Spread the love

Tidak hanya pakar telematika, saya jumpai banyak teman-teman yang tidak kalah gesit mendalami video syur berdurasi 19 detik yang sangat viral baru-baru ini.

Apakah itu benar si artis seperti yang diduga dalam berita-berita? Itu pertanyaan utama yang membuat mereka mesti jeli memperhatikan setiap gerakan dari detik ke detik. Sekali tentu saja belum cukup. Video diputar berulang-ulang untuk menunjang kesimpulan.

Hasilnya? Tidak beda jauh dengan pandangan netizen di media sosial. Masing-masing orang memiliki titik fokus tersendiri sebagai objek kajian.

Ada yang menganalisis dari bentuk dan desain ruangan, bentuk dan tanda bagian-bagian tubuh tertentu, dan varian lainnya.

Perdebatan kecil tidak bisa dielak. Ada yang meyakini itu benar si artis seperti yang disangkakan khalayak. Tidak sedikit pula yang sangsi. Bahkan orang yang disebut sebagai pakar telematika pun tidak memberi kesimpulan yang pasti. Proses analisa makin rumit ketika pihak terduga menepis semua anggapan publik dengan tegas.

Ketidakpastian ini membuat orang-orang makin penasaran, mana sih yang benar? Maka video 19 detik itu dibuka kembali. Adegannya  diamati lagi secara seksama dari detik ke detik. Saking seringnya, bisa saja tujuan pengamatan ini pada akhirnya berbelok arah. Awalnya berniat memvalidasi, lama-lama malah menikmati

Dari satu video itu, bisa saja berkembang ke video lain yang sejenis. Barangkali bukan hal baru lagi, netizen di Indonesia biasanya sangat akur ketika mendapat kabar adanya foto atau video syur baru. Makanya tidak heran bila ada frasa atau istilah “link pemersatu bangsa” yang diasosiasikan dengan konten pornografi. Persepsi seperti itu juga diperkuat dengan fakta, Indonesia pernah menempati urutan ketiga sebagai negara pengakses situs porno terbanyak.

Pengantar yang sudah lumayan panjang di atas, pada akhirnya bermuara pada pertanyaan yang akan menjadi fokus bahasan dalam ulasan ini: Apakah kebiasaan menonton film porno itu baik atau buruk bagi kesehatan?

Sebelum kita sampai ke sana, ada baiknya kita pahami lebih dulu kenapa orang–bahkan sampai ketagihan—menonton film porno atau bentuk pornografi lainnya.

Motivasi Penikmat Pornografi

Secara umum, motivasi orang untuk mengakses pornografi berdasarkan penelitian Bőthe, dkk., meliputi alasan berikut ini: untuk mendapatkan kenikmatan seksual, keingintahuan seksual, gangguan atau tekanan emosional, pengurangan stres, fantasi, mengindari kebosanan, kurangnya kepuasan seksual, dan eksplorasi diri. 

Motivasi tersebut didukung pula oleh kemudahan akses terhadap sumber-sumber pornografi, khususnya di era perkembangan teknologi internet yang begitu pesat.

Kemajuan di bidang teknologi informasi tidak hanya memicu lahirnya ide-ide atau peluang terciptanya inovasi baru, tetapi juga menjadi media yang subur bagi pertumbuhan pornografi.

Kehidupan kita –mulai dari budaya, musik, acara televisi, film, media sosial dan media lainnya—telah diinvasi oleh pornografi. Pendek kata, kita tidak mungkin bisa menghindari godaan pornografi secara total. Kita hanya bisa mengendalikannya, sekuat-kuat yang bisa dilakukan.

Bila kita cermati satu per satu alasan di atas, tidak semua tujuan atau niat tersebut bersifat negatif. Barangkali alasan ini yang membuat perdebatan tentang pornografi selalu terpecah belah menjadi dua kubu. Ada kelompok yang mengutuk keras segala macam bentuk pornografi, tapi di sisi lain, ada pula yang menganggapnya bermanfaat.Orang yang mendukung adanya produksi maupun konsumsi pornografi mengklaim, aktivitas tersebut sebagai bentuk ekspresi diri yang sehat dan penting untuk mengeskplorasi pengalaman seksual. 

Tapi kelompok penentang berpendapat, bila pornografi tidak ditekan dengan membuat regulasi, maka lama-kelamaan bisa merusak jiwa dan perilaku para penikmatnya, termasuk mengganggu kesehatan masyarakat umum.

