Spread the love

Filsafat adalah ilmu kritis karena ia seperti “anjing yang menggonggong, mengganggu dan menggigit segala bentuk kemapanan ideologis yang imun terhadap segala macam pertanyaan”, demikian pendapat Franz Magnis-Suseno dalam Filsafat sebagai Ilmu Kritis.

Menurutnya, jauh dari apa yang pernah diprediksi banyak orang, filsafat ternyata tidak meninggal dunia, tetapi menemukan diri kembali dalam dua arti, pertama, ia mengangkat agendanya sendiri untuk mempertanyakan keseluruhan realitas, termasuk makna hidup manusia dan karena itu begitu menarik minat bagi mereka yang mau bertanya dan berpikir dan kedua, menyertai ilmu-ilmu dengan komentar, catatan, kritikan dan usulan.

Akan tetapi, mengafirmasi analisis Jurgen Habermas, Ignas Kleden dalam artikel “Status Ilmiah Filsafat dan Tantangan Kontemporer” mewanti tantangan filsafat pada era kontemporer: tantangan filsafat bukan saja muncul dari spesialisasi ilmu-ilmu pengetahuan yang semakin canggih dan memaksa filsafat untuk pertama kali dalam sejarah berupaya mempertahankan hak hidupnya, tetapi juga dari berubahnya hubungan antara filsafat dan bidang kehidupan lainnya seperti hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan, fisafat dan tradisi kebudayaan, filsafat dan agama serta filsafat dan dunia pendidikan, terutama sejak masa sesudah Georg Wilhem Friedrich Hegel.

Pertama, dalam bidang ilmu pengetahuan, klaim filsafat sebagai ilmu dasar yang menyediakan penjelasan final untuk segala sesuatu mulai goyah karena digeser oleh fisika dan ilmu alam lainnya yang mendasarkan diri pada penelitian dan penemuan baru.

Kedua, dalam bidang tradisi kebudayaan barat, munculnya Marxisme, eksistensialisme, dan historisme tidak lagi membutuhkan metafisika sebagai pendasaran terakhir.

Ketiga, dalam bidang agama, filsafat yang tidak lagi mengklaim penjelasan terakhir tentang yang satu atau yang mutlak terpanggil juga untuk melakukan kritik terhadap ide tentang satu Allah atas cara yang jauh lebih radikal.

Keempat, dalam bidang pendidikan, filsafat bukan lagi milik eksklusif elite pendidikan, tetapi sudah mendapat tempat yang luas dalam lembaga-lembaga pendidikan.

Dilihat secara umum, demikian Kleden, tantangan utama filsafat adalah “peralihan cara pikir dan alam pikiran metafisis ke cara pikir yang oleh Habermas dinamakan postmetafisis.” Jika cara pikir metafisis menekankan pertama, filsafat identitas bahwa segala sesuatu berasal dari satu prinsip abstrak, kedua, subjek yang tahu dan sadar sebagai sumber pengetahuan dan ketiga, status manusia yang merenung dianggap lebih tinggi dari pada manusia yang terlibat dalam kehidupan aktif, maka cara pikir postmetafisis menekankan pentingnya metodologi ilmu-ilmu berdasarkan rasionalitas prosedur.

Dengan demikian, semua usaha filosofis dinyatakan tidak mampu mengembalikan klaim filsafat akan pengetahuan tentang totalitas. Sebagai gantinya, “semua mereka hanya sanggup mendefinisikan apa yang tidak dikehendaki oleh filsafat untuk dirinya sendiri, tanpa sanggup merumuskan secara positif apa yang diinginkannya sebagai tugasnya pada masa sekarang.”

Terhadap nada yang begitu positif dari Franz Magnis Suseno dan tantangan yang besar dari Ignas Kleden, patut dipertanyakan, apa dan bagaimana peran STFK Ledalero dalam mengembangkan dan melaksanakan filsafat sebagai ilmu kritis?

Apakah filsafat yang diajarkan atau lebih tepatnya dilakukan di lembaga ini sudah sungguh menampilkan jati diri sebagai ilmu kritis?

