Spread the love

 

Salah satu anjuran terkait penanganan Covid-19 yang terus disampaikan beulang-ulang adalah melakukan isolasi dan perawatan mandiri bila baru mengalami gejala yang ringan hingga sedang. Apakah kita semua sudah tahu-mau-mampu melakukan perawatan Covid-19 secara mandiri di rumah?

Penyakit yang disebabkan SARS-CoV-2 atau yang biasa disebut virus corona ini baru dikenal semenjak kurang lebih empat bulan yang lalu. Vaksinnya belum ditemukan. Pengobatannya masih dalam proses uji coba. Persebarannya sangat cepat, telah menginfeksi hampir semua negara. Angka kesakitan dan kematian yang terlapor cukup menghkawatirkan. Tidak saja mengubah status kesehatan setiap orang, tapi juga memorak-porandakan hampir seluruh aspek kehidupan. Di tengah situasi serba tidak pasti seperti itu, kita juga diharapkan mampu melakukan perawatan mandiri.

Anjuran itu memang cukup berdasar. Sebagaimana pengalaman di China, selama penanganan penderita Covid-19 di rumah sakit, banyak tenaga kesehatan yang ikut terinfeksi hingga beberapa dilaporkan meninggal dunia. Kondisi yang sama juga terjadi di Indonesia, saat ini sudah banyak tenaga kesehatan yang terlapor positif terinfeksi. Kabar duka terus berdatangan dari kelompok medis ini yang dikaikan dengan Covid-19.

Beban pelayanan kesehatan selama masa pagebluk Corona semakin meningkat dari waktu ke waktu, seiring dengan penyebarannya yang tidak terkendali. Supaya beban itu bisa berkurang, maka pemerintah mengembangkan sebuah layanan kesehatan berbasis teknologi informasi yang biasa disebut telemedicine. Intinya, pelayanan kesehatan ini tidak harus melakukan tatap muka antara pasien dan tenaga kesehatan. Layanan bisa diakses lewat chatting, telepon, panggilan video, aplikasi di ponsel pintar, dan sebagainya. Pemerintah melalui Kemenkes RI telah menginisiasi layanan kesehatan daring tersebut sebagai salah satu bentuk antisipasi pasien Covid-19, dengan melakukan kerja sama dengan Gojek, Halodoc, Grab dan Good doctor pada tanggal 23 Maret 2020 lalu.

Sebelum menulis mengenai topik ini, saya mencoba layanan rapid test (tes cepat) Covid-19 yang tersedia di salah satu aplikasi tersebut. Setelah melakukan pendaftaran, saya diberi kesempatan memilih dokter yang tersedia dan melakukan konsultasi awal. Saya langsung menanyakan apakah layanan tersebut maupun layanan kesehatan lainnya bisa diakses oleh kami yang berada di wilayah NTT? Jawabannya kurang melegakan, ternyata layanan itu hanya tersedia di Jabodetabek.

Selain itu, analisis yang dilakukan Tim Riset CNBC Indonesia juga menilai penerapan telemedicine di Indonesia dinilai kurang siap karena infrastruktur pendukungnya belum memadai. Kecepatan dan kestabilan jaringan internet di Indonesia menjadi salah satu kendala yang disoroti tim tersebut, sehingga konsep pelayanan kesehatan daring itu dinilai kurang efektif. Apalagi kita yang tinggal di wilayah NTT yang mempunyai banyak keterbatasan untuk mengakses layanan tersebut, maka informasi mengenai perawatan mandiri di rumah tentunya sangat diperlukan.

Informasi per tanggal 16 April 2020, di NTT sudah terdata ODP dan PDP sebanyak 1.390 orang dan satu orang telah terkonfirmasi positif Covid-19. Beberapa kabupaten sempat melaporkan adanya pasien lain yang positif versi tes cepat, tapi malah dimarahi dan kemudian dilarang oleh Gubernur NTT lantaran metode rapid test itu dianggap kurang akurat dan pengumuman hasilnya justru meresahkan masyarakat.

