Spread the love

“Cantik sendirian aja?”,  “Nona manis”, “Ehemm perempuan..”, “Hi ganteng”. 

Pernahkah ada orang asing yang menggoda anda dengan kata-kata di atas? atau mungkin anda pernah diganggu dengan bentuk godaan yang lain? atau anda pernah mendengar orang asing yang mengganggu anda dengan suitan dari jauh saat anda sedang melintas di sekitar orang asing tersebut?

Saya mengalaminya di suatu pagi bersama sepupu perempuan saya. Kami sedang berjalan di jalan raya yang letaknya di depan pelabuhan kota. ‘

Saat itu kami hendak mengantar saudari laki-laki kami yang akan berangkat ke kota lain untuk menempuh pendidikan disana menggunakan kapal.

Saat hendak memasuki gerbang pelabuhan, ada dua orang laki-laki yang sedang ‘nongkrong’ di kejauhan yang menyiuti kami saat kami lewat di depan mereka.

Ketika mendengar itu saya merasa marah,tidak aman,tidak nyaman dan ingin sekali berkata kasar. Kami pun terus berjalan dan tidak menggubris kedua lelaki itu.

Perilaku mengganggu orang, biasanya lawan jenis dengan maksud melecehkan, mengganggu, dan menggoda ini disebut dengan catcalling (panggilan kucing).

Perilaku ini kerap dibalut dan disalahpahamkan seagai pujian atau ungkapan keramahan karena kata-kata yang terasa manis tetapi ada kecenderungan seksual di dalam tindakannya.

Kebanyakan kasus catcalling ini menimpa perempuan muda. Namun,bukan mitos laki-laki juga dapat mengalami kasus catcalling ini. Akan tetapi mayoritas korbannya adalah perempuan.

 Banyak yang belum menyadari bahwa korban yang mendapat perlakuan ini dapat merasa tidak nyaman, takut, gusar dan  tidak aman.

Jika bermaksud ingin bersikap ramah atau menyapa kepada orang lewat yang belum dikenal, tidak ada salahnya untuk menghampiri dan bertanya secara baik-baik terkait kesediaan orang tersebut untuk berkenalan.

Baca Juga: Partiarki, Kenikmatan Visual Adegan Seks dan Batas Aristokrasi

Jika orang tersebut menerima permintaan kita maka lanjutkan untuk berkenalan. Jika ditolak maka dengan lapang dada kita harus mengurungkan niat kita.

Sebelum melakukan ini perlu adanya kesadaran bahwa orang lain juga memiliki hak dan otoritas atas dirinya sendiri, kita tidak dapat memaksakan keinginan kita kepada orang lain yang enggan untuk berkenalan dengan orang baru.

Saat saya membagi pengalaman saya ketika mendapat perlakuan catcalling ini dan juga perasaan saya yang merasa tidak nyaman dan tidak aman setelah diganggu oleh segerombol pria muda saat sedang duduk tenang di pinggir pantai dengan saudari saya lewat media sosial pribadi saya, ada beberapa tanggapan yang mendukung pernyataan saya tetapi ada juga yang merespon bahwa fenomena catcalling ini sudah biasa dilakukan oleh orang-orang NTT.

Fenomena catcalling ini masih kerap ditemukan di semua daerah tidak hanya di NTT. Bahkan bentuk-bentuk catcalling bisa beragam tergantung dengan kebiasaan di tiap daerah.

Tentunya ini sangat meresahkan karena itu berarti fenomena ini sudah ternormalisasi di dalam kehidupan bermasyarakat.

Padahal meskipun tidak menyentuh fisik korban secara langsung dan bahkan kadang terkesan seperti sebuah pujian, catcalling dapat tergolong dalam pelecehan seksual verbal karena tindakan ini melanggar otoritas orang lain atas tubuh mereka.

Mayoritas perempuan muda yang mengalami hal ini di ruang publik sering merasa tidak nyaman, bahkan merasa tidak aman. Meskipun banyak di antara mereka yang memilih diam.

Mereka yang takut  mengalami catcalling lagi,  memilih jalan berputar daripada harus melewati jalan sempit dimana sering dijadikan tempat segerombolan laki-laki muda bergerombol.

Respons yang wajar adalah menghadapi para pelaku catcalling atau biasa disebut dengan ‘catcaller’ dan mengatakan bahwa anda tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan.

Jika tidak berani sendirian, anda bisa meminta bantuan perempuan yang lebih tua, saudara atau pihak lain yang bisa membantu anda untuk mendekati para pengganggu yang cenderung melecehkan tersebut.

Paling tidak ada tiga akar fenomena catcalling.

Petama,konsep kultur maskulinitas yang sudah mendarah daging di dalam kehidupan masyarakat. Kultur ini menempatkan perempuan sebagai obyek dominasi laki-laki. Dominasi secara sosial, kultural dan seksual.

