Spread the love

Pertanyaan ini barangkali jamak terdengar di mana-mana. Ketika antar-orang tua yang memiliki anak balita saling bertemu, kemudian melihat tingkah anak yang aktif—variasinya bisa juga dengan anak yang dianggap pintar, percaya diri, dan sebagainya—kadang muncul pertanyaan klise seperti ini, “Minum susu apa?”

Atau kadang ada juga yang membandingkan dengan anak lain yang, digambarkan memiliki ciri-ciri yang sama (pintar, aktif, percaya diri, dll), kemudian diceritakan lebih lanjut tentang nama susu yang rutin dikonsumsi anak tersebut.

Ditambah lagi dengan gembar-gembor tentang mahalnya susu itu, sehingga tidak heran membuat anak bisa cerdas, aktif, dan karakter positif lainnya. Seolah-olah kecerdasan dan segala macam sifat baik yang diharapkan ada pada anak, semuanya bersumber dari susu tersebut.

Memahami Produsen Susu Bekerja

Pertanyaan atau anggapan seperti gambaran awal di atas, langsung maupun tidak, punya kaitannya dengan serangan iklan di televisi maupun media publik lainnya. Coba kita perhatikan, betapa ajaibnya tampilan iklan-iklan itu.

Bila kita ringkas pesannya kira-kira seperti ini: Kalau mau anak-anak kalian pintar, peduli dengan lingkungan fisik mapun sosial, percaya diri, bisa cepat tinggi, dan masih banyak lagi tawaran menggiurkan lainnya, maka beri dia susu ini.

Instan! Mungkin awalnya kita berpikir, ah, ini sekadar iklan saja. Bahkan telah banyak analisis penelitian yang jelas mengatakan reklame seperti itu sekadar mitos. Tapi, gempuran iklan yang datang bertubi-tubi itu, lama-kelamaan akan terekam juga di alam bawah sadar sekian banyak orang.

Itu baru dari pengaruh sisi iklan. Belum lagi kalau kita menelaah bagaimana strategi dagang pada produsen susu itu, mereka memengaruhi secara politik dengan memberi ‘segala kemudahan dan kebutuhan’ para penentu kebijakan, sehingga kemudian muncul anjuran yang peraturan yang lebih menguntungkan perusahaannya.

Tenaga kesehatan yang punya pengaruh lumayan kuat terhadap keputusan masyarakat, juga kadang mendapat fasilitas-fasilitas khusus dari mereka. Diberi beasiswa. Menghibahkan banyak dana penelitian yang bermuara pada pengakuan produk mereka itu bagus. Mau ikut konferensi internasional dibiayai dan bonus-bonus lainnya.

Poin yang terakhir ini, sejatinya memang menjadi konflik kepentingan bagi ‘oknum’ tenaga kesehatan yang mau menerima fasilitas tersebut. Mestinya mereka bisa lebih netral, tidak ikut ‘berdagang.’ Tapi, barangkali karena upahnya juga yang masih minim atau memang ingin mendapatkan lebih, maka apa yang disebut ‘konflik kepentingan’ itu diabaikan saja.

Masih banyak mekanisme lainnya (bahkan taktik mereka dianggap meniru industri tembakau dalam menguasai konsumen), tapi dari beberapa poin itu saja, sudah cukup mengoyak keyakinan banyak orang.

Kita kemudian mendapati orang yang kebingungan harus membeli susu ketika anaknya lahir, padahal masih harus menangggu biaya kebutuhan lainnya.

Ketika susu itu tidak bisa dibeli, perasaan bersalah begitu berkecamuk. Bagimana anak ini bisa pintar dan sehat kalau tidak diberi susu? Banyak anak tetangga yang bisa minum susu, kenapa anak saya tidak?

Gejala lain misalnya, ketika mau menjenguk kerabat yang baru melahirkan, ada yang kepikiran membeli susu sebagai buah tangan. Atau ketika memberi sedikit uang meringankan biaya persalinan dan kebutuhan lainnya, biasanya dibarengi ucapan, “Ini untuk beli susu.”

Dari semua respons tersebut, salah satu hal yang paling mengkhawatirkan adalah, ketika susu formula itu malah menggantikan peran ASI (Air Susu Ibu). Telah banyak studi yang membuktikan kalau pengaruh dari ‘strategi’ yang dimainkan produsen susu formula, membuat durasi menyusui (ASI) mengalami penurunan yang signifikan.