Tulisan ini akan mendiskusikan persoalan peran STFK Ledalero dalam mengembangkan filsafat sebagai ilmu kritis. Penulis berpendapat, STFK Ledalero akan mampu melaksanakan filsafat sebagai ilmu kritis jika ia bukan sekadar pabrik ijazah yang memproduksi sarjana pelayan mesin kapitalisme global, tetapi sebaliknya menghasilkan intelektual yang kritis terhadap kekuasaan Imperium dunia ekonomi politik dan kekuasaan Sacerdotum institusi religius.

Visi besar sekolah tinggi filsafat katolik milik tarekat Societas Verbi Divini (SVD) yang dibentuk sebagai tindak lanjut atas Ensiklik Maximum Illud Paus Benediktus XV pada 30 November 1919 dan disahkan Tahta Suci Vatikan pada 20 Mei 1937 dengan motto Dilligite Lumen Sapientiae ini adalah menjadi sekolah tinggi filsafat Katolik yang kompetitif di tingkat nasional dan internasional dalam menciptakan manusia yang bernalar, berhati nurani, berkarakter dan berkepedulian.

Visi besar itu kemudian dijabarkan ke dalam misi, menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang filsafat dan teologi dalam dialog dengan ilmu-ilmu sosial, membuat penelitian di bidang filsafat dan teologi dalam dialog dengan ilmu-ilmu sosial, dan menerapkan ilmu filsafat dan teologi dalam dialog dengan ilmu-ilmu sosial untuk kepentingan pengabdian kepada masyarakat baik dalam tataran nasional maupun internasional.

Visi program studi, “menjadi program studi yang unggul dalam menghasilkan lulusan yang setia kepada Pancasila dan UUD’45, berkomitmen mengamalkan nilai-nilai iman Katolik, mampu berfilsafat-teologi, cerdas, kreatif, inovatif, kompetitif, profesional, pluralis, dan tanggap terhadap situasi sosial kemasyarakatan.”

Dilihat secara umum, gol STFK Ledalero untuk menghasilkan manusia yang bernalar, berhati nurani, berkarakter dan berkepedulian melalui piranti pendidikan akademik, penelitian ilmiah dan penerapan ilmu filsafat dan teologi dalam dialog dengan ilmu-ilmu sosial demi pengabdian masyarakat tampak sejalan dengan perannya untuk melaksanakan filsafat sebagai ilmu kritis. Akan tetapi, apa itu filsafat sebagai ilmu kritis? Apa betul STFK Ledalero sudah melakukan filsafat sebagai ilmu kritis?

Filsafat memang selalu merupakan kritik dan kritik adalah tugas terpenting filsafat. Sebagai ilmu kritis, filsafat sering dituduh tidak sopan, anarkis, sekularistik, dan ateis karena suka menyobek kepentingan ideologis duniawi termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim (FMS, 1992)

Sebagai ilmu kritis, terdapat sekurang-kurangnya lima (5) tugas filsafat.

Pertama, filsafat berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang manusia yang tidak bisa dijawab oleh ilmu-ilmu khusus seperti apa arti dan tujuan hidup saya? Apa yang menjadi tanggung jawab mutlak saya sebagai manusia? Bagaimana saya harus hidup agar menjadi manusia yang baik?

Kedua, filsafat memberikan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional terhadap pelbagai pertanyaan fundamental di atas.

Ketiga, karena persoalan dan pertanyaan fundamental tentang manusia tidak pernah selesai dan jawaban filsafat bukanlah dogma, maka filsafat mengkritik diri sendiri, artinya mengkritik jawaban-jawaban terhadap pertanyaan fundamental di atas.

Keempat, filsafat melakukan kritik ideologi, yakni suatu teori menyeluruh tentang makna hidup dan/atau nilai-nilai dari padanya ditarik kesimpulan mutlak tentang bagaimana manusia harus hidup atau bertindak. Terhadap suatu ideologi atau teori yang menuntut segala-galanya tidak pernah boleh dipertanyakan, filsafat menuntut pertanggungjawaban.