Pertentangan yang sengit ini tentu akan mendatangkan dilema, khususnya bagi kelompok yang baru belajar mengenal dunia pornografi dan pendidikan seksual pada umumnya. Kita mau ikut kelompok yang mana?

Efek Pornografi

Meski  hanya berperan sebagai “faktor risiko”, bukan penyebab langsung, pornografi telah diyakini membawa pengaruh perilaku yang buruk bagi para penikmatnya, khususnya lagi bagi remaja yang dinilai belum mampu mengendalikan diri.

Sebuah studi menunjukkan, mereka yang mudah terpengaruh, lazimnya mengalami perubahan pada perilaku seksual, hubungan dan penampilan.

Ketika perilaku seksual itu dilakukan tidak aman, maka masalah lanjutan akan muncul, banyak kalangan muda yang mengalami Infeksi Menular Seksual dan IMS tersebut menjadi faktor risiko terbesar kematian secara global.

Kebiasaan menikmati pornografi juga punya potensi terjadi masalah kesehatan mental. Orang tersebut akan membentuk citra tubuh sendiri lebih negatif, mengalami cemas dan depresi.

Keseringan menonoton pornografi juga bisa membuat orang mengalami kecanduan, dan setiap kecanduan selalu dianggap sebagai gangguan kesehatan jiwa.

Berbagai hasil penelitian tersebut ternyata belum bisa digeneralisasi lantaran mengandung banyak kelemahan secara metodologis.

Baca Juga: Patriarki, Kenikmatan Visual Adegan Seks, Dan Batas Aristokrasi

Seperti ulasan Cicely Marston, dia menganggap studi efek pornografi terhadap kesehatan secara umum belum meyakinkan. Hal itu didasari argumentasi bahwa studi kuantitatif yang melihat hubungan keduanya masih sebatas pada pendekatan cross-sectional.

Metode penelitian tersebut dianggap rapuh karena tidak mampu menentukan arah suatu hubungan bersifat kausal atau tidak. Selain itu, penelitian semacam itu cenderung mengukur efek yang merugikan daripada manfaatnya. Hal ini menunjukkan sejak awal pornografi sudah dibingkai sebagai masalah.

Menurut Masrton, penelitian yang baik untuk topik ini mestinya dilakukan dengan pendekatan interdisipliner,menggunakan berbagai desain studi dan metode pengumpulan data, sehingga dapat membangun gambaran holistik tentang penggunaan pornografi dan efeknya bagi kesehatan. 

Studi tentang efek pornografi pada kesehatan harus melingkup banyak sisi, termasuk meneliti kemungkinan manfaat kesehatan dari pornografi, supaya bisa memberikan penilaian yang seimbang antara manfaat dan bahayanya.

Sependek yang sudah dibahas di atas, kita mengecek kembali pertanyaan awal, apakah benar menonton video sejenis yang disebut “19 detik” itu akan berakibat pelik pada kesehatan?

Jawaban pasti tentang pertanyaan tersebut masih perlu ditelusuri lebih jauh lagi. Hasil penelitian yang sudah ada masih dianggap belum meyakinkan, sehingga menyisakan banyak perdebatan.

Meski demikian adanya, secara umum orang akan lebih setuju bila pornografi itu harus dibatasi pembuatan dan penyebarannya. Kalau efek pornografi bagi kesehatan hasilnya masih terbilang abu-abu, bukan berarti pornografi bisa diterima sebagai kewajaran.

Okelah, secara kesehatan barangkali tidak berpengaruh secara langsung, misalnya, tapi masih ada lapisan lain yang menentukan keputusan kita sebagai manusia.

Kita memiliki norma agama, budaya, pendidikan dan properti lainnya yang membuat kita tetap selektif –tidak menerima pornografi sebagai sesuatu yang lumrah untuk dikonsumsi publik.

Andai kata kita tetap melanggar norma-norma tersebut, efek rasa bersalah itu akan membawa perasaan cemas. Kecemasan yang berlarut-larut membuat kita makin depresi. Gejala tersebut sudah menunjukkan kondisi tidak sehat. Artinya, cepat atau lambat, pornografi tetap memberi efek yang kurang baik.

Pembahasan mengenai topik pornografi ini memang kurang memuaskan, karena menyisakan banyak perasaan dilematis. Rasa gunda yang dialami, kurang lebih sama dengan candaan orang selama ini, “Kalau dinonton takut dosa. Tidak dinonton, barang bagus…”


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 


Spread the love