telah berupaya untuk membuka akses meskipun masih wujud jalan tanah.

Perjalanan ke Kelabba Madja memiliki sensasi sendiri. Disuguhi pemandangan yang indah berupa hamparan Samudara Indonesia yang luas membentang.

Bukit tandus, rerumputan mengering,pepohonan lontar yang menjadi sumber kehidupan orang Sabu, berdiri tegap. Jalan yang berlika liku dan turun naik bukit membawa kesan tersendiri bagi para petualang sejati.

Akhirnya kami tiba juga di Kelabba Madja. Di kaki bukit Kellaba Madja, orang tampak sibuk memasang tenda dalam rangka festival.

Tenda-tenda dibangun tak jauh dari pantai. Sementara di bukit, jalan masuk Kellaba Madja, orang sibuk membangun lopo-lopo dan menata taman untuk mempercantik suasana yang lebih instragramable.

Beberapa pengunjung sedang antri di loket berupa pondok mungil untuk membayar biaya masuk atau menyewa selendang, atau sekadar berbelanja oleh-oleh khas Sabu.

Tak terlalu mahal biaya masuk ke Kelabba Madja. Pengunjung hanya merogoh kocek sebesar Rp. 10.000,-. Harga itu tak termasuk sewa selendang dan lain-lain yang digunakan untuk pemotretan.

Tulisan Kelabba Madja berukuran raksasa menyambut kedatangan di luar pagar yang terbuat dari kayu.

Tak ada tanda larang tapi ada beberapa pembatas sekadar meningatkan pengunjung agar tak terlalu berdiri di tepi bibir bukit yang curam ini. Juga tersedia bangku sederhana pada spot fotografi.

Sepintas, bentuk permukaan Kelabba Madja seperti Grand Canyon di Amerika. Memang unik. Satu-satunya di Indonesia, hanya ada di Sabu.

Rasa penasaran pun menghinggapi benak saya. Apa gerangan artinya Kelebba Madja? Saya memutuskan untuk menemui seorang pria, satu-satunya pemilik lapak di lokasi wisata alam tersebut, lalu mewawancarainya.

Ever, nama pria itu, mengakui sebagai anak kampung Kelabba Madja. Menurutnya, Kelabba Madja, artinya tempat persinggahan dewa.

Keberadaanya bukan baru pada tahun 2015 ketika disiarkan di media sosial, bahkan ada sejak dahulu kala. Ada sejak adanya bumi dan masyarakat Sabu.

Konon, Kelabba Madja dihuni oleh roh. Roh itu adalah Madja, yang adalah dewa. Nama lengkap dewa ini adalah Madja Pahi Dara, tetapi orang setempat memperpendek menjadi Madja. Dewa ini berasal dari batu karang yang berada perut bumi. Ia terkenal sangat ganas.

Terkait dengan festival Kelabba Madja yang akan datang, orang yang menghuni sekitar kawasan Kelabba Madja harus mengadakan ritual. Ritual ini bertujuan untuk memudahkan terlaksana festival.

Mereka tak mau, dewa yang menghuni tempat ini, si Madja, terganggu dengan kehadiran tamu festival. Dengan cara ini dapat mencegah hal-hal buruk yang dapat menimpa pengunjung.

Soal ritual, menurut Ever dapat dilakukan oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang percaya dengan keberadaan Dewa Madja. Ritual juga bisa dilakukan kapan saja.

Ritual berupa persembahan seperti sirih pinang, hewan seperti ayam atau binatang berkaki empat lainnya, seturut kemampuan yang hendak melaksanakan ritual.

Usai menikmati keindahan Kelabba Madja, saya dan Ama Tias pun meninggalkan tempat itu. Sisi lain dari Kelabba Madja menggoda kami. Bentangan pasir putih, birunya Samudera Indonesia dan gemuruh ombak merayu-rayu.

Saya meminta Ama Tias mengubah haluan menuju pantai yang tak jauh dari bukit Kelabba Madja.

Betapa takjubnya setiba di pantai itu. Pasir berwana putih, halus, dan lembut. Tak banyak sampah dijumpai tempat itu. Sementara gulungan ombak kian ganas menepi. Keberadaan pantai ini menggenapi kesempurnaan tempat persinggahan dewa. Kelabba Madja.

Kalabba Madja memang indah dan memiliki jejak sejarah leluhur orang Sabu dan penuh nuansa magis. Tak hanya dinding bukit yang bergaris warna-warni itu, ada juga pantai di bawah kakinya yang menjuntai. Rasa lelah terbayar oleh pesona Kelabba Madja dan sekitarnya.

***

Ever, kepada penulis, meninggalkan setangkup harapan kepada pemerintah, sudi kiranya diperhatikan tempat ini.  Pintanya satu, pemerintah  bangun pagar yang mengitari.

Saya sependapat dengan Ever, tempat ini harus mendapat perlakuan khusus. Ada tanda larang khusus. Karena pada saat berada di sana, saya menyaksikan sendiri pengunjung bebas melangkah di bukit yang dapat dilalui. Berpindah dari satu gundukan bukit ke gundukan bukit yang lain.

Perilaku pengunjung semacam ini dapat mengancam keberlangsungan obyek wisata yang eksotik ini oleh karena tekstur tanah dan batu yang rapuh.

Bukan tak mungkin, perubahan cuaca seperti hujan dan panas, dapat mengubah wajah Kelabba Madja.

Nah, apalagi ditambah dengan perilaku pengunjung yang sesuka hati akan mempercepat kerusakan Kelabba Madja. Karena itu diperlukan batas-batas khusus.

Area mana yang boleh dilewati atau tidak? Titik mana yang boleh diinjak atau tidak? Pengelolaan pariwisata modern sekalipun harus bergerak linear dengan pola perilaku wisatawan. Tanpa itu, it’s non sense.  

Baca Juga: Supaya Kita Orang Jangan Hanya Menganga

Matahari terus bergerak ke kaki ufuk. Saatnya kami pulang dan berpisah dengan Kelabba Madja. Ama Tias mengajak pulang dengan jalur yang berbeda. Jalur Liae. Jalur tengah.

Waktu tempuhnya lebih cepat. Pemandangan di atas bukit menjanjikan, katanya. Bisa foto dengan latar segala penjuru mata angin. Ama Tias benar. View sepanjang jalur tengah menakjubkan, dibaluti hawa dingin kami pun tiba kembali penginapan tepat sebelum magrib datang.

Sesampai di penginapan, saya mengelus dada seraya berkata, “Tantangan Bapak Bupati Sabu Raijua terpenuhi sudah.”

Ya, dua hari sebelumnya, saat beraudiens di ruang kerjanya, Bapak Nikodemus Rihi Heke meminta kami,–saya dan tim Assessor Pemerintah Provinsi NTT–, untuk menyebarkan pesona Sabu Raijua ke seluruh dunia.

Tulisan ini adalah salah satu jawabannya. Tentu saja, dengan membaca tulisan ini tak cukup kecuali Anda mendatangi langsung tempat ini. Karena, pesona, keindahan, dan eksotisme Kelabba Madja tak semuanya terlukiskan secara utuh di sini.

Ayo ke NTT, ayo uji adrenalinmu di Sabu Raijua. Datang, lihat dan rasakan sensasinya.

Oleh: Giorgio Babo Moggi

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Giorgio Babo Moggi

 


Spread the love