Spread the love

Jumat, 14 Januari 2022 yang lalu, saya bersama beberapa rekan diadang sekelompok polisi di salah satu ruas jalan yang berada di Desa Baumata Utara, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang. Kami mengira mereka akan mengecek kelengkapan kendaraan maupun surat-surat yang wajib dibawa pengendara seperti STNK dan SIM, tapi ternyata bukan itu yang mereka tanyakan pertama kali.

“Sudah vaksin?”

“Sudah, Pak”

“Mana kartunya?”

Kami mengakses aplikasi “PeduliLindungi” di HP untuk menunjukkan sertifikat vaksin COVID-19 dengan perasaan heran. Biasanya polisi menilang orang di tengah jalan untuk memeriksa STNK dan SIM, tapi kini malah menanyakan kartu vaksin. Kami bertanya-tanya, kenapa tugas polisi berubah seperti itu?

Tidak jauh dari tempat mereka beroperasi, ada sebuah kerumunan kecil di teras sebuah kios yang tampaknya sudah lama tidak dibuka. Setelah diperhatikan, ternyata di sana ada pelayanan vaksinasi COVID-19. Kami melihat ada beberapa pengendara lain yang belum memiliki kartu vaksin, mereka diarahkan ke tempat kerumunan kecil itu untuk segera divaksin.

Tiga hari kemudian, tepatnya pada 17 Januari 2022, saya akhirnya mendapatkan jawaban yang lebih komprehensif. Pagi itu saya mengikuti sebuah acara yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan di kantor Desa Baumata Utara.

Pada kesempatan itu, Camat Taebenu dan Kepala Puskesmas Baumata sama-sama mengeluhkan tentang capaian vaksinasi COVID-19 di wilayah mereka terbilang masih rendah.

Gara-gara belum mencapai target, mereka akhirnya menggunakan berbagai cara, termasuk bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memastikan tiap orang sudah divaksin atau belum. Selain memeriksa di jalan, ada juga tim khusus yang langsung mendatangi rumah warga. Katanya jika tidak didampingi polisi, banyak warga yang menolak untuk divaksin.

Orang Dewasa Dipaksa, Bagaimana Vaksinasi Anak?

Fenomena keengganan masyarakat untuk mendapatkan vaksin COVID-19 sebenarnya terjadi di mana-mana. Ada sebuah video yang sempat viral di media sosial, seorang polisi di sebuah daerah di Jawa, ia berjalan di tengah pemukiman warga sambil berbicara lewat pelantang suara, katanya kalau tidak mau divaksin, maka semua urusan administrasi pemerintahaan tidak akan dilayani.

Penyebab penolakan tersebut sangat bervariasi. Salah satu penelitian menyebutkan kalau persepsi yang keliru mengenai vaksinasi COVID-19 itu disebabkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat. Selain itu, cara komunikasi yang kurang baik dari pihak-pihak berwajib seperti tenaga kesehatan untuk menyakinkan masyarakat tentang keefektifan vaksin COVID-19 juga ikut memberi dampak.

Ketika pelaksanaan vaksinasi COVID-19 untuk orang dewasa belum diterima secara luas, pemerintah saat ini menggalakkan vaksinasi COVID-19 untuk anak 6 sampai 11 tahun yang sudah dimulai sejak 14 Desember 2021 lalu dengan menggunakan vaksin jenis Sinovac. Tujuannya tentu saja baik dan banyak, salah satunya untuk mengoptimalkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka bagi anak sekolah.

 Apakah vaksinasi COVID-19 pada anak ini berjalan mulus? Tentu saja tidak! Kalau orang tua saja masih ragu-ragu menerima vaksin COVID-19 untuk dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia atau mereka merelakan anaknya untuk divaksin? Dan memang itulah yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia, termasuk di luar negeri seperti AS, China, Arab Saudi, Italia, Jerman, dan masih banyak lagi.

Misalnya seperti yang diberitakan di Kota Bekasi, masih banyak orang tua yang belum mengizinkan anaknya untuk vaksinasi COVID-19. Di tempat atau wilayah lain juga sama. Hal itu terungkap dari keterangan Ombudsman RI, bahwa banyak orangtua atau wali murid menyampaikan surat protes yang menolak pelaksanaan vaksinasi bagi anaknya serta menolak semua paksaan dan bentuk intimidasi lain yang mungkin terjadi.

Gelombang penolakan vaksinasi anak tersebut ada yang berupa kasak-kusuk dalam percakapan sehari-hari hinggal timbul gejolak yang berbahaya. Ada sebuah video yang menunjukkan seorang bapak berteriak marah-marah. Ia mengatakan pihak Kemenkes RI tidak mau berdiskusi atau berdebat tentang vaksinasi COVID-19 anak. Karena itu, ia menyerukan kepada setiap orang agar anaknya tidak perlu divaksin.

