Spread the love

Kita mendapati tindakan saling berbagi yang tidak saja berbasis pada material uang selama pandemi. Justru apa yang bersumber dari pekarangan dan kebun, menjadi pemberian sangat berharga.

Orang-orang saling memberi atau bertukar hasil pekarangan. Aksi solidaritas dihimpun secara naluriah dan serentak. Demi kemandirian pangan di masa-masa pandemi ini, menanam di pekarangan sendiri semakin digencarkan.

Setelah rumah, pekarangan menjadi ruang strategis dimungkinkan “kembali” di masa pandemi ini. Bahkan di rumah paling urban yang mendaku sempit dan tidak ada lahan, bertanam bisa dilakukan. “Siapa menanam, akan menuai,” begitu petuah yang masih sering dikutip banyak orang meski para penuturnya tidak menanam dalam arti harfiah.

Pekarangan bukan sekadar ruang “luar”, pelengkap, atau fungsional. Pekarangan ada dalam perjalanan panjang pengalaman manusia meruang, yang saat ini sangat karib dengan pangan.

Di akhir abad pertengahan dan tetap menjadi simbol kebangsawanan di era modern, pekarangan lekat dengan hunian pribadi dan gedung publik milik kaum aristokrat Prancis dan Inggris (Yuval Noah Harari, 2018). Tentu mereka tidak menanam kentang, tomat, atau sawi, tapi bentang rumput apik.

Hanya kaum bangsawan yang sanggup “memboroskan” lahan untuk sesuatu tidak bisa dimakan. Halaman rumput dijadikan panggung otoritas, pengukuhan status dan kekayaan, sekaligus acara penting yang bersifat sosial. Dalam jagat aristokrasi dan intelektualitas terutama, hamparan rumput begitu mendapat martabat.

Situasi darurat usai Perang Dunia II membuat pekarangan dipentingkan dalam urusan pangan yang kemungkinan besar tidak hanya berdampak di wilayah orang-orang jelata.

Pekarangan itu ada. Awalnya ditanami tumbuhan hias atau sedikit tumbuhan pangan, lantas dimaksimalkan untuk ketahanan skala rumah tangga. Di Indonesia yang juga perlahan memperbaiki ekonomi dalam negeri di situasi pascakemerdekaan, terbit buku di bawah otoritas Kementerian Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan RI berjudul Wanita dan Pekarangan (1952) garapan Moh. Abdulrachman.

Buku sengaja disusun untuk sekolah-sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah latihan guru. Terutama para perempuan dipandu mengatasi kenaikan harga kebutuhan pokok dan masalah berumah tangga di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang karena perubahan situasi ekonomi dan politik usai Perang Dunia II.

Sampai sekitar tahun 80-an, bertanam masih diajarkan di sekolah dibarengi penerbitan buku-buku bertanam yang merakyat dan sederhana. Wajar ketika Indonesia menjadi salah satu negara yang harus menanggapi pemberdayaan pekarangan untuk menghadapi masa-masa darurat.

Terlepas dari rumah tangga perkotaan yang diutamakan, Indonesia memiliki kekayaan (ruang) pekarangan. Tajuk Republika (30 Mei 2016) melaporkan pekarangan Indonesia memiliki pekarangan seluas lebih dari 10 juta hektar.

Pekarangan menjaga ketahanan pangan lokal keluarga, menentukan stabilitas pangan nasional, bisa menjadi solusi kebijakan impor, dan akhirnya menjadi jalan menghadapi pandemi.

Pakar pangan, Andreas Maryoto (2009), menjelaskan “Pekarangan, Pertahanan Pangan yang Hilang” dalam nuansa skeptis juga sedikit optimis. Penyempitan lahan seiring ruang terus membangun dan penurunan keragaman hayati pekarangan terjadi.

Desakan ekonomi atau kebutuhan akan uang untuk keperluan sehari-hari memosisikan hasil pekarangan lebih sebagai komoditas pasar daripada basis pangan keluarga. Selain itu, masih ada diskriminasi jenis pangan bertaut dengan politik swasembara beras. Umbi-umbian yang tumbuh di pekarangan misalnya, masih tetap menjadi bahan pokok sekunder di masa-masa paceklik.

Sering terjadi justru di pedesaan dengan pekarangan yang luas, kekurangan gizi dan kemiskinan begitu tampak. Rumah-rumah di kota mulai menggaungkan gerakan urban farming sebagai kemodernan dan gaya hidup sehat dari pekarangan sendiri.