Baca Juga: Media Sosial dan Krisis Eksistensi

Kelima, filsafat politik mengajukan tuntutan legitimasi terhadap dua (2) lembaga politik, yakni hukum dan Negara. Terhadap hukum, filsafat menagih, engkau harus adil, dan terhadap Negara, filsafat menggugat, untuk apa kekuasaan Negara boleh dipakai? Oleh siapa? Atas cara apa? 

Pertanyaannya, apakah STFK Ledalero sudah melaksanakan tugas atau kerja filsafat sebagai ilmu kritis di atas?

Pertama, STFK Ledalero menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang manusia dan melakukan otokritik atasnya. Jika kita mencermati mata kuliah-mata kuliah yang ditawarkan di STFK Ledalero Program Studi Strata Satu (1) Filsafat antara lain epistemologi, logika, filsafat manusia, etika, moral dasar, filsafat budaya, dan lain-lain kita mungkin akan mengafirmasi pertanyaan di atas.

Akan tetapi, apakah jawaban terhadap pertanyaan fundamental tentang manusia itu sudah sungguh melahirkan sikap kritis dalam diri para mahasiswa filsafat masih merupakan sebuah tanda tanya. Idealnya adalah pertanyaan, jawaban, dan pengetahuan tentang manusia selalu berada dalam proses pencaharian tanpa batas, kecuali batas-batas pengetahuan itu sendiri.

Konsekuensinya, pencaharian jawaban terhadap pertanyaan fundamental tentang manusia mesti dilakukan dalam suasana komunikatif dan terbuka tanpa represi di mana semua anggota komunitas akademis saling mendengarkan pertimbangan dan kritik dari sesama rekan, betapa pun tajamnya kritik itu.

Kritik dalam ruang-ruang kuliah, apalagi kritik terhadap persoalan manusia yang tidak pernah selesai, mesti terus diajukan agar jawaban dosen tidak menjadi dogma yang tinggal dihafal oleh para mahasiswa.

Seorang rekan alumni mengatakan, STFK Ledalero tidak akan berhasil melaksanakan filsafat sebagai ilmu kritis jika metode pengajaran membuat para mahasiswa hanya mengejar angka Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). STFK Ledalero perlu menciptakan ruang kuliah di mana para mahasiswa tidak hanya menegejar transkripsi nilai yang cemerlang, tetapi juga berkemampuan menggugat praktik ketidakadilan sosial yang menindas umat manusia.

Jika mahasiswa menjadi apatis dengan realitas sosial-politis yang tidak adil, jawaban-jawaban filosofis terhadap pelbagai pertanyaan fundamental tentang manusia menjadi mubazir.

Diperlukan kesinambungan antara situasi sosial masyarakat di desa-desa atau kampung-kampung di satu sisi dan refleksi kritis filosofis di ruang-ruang kuliah di sisi lain agar STFK Ledalero tidak menjadi menara gading yang asing terhadap persoalan konkret manusia.

Kedua, STFK Ledalero melakukan kritik ideologi. Sasaran utama kritik ideologi adalah klaim kemutlakkan yang menuntut agar suatu teori atau ajaran tidak perlu dipertanyakan lagi karena sudah dianggap sebagai kebenaran yang mutlak.

Dalam konteks Indonesia, klaim mutlak ideologi tampak dalam apa yang disebut Mantan Ketua PP Muhamadiyah, Ahmad Syafii Marif sebagai teologi maut: “teologi maut, berani mati karena tidak berani hidup, memonopoli kebenaran bahwa di luar kami haram” (Kompas, 9/4/2017).

Peran komunitas akademis di STFK Ledalero adalah mendeteksi sebab krisis multidimensional yang menjadi akar penyebaran teologi maut dan ideologi ekstrim di atas.

Misalnya, refleksi filosofis memperlihatkan, gerakan fundamentalisme agama dan terorisme terjadi karena krisis multidimensional yang mendera bangsa ini antara lain melebarnya jurang antara si kaya dan si miskin, tidak adilnya distribusi kesejahteraan dan ketimpangan pembangunan antara Indonesia bagian barat dan timur.

