Spread the love

Kabar tentang melambungnya harga minyak goreng sangat heboh di tengah masyarakat, sebab itu memang salah satu kebutuhan hidup yang sudah melekat. Kehebohan makin menyala-nyala tatkala Ibu Megawati merasa ganjil dengan fenomena ibu-ibu berebut minyak goreng.

“Apa tidak ada cara untuk merebus, lalu mengukus atau seperti rujak? tanyanya lebih lanjut seperti yang dikutip media.

Ketua umum partai banteng moncong putih itu makin tercengang lagi ketika tahu respons atas pernyataannya disambut khalayak dengan nada negatif. Entah itu murni suara hati wong cilik atau ada unsur politis yang sengaja menggoreng isu tersebut, faktanya memang banyak orang yang merundung dan mengkritik mantan Presiden Kelima Indonesia tersebut. Dari masyarakat biasa hingga pengamat berkelas.

Ibunda Puan Maharani itu dinilai tidak memiliki empati dengan kebutuhan masyarakat kecil. Padahal, dulu partainya dicitrakan sebagai pembela orang-orang terpinggir. Sekarang, dengan sikap dan penyataannya tersebut, ia dinilai tidak peka. Dan masih banyak bentuk cibiran lain.

 Ibu Mega makin mangkel karena maksud baiknya malah banyak “digoreng” oleh berbagai pihak. Karena itu, ia bersama PDI-P langsung menggelar acara: Demo Masak Tanpa Minyak Goreng. Pak Hasto, sekjen partai tersebut, mendukung apa yang dilakukan pimpinannya karena dia mengaku bisa mengontrol kolestrol darahnya dengan mengurangi makanan yang digoreng.

Nah, pada ulasan kali ini, kita hanya fokus pada urusan yang disampaikan Pak Hasto tersebut, apakah benar penggunaan minyak goreng dapat memengaruhi kesehatan seseorang? Kita mungkin sering mendengar bagaimana orang selalu membandingkan kesehatan orang zaman dulu dengan generasi saat ini yang sering mengidap penyakit yang terkesan aneh. Biasanya akan muncul celetukan, “Itu karena makan yang goreng-goreng.”

Beda Jenis, Beda Kualitas

Minyak yang dipakai untuk menggoreng ternyata sangat banyak variannya. Sumbernya pun beragam. Secara umum berasal dari bahan hewani dan nabati. Minyak goreng hewani, kita yang berada di NTT mungkin familiar dengan, mohon maaf, minyak babi. Dan yang paling banyak digunakan sebenarnya minyak goreng nabati yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan.

Selama ini kita mungkin lebih mengenal minyak goreng yang terbuat dari sawit, entah yang sudah berlabel dengan merek tertentu atau minyak goreng curah yang banyak beredar di pasar. Selain itu, kita juga masih mengenal penggunaan minyak kelapa. Tapi seiring dengan perubahan zaman, pada umumnya kita lebih banyak memakai minyak sawit untuk menggoreng.

Selain itu, ternyata masih banyak jenis minyak goreng nabati yang lain. Sundeep Mishra, MD dan S.C.Manchanda, MD pada tahun 2012 menulis sebuah artikel ilmiah berjudul: Cooking Oils for Heart Health atau minyak goreng untuk kesehatan jantung.

Bila diurutkan dari yang terbaik hingga yang terburuk untuk kesehatan jantung, beginilah susunannya: Mustard, Canola, Ghee, Soybean, Red palm, Olive oil, Palm oil, Rice bran, Groundnut, Sunflower, Safflower.

Minyak goreng sawit atau palm oil yang biasa kita pakai berada di urutan ke-7, itu artinya kurang begitu baik untuk kesehatan, khususnya lagi berkaitan dengan penyakit jantung koroner. Jika demikian, kenapa malah jenis ini yang paling banyak di pasaran?

Alasan pertama, tentu saja berkaitan dengan harga atau status sosial ekonomi masyarakat yang memengaruhi daya beli.  Dari sekian banyak jenisnya, minyak goreng sawit yang paling terjangkau. Apalagi minyak goreng curah yang tidak berlabel resmi—ini paling diminati masyarakat kelas menengah ke bawah.

Alasan kedua, masih berkaitan dengan kondisi yang pertama, yaitu status pendidikan atau tingkat pengetahuan masyarakat tentang jenis dan kualitas minyak goreng. Alasan ketiga berkaitan dengan cara penggunaannya.

