Spread the love

Ini adalah artikel dari pemenang II lomba menulis ulang tahun ke 75 Republik Indonesia dan ArnoldusWea.com ke 1

***

Seiring dengan peningkatan kesempatan kerja, keleluasaan berusaha juga perlu diupayakan. Pemerintah dan semua pihak terkait harus mampu memberdayakan pengusaha-pengusaha kecil dan menengah di NTT.

Bentuk pemberdayaan terhadap pengusaha-pengusaha kecil dan menengah ialah dengan segera memberikan izin usaha, khususnya usaha-usaha yang berhubungan dengan aktivitas pariwisata di NTT.

Di samping itu, pemerintah juga dapat membantu masyarakat NTT dengan mempromosikan produk-produk lokal masyarakat NTT di tempat-tempat pariwisata, seperti tenun ikat, makanan khas, kerajinan tangan, budaya lokal, dan kesenian daerah NTT. Sebab, ada banyak keunikan dan kekhasan masyarakat NTT yang bagus dan menarik untuk dipromosikan.

Melalui promosi semacam itu, pemerintah dapat membantu perekonomian masyarakat NTT secara perlahan-lahan di pelbagai bidang kehidupan.  

Oleh karena itu, pemerintah dan semua pihak terkait sekiranya memaksimalkan potensi-potensi itu dengan mengedepankan pembangunan yang berkelanjutan. Salah satu caranya ialah dengan mengontrol dan mengawasi usaha-usaha tersebut dengan baik dan teratur.

Hal ini bertujuan untuk memastikan agar usaha-usaha tersebut tetap eksis dan dapat berjalan dengan baik di tengah geliat pariwisata NTT yang makin maju. Dalam hal ini, tujuan akhirnya ialah agar usaha-usaha tersebut dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat NTT kini dan di masa yang akan datang.

Sarana Peningkatan Produktivitas

Guna mendukung peningkatan kesempatan kerja dan keleluasaan berusaha, pemerintah dan semua pihak terkait harus membantu masyarakat dalam menyediakan sarana-sarana produksi yang layak dan berkualitas.

Penyediaan sarana produksi itu bergantung pada jenis wisatanya. Hal ini bertujuan agar bantuan itu tepat sasar dengan kebutuhan dari tempat wisata yang memerlukan peningkatan sarana dan prasarana produktivitas. 

Misalnya, terhadap wisata pulau seperti Labuan Bajo, pemerintah harus membantu para pemilik kapal pesiar, baik kapal pesiar kecil maupun besar, dengan cara mengontrol dan mengecek semua fasilitas di kapal pesiar secara berkala.

Pengontrolan dan pengecekan secara berkala dapat menyadarkan setiap pemilik kapal pesiar untuk menyiapkan dan menyediakan kapal pesiar yang memadai, sesuai standar, berkualitas dan layak pakai. Agar dengan demikian, kasus-kasus tenggelamnya kapal pesiar yang terjadi pada beberapa waktu lalu di Labuan Bajo dapat dikurangi bahkan ditiadakan.

Lebih dari pada itu, kapal pesiar yang layak dan berkualitas dapat menjamin keselamatan para wisatawan, sehingga para wisatawan betah dan senang untuk berkunjung dan menikmati keindahan surga kecil yang bernama Labuan Bajo.

Kebahagiaan dan kenyamanan para wisatawan dapat meningkatkan intensitas kunjungan mereka ke Labuan Bajo, sehingga peningkatan intensitas kunjungan tersebut dapat berbanding lurus dengan peningkatan keuntungan daerah, khususnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Begitu pula dengan jenis-jenis wisata NTT yang lain seperti wisata pantai, padang, bukit, gunung, air terjun dan kampung adat di seluruh wilayah NTT. Pemerintah perlu menyiapkan sarana dan prasarana yang memadai seperti transportasi dan jalan yang baik.