Mengkambinghitamkan agama sebagai dalang terorisme adalah selubung ideologis yang mesti disingkap oleh refleksi filosofis. Teologi maut dan ideologi ekstrim ditengarai muncul karena tidak ada dialog yang setara antara ilmu pengetahuan dan agama, antara akal budi dan iman.

Krisis lain lagi adalah terdepaknya agama hanya kepada praktik kesalehan ritualistik pribadi tanpa keterlibatan sosial. Masyarakat Indonesia umumnya dan NTT khususnya dikenal sangat religius yang ditandai dengan menjamurnya rumah ibadah di mana-mana.

Akan tetapi, benar pula jika dikatakan, Indonesia dalam skala global dan NTT dalam skala lokal adalah lumbung koruptor kelas kakap yang tak pernah malu menggarong uang rakyat. Kita menonton megakorupsi proyek KTP Elektronik yang menyeret nama-nama besar di negeri ini yang umumnya adalah penganut agama tertentu.

Di Flores, kita juga pernah diperintah oleh bupati yang tampak sangat saleh tetapi juga amat korup. Tampaknya kita perlu mengevaluasi cara kita beragama agar kesalehan pribadi di Gereja, masjid, pura, wihara dan ruang ibadah lainnya menjelma menjadi kesalehan sosial-politis di ruang-ruang publik.

Ketiga, SFTK Ledalero mengajukan tuntutan legitimasi hukum dan Negara. Suatu tren yang cukup menggembirakan bahwa akhir-akhir ini filsafat politik mendapat tempat yang cukup luas di STFK Ledalero.

Hemat saya, hal ini tentu tidak terlepas dari semakin besarnya minat para mahasiswa filsafat terhadap isu-isu politik. Dari sudut sejarah filsafat, demikian Franz Magnis, minat yang besar terhadap politik bukanlah hal yang mengejutkan karena para filsuf besar mulai dari Herakleitos yang menamakan perang sebagai bapak dari segala-galanya sampai Andre Glucksman yang mendukung penempatan roket Pershing II di Republik Federal Jerman memiliki minat besar terhadap politik dan mengambil sikap yang relevan atasnya.

Peran STFK Ledalero untuk mengajukan tuntutan legitimasi hukum dan Negara tampak dalam diskusi-diskusi di ruang kuliah, tulisan-tulisan di buku, majalah, dan surat kabar serta keterlibatan konkret dalam mengadvokasi persoalan hukum dan hidup bernegara bangsa ini.

Dalam diskusi-diskusi di ruang kuliah, komunitas akademis mempertanyakan hakikat dan peran-peran legitim Negara. Dalam tulisan-tulisan di berbagai media massa, komunitas akademis membongkar praktik-praktik kekuasaan yang tidak berkiblat pada kepentingan umum, tetapi hanya memuaskan syahwat kepentingan elite tertentu. B

asis filosofis yang kuat tentang politik selanjutnya menjadi daya dorong untuk mengadvokasi hak-hak orang-orang kecil yang dipinggirkan secara politik ekonomi.

John Prior merumuskan peran politis STFK Ledalero seperti ini, “seandainya ilmu filsafat, sosiologi, dan teologi dipahami secara serba abstrak dan diajar melalui kuliah mimbar melulu, terlepas dari realitas hidup sehari-hari dari kalangan orang kecil, pasti timbul bahaya bahwa pusat pendidikan kita kurang mempedulikan ‘yang lain’, ‘yang bukan kaya’, ‘yang bukan laki-laki’, yakni ‘yang bukan kita’.

Opsi bagi kaum miskin membuka diri kita dan lembaga kita pada ‘yang lain’ agar merangkul beragam manusia, secara khusus mereka-mereka yang dilupakan. Opsi intelektual-praktikal (theoria dan praxis) mengantar (educare) kita untuk melintasi tapal-tapal batas antar kelas ekonomi, golongan agama serta lingkup budaya.” 

Dengan rumusan lain, STFK Ledalero perlu turun gunung menjumpai orang-orang miskin di pasar, kolong jembatan, gubuk reot, tenda pengungsian sebagai locus refleksi filosofis. Oleh karena itu, Prior melanjutkan, “STFK Ledalero tidak boleh menganggap diri sudah berhasil jika alumninya menjadi minyak pelumas yang memperlancar sistem finansial-politik yang sedang memecahbelahkan dunia ke dalam kutub kecil yang kaya dan kutub raksasa yang dipermiskinkan.