Namun, Andreas tetap meyakini, “Ideologi kemandirian pangan sebenarnya sudah ada sejak lama di tingkat rakyat.” Pekarangan adalah otoritas rakyat saat negara sering menggantungkan nasib pada pasar dan impor.   

Kelihatan Apolitis

Pada tahun 50-an, pekarangan memang cenderung menjadi ruangnya perempuan. Arus perempuan memasuki dunia kerja belum terlalu masif terjadi.

Pembagian peran tradisional mengharuskan perempuan lebih dekat dengan rumah masih begitu lekat sekaligus mewakili pangan dan ekologi secara simbolik. Inilah yang sangat disadari oleh Ibu Tien Soeharto di masa Orde Baru untuk menciptakan sistem representasi bagaimana perempuan dilihat berdasar ruang mengisarinya.

Di saat bersamaan, Ibu Tien menyerukan menanam empon-empon (apotik hidup), sayur-sayuran (karang hijau), dan bebungaan (taman atau karang sari). Dari pekarangan, Ibu Tien memang membuat perempuan menjadi garda penjaga pangan, tapi domestikasi ini cenderung membuat perempuan tampak apolitis.

Kelihatan mirip, tapi sangat berbeda cara meletakkan pekarangan atau kebun dalam situasi politik abad ke-21 mengingatkan pada Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama, semasa pemerintahan Barack Obama. Michelle langsung bertanam dari Gedung Putih, titik pusat pemerintahan yang cenderung maskulin atau urusan lelaki.

Di buku Becoming (2019) Michelle Obama menegaskan bahwa daripada acara sosialitas cenderung elitis dan formal, kebun Gedung Putih harus memuat “proyek pelayanan masyarakat”.  

Michelle mengatakan, “Pemerintahan Barack berfokus memperbaiki akses perawatan kesehatan yang terjangkau. Bagiku, kebun menjadi cara untuk memberikan pesan paralel tentang cara hidup sehat. Aku menganggapnya sebagai tes awal, percobaan yang bisa membantuku menentukan apa yang bisa kucapai sebagai Ibu Negara, sebuah cara harfiah untuk mengukuhkan pijakanku dalam pekerjaan baru ini.”Michelle mengakui kebun memang kelihatan apolitis, tapi justru dari wilayah tampak tenang dan netral inilah, diciptakan kelas belajar tentang menumbuhkan makanan mandiri sekaligus menantang politik pangan yang digerakkan industri-pertanian raksasa.

Negara seindustrial Amerika, pada mulanya dibentuk oleh pertanian skala rumahan sebelum pertanian industrial. Kebun sama politisnya dengan Gedung Putih, kantor, ataupun halaman berumput.

Protokol kesehatan berlaku dan semakin digaungkan di masa pandemi ini, memang jelas menempatkan negara sebagai pihak berotoritas dan bertanggungjawab menyediakan akses kesehatan.

Tapi, kesadaran untuk di rumah saja, membuat setiap keluarga sebagai pihak utama penjaga imunitas, kesehatan, dan asupan gizi anggota keluarga dan orang-orang terdekat. Keluarga benar-benar diuji untuk menyediakan pangan, kembali ke pekarangan sekalipun dengan niat mengisi waktu luang atau menjalani hobi.

Saat ini, komersialisme begitu kuat memengaruhi pertumbuhan bangunan di sekitar kita. Kita memasuki era spasial yang ditentukan oleh kredit rumah, bisnis properti, ambisi membangun bangunan, dan harga material bangunan.

Pertanian urban ditumbuhkan di sela-sela tembok hotel, petak sempit dari suatu rumah yang kecil, sisa pipa atau botol disusun ke atas, adalah kedaulatan yang diupayakan secara merdeka. Perjanjian antara manusia dengan bumi sejak penemuan agrikultur ribuan tahun lalu dikukuhkan lagi.

Rumah-rumah di Indonesia dengan lahan paling luas ataupun sempit sekalipun, setidaknya ada satu jenis bahan pangan atau bumbu dapur. Saat orang berpindah ke wilayah lebih urban, mereka tetap membawa naluri agraris. Perubahan tata ruang memang terjadi, tapi pekarangan masih ada meski belum benar-benar secara spasial.

Di masa pandemi ini, orang-orang dapat belajar berstrategi dan menghargai apa yang ditanam dan tumbuh di (ruang) pekarangan.

sETYANINGSIH

 

Oleh: Setyaningsih

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Corak atau tulisan menarik lainnya dari Setyaningsih

 


Spread the love