Spread the love

[alert type=white ]Baca Bagian 2 di Sini[/alert]

Bagian kedua tulisan ini telah menekankan aspek keteladanan dalam pembentukan karakter. Konsekuensi lain dari aspek keteladanan adalah ruang pendidikan. Pembentukan karakter anak didik sejak lama menuntut adanya perluasan kelas.

Dari ruang fisik, menuju ruang proses dan pengalaman. Rumah dan sekolah itu satu. Sekolah, Gereja, rumah dan desa adalah ruang besar anak untuk berpindah pengalaman dan belajar.

Anak bisa belajar dari karakter yang baik dari banyak sumber: dari guru, dari orang tua, dari keluarga besar, dari kampung, dari gereja, dari aktivitas di desa, dan dari lingkungan alam di sekitar mereka.

“Mengalami” karakter akan menumbuhkan karakter baik. Mengalami menyangkut perlakuan dan kesaksian anak SDK Malapedho pada perilaku orang sekitar.

Karena itu, satu aspek penting dalam pembentukan karakter adalah pendidikan berbasis konteks lokal, terutama sistem nilai yang hendak ditanamkan.

Nilai tentang mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan tidak boleh, mana yang harus dan tidak harus, mana hak dan mana kewajiban. Dan itu semua bersumber pada dua konteks lokal sekolah.

Pertama adalah iman Katolik dan kedua filosofi dasar hidup orang Ngada.

Kembali kepada dua sumber nilai, mungkin akan menimbulkan pertanyaan. Bagaimana kalau keduanya bertentangan?

Manusia Inerie diberi akal sehat untuk menyeleksi semua warisan nilai tradisi. Memilih mana yang sesuai dengan iman dan perkembangan zaman, mana yang bisa ditafsirkan ulang dan digunakan menjadi pedoman perilaku.

Mana yang harus ditinggalkan karena tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan bertentangan dengan kemanusiaan.

Misalnya, pada masa lalu, orang yang lebih tua sering memberi anak-anak kaki ayam, sayap, kepala, pucuk tebu yang tawar, pisang masak dari sisir terakhir yang kecil-kecil. Alasan yang sering didengar adalah agar anak-anak dapat belajar tahan banting.

Diberi kaki ayam yang begitu keras dengan tujuan anak bisa berlari cepat. Diberi pucuk tebu yang tawar katanya agar anak dapat bertumbuh.

Ini adalah tradisi yang harus ditinggalkan karena memberi pelajaran buruk dalam memperlakukan anak. Anak-anak harus diberi bagian terbaik, dada ayam, misalnya. Mengalami diberi dada ayam adalah mengalami kasih.

“Dada ayam” yang akan disimpan dalam dalam “dada mereka” yakni karakter penuh kasih. Kasih yang akan mereka bagikan pada orang lain dan dikembalikan kepada “pemberi dada ayam” saat mereka tua.

Pengembalian paling sederhana adalah kayu bakar, air minum, bako maghi atau weti nata. Pengembalian yang lebih besar adalah kiriman bulanan, merawat orang tua yang sakit, ikut membangun sekolah, gereja dan desa.

Bentuk lainnya adalah  keinginan untuk selalu pulang. Pulang untuk memberi kepada kampung dan orang-orang yang telah memberi “dada ayam” yakni kasih sayang saat anak-anak itu kecil.

Baca Juga: Yang Mencegat yang Mendorong Itu, Namanya Rindu!

Kembali ke konteks lokal. Ngada adalah sebuah sub-etnis yang memiliki kekayaan filsosif hidup. Filosofi itu tersimpan dalam puisi-puisi adat. Mayoritas nilai-nilai itu sejalan dengan iman Kristen.

Karena itu, mungkin tak terlalu lebay ketika seorang misionaris menyebut orang Ngadha dan Flores, sebagai natürlich christlich, sudah kristen dari sononya. Secara alamiah sudah kristen.

Agak hiperbolis memang, kristen sejak masih jadi sel telur. Misionaris ini hidup tahun 60-an. Apakah sekarang masih “kristen alamiah”?, hanya orang-orang Ngada yang dapat menjawabnya.

Nilai-nilai lokal mana yang dapat dijadikan rujukan pembentukan karakter. Ada semacam “sepuluh perintah Allah” versi Ngada yang dirumuskan oleh Pater Huber Muda, SVD.

Rumusan ini pernah dipresentasikan dalam acara Reba Ngada diaspora Jakarta beberapa tahun lalu. 