Baca Juga: Jangan Ragukan Vaksin

Selain karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang manfaat vaksin COVID-19, respons penolakan tersebut juga terjadi akibat adanya berita beberapa kejadian fatal yang diduga sebagai efek samping dari vaksin. Seperti adanya kabar anak PAUD di Cianjur yang meninggal sehari setelah vaksinasi COVID-19, sebelumnya juga terjadi di Jombang, dan beberapa daerah lain.

Ketakutan dan keraguan orang tua untuk mengizinkan anaknya mengikuti vaksinasi COVID-19 makin diperparah lagi dengan beredarnya berbagai kabar hoaks. Misalnya ada yang menyebar kabar bahwa vaksin COVID-19 bisa menyebabkan stroke pada anak, ada juga yang bilang bisa menyebabkan kerusakan organ tubuh, dan masih banyak variasi kesalahan informasi lainnya.

Berbagai persoalan yang mengganjal pelaksanaan vaksinasi COVID-19, khususnya bagi anak usia 6-11 tahun ini, tentunya akan menimbulkan gesekan di tengah masyarakat. Perdebatan antara kelompok petugas pelaksana vaksinasi di lapangan dengan kelompok masyarakat yang menolak atau ragu-ragu dengan vaksin pasti akan terjadi terus-menerus, bahkan bisa menimbulkan berbagai gejolak.

Kita Berpihak pada Kubu Mana?

Gejolak vaksinasi COVID-19 ini pada akhirnya menciptakan dua kubu yang berlawanan, yaitu kubu pro dan kontra vaksi. Kita masuk pada kubu yang mana?

Pilihan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, termasuk urusan vaksinasi, sebenarnya merupakan otonomi setiap orang. Dan dalam etika pelayanan kesehatan, petugas wajib menghargai otonomi setiap pengguna layanan kesehatan, termasuk ketika mereka menolak tindakan tertentu.

Tetapi, mari kita dalami lebih dahulu, kenapa pemerintah gencar melaksanakan program vaksinasi COVID-19 pada anak? Apakah untuk keuntungan mereka saja atau seperti apa? Perdebatan tentang perlunya vaksin pada anak ini memang sudah terjadi di seluruh dunia, termasuk oleh kelompok ilmuwan atau para peneliti.

Ada yang mengatakan kalau vaksinasi COVID-19 bagi anak itu tidak terlalu penting, karena berdasarkan statistik jumlah penderita COVID-19 pada anak jauh lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa, termasuk untuk kategori berat dan ringannya gejala yang ditimbulkan. Karena itu, kelompok ini menganggap vaksinasi COVID-19 tidak terlalu urgen.

Namun pada sisi yang lain, ada ilmuwan atau praktisi kesehatan yang memberi keterangan yang berbeda. Misalnya keterangan yang disampaikan salah satu ahli penyakit infeksi anak seperti yang dilansir website jurnal ilmiah Nature, katanya banyak anak-anak yang sakit parah gara-gara COVID-19. Supaya dampak COVID-19 tidak terlalu parah, maka perlu dilakukan vaksinasi.

Baca Juga: Begini Proses Pembuatan Vaksin

Pertentangan seperti itu mungkin tidak akan berakhir. Kelompok yang meyakini pentingnya vaksinasi COVID-19 pada anak untuk mendukung kekebalan kelompok (herd immunity), pada akhirnya tetap menjalankan program tersebut. Pelaksanaannya juga sudah cukup masif di berbagai negara, termasuk kita di Indonesia.

Efektivitas vaksinasi COVID-19 juga sudah terbukti baik. Memang ada satu-dua kejadian kecil yang bikin cemas seperti adanya dugaan bahwa vaksin tersebut menyebabkan orang yang meninggal dunia. Perlu kita ketahui bersama, hasil audit Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) menunjukkan bahwa beberapa kejadian anak yang meninggal itu ternyata bukan disebabkan secara langsung oleh vaksin COVID-19, tetapi ada faktor atau penyakit penyerta yang lain.

Pemerintah tidak memaksakan setiap anak untuk divaksin. Termasuk untuk syarat masuk sekolah dalam menjalani pertemuan tatap muka. Tapi, apakah kita mau melewatkan kesempatan emas agar anak memperoleh kekebalan yang baik pada SARS-CoV-2 atau virus corona? Sebenarnya kita tidak perlu khawatir pada efek sampingnya, sebab pemberian vaksinasi pun tidak dilakukan sembaranganya.

Sudah ada regulasi yang mengatur tata cara pemberian vaksin COVID-19 pada anak. Sebelum disutik, anak atau orang tuanya diperiksa terlebih dahulu. Kalau anak memiliki halangan tertentu, maka pelaksanaannya bisa ditunda. Pemerintah tentunya menjalankan program ini dengan sangat hati-hati.

Sekarang tinggal Anda mau memilih, mau mendukung kubu yang mana? Kalau Anda mendukung program vaksinasi, baik untuk dewasa maupun anak, berarti kita berada pada kubu yang sama. Mari kita sama-sama memberikan kabar atau informasi yang benar dan meyakinkan buat orang di sekitar kita. Semoga kita semua berhasil mencapai kekebalan kelompok seperti yang diharapkan selama ini.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin


Spread the love