Anak-anak muda yang melakukan catcalling tumbuh dan mengalami proses sosialisasi dalam kultur maskulin yang cenderung ‘membenarkan’ pelecehan pada perempuan sebagai sebuah ekspresi maskulinitas.

Pada tingkat yang lebih ekstrim, ekspresi seksualitas yang memandang perempuan hanya pada satu dimensi, dimensi seksual.

Kedua, kemungkinan juga teman-teman laki-laki muda ini sebenarnya juga tidak memiliki keterampilan seorang gentleman, a man that is gentle.

Mereka tidak pernah diajari bagaimana memperlakukan perempuan gentle (wajar dan lembut) yang berakar dari kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan itu sederajat.

Pelaku catcalling seringkali tidak sendirian, tetapi bergerombol. Hal ini jangan-jangan menggambarkan ketidakmampuan atau ketidakberanian untuk mendekati dan berkenalan dengan perempuan secara normal dan wajar.

Sebabnya bisa saja berasal dari rasa rendah diri atau memang teman-teman pelaku tidak diajari bagaimana membangun relasi normal dengan perempuan.

Ingin berkenalan, tetapi ‘kandas di ungkap’, kandas karena tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan keinginan untuk berkenalan.

Ketiga, tekanan peer group (kelompok sebaya). Kebiasaan buruk catcalling dalam kelompok mungkin hanya dimiliki satu atau dua orang. Orang-orang ini menekan atau mempenagruhi teman lain untuk melakukan hal yang sama.

Biasanya orang-orang merasa takut untuk menegur teman-teman yang mengganggu orang yang lewat karena takut disangka tidak asik dan membosankan atau memperhitungkan tali pertemanan.

Bukankah alangkah baiknya dalam pertemanan tersebut saling mendukung dan saling membentuk suasana harmonis tanpa adanya otoritas tubuh orang lain yang dilanggar bukan. 

Fenomena catcalling ini tidak pantas untuk dinormalisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Ada cara yang lebih sopan dan anggun lagi untuk menunjukkan keramahan daripada menyiuti dan menggoda seseorang yang belum dikenal.   

Meskipun fenomena catcalling ini kerap ditemukan di kalangan anak muda, bukan berarti hanya anak muda yang perlu mendapatkan edukasi terkait dengan hal ini.

Keterlibatan orang tua sangat berpengaruh dalam mengedukasi anak-anak mereka tentang pengenalan perilaku-perilaku seksis yang dapat mengarah kepada rape culture atau budaya pemerkosaan.

Orang tua perlu memahami konsep seksis itu sendiri untuk dapat mengedukasi dan membimbing anak-anak untuk saling menghargai otoritas orang lain termasuk lawan jenis mereka.

Baca Juga: Kritik Atas Petriarkat yang Terjebak dalam Praktik Kolonialisme Indonesia

Anak-anak perlu diberi penjelasan secara khusus tentang tindakan-tindakan apa saja yang mengganggu kenyamanan orang lain termasuk untuk tidak mengganggu orang yang lewat dengan siutan.

Kita sebagai manusia berakal harus terus mengedukasi diri untuk dapat memanusiakan diri sendiri dan juga orang lain.

Dengan ini, mungkin perlahan kita dapat mengurangi kebiasaan catcalling yang masih kerap ditemukan di dalam kehidupan bermasyarakat dan dapat menciptakan keamanan bersama di ruang publik.

Kita mungkin tidak dapat menghindari situasi di mana kita dapat menjadi korban, namun, kita bisa memilih untuk tidak menjadi seorang pelaku.

Perlu adanya kegigihan untuk terus senantiasa mengedukasi diri dan mawas diri agar tidak mengganggu dan melanggar otoritas tubuh orang lain dengan melakukan catcalling atau perilaku seksis lainnya.

Proses edukasi bisa beranjak dari local wisdom yang ada di lingkungan. Dalam tradisi Ngada misalnya, seorang ayah sering memanggil anak perempuannya denga Ine (Ibu).

Panggilan ini nampaknya merepresentasikan penghargaan pada kaum perempuan sebagai calon ibu.

Mengapa penghargaan ini tidak ditransfer ke perilaku kaum laki-laki muda agar melihat gadis-gadis yang sedang berjalan sebagai ‘ibu’ atau saudari mereka.

Tidak ada orang yang mau melakukan catcalling pada saudari, apalagi pada mama mereka. Parang bisa bicara.

Kalau anda tidak suka saudari dilecehkan, mengapa anda melakukan ‘catcalling’ pada saudari orang lain?.

Kaum perempuan muda itu saudarimu, dan dapat menjadi calon ibu anak-anakmu, Kaka. Kami bukan kucing, Kaka!

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian dari tanggungjawab redaksi

 

Oleh: Theresia C Loywea

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari Theresia C Loywea


Spread the love