Hal itu bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi para wisatawan yang berkunjung ke daerah kita. Sebab, di Sumba misalnya, ada tempat wisata yang bagus seperti wisata Ratenggaro Sumba Barat Daya, tetapi akses jalan menuju tempat wisata itu rusak parah.

Kondisi jalan yang rusak itu dapat mengurangi interese para wisatawan untuk berkunjung ke tempat tersebut. Akibatnya, tempat wisata itu akan sia-sia dan tidak membawa keuntungan bagi kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, peningkatan sarana dan prasarana produktivitas mutlak diperlukan bagi pembangunan pariwisata NTT yang lebih baik. Dengan kondisi sarana dan prasarana yang memadai, pariwisata NTT niscaya dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat NTT.

Komunikasi antara Masyarakat dengan Pemerintah

Terkait komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah, sarana-sarana untuk mengoreksi kebijakan-kebijakan pemerintah perlu diurus, diperhatikan dan ditingkatkan. Sebab, sebagai daerah wisata yang potensial, komunikasi yang intesif antara pemerintah sebagai stakeholder dengan masyarakat sebagai pelaku lapangan harus berjalan dengan baik.

Tujuannya ialah agar setiap rancangan, pembahasan, pengambilan dan perubahan regulasi atau kebijakan dapat didiskusikan, dibicarakan dan dipertimbangkan secara matang oleh semua pihak di NTT.

Dalam hal ini, tujuan yang lebih utamanya ialah agar setiap kebijakan dan regulasi dapat mengayomi semua pihak, sehingga kesejahteraan pun dapat dinikmati dan dirasakan oleh semua pihak.

Oleh karena itu, pemerintah dan semua pihak terkait harus selalu menyiapkan dan menyediakan forum-forum diskusi dengan masyarakat jika hendak merencanakan dan menentukan sebuah kebijakan atau regulasi terbaru tentang kepariwisataan.

Apalagi, sebagai anak-anak dari ibu pertiwi, kita hidup dan tinggal di negara yang mengadopsi demokrasi sebagai sistem pemerintahan kita. Bahwasannya, menurut Abraham Lincoln, demokrasi itu adalah sistem pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Dalam hal ini, Lincoln menegaskan bahwa rakyat merupakan elemen paling penting di dalam sebuah negara demokrasi. Oleh karena itu, keterlibatan dan partisipasi rakyat untuk menentukan setiap kebijakan dan regulasi mutlak diperlukan demi tercapainya kebaikan bersama (bonum commune).

Dengan demikian, hemat penulis, untuk menentukan dan mengambil kebijakan bersama tentang pembangunan pariwisata NTT, seluruh elemen masyarakat harus berpartisipasi atau terlibat aktif, termasuk masyarakat sipil, bukan hanya perangkat-perangkat daerah yang berada di lingkup pemerintahan.

Hal ini bertujuan untuk menghindari kebijakan atau regulasi yang egoistis dan tidak pro rakyat dari pihak pemerintah. Sebab, kebijakan yang egoistis dapat membahayakan kehidupan bersama seperti menciderai cita-cita masyarakat untuk menggapai kesejahteraan bersama dari pembangunan pariwisata yang berkualitas di NTT.

Pembangunan Pariwisata NTT: Momen Pengangkatan Martabat Manusia NTT

Pembangunan pariwisata NTT yang baik dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat NTT. Sebab, Parsudi Suparlan, sebagaimana dikutip Ferdinandus Watu, mengatakan bahwa pembangunan itu adalah upaya yang terencana untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, baik dalam skala nasional maupun lokal.Definisi ini mengandung dua intensi, di antaranya: Pertama, suatu upaya terencana. Kedua, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat.

Maka, dalam konteks pembangunan pariwisata NTT, pembangunan tersebut harus terencana dengan mengikuti empat bidang pemerataan pembangunan yang digagas Kumorotomo.Penulis optimis bahwa pembangunan semacam itu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT. Dengan demikian, ketika pembangunan pariwisata NTT bergerak pada tataran yang digagas Kumorotomo, pembangunan tersebut dapat mengangkat martabat manusia NTT sebagai manusia yang makmur dan sejahtera di dalam setiap bidang kehidupan. Paling kurang, angka kemiskinan dapat menurun secara perlahan-lahan.

