Spread the love

Pertanyaan “Kapan nikah?” rasa-rasanya telah jadi satu dari beberapa pertanyaan yang sederhana kedengarannya, tapi mencekam rasanya. Anak-anak muda dewasa ini tampaknya sudah paham betul, bahwa pertanyaan ini pasti akan ditanyakan padanya.

Anak-anak muda sudah sadar betul bahwa ketika mencapai usia 20-an ke atas, “Kapan nikah?” akan datang dari segala penjuru mata angin. Di mana saja. Di dunia nyata maupun maya. Kapan saja. Baik atau tidak baik waktunya.

“Kapan nikah?” sebagai induk pertanyaan, disusul “Kapan Tanta gendong cucu?” sebagai anak pertanyaan, rasa-rasanya telah dengan sebaik-baiknya menggeser pertanyaan penting semisal “Apa kabar? Bagaimana kesehatan? Pekerjaan lancar?”

Anak-anak muda sudah mafhum betul bahwa pada usia-usia tertentu, ia akan dihujani pertanyaan yang membikin puas penanyanya saja, bukan yang membikin bahagia dirinya.

Tapi memang begitulah faktanya. Lari dan bersembunyi di mana pun, “Kapan nikah?” akan mengekor dari depan, belakang, samping, atas, dan bawah.

Saya sendiri, selepas tamat S1, sering disodori pertanyaan ini. “Wah, hadir nikah teman melulu, kapan kami hadir nikahmu?” Atau, “Cepat sudah, jangan lama-lama. Awas, jaga orang pu jodoh…!”

Selepas S1 pula, makin jarang saya ditanyai, “Sehat-sehat?”, pertanyaan mahawajib selama saya masih di bangku pendidikan, saat saya masih belum paham apa-apa soal cinta.

Keluarga, sahabat, rekan kerja, dan kenalan makin hari makin tidak peduli pada keadaan fisik kita, yah kita, anak-anak muda, pada kondisi psikologis kita, pada situasi ekonomi kita, pada peran sosial kita. Yang selalu menjadi ancaman bagi mereka ialah kesendirian kita.

Tapi, begitulah hidup. Hidup yang sudah sulit, dipersulit lagi oleh sebab bagaimana mesti memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk menjawabi pertanyaan yang kian membosankan itu. Sedikit lebih kejam, untuk membungkam mulut penuh teror dari kaum yang bagi mereka, sendiri linear dengan tidak bahagia.

Baca Juga: Dilema

Rupa-rupa jawaban sudah jamak muncul. “Aduhh Om, masih mau sendiri dulu.. hehehe….”, “Hmmm…. bersama belum tentu bahagia Cin, ya kan?”, “Nikah? Kue apa itu?”, “Kalau saya beritahu kapan waktunya, you mau bantu tanggung biaya dekorasi?”, sampai yang sepintas rada-rada akademis, meminjam Rocky Gerung, “Pernikahan itu baik sebagai fiksi, buruk sebagai fakta!”

Kali ini, saya hendak mengajak kita semua untuk keluar dari jawaban-jawaban klise-retoris sebagaimana terlampir di atas. Sebuah kesadaran ekologis rasa-rasanya perlu dilibatkan dalam in-out, give-take perbincangan kita seputar “Kapan nikah?”

Pada tahun 1993, Editorial Committee of the ‘Council’ of the Parliament of the World’s Religions dalam Declaration Toward a Global Ethic, mencatat, “The world is in agony. The agony is so pervasive and urgent that we are compelled to name its manifestations so that the depth of this pain may be made clear.”

Dunia kita, Saudari-saudara sebangsa dan setanah air, sedang dalam krisis, sedang dalam penderitaan yang mengerikan. Krisis ini kian menusuk dan mendesak, sehingga kita dipaksa untuk menyebutkan jelmaan-jelmaan atau perwujudan-perwujudan krisis dimaksud, agar dengan demikian, inti terdalam dari rasa sakit yang mengerikan itu dapat dengan jelas diketahui.

Krisis-krisis itu, oleh Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja sejagad, dalam ensiklik Laudato Si’ yang ditandatangani dan dikeluarkan pada tahun 2015, dikerucutkan antara lain, polusi dan perubahan iklim, air, serta hilangnya keanekaragaman hayati. Polusi udara mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, terutama bagi masyarakat miskin, dan menyebabkan jutaan kematian diniGaun PernikahanOrang jatuh sakit, misalnya, karena terus menghirup asap bahan bakar yang digunakan untuk masak atau pemanasan rumah. Setiap tahun dihasilkan ratusan juta ton limbah, yang sebagian besar tidak membusuk secara biologis, antara lain limbah domestik dan perusahaan, limbah pembongkaran bangunan, limbah klinis, elektronik dan industri, limbah yang sangat beracun dan radioaktif. Bumi, rumah kita, mulai makin terlihat sebagai sebuah tempat pembuangan sampah yang besar.

Persediaan air, dulu relatif stabil, tetapi sekarang di banyak tempat permintaan melebihi pasokan yang berkelanjutan, dengan konsekuensi dramatis untuk jangka pendek dan panjang. Masalah sangat serius adalah kualitas air yang tersedia bagi orang miskin yang menyebabkan banyak kematian setiap hari.

Hilangnya hutan dan vegetasi lainnya membawa serta hilangnya spesies yang dapat menjadi sumber daya yang sangat penting di masa depan, tidak hanya untuk makanan tetapi juga untuk penyembuhan penyakit dan penggunaan lainnya.

Dalam dua dekade terakhir, setiap detik, diperkirakan sekitar 200 ton karbondioksida dilepas ke atmosfer dan 750 ton top soil musnah. Sekitar 47.000 hektar hutan dibabat, 16.000 hektar tanah digunduli, dan antara 100 – 300 spesies mati setiap hari. Pada saat yang sama, secara absolut, jumlah penduduk meningkat 1 milyar orang per dekade. Untuk bertahan hidup di Indonesia, kita mesti berhadapan dengan fakta bahwa antara Januari sampai September 2019, misalnya, 857 ribu ha lahan terbakar.

Jadi, kaum muda, bersatulah! Bungkam mulut para peneror itu dengan wawasan ekologis yang tajir. Meski akan dituding balik, “Huhh.. jawaban yang terlalu panjang untuk kondisi kejombloan yang hakiki…”, setidaknya kita sudah membentangkan kepada mereka keadaan yang bila tak direspons secara serius, juga akan membahayakan hidup mereka.

Kita sudah menyadarkan bahwa hidup telah jadi semacam kompetisi, bukan kolaborasi. Bahwa seperti lirik lagu Iksan Skuter, makin hari makin susah saja, menjadi manusia yang manusia; sepertinya menjadi manusia, adalah masalah buat manusia.

Katakan pada mereka, di balik “Kapan nikah?” lanjut “Kapan punya momongan?” terus “Kok hanya satu? Tambah dong, tujuh belas…”, ada jutaan spesies lain yang punah dan bumi makin hancur. Rest in peace, “Kapan nikah?”. ***

 

Oleh: Reinard L. Meo

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Reinard L. Meo

 

 


Spread the love