Minyak goreng tidak jenuh seperti golongan mustard, canola, dst., atau minyak yang dianggap sehat, ternyata tidak tahan terhadap panas. Jadi, penggunaannya hanya untuk menumis bahan makanan yang tidak membutuhkan proses masak yang lama.

Sebaliknya, minyak jenuh yang tahan panas sepertinya minyak sawit, tidak baik bagi kesehatan. Jadi, kalau kita menginginkan ayam goreng yang lezat, tentu saja memakai minyak jenuh dari sawit ini meski tidak sehat.

Dampak Bagi Kesehatan

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, minyak sawit sudah terbukti menjadi salah satu fatktor risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK). Sedangkan minyak canola, minyak jagung, atau minyak zaitun jauh lebih aman buat kesehatan jantung.

Kita tahu, minyak sawit itupun terbagi lagi menjadi dua golongan, yaitu minyak bermerek yang tentunya memiliki kualitas memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia) yang telah diberlakukan fortifikasi wajib—memasukan unsur nutrisi tambahan dalam minyak goreng—oleh pemerintah, dan minyak goreng curah yang kualitasnya tidak bisa dipastikan.

Selain jenis minyak goreng yang digunakan, cara masak pun bisa memengaruhi status nutrisi dari makanan tersebut, termasuk efek kesehatan bagi yang mengonsumsinya. Cara masak yang dimaksud adalah penggunaan minyak goreng secara berulang-ulang atau jelantah.

Hasil penelitian menunjukkan, komposisi minyak goreng jelantah sudah tidak memenuhi SNI sehingga tidak layak digunakan kembali untuk masak atau menggoreng. Apakah kita, atau masyarakat dari golongan ekonomi menengah ke bawah, rela membuang minyak goreng sisa yang masih banyak itu? Rasanya tidak tega.

Tapi kalau ingin mendapatkan kesehatan yang baik, harusnya minyak jelantah itu tidak digunakan lagi. Minyak sisa itu sebenarnya masih bisa diberdayakan untuk fungsi yang lain, misalnya dengan mengolahnya jadi sabun pencuci.

Efek penggunaan minyak goreng sawit itu ternyata bukan hanya memicu terjadinya peningkatan kadar kolestrol darah. Penelitian lain membuktikan, ibu-ibu atau orang yang sering mengirup asap yang dihasilkan dari proses penggorengan, berisiko tinggi mengalami berbagai gangguan saluran pernapasan. Apalagi bila masak di dapur dengan sistem ventilasi yang buruk.

Paparan asap minyak goreng bisa memperburuk kondisi bronkritis kronis meskipun tidak merokok. Penelitian lain menyebutkan paparan terhadap asap minyak goreng yang terus-menerus bisa menggangu kualitas tidur dan kondisi kesehatan secara umum, merangsang terjadinya kanker paru-paru meskipun tidak disertai kebiasaan merokok, dan masalah kesehatan lainnya.

Masih Mau Menggoreng?

Setelah menyimak berbagai hasil penilitian yang disinggung di atas, sudah jelas penggunaan minyak goreng atau mengolah makanan dengan cara digoreng lebih banyak mudaratnya. Jika kita menggunakan pikiran rasional, harusnya kita bisa menerima saran Ibu Mega. Tapi, kenapa kita tetap enggan meninggalkan gorengan?

Iya, kita tidak bisa memungkiri, makanan yang digoreng itu memberi sensasi rasa enak yang berbeda, sehingga disukai banyak orang. Makanan yang digoreng sangat populer karena rasanya yang khas, aromanya yang khas, dan teksturnya yang renyah.

Dulu, nenek moyang kita memang tidak terbiasa dengan makanan seperti itu, karena memang mereka mungkin belum tahu atau minyak goreng belum banyak tersedia. Tapi generasi kita saat ini sudah dibiasakan dengan makanan yang digoreng.

Kita pun tahu, kebiasaan itu selalu bikin candu. Maka tidak heran bila kita merespons dengan sengak bila ada yang mau mengubah kelaziman itu seketika; dari cara menggoreng ke metode mengukus atau yang lainnya. Tidak peduli itu Ibu Megawati atau siapa pun juga.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 

 

 


Spread the love