Spread the love

Sebuah video yang sempat viral di media sosial beberapa pekan lalu, menunjukkan aktivitas perawatan atau penanganan luka pada kuku kaki yang terkesan cukup berbahaya, sekaligus memancing penontonnya untuk tidak bisa menahan tawa.

Di dalam layar video itu terlihat dua orang, laki-laki dan perempuan yang sedang berada di lingkungan dapur sebuah rumah. Tokoh laki-laki duduk di sebuah kursi pendek, sambil memegang area pergelangan kaki kanan. Ekspresi wajahnya tampak tegang dan sesekali meringis seperti menahan rasa sakit.

Tepat di depannya, seorang perempuan tampak memegang sebuah sendok makan. Di atas sendok itu terdapat cairan dan api yang sedang menyala. Kita bisa pastikan, cairan itu adalah minyak tanah yang dipanaskan dengan cara dibakar beberapa saat.

Setelah apinya menyala beberapa saat, perempuan itu meniup hingga padam. Kemudian, minyak hangat (mungkin panas) itu didekatkan pada kaki kanan sang laki-laki, lalu menyiram tepat di atas kuku jempolnya.

Wajah tokoh laki-lakinya makin tegang. Mungkin baru setetes saja yang menyentuh permukaan kukunya, dia tiba-tiba dia bangun dan berlari ke arah rumah utama sambil menjerit histeris, “Desssiiiiiii….” Dia memohon, sebaiknya pengobatan itu dihentikan saja.

Saat itu, kameramen yang tidak tampak dalam layar sebelumnya ikut  tertawa geli, sambil berkomentar dalam bahasa Manggarai yang kurang lebih berarti: Lukanya perlu ditetesi minyak tanah hangat sebanyak tiga kali. Videonya berakhir sampai di situ.

Tanggapan Umum

Video itu dibagikan banyak orang, mungkin karena terkesan lucu saat adegan “Dessi” tadi. Hal itu terlihat dari reaksi yang diberikan penonton, lebih banyak emotikon dan komentar tertawa. Tapi, ulasan kali ini tentu saja tidak fokus pada aspek tersebut, melainkan pada teknik perawatan lukanya.

Karena telah dipastikan video itu terjadi di Manggarai, penulis mencoba melakukan verifikasi mengenai kebiasaanya perawatan luka dengan menggunakan minyak yang telah dipanasi itu pada beberapa anak muda yang kini berstatus mahasiswa di Kupang.

“Iya, Kae, itu sudah dari dulu kita obati luka seperti itu. Saya dulu waktu kecil juga pernah begitu,” kata salah seorang dari antara mereka dengan mantap. Rekan yang lain juga kurang lebih menerangkan hal yang sama, bahwa sudah lumrah di Manggarai mengobati luka dengan cara seperti itu.

“Tidak sakit, kah?” Sebagai perawat, penulis membayangkan minyak panas itu justru akan merusak kulit dan jaringan lain di sekitar luka, sehingga bukannya cepat sembuh, tapi malah menambah luka makin lebar dan dalam.

“Tahan sakit di awal saja, Kae,” pemuda Manggarai tadi kembali meyakinkan penulis, “setelah itu sakit akan berkurang, terus tidak lama lagi langsung sembuh.”

Penulis belum puas hanya dengan mendengar testimoni satu-dua orang saja. Lantas kemudian menghubungi seorang rekan sejawat perawat yang selama ini berkutat dengan urusan perawatan luka, Rika Pamungkas.

Praktisi homecare perawatan luka moderen itu agak kaget setelah saya kirimi video tersebut. Menurutnya, dalam dunia perawatan luka yang dia pelajari selama ini, pemberian minyak tanah panas seperti dalam video itu sangat tidak dianjurkan.

Faktor-faktor yang menunjang terjadinya penyembuhan luka memang beragam, mulai dari kondisi atau karakteristik luka, status nutrisi penderita, sirkulasi darah yang lancar hingga ke daerah perifer, adanya penyakit penyerta seperti diabetes, dan masih banyak lagi; termasuk salah satunya teknik perawatan lukanya.

Pada prinsipnya, setiap jenis luka harus dibersihkan dari kotoran atau jaringan yang sekitarnya yang sudah mati (biasanya berwarna hitam).

Pembersihannya dilakukan dengan cairan yang sifatnya menyerupai cairan tubuh, seperti larutan NaCl.

