Spread the love

Di sebuah gang perkampungan, seorang bapak yang biasa dipanggil Paman Nadus, mengeluh sakit telinga, sesaat setelah dia bangun tidur.

Telinganya terasa nyeri seperti ditusuk benda tajam, ditambah bunyi “nging” yang sangat mengganggu.

Dia sangat bingung. Sebelum tidur, telinganya masih baik-baik saja. Lantas dia berjalan ke luar rumah, mencari bantuan di sekitar.

Orang pertama yang dia temui di gang, dua orang keponakannya yang diperkirakan berusia 10 tahun.

Keduanya juga heran, kenapa sampai Paman Nadus mengeluh sambil memegang telinga kanannya. Setelah tahu, dua anak-anak itu mulai menebak.

Sementara mereka coba menebak berbagai kemungkinan penyebabnya, datang salah seorang tetangga, laki-laki dewasa. Namanya Agus.

Setelah mendengar penjelasan singkat Paman Nadus, lantas dia cepat menyimpulkan, “Oh, itu penyakit abunti, teteskan minyak goreng saja, pasti sakitnya segera hilang,” katanya meyakinkan.

Paman Nadus meminta kedua keponakan tadi segera ke rumah, ambil minyak goreng seperti yang disarankan. Sementara kedua anak itu pergi, Paman Nadus dan Agus terus bercakap-cakap. Kemudian, datang lagi salah seorang tetangga lain, namanya Rikus.

Rikus mendengarkan penjelasan Paman Nadus dan Agus tentang sakit telinga yang aneh itu. “Oh, itu pasti penyakit akpuka, saya juga pernah dulu,” jelasnya tidak kalah meyakinkan.

“Gampang,” lanjutnya ketika dua keponakan Paman Nadus datang membawa sebotol minyak goreng, “cukup taburkan garam saja, pasti cepat reda sakitnya. Jangan pakai ini minyak goreng, bahaya!”

Paman Nadus langsung menyuruh keponakannya lagi –segera ambil garam. Dua anak itu meletakkan botol minyak goreng di tanah, kemudian balik ke dalam rumah.

Sementara itu, lewatlah tetangga lainnya. Kali ini seorang perempuan, namanya ibu Yus. Dia tampak terheran-heran melihat orang berkumpul di gang, lantas menanyakan sebab musababnya.

“Oh, itu penyakit orkonti,” kemudian ibu Yus menegaskan kepada semua yang ada di sana, kalau dirinya pernah alami hal yang sama, dan obatnya mudah. Ketika itu, dua keponakan Paman Nadus sudah tiba membawa sekantong garam.

“Jangan beri garam!” sergah ibu Yus, “kalian pergi ambil kompor, nanti hangatkan saja telinga itu dengan api dari kompor. Pasti cepat sembuh.”

Seperti biasa, Paman Nadus segera menyuruh dua keponakannya melakukan anjuran tersebut, “Jangan lupa dengan korek api”. Dua anak itu mulai terlihat cemberut, tapi tetap berusaha sabar dan mengikuti permintaan pamannya yang sedang menderita itu.

Kompor belum tiba, tetangga yang lain datang menelisik apa yang sedang terjadi. Kali ini seroang bapak, namanya Tinus.

Menurut dia, apa yang dialami Paman Nadus adalah penyakit agbabanti. Dia yakin sekali, karena menurutnya, dia pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.

Kompor dan korek api sudah tiba, tapi Bapak Tinus melarangnya. Dia menyarankan segera ambil air bersih saja, kemudian teteskan pada telinga yang sakit. “Pasti cepat sembuh,” tambahnya tidak kalah meyakinkan.

Paman Nadus segera menyuruh dua keponakannya lagi –ambil air. Muka kedua anak itu makin cemberut, tapi tetap patuh. Sementara keduanya masuk ke rumah, keempat tetangga yang tadi ‘mendiagnosis’ dan menetapkan ‘terapi’ itu ramai berdebat, masing-masing mengunggulkan metodenya.

Perdebatan mereka makin kencang, sampai-sampai telinga Paman Nadus yang sakit, makin nyeri dan berdenging. Datanglah dua kepokanan tadi membawa air dalam periuk. Ketika keduanya meyaksikan perdebatan itu, mereka berbisik sebentar, lalu kembali ke rumah.

Dua keponakan itu datang lagi, salah seorang anak membawa pisau dapur yang mengkilat, lalu diancungkan ke udara, “Diam…!” Bersama rekannya, anak yang memegang pisau itu lantas menyalakan kompor, kemudian menaruh periuk berisi air di atasnya.Anjuran Kesehatan“Di sini sudah lengkap, ada kompor, air, minyak goreng, dan garam. Tinggal tambah daging saja. Ayo, kita potong telinga yang sakit itu…”

Semua yang ada di situ kaget. Kedua anak itu segera mendekati Paman Nadus sambil memainkan pisau. Empat orang ahli penyakit tadi segera menghalanginya. Paman Nadus makin tersiksa, menahan sakit sekaligus rasa takut. Selesai!

