Spread the love

Sabtu, (15/10/2016). 16.00 WITA. Di Biara Santo Josef Ende. Saya bersiap-siap menuju Waturaka. Di sana akan ada peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2016 Ke-36 Tingkat Keuskupan Agung Ende (KAE).

Waturaka bagi saya adalah nama yang asing. Saya baru pertama kali akan ke sana. Dengan demikian, saya bersyukur sekali ketika di persimpangan Desa Kedubodo, Kecamatan Ende Timur, seseorang menyapa dari atas motor, “Mau ke mana, Eja?”

Sempat kaget, tapi kemudian saya menjawab, “Ke Waturaka, Eja.”

“Saya juga mau ke sana,” timpalnya.

Pemuda 20-an tahun itu adalah wartawan Kompas TV wilayah Flores, Elton Rete. Elton dan saya bermotor bersama menuju Waturaka. Sebuah perjalanan panjang yang menyenangkan. Setelah beristirahat barang sejenak di Terminal Detusoko, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Waturaka tepat pukul 18.30 WITA. Saat kami tiba, kegelapan sudah menyelimuti Waturaka.

Di dalam gubuk pesta yang ditingkahi temaram lampu, telah ada Ketua PSE KAE, Romo Hengky Sareng, beberapa pastor lainnya, dan tokoh umat. Di bibir mereka, senyum tampak merekah. Tampaknya, perayaan puncak HPS akan sukses.

Seorang warga bernama Om Dus kemudian mengantar saya menuju rumah Mama Angel dan Bapak Rofin, pasangan muda berusia dua puluhan tahun yang baru menikah pada bulan Juni 2016 lalu. Dari pasangan ini, saya mulai mengenal sedikit demi sedikit tentang Waturaka. Bahwa di Waturaka, telah ada berbagai macam destinasi wisata baru: air terjun, air panas, sanggar musik, dan agrowisata. 

Rofin bercerita, air panas muncul sejak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mutubasa dibangun di Waturaka pada sekitar 2012 lalu. SwissContact, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan kantor pusat di Ende dan Moni yang bergerak di dunia pariwisata, kemudian mulai mengembangkan destinasi pariwisata lain seperti air terjun, agrowisata, dan lain-lain. Sejak saat itu, pariwisata di Waturaka mulai dikembangkan secara profesional.

Pada tahun 2014, desa yang dibentuk pada tahun 2011 ini ditetapkan sebagai desa wisata. Tiga tahun kemudian, pada Mei 2017, Desa Waturaka menyabet penghargaan Desa Wisata Terbaik Kategori Alam di Seluruh Indonesia versi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Indonesiasatu.co, 2017).

Hasil penelitian Yosep Kupertino Ilang cs menunjukkan, potensi daya tarik wisata utama di Desa Waturaka adalah Air Terjun Murukeba dan Agrowisata. Akan tetapi, secara umum, pengembangan daya tarik pariwisata di Waturaka belum mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan karena beberapa kendala, yaitu keterbatasan sumber daya manusia, rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan dana, kemampuan manajemen pengurus yang belum merata, kurangnya dukungan dari pemerintah daerah, dan rendahnya koordinasi antar-stakeholder (Yosep Kupertino Ilang, Nyoman Darma Putra, dan Nyoman Sunarta, [PDF] 2018: 298).

Akan tetapi, menurut Om Dus, guide saya pada sore hari itu, pariwisata yang dikembangkan di Waturaka adalah Pariwisata Berbasis Masyarakat atau Community Based Tourism (CBT). Menurut dia, pola pengembangan pariwisata berbasis masyarakat memungkinkan masyarakat Waturaka mengais sejumput profit dari pariwisata baru di Waturaka.

Bagaimana masyarakat Waturaka mempromosikan dan mengembangkan potensi pariwisata di Waturaka berdasarkan konsep CBT? Malam itu, saya menemukan sedikit jawabannya.

Suatu Malam Bersama Om Sius

Namanya Blasius Leta Oja. Om Sius, demikian ia biasa disapa. Asli Waturaka. Usianya sekitar 50-an tahun. Orangnya pincang, pendek, berperawakan kecil, dan berambut ombak. 