Sepuluh prinsip hidup ini dapat menjadi bahan belajar dan praktik pendidikan karakter. Sepuluh prinsip tersebut mencakup:

(1) Dewa zata, nitu zale  (Allah di tempat tinggi, Dewa Bumi di tempat terdalam di bumi);

(2) Bodha molo ngata go kita ata (Harus memandang baik terhadap manusia);

(3) Dhepo da beo, tedu da bupu (Ikutlah pada yang tahu, tirulah pada orangtua);

(4) Dhudzu puru nee nama raka (Carilah sampai dapat, kejarlah sampai sasaran);

(5) Dua wi uma nuka wi sao (Turun ke kebun, naik ke Rumah Adat);

(6) Modhe nee soga woe meku nee doa delu (Berbaiklah dengan teman, bergaul santun dengan saudara);

(7) Maku nee da fai walu, kaqo nee da ana salo (Hargailah para janda, rangkulah para yatim/piatu);

(8) Go ngata go ngata, go tenge go tenge (Milik orang adalah milik orang, milik sendiri adalah milik sendiri);

(9) Kedhu sebu pusi sebu (Mencabut sebuah pohon/tanaman “Sebu”, menanam kembali “Sebu” di tempat yang sama);

(10) Bugu kungu nee uri logo (Jemari tumpul dan terpanggang punggung).

Saya tidak akan menguraikan satu per satu prinsip hidup orang Ngada di atas. Prinsip pertama merujuk pada karakter alumni yang beriman pada Tuhan. Tetapi iman yang vertikal mengharuskan penghormatan pada ciptaan yang “nitu”. Yang merepresentasikan dewa penjaga bumi.

Dalam tradisi Ngada, nitu adalah roh penjaga tempat-tempat yang memiliki posisi strategis bagi survivalitas manusia. Misalnya, nitu nua yang menjaga kampung, nitu wae yang menjaga mata air atau nitu wolo yang berdiam di bukit atau gunung.

Nitu bisa merujuk pada pribadi yakni roh penjaga, tetapi, nitu juga merepresentasikan bumi sebagai sebuah ekosistem yang utuh.

Dengan kata lain, nitu sebenarnya representasi dari lingkungan bumi, di mana manusia hidup dan bergantung. Dengan demikian, frasa nitu zale dapat dimaknai secara longgar sebagai penghormatan dan penghargaan manusia Ngada pada lingkungan.

Saya cenderung melihat nitu sebagai “tanda” yang mewakili lingkungan karena narasi tentang nitu selalu dihubungkan dengan tindakan pelestarian. Pada masa lalu anak-anak dilarang ke Mata air pada jam 12 siang atau jam 6 sore.

Alasannya, pada jam itu, nitu wae keluar dari mata air. Jika dimaknai lebih jauh, ceritera ini ditujukan untuk mengurangi tekanan pada mata air dengan mencegah aktivitas manusia yang berlebihan di sungai atau mata air.

Dalam kaitan dengan pembentukan karakter, prinsip ini bisa dipakai dalam proses pengajaran yakni bahwa alumni SDK Malapedho harus beriman pada Tuhan dan mencintai ciptaanNya yakni lingkungan hidup.

Prinsip ke-10 berisi ajaran tentang etos kerja keras. Bekerjalah dengan rajin sampai bugu kungu (jari menumpul). Pada masa lalu, jari tumpul karena mengolah kebun atau  membangun rumah.

Pada masa kini, jari tumpul karena tekan HP. Yang penting HP dipakai untuk mengembangkan bisnis atau aktivitas produktif lain. Selain bekerja sampai jari tumpul, manusia Inerie juga jangan takut bekerja sampai uri logo (kulit punggung retak-retak karena terik matahari).

Intinya adalah alumni harus memiliki karakter pekerja keras dan pekerja cerdas.

Prinsip ke-7 mewakili karakter kepemimpinan yang melindungi, merangkul dan welas asih. Prinsip ini terdiri dari dua frasa yakni (1) maku ne da fai walu (hargailah para janda) dalam versi lain saya mendengar meku ne da fai walu (berlaku lembutlah kepada para janda).

Frasa ini bisa ditafsirkan macam-macam. Jika disambungkan dengan frasa kago nee da ana salo (rangkullah para yatim). Jika digabungkan maka prinsip ini bicara tentang kesejahteraan komunitas.

Alumni yang menjadi pemimpin harus memperhatikan apakah warga memiliki cukup makan, punya tanah garapan, bisa sekolah, bisa berobat atau bisa memiliki pekerjaan. Semua kebaikan ini muncul dari karakter “patron yang melindungi”.

Singkatnya, nilai-nilai di atas dapat dijadikan muatan lokal dalam pembelajaran dan pembentukan karakter alumni.

Dengan demikian, manusia-manusia yang pernah belajar dari SDK Malapedho dapat bertumbuh jadi manusia beriman, kerja keras, menjadi pelopor yang selalu memberi dan bukannya mengambil dari orang lain.

 

Oleh: Nikolaus Loy Wea

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Nikolaus Loy Wea


Spread the love