Kontradiktif namun nyata bahwa Gereja memiliki sekolah-sekolah elit yang menghasilkan manusia yang ‘berhasil’ dalam tata dunia, sedangkan orang miskin dirawat di pinggiran jalan oleh karya sosial dari Gereja yang sama.

Sangat boleh jadi bahwa caritas kepada para korban sistem ekonomi politik ditanggung oleh para alumni sekolah-sekolah elit yang menjalankan sistem ekonomi-politik itu yang justru mengorbankan kaum miskin yang mereka bantu itu.”

Baca Juga: Sekarat, Penderitaan Fisik dan Hilangnya Kebahagiaan

Dengan kata lain, filsafat sebagai ilmu kritis yang dilakukan di STFK Ledalero tidak boleh hanya sekadar teori yang disabdakan dari mimbar kuliah, melainkan mesti menjadi praksis pembebasan yang berpihak pada orang-orang miskin.

Sangat penting mendeteksi praktik neoliberalisme dan kapitalisme, misalnya sebagai sebab pebagai ketimpangan dan ketidakadilan sosial, tetapi sangat mendesak pula melakukan refleksi filosofis tentang apa yang boleh dan bisa dibuat agar orang-orang miskin tidak dipermiskin lagi oleh sistem ekonomi politik dunia yang memiskinkan itu.

Mengikuti Karl Marx, filsuf tak boleh hanya merenung tentang dunia yang korup, tetapi juga harus mengubahnya.

Tentu saja ini adalah kerja intelektual maha berat yang hanya bisa dilakukan oleh lembaga pendidikan yang tidak mengabdi pada kepentingan penguasa dunia, pemimpin rohani, serta pengusaha.

Bila ada persekongkolan antara penguasa dunia dan pemimpin Gereja demi kepentingan kekuasaan, STFK Ledalero tidak boleh menjadi hanya sekadar dumpul dan boneka yang bisa dipermainkan sesuka hati, tetapi mesti menantang persekongkolan itu agar sacerdotum dan imperium tidak menindas kelompok umat manusia yang paling lemah dan miskin di atas bumi manusia ini.

Prior mengingatkan, peran STFK Ledalero untuk melakukan kritik terhadap status quo baik terhadap sacerdotum gerejani maupun terhadap imperium kekuasaan sekular mulai dari tingkat paling bawah hingga tingkat paling atas tidak akan bisa dilakukan jika ia hanya sekadar menjadi “pabrik ijazah yang menghasilkan sederetan pekerja terampil untuk memenuhi kebutuhan apa adanya dari pemerintah, perusahaan, dan Gereja.”

Akan tetapi, akhirnya, mengutip Ignas Kleden, “apapun yang dikatakan tentang filsafat, namun tradisinya untuk bertanya secara tuntas dan radikal, disertai ketahanannya untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya, tetap menjadi energi yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Filsafat tetap dibutuhkan sebagai Austrengung des Denkes, yaitu sport ekstrim untuk otak dan akal manusia.”

Untuk bisa menjadi sport ekstrim untuk otak, hemat saya, sudah saatnya STFK Ledalero membiasakan para mahasiswa untuk membaca langsung tulisan para filsuf besar mulai dari zaman antik Yunani Kuno sampai dengan zaman kontemporer Abad 21 untuk selanjutnya mendialogkan pemikiran para filsuf dengan realitas sosial politik masyarakat berdasarkan hasil penelitian ilmu-ilmu sosial.

Dengan demikian, seperti sudah ditulis John Prior, “STFK Ledalero seyogyanya berperan sebagai panggung perjumpaan, agen pembaruan, tempat yang tepat untuk memperdalam theoria dan praxis kehidupan manusia yang wajar, ‘kehidupan dalam segala kelimpahannya (Yoh. 10:10).”

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi

Oleh: Silvano Keo Bhaghi

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari Silvano Keo Bhaghi

 


Spread the love