Spread the love

Suatu pagi di ruang pendaftaran pasien rawat jalan sebuah RS rujukan di Kota Kupang, saya menyaksikan peristiwa kecil yang mangganggu pikiran dan perasaan. Ada seorang bapak yang sudah jelas masuk dalam kategori lansia, berdiri tidak jauh dari saya, dan kami sama-sama mengantre di hadapan loket pendaftaran.

Saya lega ketika bapak itu sudah mendapat giliran. Begitu ia menyodorkan sebuah kertas, lantas petugas dari balik kaca menjelaskan dengan suara keras bahwa surat yang rujukan yang dibawa bapak itu sudah tidak berlaku lagi.

“Bapak kembali lagi ke puskesmas,” kata petugas itu dengan nada sedikit berteriak, mulutnya ia dekatkan pada lubang kaca, “nanti minta lagi rujukan yang baru, kemudian kembali lagi ke sini.”

Saya perhatikan respons bapak tadi, ia hanya diam saja. Ekspresi wajahnya datar. Ia hanya menatap sebentar ke petugas, lalu berjalan menuju pintu keluar. Entah apa yang dilakukannya setelah itu, saya tidak tahu. Tapi, dari peristiwa singkat itu, kita bisa memaknainya dengan cara berbeda-beda.

Mungkin ada yang menganggap prosedur di RS atau pelayanan kesehatan kita secara umum sangat berbelit-belit. Barangkali ada juga yang menganggap si bapak tadi tidak memanfaatkan fasilitas kesehatan tingkat I dengan benar sehingga tidak paham dengan prosedur rujukan. Dan bisa jadi ada persepsi liar lainnya. Bagi saya, peristiwa itu menunjukkan tidak adanya perencanaan yang baik dalam urusan kesehatan.

Gagal Merencanakan = Merencanakan Gagal

Nasihat atau kalimat motivasi tentang pentingnya membuat perencanaan, barangkali sudah sering masuk-keluar dari telinga kita. Seperti subjudul di atas, ketika sudah gagal merencanakan, itu sama dengan kita sedang merencanakan kegagalan. Perencanaan memang penting, termasuk untuk kesehatan.

Kita tahu, ada lembaga pemerintah seperti BKKBN yang bertugas dalam urusan pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana. Program keluarga berencana itu dimaksudkan untuk mendidik setiap keluarga agar merencanakan setiap tahapan hidupnya. Misalnya merencanakan kapan menikah; kapan memiliki anak pertama; kapan menyiapakan anak kedua; dan sebagainya.

Ada banyak masalah lain lagi dalam bidang kesehatan yang membutuhkan perencanaan yang baik sejak dini. Misalnya, dalam urusan kesehatan lansia, diperkirakan persentase penduduk lansia akan meningkat hingga 15,80% pada tahun 2035. Kondisi tersebut menjadi berkah karena menunjukkan angka harapan hidup makin panjang, tapi sekaligus menjadi tantangan jika lansia tersebut banyak yang tidak produktif dan membutuhkan perawatan khusus.

Berkaitan dengan lonjakan populasi lansia tersebut, kita akhirnya mengenal sebuah istilah baru yang disebut generasi sandwich—sebuah istilah yang merujuk pada orang berusia produktif dengan peran ganda, yaitu bertanggung jawab terhadap anaknya yang masih tinggal bersama di rumah dan juga bertanggung jawab atas orang tua serta mertuanya.

Jika kita menyadari akan adanya potensi masalah tersebut di masa depan, maka ketika saat ini kita masih muda atau memasuki masa dewasa awal, kita bisa merencanakan dengan baik agar tidak menjadi beban bagi anak atau menantu kita yang disebut generasi sandwich tadi. Apa yang bisa kita rencanakan? Saya pikir ada banyak, misalnya merencanakan hidup sehat sejak dini.

Kondisi kesehatan masa lansia, sudah pasti ditentukan dari apa yang dilakukan saat ini. Misalnya melakukan aktivitas fisik (olahraga) minimal 30 menit sehari, akan terasa berat jika saran itu baru dilakukan ketika memasuki masa lansia.

Sebaliknya, jika dilakukan sejak muda, sampai tua pun kebiasaan hidup sehat itu pasti terasa enteng. Jika pola hidup sehat itu sudah menjadi kebiasaan, maka ketika memasuki masa lansia, kita tidak terlalu bergantungan pada orang karena kondisi sakit.

