Spread the love

Negara memerahi 1 Februari 2022 dalam Kalender Nasional sebagai Tahun Baru Imlek. Selama dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan dekade berlalu, kita mafhum, tanggal merah artinya libur. Sambil berlibur, tidak salah bila kita sekaligus mencurigai Imlek.

Agar “mencurigai Imlek” itu terarah, saya punya satu pertanyaan sederhana: mengapa minoritas bernama Tionghoa – yang dalam catatan sejarah kerap mengalami diskriminasi dan represi – unggul terutama secara ekonomis?

Di sini bukan tempat yang tepat bagi Anda untuk menemukan jawaban utuhnya. Jawaban sederhananya, silakan dibaca terus.

***

Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono merupakan dua miliarder sukses Indonesia. Selama 10 tahun, keluarga ini menduduki peringkat pertama dalam deretan orang terkaya di Indonesia.

Catatan Bloomberg, Budi berada pada peringkat 119 orang terkaya di dunia. Total kekayaan pemegang saham terbesar di Bank Central Asia (BCA) ini mencapai USD 17,3 Miliar atau setara Rp242,35 Triliun, mengacu pada kurs USD Rp14.009.

Masih menurut catatan Bloomberg, Michael Bambang Hartono, kakak kandung Budi, menempati urutan ke-127 orang terkaya di dunia. Total kekayaan Bambang mencapai USD 16,2 Miliar atau setara Rp226,94 Triliun.

Kita tahu, Budi dan Bambang merupakan pemilik Djarum, perusahaan rokok terbesar di Indonesia.

***

Kali ini, saya mendekati Imlek tidak dengan suatu uraian historis. Kali ini, saya hanya coba melihat simbol. Dari beberapa sumber yang saya baca, kurang-lebih ada 7 simbol yang senantiasa mewarnai Imlek.

Angpao. Memberi Angpao sudah menjadi tradisi tiap kali Imlek dirayakan. Selain harapan agar penerima Angpao dijauhkan dari roh jahat, Angpao juga menunjuk tepat pada keberkahan orang tua yang dilanjutkan pada anak-cucunya. Warna Emas dan Merah.

Warga Tionghoa percaya, Emas melambangkan keberuntungan, Merah melambangkan kebahagiaan. Tempelan Kertas. Aksara Mandarin pada kertas yang sering ditempel pada pintu atau jendela sebetulnya berisikan kata-kata bijak yang serentak doa juga harapan agar hal-hal baik masuk ke rumah, memenuhi seluruh penghuni rumah.

Barongsai dan Naga. Pertunjukan Barongsai bertujuan mengusir makhluk buas yang datang mengganggu. Naga merupakan simbol kekuatan. Pangsit dan Jeruk Mandarin. Melalui makanan ini, kesehatan yang baik di tahun mendatang benar-benar dimohonkan.

Petasan. Petasan mengisyaratkan harapan akan nasib baik di tahun mendatang. Menurut legenda, makhluk buas bernama “Nian” berhasil diusir berkat Petasan. Lampion. Cahaya merah yang terpancar dari Lampion yang terbuat dari kertas merah melambangkan pengharapan akan keberuntungan, rezeki, dan kebahagiaan di tahun selanjutnya.

Sampai di sini, agaknya, “Menjiwai Simbol” lebih tepat sebagai judul catatan ini, dibandingkan “Mencurigai Imlek”.

***

Ketika pandemi Covid-19 sedang ganas-ganasnya menghantam Indonesia, berturut-turut Sabtu (4 September 2021) dan Sabtu (11 September 2021), Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua menyelenggarakan satu dari aneka kegiatan yakni “Kelas Inspirasi ArnoldusWea Foundation” bertajuk “Anak NTT: Berani Bermimpi, Berani Beraksi”. Sepuluh (10) motivator dari beragam profesi hadir membagi cerita dan inspirasi kepada ratusan pelajar SMP dan SMA di NTT, termasuk di luar NTT.

Dalam Kelas yang berlangsung secara online melalui zoom itu, sebuah dinamika menarik benar-benar tersaji. Pengalaman “jatuh, luka, patah, berdarah” dari para motivator dipresentasikan. Nilai-nilai moral dikumandangkan. Ilmu diejawantahkan. Strategi dikampanyekan. Pertanyaan dari para peserta diajukan. Keingintahuan mereka diperuncing lewat jawaban-jawaban yang benar-benar menginspirasi. Tukar-tambah pikiran terjadi.

Apa sebetulnya benih yang sedang ditumbuhkan dalam diri Manusia Muda NTT ini?

***

Dari simbol-simbol terurai di atas, Imlek rupanya sebuah Perayaan Harapan. Orang-orang Tionghoa di antaranya mengharapkan agar dijauhkan dari roh jahat, mengharapkan rezeki, mengharapkan kesehatan, mengharapkan keberuntungan, mengharapkan nasib baik.

Apa sebetulnya benih yang sedang ditumbuhkan dalam diri Manusia Muda NTT lewat “Kelas Inspirasi ArnoldusWea Foundation”? Jawabannya sama, Harapan.

Mengapa minoritas bernama Tionghoa – yang dalam catatan sejarah kerap mengalami diskriminasi dan represi – unggul terutama secara ekonomis? Dalam segala macam cerita tentang sebuah kesuksesan, etos kerja dan kedisiplinan merupakan akar terkuat yang melatarinya. Orang-orang Tionghoa jelas terkenal dalam dua hal ini.

Sembari merayakan Imlek tahun ini, saya menduga, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono juga kembali menegaskan soal etos kerja dan kedisiplinan kepada keluarga besar mereka, kepada kolega, kepada para sahabat.

Yayasan Arnoldus Wea Dhegha Nua juga dari waktu ke waktu terus memfokuskan diri pada etos kerja dan kedisiplinan. Tak ada satu pun dari kita yang tidak ingin sukses, terlebih dalam apa yang selama ini selalu kita harapkan dalam doa.

***

Mencurigai Imlek, jelaslah, tidak salah. Menjiwai simbol-simbol Imlek, juga tak keliru. Namun yang terpenting dari keduanya, terus menjaga Api Harapan. Imlek memang Hari Raya Orang Tionghoa, tapi Harapan itu milik semua orang.

Selamat merayakan Tahun Baru Imlek bagi Saudari dan Saudara yang merayakannya. Bagi yang tidak merayakannya, belajar darinya! ***

 

Oleh: Reinard L. Meo

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Reinard L. Meo

 


Spread the love