Selain itu, Shindunata, sebagaimana dikutip Ferdinandus Watu, turut menyinggung aspek “pemanusiaan” objek-objek wisata dalam pembangunan. Dia mengatakan bahwa peran kemanusiaan manusia (baca: pembangunan) adalah upaya memanusiakan objek-objek di luar dirinya, sehingga objek-objek itu tidak tinggal alami dan terasing dari diri manusia, tetapi menjadi pernyataan diri manusia yang sama.

Baca Juga: Belajar dari Mama Lele 4.0 di Flores

Dalam hal ini, Shindunata secara tersirat mengatakan bahwa materi-materi yang ada di sekeliling manusia akan bermanfaat dan berdaya guna bagi kehidupan manusia ketika manusia mampu mengusahakan, menggunakan dan mengelola semua materi yang ada dengan baik dan benar.

Agar dengan demikian, hasil usaha-usaha manusia dapat menggambarkan jati diri manusia itu sendiri sebagai pengusaha dan pengelola materi-materi dunia yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan.

Dalam konteks pembangunan pariwisata NTT, Shindunata secara tidak langsung menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tersebut dapat menghidupkan semua objek wisata yang ada di NTT ketika subjek pembangunan (baca: masyarakat NTT) dapat menjalankan tanggung jawab dan perannya dengan baik.

Sebab, ketika semua objek wisata tersebut menjadi hidup dan memberi warna tersendiri bagi kehidupan masyarakat NTT, objek-objek wisata tersebut dapat menjadi rahmat dan berkat bagi semua masyarakat yang menjaga, memelihara dan menikmati keindahan objek-objek wisata tersebut.

Lebih dari pada itu, ketika objek-objek wisata tersebut mampu menghasilkan sejuta manfaat bagi manusia NTT, objek-objek wisata tersebut dapat memanifestasikan diri manusia sebagai makhluk yang beradab dan bermartabat. Di sini, simbiosis mutualisme antara objek wisata dengan manusia terwujud.

Oleh karena itu, untuk menghidupkan semua objek wisata di NTT sebagaimana yang dikehendaki Shindunata, pemerintah dan semua pihak terkait harus sungguh-sungguh memperhatikan model pemerataan pembangunan yang digagas Kumorotomo.

Sebab, hemat penulis, Kumorotomo sudah menunjukkan model pembangunan yang jelas dan terarah. Kejelasan dan keterarahan model pembangunan tersebut dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari pembangunan pariwisata NTT, sehingga memudahkan upaya peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat NTT.

Epilog

Untuk mengimplementasikan semuanya itu secara simultan di NTT, pemerintah dan masyarakat harus melakukannya secara bersama-sama. Pemerintah dan masyarakat tidak boleh berjalan sendiri-sendiri seturut kehendak dan kepentingan pribadi atau golongan. Pemerintah dan masyarakat harus bersatu hati dan saling bergandengan tangan untuk pariwisata NTT yang lebih baik demi tercapainya kesejahteraan bersama, bukan hanya kesejahteraan pemerintah atau kesejahteraan masyarakat saja.

Dalam hal ini, semua orang perlu memegang prinsip “bonum communae bono privato praeferri debet (kepentingan umum lebih penting atau harus selalu diutamakan daripada kepentingan pribadi)”.

Agar dengan demikian, NTT sebagai salah satu daerah yang memiliki tempat-tempat wisata potensial dapat sungguh-sungguh berusaha mengembangkan pariwisata demi peningkatan kesejahteraan atau kebaikan bersama yang telah dicita-citakan oleh masyarakat NTT. (Habis)

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi

Rikardus Monteiro

 

Oleh: Rikardus Monteiro

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari  Rikardus Monteiro

 


Spread the love