Masih banyak urusan kesehatan lain yang perlu kita rencanakan sejak dini bila tidak ingin terjebak di dalamnya. Sebut saja beberapa contoh,  adanya tren peningkatkan penyakit tidak menular (Hipertensi, DM, stroke, dll).

Lalu penyakit infeksi juga tetap menghantui, apalagi dengan kemunculan virus atau agen penyakit baru yang sulit diprediksi. Pendek kata, ada banyak tantangan kesehatan yang butuh perencanaan matang untuk menghadapinya.

Resolusi Kesehatan

Masalah kesehatan memang sangat banyak, yang sempat disebutkan di atas belum seberapa. Kalau seperti itu, apa yang bisa kita rencanakan? Jawaban atas kegelisahan seperti itu tentunya sangat bergantung dari konsisi kita masing-masing. Masalah kesehatan boleh banyak, tapi bukan berarti kita memborong semuanya kan?

Baca Juga: Bahaya Laten Mendiagnosis Diri Sendiri

Kita bisa fokus saja pada apa yang paling penting  menurut takaran sendiri. Awali dengan mengevaluasi kondisi kesehatan saat ini. Bila kita bingung, bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan atau tenaga kesehatan untuk berkonsultasi terlebih dahulu. Setelah tahu apa yang kita butuhkan, selanjutnya tinggal membuat perencanaan tindakan apa yang harus dilakukan untuk mancapi tujuan.

Karena saat ini masih dalam suasana tahun baru, ada sebuah istilah atau kebiasaan yang dibuat sebagian besar orang di seluruh dunia berkaitan dengan membuat perencanaan atau menetapkan tujuan ini, yaitu resolusi tahun baru.

Isi resolusi bisa bermacam-macam, tergantung kebutuhan setiap individu, tetapi hampir semua orang telah sadar kalau resolusi kesehatan merupakan satu aspek yang tidak boleh dilupakan.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Asutralia dan Inggris menunjukkan bahwa sebagian besar resolusi tahun baru berkaitan dengan kebutuhan kesehatan, yakni berfokus pada diet atau pola makan dan olahraga. Itu artinya, masyarakat di negara maju sudah menerapkan kebiasaan ini sejak lama. Apakah kita juga sudah memulainya?

Baca Juga: Resolusi Kesehatan di Tahun yang Baru

Resolusi merupakan deklarasi, komitmen yang kita buat untuk diri kita sendiri. Bila kita menelusuri sejarahnya, kebiasaan membuat janji tiap tahun baru ini sudah ada sejak 2000 SM, yaitu ketika masyarakat Babilonia Kuno merayakan festival penobatan raja baru sekaligus membuat janji pada dewa untuk membayar hutang.

Singkatnya, pada tahun 1813, Surat Kabar Boston di AS menggunakan frasa “Resolusi Tahun Baru” untuk mendorong orang hidup lebih baik pada tahun berikutnya. Sejak saat itulah, kebiasaan itu terus berkembang. Saat ini, resolusi tahun baru erat hubungannya dengan pengembangan diri yang terbagi dalam bidang kesehatan, keuangan, pekerjaan, sosial dan sebagainya.

Manfaat pembuatan resolusi tahun baru sudah banyak terbukti, meski tidak sedikit pula orang yang gagal, dan pada akhirnya menganggap membuat resolusi sebagai upaya sia-sia. Seperti yang dilaporkan dalam sebuah artikel penelitian, disebutkan ada lebih dari 45% orang Amerika membuat resolusi tahun baru, tapi hanya 8% yang efektif dalam mencapai tujuan mereka.

Apakah gara-gara fakta tersebut membuat kita menyerah sebelum mencobanya? Sebaiknya tidak, sebab pencapaian tiap orang berbeda-beda. Kita sebaiknya tetap membuat resolusi kesehatan, tidak peduli sekecil atau sebesar apapun impian tersebut. Sebab fakta juga telah membuktikan, ada orang yang langsung berhasil pada upaya pertama, namun ada juga yang mendapatkan apa yang ia inginkan pada usaha yang keenam.

Setelah menimbang berbagai fakta di atas, saya sendiri lebih merekomendasikan perlunya merencana hidup sehat atau resolusi tahun baru atau apa saja nama yang Anda ingin sebut untuk berkomitmen hidup lebih baik dan sehat. Isi rencananya bisa apa saja, termasuk merencanakan dengan baik ketika mendatangi faskes agar tidak senasib dengan bapak yang diceritakan pada bagian awal tulisan ini.

Selamat merencanakan hidup Anda yang lebih sehat.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 


Spread the love