Spread the love

Tahun 2019, adalah momen istimewa bagi SDK Malapedho, sebuah sekolah dasar di pesisir selatan Ngada, Flores, NTT. Sekolah ini telah mencapai usia 100 tahun.

Bayi sekolah ini adalah sebuah Sekolah Rakyat tiga tahun—lahir tahun 1919 di Maghilewa, kampung indah di kaki gunung Inerie.

Letaknya kira-kira 5 Km ke arah gunung. Bidan dari dari bayi yang bernama SRK adalah para misionaris Katolik dan tokoh-tokoh misi awam Katolik.

Beberapa tokoh pendiri lainnya adalah tukang Gereja yang berasal dari Maumere, yang kemudian ditunjuk menjadi guru.

Gunung yang memayungi sekolah ini bernama Inerie. Karena itu, pada tahun 1959, sekolah ini berubah nama menjadi SDK Inerie dan masa belajarnya bertambah menjadi 6 tahun.

Tahun 1976, berubah nama lagi menjadi SDK Malapedho, setelah dipindahkan ke sebuah pemukiman baru bernama Malapedho yang berada di tepi pantai.

Nama Inerie sebenarnya terdiri dari dua kata, Ine (Ibu) dan Rie. Ibu yang mengandung benih awal pendidikan modern, melahirkan dan mendewasakannya, lalu mengirim para alumninya ke beberapa kampung di pesisir selatan Kab. Ngada.

Di tempat baru mereka mengajar masyarakat. Sebagian alumni menjadi guru atau pembawa perubahan di tempat lain. Para alumni ini membawa cahaya yang membunuh kegelapan kebodohan.

Awalnya, sekolah ini didirikan sebagai bagian dari misi Katolik.  Namun, dalam perkembangannya, ia menjadi ibu yang melahirkan banyak tokoh pelopor perubahan sosial dan pembangunan.

Para alumni sekolah partikelir ini menjadi pelopor pendirian TK, SMP dan SMAK—merasul sebagai pejabat negara, tokoh masyarakat atau menjadi guru misioner di tempat lain.

Alumni sekolah ini juga menjadi perintis awal lembaga microfinance di pesisir selatan Ngada. Lembaga keuangan mikro ini telah menjadi sebuah koperasi kredit dengan perputaran uang mencapai kira-kira Rp 130 Miliar.

Apa yang membuat sekolah ini menjadi istimewa? Jawabannya adalah kepoloporan. SDK ini dilahirkan oleh pelopor, lalu, melahirkan banyak pelopor. Ketika awal didirikan, para pelopor menangkap semangat zaman saat itu yakni politik etis pemerintah kolonial.

Pemerintah Belanda yang selama ratusan tahun mengeruk kekayaan alam Nusantara, ingin membalas budi. Pendidikan dasar bagi inlander adalah salah satu bentuknya. Di Flores, pendidikan itu datang melalui Gereja Katolik.

Bagaimana saat ini dan bagaimana ke depan? SDK Inerie/Malapedho sedang berada di pusaran perubahan zaman. Ia telah menjadi Ibu, dan meski sudah tua, ia terus melahirkan para pelopor.

Sekolah ini juga sedang berjuang merenangi disrupsi, yakni perubahan cepat akibat kemajuan teknologi, khususnya internet. Anak-anak berguru pada Ibu Rina, Ibu Dince, Pak Stanis dan guru lain.

Mereka juga berguru pada Pak Gogel, Ibu Wazap dan Om ige—bukan Ignasius, tapi instagram. Tantangan lain adalah jumlah murid menurun akibat adanya sekolah negara, keberhasilan program KB dan kepergian pasangan muda ke pulau-pulau lain.

Perubahan cepat ini melahirkan tantangan. Bagaimana mempertahankan dan mewariskan tradisi sekolah ini, yakni tradisi kepeloporan?

Jawabannya adalah pembentukan karakter para murid. Karakter itu kualitas kepribadian dan moral.

Timbre adalah warna suara, ia membuat kita tahu bahwa itu Om Fanus dan bukan Om Fani. Karakter adalah kualitas penanda kepribadian yang bikin kamu beda dari orang lain. 

Karakter sebagai pendanda bisa positif atau negatif. Dalam bahasa Ngada, kata-kata seperti ate wae (hati pemaaf), magha dara (pikiran bijaksana), riji rai (murah hati dan suka memberi) adalah karakter positif.

Sedangkan, boro wau (mulut kotor), bhole bhale (tidak bisa dipegang omongannya), bani rigu (pemarah) adalah karakter negatif. Pendidikan karakter mengembangkan sifat-sifat positif, yang juga melahirkan tindakan positif.

Apa karakter yang menjadi ciri murid dan lulusan SDK Malapedho?

Jawabannya adalah kepeloporan yang berakar dari tiga aspek.

Ke dalam diri, semua lulusan sekolah memiliki sifat jujur, etos kerja keras dan tahan uji. Seperti sekolah ini yang bertahan 100 tahun.

Keluar ke samping, alumni selalu peduli pada orang lain, pada masyarakat, taat hukum, dan pembawa damai.

Tegak ke atas, alumni itu dekat dengan Tuhan, sedekat gunung Inerie yang melahirkan mereka—makin tegak ke atas, makin ia melebar ke samping, kepada orang lain.

Mae dhomi ngasi le bhezu (jangan hanya nampak sopan berdoa). Alumni harus keluar membawa perubahan dan perdamaian. Keluar menjadi pelopor di berbagai bidang kehidupan.

[alert type=white ]Baca Bagian 2 di Sini[/alert]

 

Oleh: Nikolaus Loy Wea

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Nikolaus Loy Wea

 

 

 


Spread the love