Spread the love

Pada awal bulan Maret 2020 Covid-19 masuk Indonesia. Tanpa terasa sudah enam bulan kita hidup bersama covid-19.

Selama itu juga, Covid-19 berhasil melululantahkan semua aspek hidup manusia. Tak terkecuali aspek pendidikan.

Untuk itu, tulisan ini fokus pada beragam usaha nyata yang telah dilakukan, baik dari pemerintah pusat, daerah, orang tua, guru, dan lembaga pendidikan itu sendiri.

Sebagai langkah preventif untuk mencegah penularan Covid-19 dalam lingkup pendidikan, maka pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan covid-19 pada Satuan Pendidikan dan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran covid-19.

Merespon kebijakan ini, maka lembaga pendidikan tempat saya mengabdi yakni SMAS Katolik Regina Pacis mulai melakukan pembekalan bagi para guru terkait cara penggunaan media pembelajaran melalui google calassroom, edmodo dan zoom selama 5 hari.

Baca Juga: Menengok Hikmah dari Sebuah Wabah

Selanjutnya, lembaga mengeluarkan surat panduan pendampingan belajar dari rumah Nomor 037/SMAK/RPC/IV/2020.Setidaknya ada delapan point penting yang termaktub di dalam surat panduan ini.

Pertama, bagi siswa/i kelas X tetap melanjutkan pekerjaan rumah yakni membuat ikhtiar untuk 5 buah buku (2 buku fiksi dan 3 buku nonfiksi). Sedangkan kelas XI membuat resensi untuk 6 buah buku (3 buku fiksi dan 3 buku nonfiksi).

Kedua, sebagai salah satu syarat kenaikan kelas, maka untuk siswa kelas X tetap melanjutkan tulisan makalah ilmiah. Begitupun bagi kelas XI tetap mengerjakan artikel ilmiah.

Ketiga, untuk tugas-tugas di atas, cara penulisanya sudah dijelaskan oleh para guru jauh sebelum kebijakan “dirumahkan” dikeluarkan.

Namun begitu, prosesnya tetap dalam bimbingan guru secara berkelanjutan. Baik lewat via daring maupun saat di sekolah maupun saat situasi sudah kembali normal.

Keempat, kegiatan belajar mengajar, saling memberi motivasi, dan konsultasi berbagai tugas dilaksanakan via daring (email, group whatsapp, messenger, google classromm, edmodo, sms dan telepon) tetap dilakukan secara intens bersama para guru mata pelajaran maupun guru wali kelas.

Kelima, setiap siswa diharapkan untuk tetap tinggal di rumah, keluar seperlunya, serta menjaga kesehatan baik pola makan, olahraga dengan tetap mengedepankan cara pandang dan perilaku-perilaku sehat dan humanis (sesuai kesadaran diri, instruksi pemerintah dan dinas kesehatan) baik di rumah maupun lingkungan masyarakat.

Keenam, bagi anak-nak yang tidak memiliki handphone (HP) diharapkan untuk mengumpulkan tugas-tugasnya pada masing-masing guru mata pelajaran atau wali kelas pada saat situasi sudah normal.

Ketujuh, bagi orang tua/wali, lembaga mengharapakan untuk terus menjaga, memantau, dan memperhatikan anak secara total dengang penuh kasih. Dan pastikan anak dalam keadaan sehat saat kembali ke sekolah untuk mengenyam ilmu sebagaimana mestinya.

Kedelapan, lima nilai dasar yang sudah dibudayakan di sekolah diharapakan untuk tetap dihidupi dalam keseharian hidup di rumah, baik bersama orang tua maupun lingkungan sekitar.

Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja sama, dan kerja keras.

Selanjutnya, untuk memastikan 746 siswa dapat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) secara online pada tanggal 11-16 Mei 2020 secara baik, maka pada (9/05) para peserta didik melakukan simulasi ujian online.