Padahal, kita barangkali sudah sama-sama tahu, selain praktis dan murah, ASI memiliki kandungan nutrisi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi. ASI bisa mengurangi risiko penyakit pada anak dan ibu yang mungkin disebabkan susu formula.

ASI Tetap yang Terbaik

Menyusui anak tampaknya sangat sederhana. Ibu tinggal membuka bagian atas bajunya untuk meloloskan payudara sehingga berdekatan dengan mulut bayi, kemudian selanjutnya biarkan bayi mengisap hingga kenyang.

Tapi, apa yang dianggap sederhana dan mudah itu, kadang menemukan banyak kendala. Tidak bisa dimungkiri, banyak sekali faktor yang menyebabkan gagalnya pemberian ASI eksklusif, sehingga membuat orang mudah beralih pada susu formula.

Sebuah studi yang dilakukan Robinson, dkk., menyebutkan faktor penyebab kegagalan tersebut dikarenakan masa cuti melahirkan yang relatif pendek; kurangnya pelatihan tentang pemberian ASI; kurangnya penyuluhan ASI; dan kurangnya sistem pendukung lainnya.

Pengaruh strategi industri susu formula yang menjadi pokok ulasan kali ini juga tetap disebut-sebut sebagai salah satu penghambat keberhasilan ASI eksklusif tersebut.

Informasi atau peyuluhan tentang manfaat ASI , sebenarnya telah banyak diupayakan untuk meningkatkan pengetahuan seluruh lapisan masyarakat. Kenyataan berkata lain. Rupanya pariwara mengenai susu formula masih lebih kuat, sehingga target capaian atau harapan permberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, belum bisa diraih hingga saat ini.

Makanya tidak heran bila sampai saat ini, WHO dan lembaga kesehatan di setiap negara terus mengampanyekan tentang Pekan Menyusui Sedunia.

Peringatan yang berlangsung selama seminggu tiap awal bulan Agustus ini, tentunya bertujuan memberi dukungan kepada setiap ibu agar hanya memberikan ASI pada anaknya.

Khusus pada perayaan tahun ini, WHO dan UNICEF (lembaga dunia untuk masalah anak) menekankan lima pesan penting yang ditujukan pada setiap pemerintah, yaitu: investasi untuk menyediakan layanan konseling menyusui; latih petugas kesehatan untuk memberi konseling menyusui pada ibu dan keluarganya; pastikan konseling menyusui mudah dijangkau masyarakat; bangun mitra dan kerja sama dengan semua komponen untuk keberhasilan konseling menyusui; dan lindungi petugas kesehatan dari pengaruh industri makanan bayi (termasuk susu formula).

Pesan yang terakhir di atas makin menyiratkan bahwa memang sudah menjadi rahasia umum, para produsen susu berani mengeluarkan segala macam taktik agar produk mereka laku di pasaran, termasuk lewat peran oknum tenaga kesehatan.

Telah banyak studi atau analisis yang membuktikan skenario yang dimainkan perusahaan susu formula tersebut. Dengan demikian, masihkan kita percaya dengan ‘keajaiban’ yang ditawarkan produk susu formula yang berseliweran di media massa?

Penulis tidak beranggapan kalau susu formula itu tidak bermanfaat sama sekali. Barangkali memang ada kandungan zat nutrisi di dalamnya, tapi bukan berarti unsur nutrien tersebut hanya ada dalam produk tersebut sehingga wajib dibeli untuk anak.

Unsur nutrisi tersebut masih bisa didapat dari sumber makanan dan minuman yang ada di sekitar kita; murah dan mudah diperoleh. Kalau susu formula itu tidak bisa dijangkau, ya, tidak perlu dipaksakan. Apalagi kalau kehadirannya menggantikan ASI, lebih baik jangan!

Bagaimanapun juga, buat bayi, ASI tetap menjadi sumber makanan yang terbaik. Kecuali kalau memang ada kondisi seperti pernyakit tertentu yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pemberian ASI, maka susu formula bisa menjadi alternatifnya.

Ingat, kecerdasan seseorang tidak semata-mata karena minum susu tertentu. Tetapi hasil dari proses yang sangat kompleks; buah dari ketekunan belajar dan interaksi dengan lingkungan dan sesama.

Ketika ketemu lagi dengan anak yang kita anggap pintar, tanyakan bagaimana pola asuhnya, bagaimana proses belajarnya. Tidak hanya sebatas, “Dia minum susu apa?”


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari  Saverinus Suhardin

 

 


Spread the love