Ini cairan infus yang bisa dibeli di apotik. Sebut saja infus en-a-ce-el, pasti petugas apotik paham apa yang dimaksud.

Kalau tinggal di daerah terisolir, menurut praktisi perawatan luka, pembersihan bisa dilakukan menggunakan air bersih yang sudah dimasak sebelumnya, tapi digunakan ketika airnya sudah dingin.

Kalau area luka sudah bersih, kondisi itu memungkinkan tubuh memperbaiki kembali jaringannya sendiri, sehingga lebih mudah untuk sembuh.

Sampai di sini, kita sudah menemukan dua kelompok yang saling bertentangan dalam menentukan cara perawatan luka yang akan dipilih. Kita mau ikut yang mana?

Kekeliruan Sejak Dulu

Ternyata penggunaan minyak tanah untuk pengobatan berbagai penyakit sudah ada sejak dulu. Masyarakat pedesaan di provinsi Sulawesi Selatan, misalnya, disebut-sebut meyakini minyak tanah dapat mengobati luka dan sakit perut.

Informasi seperti ini memang telah dibantah oleh pakar kesehatan, bahwa penggunaan minyak tanah justru berbahaya bagi kesehatan, tapi keputusan setiap orang tidak mungkin bisa dikontrol seluruhnya.

Laporan media Tempo pada 18 Januari 1986 juga menarik untuk dipelajari. Kala itu ternyata sedang marak propaganda di masyarakat lewat media selebaran, isinya tentang manfaat minyak tanah murni bisa menyembuhkan kanker.

Lagi-lagi, pakar kesehatan mengatakan informasi itu sangat menyesatkan. Ada juga beberapa media yang menuliskan tentang manfaat minyak tanah untuk kesehatan, tapi kredibilitas media tersebut sangat diragukan kebenarannya.

Dari beberapa informasi tersebut, kabar tentang manfaat minyak tanah untuk kesehatan ini sudah ada sejak dulu. Saat ini pun, informasi itu terus ada karena mungkin diceritakan terus dari generasi ke generasi.

Siram Luka Dengan Minyak Tanah

Bila kita telusuri hasil penelitian untuk membandingkan informasi penggunaan minyak tanah dalam bidang kesehatan,  hal yang kita temukan malah sebaliknya. Alih-alih bermanfaat untuk kesehatan, penggunaan minyak tanah untuk bahan bakar rumah tangga (kompor) pun ternyata tidak begitu aman buat kesehatan.

Minyak tanah menjadi salah satu penyebab keracunan pada anak-anak maupun orang dewasa yang mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan yang serius, komplikasi hingga kematian. Geoffrey K. Maiyoh, dkk dalam tinjauan sistematis yang mereka lakukan menyimpulkan kalau paparan minyak tanah menyebab efek merugikan bagi kesehatan. Jenisnya tergantung bagaimana cara terpapar dan organ yang terkena.

Ada satu percobaan yang menggunakan minyak tanah pada kasus yang meyerupai luka, yaitu kondisi wasir atau timbulnya pembengkakan dan peradangan pada pembuluh darah vena di sekitar lubang anus. Setelah wasir itu disuntikan dengan minyak tanah, yang terjadi malah kelumpuhan saraf dan luka yang makin meluas di sekitar anus.

Pernah juga ada kasus unik, di mana seseorang menyuntikan minyak tanah di bawah kulit, hasilnya menimbulkan abses atau luka yang bernanah (busuk).

Laporan kasus milik Ethan Rubinstein ini memang kasus pembunuhan sadis, tapi kita bisa belajar bagaimana efek bahaya minyak tanah pada jaringan atau organ tubuh.

Secara umum, WHO telah merangkum beberapa kondisi yang membahayakan kesehatan dari minyak tanah, seperti: keracunan bila terhirup dalam saluran pernapasan; mengiritasi saluran pernapasan; mengiritasi kulit dan mata; gangguan pada sistem persarafan; peradangan pada kulit (dermatitis); dan berbagai masalah lainnya. Pendek kata, minyak tanah lebih banyak mudaratnya dalam bidang kesehatan.

Jika demikian faktanya, masihkah kita punya niat menggunakan minyak tanah untuk pengobatan tertentu? Jika pertanyaan itu ditujukan pada penulis, maka saya akan mengikuti gaya tokoh laki-laki dalam video yang diceritakan pada bagian awal, “Dessi….., saya tidak sanggup…..Sapa mo help?”


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari  Saverinus Suhardin


Spread the love