Selain itu, pada (7/05) 5 orang guru bagian kesiswaan bersama Kepala Sekolah turun ke sejumlah daerah untuk menemui siswa yang diidentifikasi mengalami beragam kendala.

Kunjungan rumah ke sejumlah titik yang masuk daerah terpencil itu, setelah melakukan evaluasi dan identifikasi terhadap 746 siswa kelas X dan XI yang akan mengikuti UAS online.

Selain 19 siswa yang tidak memiliki HP dan akan diberi tugas rumah, para guru juga mendapati siswa yang meski memiliki HP namun mengalami kendala pada ketiadaan sinyal. Jika sinyalnya ada, maka listrik jadi persoalan besar-karena memang belum ada listrik.

Ada juga siswa yang berjuang sekuat tenaga untuk ikut pembelajaran online, namun harus berkorban berjalan jauh mendaki perbukitan untuk mencari sinyal.

Untuk mengatasi realitas buruk ini, sekolah kemudian mengedepankan 6 solusi humanis.

Pertama, yang boleh mengikuti pembelajaran dan UAS online hanya bagi siswa yang memiliki HP dan terjangkau oleh jaringan telekomunikasi.

Kedua, sejumlah siswa yang tidak ada HP dan berada di daerah tidak ada sinyal dapat menggunakan model penugasan. Tugas tersebut dapat dikirim melalui jasa kendaraan umum.KEBIJAKAN PENDIDIKAN SELAMA COVID-19Ketiga, dengan menggunakan dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) lembaga membagikan pulsa untuk 1.117 siswa dalam dua gelombang.

Gelombang pertama sebesar 30.000/siswa dan gelombang kedua sebesar 25.000/siswa.

Keempat, semua guru wajib mengunjungi siswa yang mengalami beragam kendala. Kelima, wali kelas wajib melakukan kunjungan rumah dan terus memberikan motivasi tanpa henti melalui group kelas masing-masing.

Keenam, wali kelas wajib membuat group orang tua baik melalui whatsapp maupun messenger.

Dampak humanisnya adalah pertama, 90% UAS online dapat berjalan dengan baik.

Kedua, 90% kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) secara online terlaksana sesuai yang diharapkan.

Ketiga, komunikasi antar guru, peserta didik, dan orang tua tetap terjaga.

Keempat, secara psikologis hubungan antar guru, orang tua dan peserta didik tetap kuat.

Baca Juga: Pandemi dan Keberlanjutan Pendidikan Kita

Hemat saya, berbagai kebijakan dan juga ikhtiar yang sudah dilakukan oleh lembaga pendidikan di atas adalah semacam loncatan kemajuan dari para guru, siswa, dan orang tua untuk meninggalkan zona zaman, mempertegas bahwa dihadapan covid-19 pendidikan tak pernah kalah, serta melegitemasi bahwa ketidakmerdekaan daerah kami, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT dari listrik dan sinyal bukanlah penghalang untuk menjalankan KBM online.

Akhirnya, kita harus mengakui bahwa tantangan adalah realitas yang telah manjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri. Untuk itu, tantangan harus diakrabi dan dilawan dengan perjuangan yang tak pernah henti.

Dengan demikian, Covid-19 adalah juga realitas tantangan berat yang mesti kita lawan dengan perjuangan kolektif tanpa henti, tentunya.

Semoga apa yang telah dilakukan oleh Civitas SMAS Katolik Regina Pacis di atas dapat menginpirasi semua pihak agar semakin banyak membuat ikhtiar untuk melawan covid-19 itu sendiri. Terutama dapat membuka mata dan telinga pemerintah untuk lebih peka dalam melihat, mendengar jeritan rakyat, dan memperhatikan daerah-daerah yang belum merdeka dari listrik, sinyal dan aspek lainnya.

Semoga mata dan telinga pemerintah jangan buta dan tuli lagi. Atau pura-pura buta dan tuli.

Boy ZandaOleh: Bonefasius Zanda

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Bonefasius Zanda 

 


Spread the love