Pernyataan keras seperti itu justru bertentangan dengan prinsip penanganan wabah corona ini. Kita di NTT belum memiliki laboratorium sendiri untuk pemeriksaan yang paling direkomendasikan (PCR), sehingga sampel dari sapuan lendir tenggorokan harus dikirim ke Surabaya. Prosesnya memakan waktu yang lama. Ketersediaan tes cepat mestinya menjadi solusi sementara, hingga hasilnya terkonfirmasi lagi oleh laboratorium PCR. Tes yang cepat dan masif memungkin untuk dilakukan upaya isolasi mandiri lebih lebih dini, sehingga tidak terlanjur menularkan pada banyak orang.

Perawatan Mandiri Covid-19

Selama melakukan isolasi atau perawatan mandiri di rumah, pasien dan keluarganya perlu memahami prinsip perawatan pasien infeksi, khususnya Covid-19. Sebuah tinjauan sistematis yang dilakukan Mehraeen E, dkk., dari berbagai hasil penelitian dan rekomendasi lembaga resmi seperti WHO, setidaknya terdapat beberapa instruksi umum perawatan mandiri di rumah, yaitu: tetap berada dalam rumah; menjaga jarak dengan orang lain (1,5 meter); sering mencuci tangan; menjaga kebersihan saluran pernapasan; pemantauan gejala demam dan pernapasan; tetap mengikuti informasi terbaru tentang penyakit; dan tetap melakuan kontak dengan pusat kesehatan.

Perawatan mandiri di rumah ini tentu saja berlaku bagi pasien yang begejala ringan hingga sedang saja. Sedangkan kasus yang berat, tetap mencari pertolongan di RS rujukan sesuai saran pemerintah. Supaya mudah, batasan kasus berat ini kita batasi saja dengan gejala sesak napas yang tidak bisa terkontrol dengan perubahan posisi atau upaya lain. Selain memperhatikan instruksi umum di atas, berikut ini merupakan ringkasan perawatan mandiri pasien Covid-19, berdasarkan sebuah studi kasus yang dilakukan oleh Wei, dkk., di Wuhan, China.

Pertama, sediakan obat-obatan yang diperlukan sesuai gejala yang dialami anggota keluarga yang sakit. Sebagai perawat, penulis harus jujur kalau tidak punya kewenangan memberikan resep obat tertentu. Pada penelitian tersebut memang disebutkan beberapa nama obat, tapi demi keamanan dan kenyamanan kita bersama, saya tidak akan menulis nama obat tersebut di sini.

Prinsipnya, obat khusus atau spesifik untuk Covid-19 ini belum ada. Obat-obatan yang diberikan bersifat mengatasi gejala yang timbul saja. Misalnya, ketika seseorang mengeluh demam, berilah obat anti demam. Begitu pula dengan gejalan lain.

Lalu, bagaimana kita menentukan obat untuk mengatasi gejala tersebut? Meski di NTT belum ada layanan telemedicine yang resmi (semoga dalam waktu dekat segera dipikirkan dan diluncurkan), kita hubungi saja nomor hp gugus tugas atau puskesmas yang sudah banyak tersebar. Ceritakan pada mereka masalahnya dengan jujur dan tanyakan obat-obat yang bisa dibeli di apotik untuk mengatasi gejala-gejalanya. Meski belum mengonfirmasinya, saya yakin mereka akan layani selama masa wabah ini berlangsung.

Selain itu, kita bisa menambah dengan jamu tradisional yang kita miliki seperti wedang jahe atau jeruk nipis untuk melegakan tenggorokan. Bila kita ragu dengan penggunaan bahan jamu ini, kita bisa konsultasikan juga dengan tenaga kesehatan yang bisa kita hubungi via telepon. Masyarakat China pun memanfaatkan obat tradisional yang mereka punyai untuk melawan penyakit ini.

Kedua, perawatan kondisi demam. Bisa dilakukan kompres dengan kain yang sudah direndam air hangat pada leher, ketiak, lipatan paha dan bagian tubuh lain yang dirasa perlu. Lebih baik kita memiliki alat pengukur suhu tubuh (termometer), sehingga bila suhunya tinggi, berikan obat anti-demam sesuai anjuran dokter atau tenaga kesehatan yang Anda hubungi sebelumnya. Orang yang mengalami demam juga sering mengalami kekurangan cairan tubuh, sehingga perlu dianjurkan untuk benyak minum air (kecuali ada larangan pada pasien penyakit jantung dan ginjal).

