Spread the love

Tema tentang kolam renang menjadi tren pembicaraan paling banter di berbagai media kurang lebih seminggu ini. Hal itu bermula ketika seorang anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sitti Hikmawatty, memberikan pernyataan kalau seorang perempuan bisa saja hamil ketika berenang atau berendam bersama laki-laki di kolam renang.

Tanpa harus menunggu penjelasan ahli yang berkompeten dan berwenang, setiap orang pada dasarnya sudah tahu kalau hal itu sangat keliru. Penjelasan yang tidak masuk akal tersebut, disampaikan Ibu Hikma di hadapan kamera jurnalis. Ketika berita itu pertama kali rilis di sebuah media daring, langsung heboh dan tersebar ke mana-mana.

Bagai arus banjir di musim hujan, berita tersebut menjadi viral tanpa mampu dibendung lagi. Sudah ada upaya dari Ibu Hikma untuk cepat meminta maaf kepada publik, berharap kesalahan tersebut tidak diumbar berkepanjangan.

Kenyataan berkata lain. Tidak saja video dan teks berita aslinya yang beredar luas, malah ditambah lagi dengan kreativitas “warga +62” yang membuat beragam meme dan video sindiran atas kekeliruan tersebut. Saking ramainya, lagi-lagi Indonesia menjadi perhatian warga dunia meski bukan karena prestasi yang membanggakan.

Kita tidak akan terus merundung beliau lewat tulisan ini. Sudahlah, ada baiknya kita belajar masalah kesehatan yang terkait dengan kolam renang saja. Kita berusaha melihat dari sisi yang lain; mencari hikmah dari kekeliruan Ibu Hikma.

Kalau kita mau jujur, –seperti lazimnya ketika perayaan Valentine tiba— berenang di kolam bukanlah budaya kita; budaya kita adalah bla, bla, bla… (Maaf, bercanda sejenak). Bila kita menelusuri sejarahnya, ternyata penggunaan kolam renang di Nusantara ini pertama kali diperkenalkan oleh kolonial Belanda. Konon katanya kolam renang yang bermula dari kolam ikan tersebut pertama itu dibangun di Cihampelas, Bandung pada tahun 1904.

Saat ini kolam renang sudah menjadi kebutuhan rumah tangga bagi segelintir orang. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat kita belum punya kemampuan untuk membangun fasilitas yang terbilang mewah tersebut. Padahal, keinginan untuk menikmati kolam renang seperti para artis atau orang-orang kaya di TV itu sangat besar.

Baca Juga: Rumor Informasi Kesehatan yang Menyertai Kepiluan BCL

Pengusaha memanfaatkan peluang tersebut dengan membangun kolam renang yang terbuka untuk umum. Ketika massa menggunakan bersama satu fasilitas kolam renang, beberapa risiko masalah bisa terjadi, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan.

Setidaknya ada tiga isu yang perlu diperhatikan ketika memanfaatkan fasilitas kolam renang umum, yaitu mencegah ternjadinya tenggelam khususnya bagi anak-anak, wabah penyakit yang ditularkan melalui air dan pencemaran bahan kimia dalam air.  

Penelitian Petrass & Blitvich (2016) berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi kejadian tenggelam pada anak di kolam renang. Faktor utama dikarenakan kurangnya pengawasan. Kemudian bisa juga terjadi karena seorang pengasuh bertanggung jawab menjaga atau memperhatikan banyak anak; anak kecil dijaga oleh kakaknya yang masih kanak-kanak; dan situasi lingkungan kolam yang sedang ramai.

Pencegahan tenggelam bisa dilakukan dengan memberi peringatan dini pada orang tua atau pengawas, –misalnya dengan menempelkan peringatan di lokasi strategis sekitar kolam– untuk meningkatkan kewaspadaan pengawasan anak. Sebuah studi yang dilakukan di Australia menunjukkan program pendidikan publik seperti itu dinilai cukup efektif. Karena itu disarankan juga kepada pemilik kolam renang untuk menerapkan tindakan pencegahan tersebut.