***

Potongan kisah di atas merupakan adaptasi yang penulis lakukan dari sebuah video komedi situasi (sitcom), Mark Angel Comedy. Apa yang saya gambarkan dengan kalimat di atas, barangkali masih buruk, sehingga Anda mungkin perlu menonton ulang video yang berjudul “Painful Ear” itu di Facebook.

Kesan saya secara pribadi, video itu sangat menghibur sekaligus menyindir. Apa yang mereka reka, sesungguhnya menggambarkan situasi yang acap kita temukan dalam keseharian.

Ketika kita mengalami sakit tertentu, akan banyak saran yang berdatangan mulai dari tetangga, keluarga, penjual obat bebas, hingga tenaga kesehatan.

Sampai-sampai kita bingung, mau percaya yang mana? Saking banyaknya saran itu, kadang malah bikin ‘sakit telinga’ saja.

Hal itu juga diperjelas pada bagian akhir video tersebut. Para pemeran memberikan pesan-pesan kurang lebih begini: Ini merupakan kampanye melawan pengobatan sendiri. Jangan minum obat tanpa resep dokter. Tolong kalau sakit, kunjungi dokter. Ingat bahwa, teman dan tetanggamu bukan dokter, kunjungilah fasilitas kesehatan. Pengobatan sendiri bisa berbahaya, tidak baik. Please, stay safe!

Sekali lagi, apa yang disajikan dalam video komedi itu, sejatinya menggambarkan realitas yang ada di sekitar saja. Sebagai contoh saja, dalam beberapa kasus penyakit kanker, sering kita temukan orang lebih dominan mencari pengobatan alternatif dulu.

Ketika kondisinya makin buruk (stadium lanjut), barulah mencari pertolongan ke rumah sakit. Tentu saja sudah agak telat, akan berbeda hasilnya kalau sejak ditemukan benjolan, langsung ke RS.

Atau ketika pagebluk Covid-19 mulai terungkap hingga saat ini, berbagai informasi yang simpang-siur terus menghantam kita. Ada yang bilang ini hanya konspirasi, ada oknum yang mengklaim sudah temukan obatnya, dan masih banyak bentuk sok-sokan lainya –meski kompetensinya sangat diragukan.

Belum lagi gempuran para pejual obat atau suplemen yang diberi embel-embel ‘herbal’, disertai dengan sejuta janji yang kian muluknya di berbagai media. Apakah mereka pakar kesehatan? Oh, kebanyakan orang biasa yang dilatih bicara tetang kesehatan dalam sebuah seminar singkat.

Tulisan ini tidak bermaksud merendahkan peran obat-obat tradisional yang sudah turun-temurun diterapkan nenek moyang kita. Tidak bisa dimungkiri, penelitian terhadap potensi keanekargaman hayati di daerah kita sebagai bahan obat atau suplemen telah banyak dilakukan. Bagian ini merupakan terapi komplementer.

Hanya saja, seperti namanya ‘komplementer’ alias pelengkap, maka pilihan utama dan pertama tetap ke fasilitas kesehatan. Di sana, kita pastikan dulu apa diagnosis dan terapi yang dianjurkan, langsung dari ahlinya yang terpercaya. Kalau mau pakai tambahan komplementer, ada baiknya diskusikan dulu dengan tenaga kesehatan.

Kenapa dianjurkan mendahului prosedur medis? Kita bisa belajar dari proses penemuan vaksin Corona yang sedang ramai dibicarakan saat ini. Metode yang diterapkan dalam kesehatan moderen, tidak bisa hanya berdasarkan klaim dari satu, dua pihak saja. Protokol pengobatan yang dipakai, pasti berdasarkan temuan penelitian banyak ilmuwan, serta atas kesepakatan ahli serumpun.

Saat ini pula, influencer media sosial ikut menawarkan berbagai jenis produk kesehatan. Kita bisa amati di Instagram misalnya, selebgram yang rata-rata perempuan itu, rela berpenampilan sangat seksi untuk menggaet banyak pengikut. Sambil bergoyang, mereka menawarkan: “Anda mau tahan lama di ranjang? Mau mengencangkan payudara? Atau butuh apa saja, kami punya obatnya…”

Kami percaya, Anda pasti bisa memutuskan siapa yang bisa dipercaya dan mana yang terbaik untuk urusan kesehatan.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari  Saverinus Suhardin


Spread the love