Ketiga, perawatan batuk dan sakit tenggorokan. Selain obat batuk yang disarankan dokter, kita juga bisa menganjurkan pasien untuk lebih sering minum air hangat; bilas atau berkumur dengan air yang diberi garam atau obat kumur; atau minuman tradisional yang melegakan tenggorokan.

Keempat, perawatan diare. Selain timbul gejala pada saluran pernapasan, banyak juga pasien Covid-19 yang mengalami gangguan pencernaan seperti diare. Selain obat, kita bisa tambahkan dengan larutan gula-garam (oralit) untuk mencegah kekurangan cairan tubuh (dehidrasi). Kurangi makanan berlemak, mentah, dingin, dan makanan yang memicu diare lainnya. Bisa dilakukan kompres air hangat pada permukaan perut untuk mengurangi nyeri perut. Bila sering buang air besar, daerah anus mudah mengalami iritasi, maka sebaiknya bersihkan dengan air hangat dan keringkan dengan tisu lembut setelah BAB.

Kelima, perawatan pilek. Ketika bersin atau batuk, selalu gunakan tisu untuk menutup area hidung dan mulut, supaya percikaannya tidak menyebar ke mana-mana. Tisunya segera dibuang pada tempat sampah khusus, kemudian cuci tangan dengan sabun.

Keenam, kebutuhan nutrisi (diet) untuk pasien Covid-19. Pasien disarankan untuk banyak minum air, makanannya semi-cair atau lunak dengan protein tinggi, diet kalori tinggi dengan vitamin yang cukup, dan hindari makanan berminyak. Makanan dimasak atau disajikan sesuai selera pasien, sehingga nafsu makannya tetap baik. Sayur sup panas disarankan untuk meredakan radang tenggorokan. Makanan yang kaya akan vitamin C, seperti sayuran dan buah-buahan, terutama tomat, apel, dan jeruk disarankan untuk dimakan; Tablet vitamin C dan tablet oral zat besi  juga disarankan.

Ketujuh, pantau perkembangan penyakit. Suhu tubuh diukur minimal 4 kali sehari, makanya setiap rumah sebaiknya memiliki termometer. Pantau juga tanda kesulitan bernapas atau sesak napas, karakteristik dahak, dan tingkat kesadaran pasien. Pemantauan ketat dilakukan selama kurang lebih 10 hari,  bila perkembangannya memburuk, maka segera ke RS rujukan terdekat.

Kedelapan, perawatan psikologis. Pasien Covid-19 sangat rentan mengalami kecemasan. Keluarga atau orang terdekat perlu memberi dukungan (meski tidak bisa lebih dekat secara fisik), sehingga pasien memiliki sikap positif atau optimis untuk sembuh. Sampaikan berita positif tentang penelitian dan pengembangan penyembuhan penyakit ini. Pasien dan keluarga juga diberi jaminan bahwa selama mereka mengikuti protokol dan saran dokter, isolasi pasien dapat dipersingkat.

Kesembilan, istirahat yang cukup. Tidur dan istirahat yang cukup meningkatkan pemulihan. Atur suasana rumah yang mendukung pasien untuk bisa tidur dengan nyaman. Pasein juga pelru melakukan gerakan ringan di sela waktu istirahat, agar peredaran darahnya tetap lancar. 

Kesepuluh, perawatan lanjutan. Pasien dianjurkan untuk benar-benar patuh dengan saran dokter atau tenaga kesehatan lainnya. Sampaikan, mungkin pengobatan dan perawatan yang diberikan membuat dirinya kurang nyaman untuk sementara waktu. Bila kondisinya memburuk, sampaikan kalau dirinya nanti harus dirawat di RS rujukan.

Itulah sepuluh kita perawatan pasien Covid-19 secara mandiri di rumah. Anjuran tersebut barangkali berlebihan atau dirasa kurang, bisa disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing. Prinsipnya, selalu lakukan komunikasi dengan petugas kesehatan yang bertanggung jawab di wilayah tempat Anda tinggal. Semoga panduan ini tidak berguna, sebab kita selalu diberi kesehatan yang baik dan melewati pandemi ini dengan baik dan selamat.

Oleh: Saverinus Suhardin

 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari  Saverinus Suhardin

 


Spread the love