Spread the love

Dalam keseharian, ada saja hal-hal tak terduga yang dalam sekejap mencuri perhatian kita. Konten youtube, model baju dengan belahan yang aduhai, informasi lomba dengan total hadiah jutaan tapi juri-jurinya disembunyikan, destinasi wisata yang amazing kelihatannya tapi penuh sampah aslinya, hingga jenis mobil keluaran terbaru dan lain sebagainya.

Kali ini, saya ingin bercerita tentang manusia, tentang orang, yang juga secara tiba-tiba, merampok seluruh konsentrasi saya.

* * *

Siang, sepi. Sepi sekali. Kami tiba di Maghilewa, sebuah kampung adat penuh daya tarik yang terletak di Inerie, Ngada, Flores, dalam kesadaran bahwa tempat ini sungguh sangat ideal untuk lari dari seperangkat kebisingan (di) kota.

Kota yang makin ke sini, makin menuntut kecepatan, quickness, alih-alih kehati-hatian. Kota yang kian hari kian ditandai dengan kompetisi, alih-alih kolaborasi. Hidup di kota, Nonya dan Tuan sekalian, makin tidak mudah. Selain mesti adaptif dengan seribu satu macam perubahan, yang tak kalah rumit ialah soal pergeseran akhlak dan opsi keberpihakan.

Kota menuntut kita untuk selalu punya duit, sedang desa-dusun-kampung hanya meminta kebetahan. Kota mudah sekali memantik pengeluaran, kampung menawarkan kesederhanaan. Kota mempertontonkan diskriminasi, brutalitas, dan hegemoni; kampung menganjurkan agar nilai-nilai luhur tetap dipelihara.

Maghilewa sebagai satu dari tidak banyak, hadir sebagai anti-tesis atas kota.

Sambil menanti dimulainya kegiatan sebagaimana tujuan kedatangan, kami disuguhi pisang rebus, ikan lawar, dan sebotol arak.

Pada tahun-tahun mendatang, sajian macam ini akan teramat malah harganya, harga yang tak terukur dengan pecahan rupiah apa pun.

Saat itulah, seorang anak kecil yang sedari awal duduk diam di sudut teda one – semacam ruang tengah–Sa’o Ne Wua, laki-laki, menarik seluruh perhatian kami.

Teman saya, Ecko, pertama kali memanggilnya: “Pulu”. Andi dan saya kemudian memanggil anak itu, “Pulu” juga. Hingga akhirnya kami mesti pulang, Pulu satu-satunya anak kecil yang kami jumpai di Maghilewa. “… satu-satunya anak kecil yang kami jumpai” jadi fakta yang sungguh sangat pesimistis, di tengah narasi turun-temurun tentang pentingnya generasi muda dalam konteks sebuah kampung.

Pesismisme ini dapat dikerucutkan dalam pertanyaan, “Ke manakah anak-anak (kecil) yang lain?”

Pertanyaan penting ini menyisakan rentetan pekerjaan rumah yang teramat berat lagi pelik. Kita tahu, migrasi merupakan salah satu sejarah umat manusia.

Manusia selalu bermigrasi, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, misalnya. Namun, migrasi sambil pada saat yang sama meninggalkan “semacam kekosongan” dalam tugas dan tanggung jawab menjaga dan melestarikan kampung, tanah kelahiran, home, bukan sesuatu yang “Yah sudahlah, hakikat manusia kan selalu berpindah-pindah!”

Pulu, saat itu juga, tidak sekadar hadir sebagai seorang anak kecil yang kebetulan sedang tidak ke mana-mana.

Pulu tidak sedang memberitahukan secara tak langsung bahwa tidak ada urusan lain yang mengharuskan dirinya tidak ada di kampung. Pulu, lebih dari itu, adalah simbol.

Sebagai simbol, Pulu menyerahkan dirinya–sekalipun dan tentu tidak dia sadari–untuk ditafsir secara bebas. Pulu dapat saja dimaknai sebagai realitas biasa bahwa seorang anak kampung, wajar kalau ada di kampung. Pulu tak perlu dibesar-besarkan lewat aneka interpretasi liar. Pulu adalah Pulu, itu saja.

Namun, sekali lagi sebagai simbol, Pulu menarik untuk diulik, Tuan. Lewat Pulu sebagai satu-satunya anak kecil yang kami jumpai, kita dapat memeriksa soal-soal yang menyebabkan mengapa Pulu saja yang kami jumpai.

Mengapa makin ke sini, orang mudah sekali “pergi”, mudah sekali merantau? Mengapa orang mudah sekali resign dari tempat kerja?

Adakah sejumlah ketidakberesan yang melatarinya? Adakah aneka ketimpangan yang mau tak mau mesti ditinggalkan?

Adakah narasi-narasi lama memang sudah saatnya digusur, diganti narasi-narasi baru yang lebih menarik meski asing, Nyonya?

Pulu, boleh jadi, hadir juga sebagai sebuah kritik. Pulu beri catatan tepat pada kecenderungan modern kita untuk selalu mencari posisi aman-nyaman.

Kemewahan harus kita kejar sehabis-habisnya, kesederhanaan hanyalah motivasi moral usang yang tetap digaungkan dari mimbar-mimbar rumah ibadah.

Pulu menghajar interese kita pada segala hal yang instan, yang sekali klik, yang diantar langsung ke pintu kamar. Pulu mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan soal tempat atau posisi, tapi soal cara. Kemakmuran tidak melulu material, tapi juga emosional.

Saat pada akhirnya kami benar-benar meninggalkan Maghilewa dan segala kesunyiannya, Pulu tetap menghantui dari atas-bawah-samping-depan-belakang.

Menghantui sampai saya mesti menuliskan semuanya ini, meski segalanya (akan) tampak sia-sia. Apa menarik dan pentingnya tinggal di “kampung”? Pulang setahun sekali, bukan masalah, kan?

Alangkah baiknya untuk keluar, mengakumulasi saldo, memamerkan kemewahan, meski kadang sepi sendiri di pusaran arus quickness.

* * *

Melihat Pulu, Nyonya dan Tuan sekalian, teringatlah saya akan salah satu babak dalam lintasan panjang Sejarah Filsafat. Pusat pikiran dan refleksi, berpindah dari alam dan Allah, ke manusia. Manusia–termasuk Pulu dan kita semua–adalah keajaiban yang besar. Magnum Miraculum Est Homo.

Menafsir Pulu, teringatlah saya akan roh yang mendasari sebuah Yayasan yang kini tengah berjuang dalam keseharian. Dghegha Nua, ingat kampung halaman.

Begitulah, ada-ada saja hal tak terduga yang mencuri perhatian kita. Dan seasyik-asyiknya hal-hal itu, dicuri perhatiannya oleh dan karena manusia, adalah yang paling asyik. Pulu telah melakukannya. Dengan sebaik-baiknya, setepat-tepatnya. 

 

Oleh: Reinard L. Meo

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Reinard L. Meo

           


Spread the love