Namun, Anda jangan salah sangka. Lelaki ini adalah petani sukses dan petani contoh di Ende, bahkan di Indonesia. Berkat prestasinya, dia pernah diundang Presiden Jokowi untuk mengadakan resepsi bersama di istana Negara usai apel HUT Proklamasi RI ke-71 pada 2015 lalu.  

Tiga tahun sebelumnya, pada 8 Oktober 2012, sekelompok kecil warga Waturaka membentuk sebuah komunitas yang menaruh perhatian pada pariwisata di Waturaka. Mereka menamakan komunitas itu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Waturaka. Tujuan pembentukan Pokdarwis Waturaka adalah membangun dan memberdayakan potensi pariwisata berbasis masyarakat di Waturaka. Pada mulanya, anggota Pokdarwis Waturaka hanya berjumlah 8-10 orang.

Mereka menangani objek pariwisata baru di Waturaka seperti agrowisata, air terjun, air panas, dan sanggar seni. Untuk agrowisata, Pokdarwis melakukan pembudidayaan tanaman padi, strowberry, dan semangka mulai dari cara produksi hingga konsumsi. Sasarannya adalah para wisatawan asing agar mereka mengetahui proses produksi pangan tersebut. Om Sius adalah Ketua Pokdarwis Waturaka ini.

Kepala Desa Waturaka, Aloysius Djira, memberi kesaksian, “Waturaka punya objek wisata unggulan, yaitu agrowisata. Agrowisata adalah wisata alam dengan objek utamanya pertanian dan perkebunan. Kami punya ribuan tanaman strowberry di sini. Dari angka ribuan itu, 6000 tanaman strowberry milik Om Sius, 3000 tanaman lainnya milik kelompok tani,” katanya.

Selain agrowisata, untuk menarik minat wisatawan, Pokdarwis membentuk dan memberdayakan sanggar seni di Waturaka. Ada dua (2) kelompok Sanggar Seni Waturaka yakni Sanggar Seni Senior Mutuloo yang biasa mementaskan tarian Wandapau, Wandalapu, tarian kolaborasi dengan musik Sato, dan Gawi dan Sanggar Seni Junior Nuwanai yang biasa mementaskan tarian tentang pembudidayaan tanaman pangan padi.

“Homestay”

Pada 2015, Pokdarwis Waturaka pimpinan Om Sius menggandeng SwissContact melakukan terobosan baru di Waturaka. Terobosan baru itu bernama homestay. Homestay adalah rumah warga di lingkaran destinasi pariwisata yang dijadikan tempat penginapan. Homestay lebih tepatnya disebut rumah tinggal wisatawan.

Homestay di Waturaka mulai dipromosikan secara luas pada 13 Agustus 2015. Pada 2016, 13 dari 176 rumah di Waturaka adalah homestay. Itu berarti, 13 rumah di Waturaka sudah menjlema menjadi aset passive income – kalau kita mengikuti definisi aset versi Robert Kiyosaki dalam buku “Rich Dad, Poor Dad” –. Di sebut aset passive income karena tanpa bekerja keras dan dalam keadaan tidur sekalipun, warga pemilik homestay di Waturaka memiliki cash flow rutin yang mengalir ke dompetnya.

Hal ini sejalan dengan semangat dasar pembangunan pariwisata berbasis komunitas di Waturaka, yaitu keuntungan ekonomis dari destinasi wisata utama Taman Nasional Kelimutu (TNK) dan destinasi pariwisata baru di Waturaka dinikmati langsung oleh masyarakat Waturaka.

[Sampai di sini, saya berhenti sejenak menulis dan mulai bikin thoughts experiment di kepala: andai masyarakat Langa, Ngada di sekitar destinasi pariwisata baru “Wolobobo Negeri di Atas Awan” melakukan hal serupa seperti di Waturaka, entah berapa banyak kepala keluarga (KK) yang berhasil keluar dari passing grade garis kemiskinan].

Local Facilitator Community Based Tourism (CBT) SwissContact Wisata, Nando Watu mengatakan, tujuan pembentukan homestay adalah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga para wisatawan bisa melakukan interaksi langsung dengan warga setempat.

Baca Juga: Membangun Pariwisata Model CBT di Flores

Menurut Nando, homestay bukan hanya tentang tempat tinggal, melainkan sarana saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam semangat kekeluargaan. Jadi, selain kapitalisasi keuntungan ekonomis, homestay melayani fungsi sosial pariwisata.