Isu kedua berkaitan dengan wabah penyakit yang ditularkan melalui air. Air yang dipakai di kolam renang tidak bisa kita pastikan keamanannya. Cryptosporidium, Legionella, dan E. coli adalah jenis kuman yang sering terdeteksi dalam air kolam renang. Apabila kuman tersebut masuk ke dalam tubuh karena tanpa sengaja tertelan, maka bisa menimbulkan penyakit diare dan penyakit lainnya.

Pemerintah, dalam hal ini dinas kesehatan, perlu membuat kebijakan untuk melakukan inspeksi secara rutin terkait kualitas air di kolam renang umum. Bila perlu, setiap fasilitas kolam renang diberi kebijakan untuk melakukan akreditasi atau semacam stempel/tanda dari lembaga independen mengenai keamanan kualitas air.

Penyakit yang tertular lewat media air bisa dicegah dengan memastikan kualitas air dan melakukan desinfeksi (pemberian bahan kimia untuk mematikan mikroorganisme penyebab penyakit). Kabar buruknya, ternyata pemberian desinfeksi seperti itu malah mencipatkan peluang masalah baru, seperti pada isu yang ketiga tentang pencemaran bahan kimia dalam air.

Bahan kimia yang digunakan sebagai desinfeksi tersebut akan membentuk produk sampingan, sebagai hasil desinfektan seperti klorin yang bereaksi dengan bahan organik dan non-organik dari pengguna kolam renang. Bahan organik dan non-organik yang dimaksudkan dari perenang itu seperti produk keringat, urin, rambut, kulit dan perawatan pribadi.

Jenis perawatan pribadi yang dimaksudkan itu bisa berupa penggunaan bahan-bahan komestik. Sebuah penelitian menyebutkan kalau senyawa kosmestik seperti hydroquinone, PropylParaben dan Triclosan sering terdeteksi dalam kolam renang.

Bahan kimia desinfeki yang berbaur dengan bahan organik dan non-organik dari perenang, akan membentuk produk sisa/sampingan yang kompeks. Kabar buruknya, produk sampingan tersebut telah terbukti bersifat genotoksik dan karsinogenik. Itu artinya, ketika sering tepapar dengan bahan kimia tersebut lewat berbagai, maka kita memiliki potensi atau risiko terjadinya kerusakan gen pada sel dan merangsang  pertumbuhan sel kanker. Selain itu, temuan menunjukkan bahwa ada kemungkinan masalah kesehatan yang bisa  dirasakan, seperti iritasi mata dan kulit, masalah pernapasan dan kekeringan kulit.

Tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko tersebut, kita bisa lakukan dengan cara mematuhi peraturan yang ditetapkan pemilik kolam renang. Salah satu contoh misalnya, jika sudah diingatkan untuk membilas tubuh sebelum dan setelah masuk kolam, sebaiknya dipatuhi untuk menhindari risiko masalah kesehatan seperti yang disebutkan sebelumnya.

Pembilasan tubuh sebelum masuk ke kolam, diharapkan mampu melunturkan berbagai bahan kimia yang terkandung dalam kosmetik yang kita pakai. Selama berada dalam kolam, kita juga diharapkan saling menghargai orang lain dengan tidak melundah atau kencing di air kolam. Pembilasan segera setelah keluar dari kolam juga dimaksudkan untuk mengungi efek paparan zat kimia yang terlarut dalam air pada kulit.

Itulah beberapa hal yang perlu kita perhatian atau pertimbangkan ketika berencana berekreasi di kolam renang. Bila kita sudah tahu kualitas air di kolam renang yang sudah terpapar zat kimia yang bergitu kompleks, masihkah mungkin spermatozoa bisa hidup dan berenang untuk menghamili seorang perempuan?

Oleh: Saverinus Suhardin

 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari  Saverinus Suhardin


Spread the love