Spread the love

Sekitar seabad yang lalu penyair dan filsuf terkenal Sir Muhammad Iqbal dalam puisi Persia yang terkenal menulis:

Asia adalah badan air dan tanah liat, di mana bangsa Afghanistan menjadi hatinya.

 Seluruh Asia korup, jika hati rusak.

 Penurunannya adalah kemunduran Asia, kebangkitanya adalah kebangkitan Asia.

 Tubuh bebas hanya selama hati bebas.

 Hati mati dengan kebencian, tetapi hidup dengan iman.

Afghanistan, negara multietnis ini terkurung daratan yang terletak di jantung Asia Tengah Selatan, membantang sepanjang rute perdagangan penting yang menghubungkan Asia Selatan dan Timur ke Eropa serta Timur Tengah.

Afghanistan, telah lama menjadi wilayah yang diperebutkan oleh para kekaisaran juga penakluk yang datang silih berganti.

Selama ribuan tahun, pasukan besar telah berusaha untuk menundukkannya dari Arya, Media, Persia, Yunani, Maurya, Kushan, Sassaniyah, hingga Arab, tetapi, sekali lagi mereka hanya bisa meninggalkan jejak dari upaya mereka yang gagal.

Tak terkecuali baru-baru ini, Amerika Serikat yang perkasa itu, pulang dengan kekalahan yang memalukan setelah berdamai dengan Taliban, pemberontak yang mereka buruh pada 20 tahun lalu karena menyembunyikan Osama bin Laden.

Pada Desember 2019, surat kabar the Washington post memperoleh dokumen rahasia yang mengungkapkan bahwa para pejabat senior Amerika Serikat gagal mengatakan yang sebenarnya tentang perang di Afghanistan yang berlangsung hampir nyaris 21 tahun lamanya.

Para pejabat tersebut membuat pernyataan yang mereka yakini salah dan menyembunyikan bukti bahwa Amerika sebenarnya telah kalah perang, secara telak.

Dokumen tersebut di atas dihasilkan oleh proyek federal yang memeriksa akar terdalam dari konflik bersenjata terpanjang dalam sejarah Amerika tersebut.

Dokumen setebal 2.000 halaman berisikan catatan wawancara dengan orang-orang yang memainkan peran langsung dalam perang, dari Jendral dan diplomat hingga pekerja bantuan dan pejabat Afghanistan.

Pemerintah Amerika mencoba untuk melindungi identitas sebagian dari mereka yang diwawancarai dan menyembunyikan hampir semua komentar mereka dalam wawancara tersebut.

Lebih dari 400 orang memberikan kritik yang tidak terkendali atas apa yang salah di Afghanistan dan bagaimana Amerika Serikat terperosok dalam hampir dua dekade perang.

Menurut angka dari Departemen Pertahanan Amerika, sejak 2001 lebih dari 775.000 tentaranya telah dikerahkan ke Afghanistan. Dari jumlah ini 2.300 tewas dan 20.000 lebih terluka dalam pertempuran.

Wawancara-wawancara itu memberikan penjelasan tajam tentang kegagalan-kegagalan inti dari perang yang bertahan hingga hari ini, tepat ketika Afghanistan terbelah dalam kecamuk perang saudara.

Sudah empat presiden Amerika Serikat: George HW Bush, Barack Obama, Donald Trump dan Joe Biden serta komandan militer tidak dapat memenuhi janji mereka untuk menang di Afghanistan.

Dengan asumsi bahwa pernyataan mereka tidak akan dipublikasikan, para pejabat Amerika dan arsitek perangnya mengakui bahwa strategi perang mereka fatal dan Washington membuang banyak uang untuk mencoba mengubah Afghanistan menjadi negara modern dengan landscape politik bercorak barat.

Afghanistan telah menjadi rawa perang yang begitu panjang dan mahal untuk Amerika. Menurut analisis baru-baru ini dijelaskan bahwa Amerika menghabiskan sekitar 2,26 triliun Dollar Amerika atau sekitar 37.380 lebih Triliun Rupiah.

Pengeluaran ini mencakup pengeluaran operasi kontingensi luar negeri biaya bunga pinjaman dana untuk perang hingga perawatan veteran perang Afghanistan.

Laporan itu juga memperkirakan bahwa hingga 241.000 orang tewas di Afghanistan dan Pakistan sebagai akibat langsung dari perang tersebut.

Perang ini merenggut nyawa 2.442 tentara Amerika, enam warga sipil Departemen Pertahanan Amerika, 3.936 kontraktor Amerika dan 1.144 tentara sekutu, 66.361 Anggota militer dan polisi nasional Afghanistan serta 9.314 tentara dan polisi Pakistan juga tewas.

Lebih dari 71.000 warga sipil meninggal dari jumlah itu sekitar 47.000 di Afghanistan dan 24.000 di Pakistan.

Selain itu, lebih dari 51.000 pejuang oposisi tewas di Afghanistan dan sekitar 33.000 lainnya di Pakistan kehilangan nyawa.

Laporan yang sama juga menyebutkan sekitar 136 wartawan dan pekerja media serta 549 pekerja kemanusiaan tewas dalam perang tersebut.

Angka-angka pengeluaran di atas tidak termasuk uang yang dihabiskan oleh CIA dalam operasi intelijen dan Departemen Urusan Veteran yang  bertanggung jawab untuk perawatan medis bagi para tentara yang terluka.