“Hal itu tidak bisa didapatkan di hotel, cottage atau rumah penginapan lainnya,” kata Nando.

Om Sius menambahkan, model homestay di Waturaka tidak sama dengan sistem perhotelan dengan fasilitas penginapan yang mewah. Sebaliknya, homestay adalah rumah warga Waturaka yang disewa oleh para wisatawan lokal, domestik, dan asing dengan tarif tertentu yang telah disepakati bersama. Karena rumah warga, maka para wisatawan tidak diperlakukan sebagai tamu, melainkan sebagai anggota keluarga.

“Akan tetapi, homestay tetap memiliki standar kelayakan tertentu. Tidak semua rumah warga Waturaka layak disebut homestay. Hingga data terakhir, di Waturaka, baru sekitar 13 dari 176 rumah tangga warga yang memenuhi standar homestay,” ungkap Om Sius. 

Catatan

Banyak catatan kritis bisa dialamatkan pada gagasan pembangunan pariwisata berbasis komunitas di Waturaka. Akan tetapi, dalam ruang yang sempit ini, cukup dibatasi pada dua catatan berikut.

Pertama, tentu kita bertanya-tanya, mengapa Om Sius bisa punya tanaman strowberry lebih banyak dari milik kelompok tani: 6000:3000 atau 66,67%? Apakah Beliau lebih ulet dari petani lain? Atau apakah Beliau punya tanah milik pribadi yang jauh lebih luas dari petani lainnya?

Jika pertanyaan terakhir di-afirmasi, tampaknya kita terlalu cepat mengglorifikasi CBT. Membangun pariwisata berbasis komunitas di atas ketimpangan kepemilikan tanah di Waturaka adalah seburuk-buruknya pembangunanisme. Sebab, akumulasi profit tuan tanah besar selalu berbanding lurus dengan eksploitasi tenaga kerja kelas tani gurem atau tani proletar. Saya berpendapat, reforma agraria mesti mendahului CBT.

CBT tanpa reforma agraria cenderung mereproduksi kemiskinan di Waturaka pada khususnya dan di Flores pada umumnya. Pada 2018, jumlah penduduk miskin di Flores mencapai angka 407.180 jiwa (12,78%) dengan rincian Kabupaten Lembata 36.950 (26.45%), Flores Timur 27.990 (11.05%), Sikka 44.020 (13.82%), Ende 66.010 (24.20%), Ngada 20.790 (12.94%), Manggarai 69.320 (20.83%), Manggarai Barat 48.530 (18.14%), Nagekeo 18.690 (12.98%), dan Manggarai Timur 74.880 (26.50%).

Persentase kemiskinan semua kabupaten di Flores lebih tinggi dari persentase kemiskinan nasional sebesar 9,66% atau 25,67 juta jiwa dengan Gini Ratio 0,389. Sementara itu, persentase kemiskinan tiga kabupaten di Flores, yaitu Manggarai Timur, Lembata, dan Ende, lebih tinggi dari persentase kemiskinan Provinsi NTT sebesar 21,35% dengan Gini Ratio 0,351 (BPS, 2018).

Indikator penduduk Desa Waturaka miskin antara lain adalah 163 dari 176 rumah di Waturaka tidak layak menjadi homestay. Rumah tidak layak homestay di Waturaka mencapai persentase 92,61%!

Kedua, sesaat sebelum meninggalkan Waturaka, short messages service (SMS) dari Sekretaris Redaksi Flores Pos, Ibu Relly, masuk ke ponsel saya. Beliau minta saya segera mengirim berita tentang HPS di Waturaka. Akan tetapi, saya tidak bisa melakukannya karena Waturaka tak punya Wi-fi dan sinyal.

Masalah ini berarti, sesudah reforma agraria dilaksanakan, pemerintah harus membangun infrastruktur, termasuk internet, di destinasi-destinasi pariwisata di Waturaka pada khususnya dan di Flores pada umumnya. 

Digitalisasi pariwisata memang tak tertawarkan di era disrupsi dewasa ini. Pada titik ini, saya sepakat dengan catatan Bung Arnoldus Wea ini.

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi

Oleh: Silvano Keo Bhaghi

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari Silvano Keo Bhaghi


Spread the love