Beberapa dari mereka yang diwawancarai, menggambarkan upaya eksplisit dan berkelanjutan oleh pemerintah Amerika untuk sengaja melakukan penyesatan publik.

Mereka mengatakan adalah hal biasa di markas militer Amerika di Kabul dan di Gedung Putih untuk mengubah statistik agar tanpa Amerika Serikat dalam situasi memenangkan perang.

Wawancara juga mengungkapkan bagaimana komandan militer Amerika berjuang untuk mengartikulasikan siapa sebenarnya yang mereka lawan dan mengapa.

Apakah musuh mereka adalah Al-Qaida atau Taliban?, Apakah Pakistan teman atau musuh?, Bagaimana dengan ISIS dan para petempur garis keras dari luar negeri yang membingungkan?.

Akibatnya, di lapangan, pasukan Amerika Serikat sering tidak dapat memberitahu dan benar-benar paham siapa sebenarnya teman dan siapa sebenarnya musuh.

Amerika memang benar-benar terjebak dalam lumpur perang tanpa batas, tetapi, sebenarnya Amerika tidak sendirian mengalami frustasi dalam upaya menunduduki negara ini.

Apa yang dialami Amerika Serikat hanya mengukuhkan Afghanistan sebagai negara yang tidak mungkin untuk dikalahkan. Perangkat tempur canggih yang dikendalikan remote control bertekuk lutut pada kegigihan untuk bertarung dari orang-orang yang bersembunyi di gua-gua pegunungan.

Afghanistan bukan negara dengan tentara yang kuat, bukan negara dengan teknologi militer yang canggih, bukan juga negara yang kaya, tetapi, Afghanistan adalah sebuah negara yang sangat kuat yang hampir tidak mungkin ditaklukkan.

Sejarah telah membuktikan hal itu. Apa yang dialami Amerika memperkuat anggapan bahwa negara ini layak dijuluki sebagai the Graveyard of Empires atau kuburannya para kekaisaran.

Uni Soviet pernah dibuat mundur malu dari Afganistan. Inggris pun tidak kalah pedihnya. Terakhir Amerika Serikat pun dibuat terjebak dalam rawa perang yang tidak ada habisnya.

Apa yang membuat Afganistan begitu sulit direbut dan dipertahankan?

Pertama dan yang terpenting adalah medan tempur Afghanistan seperti semangkuk besar padang pasir yang dikelilingi oleh beberapa puncak tertinggi di dunia. Situasi yang tidak dapat dihancurkan oleh pasukan tempur dengan mudah.

Lawan mereka bisa dengan mudah menghilang ke pegunungan dan menyembuhkan luka mereka sampai musim pertempuran berikutnya tiba.

Pada jaman modern, puncak pegunungan yang tinggi meniadakan keuntungan dari baju besi dan tank, sama seperti meniadakan keuntungan kavaleri berat pada zaman dulu.

Amerika Serikat lebih beruntung karena merupakan kekuatan tempur yang layak di Afghanistan dengan keuntungan pasokan logistiknya.

Jika Amerika dapat memperoleh pasokan dan pasukan bisa keluar masuk dengan relatif mudah, Inggris yang menyerang pada tahun 1839, memiliki sistem yang jauh tidak dapat diandalkan, itu sebabnya, tak banyak dari ribuan tentara dan penghuni kamp perang yang kembali. Hal itu diingat sebagai Disaster in Afgan

Alasan lain mengapa tidak ada yang bisa menaklukkan Afghanistan adalah karena setiap penjajah harus benar-benar menundukkan penduduk asli yang liat dan heterogen.

Persoalannya, Afghanistan dihuni masyarakat yang sangat beragam. Banyak suku seperti Pashto 42%, terpusat di bagian timur, dan selatan Afghanistan; Tajik 27% berpusat di bagian utara, dan Kabul; Hazara 9% berpusat di Afghanistan tengah termasuk Bamiyan; Uzbek 9%; Aimak 4%; Turkmen 3%; Baluchi 2% dan sisanya 4%.

Semua suku memiliki karakter dan kesetiaan serta militansi yang sangat kuat. Tidak usah bicara Bagaimana kesetiaan Taliban atau Mujahidin.

Seorang Afghanistan biasa dia akan sangat setia pada klan, suku, unit ulama dan pemimpin suku ataupun pemerintahan.

Situasi pertempuran Taliban dan pemerintahan Afghanistan dalam beberapa pekan ini menunjukkan itu secara gamblang.

Bayangkan bagaimana bisa menundukkan 34.000.000 orang. Ketika Anda menyerang Afghanistan mengalahkan orang-orang itu dalam pertempuran sengit juga terasa sangat sulit.

Tidak percaya tanyakan kepada Inggris, membantai mereka juga tidak berhasil. Tidak percaya juga tanyakan pada Uni Soviet, menggunakan senjata modern dan disertai dengan pendekatan politik juga mental.

Masih belum percaya juga tanyakan ke Amerika Serikat yang baru saja mundur.

Sekali lagi Afghanistan mengubur kaisar perang yang frustasi, tanpa arah, dan putus asa.

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari  Petrus Kanisius Siga Tage

 


Spread the love