Spread the love

Ketika WHO dan lembaga kesehatan tiap negara di dunia,—termasuk tenaga kesehatannya—ramai-ramai mengampanyekan bahaya merokok yang memudahkan penularan dan memperberat kondisi penderita Covid-19, sebuah jurnal ilmiah di Eropa (Belanda) malah menurunkan satu artikel tinjauan sistematis yang pada intinya menunjukkan fakta yang sebaliknya.

Merokok aktif tidak terkait dengan keparahan penyakit coronavirus 2019 (COVID-19),” begitu judul laporan yang dibuat Giuseppe Lippi  dan Brandon Michael Henry. Itu adalah sebuah studi meta-analisis yang melibat 5 hasil penelitian terpilih dengan total responden sebanyak 1399 pasien Covid-19 dengan interval kepercayaan sebesar 95%.

Pertimbangan lain, selain reputasi kedua peneliti yang berkebangsaan Italia dan Amerika itu, hasil studi mereka juga lolos diterbitkan di European Journal of Internal Medicine.

Jurnal ini merupakan jurnal ilmiah internasional yang berada di bawah penerbit bereputasi pada bidang kesehatan seperti Elsevier dan berdasarkan perangkingan berada pada kuartil 2.

Beberan fakta yang menyertai temuan tersebut mau menegaskan kalau kesimpulan studi yang menelisik hubungan antara merokok dan Covid-19 itu layak dipercaya.

Kalau toh hasilnya bertentangan dengan rekomendasi WHO dan tenaga profesional kesehatan pada umumnya, tidak masalah. Justru hal itu memicu kita untuk mencari tahu lebih jauh, kira-kira informasi mana yang layak dipercaya dan diikuti?Beriringan dengan kesimpulan yang mengejutkan itu, ada pula laporan lain yang menyebutkan peneliti Prancis klaim nikotin bisa jadi obat corona. Kemudian ditambah lagi ada perusahaan rokok terbesar di dunia mengeklaim sedang kembangkan vaksin virus Corona yang menggunakan bahan dasar tembakau.

Serangkaian informasi tersebut, meski baru sebatas klaim yang perlu dibuktikan lebih lanjut, tentunya memengaruhi persepsi masyarakat terhadap rokok atau aktivitas merokok.

Ketika nikotin dan tembakau yang menjadi kandungan utama sebatang rokok dikabarkan bisa menangkal corona, orang bisa saja tanpa melakukan pengecekan lebih mendalam, langsung meyakini kalau merokok itu justru baik untuk kesehatan, khususnya lagi dalam menangkal virus corona atau yang bernama resmi SARS-CoV-2.

WHO pun merespons berbagai isu tersebut dengan keluarkan pernyataan resmi, khusus menanggapi isu kaitan antara merokok dan Covid-19.

Lembaga kesehatan dunia itu terkesan sedikit berang dengan peneliti, ilmuwan dan media yang kurang berhati-hati menyampaikan klaim yang tidak terbukti kalau tembakau dan nikotin dapat mengurangi risiko Covid-19. Mereka menegaskan, “Saat ini tidak ada informasi yang cukup untuk mengkonfirmasi kaitan antara tembakau atau nikotin dalam pencegahan atau pengobatan COVID-19.

Hingga saat ini, WHO tetap kukuh pada keyakinan awalnya, merokok dapat meningkatkan risiko tertular virus corona dan memperberat kondisi ketika mengalami Covid-19.

Risiko penularan sangat mungkin terjadi karena selama aktivitas merokok, tangan sering didekatkan dan menyentuh area wajah (bibir). Padahal, kita semua tahu, salah satu anjuran pencegahan Covid-19 adalah hindari tangan menyentuh area wajah.

Aktivitas merokok juga sejak lama terbukti sebagai salah satu faktor risiko berbagai penyakit tidak menular (PTM) seperti darah tinggi (hipertensi), penyakit gula (diabetes melitus), kanker, penyakit pernapasan dan lainnya. Berbagai hasil penelitian membuktikan kalau penyakit penyerta itu (komorbid) terjadi bersamaan dengan Covid-19, maka prognosis atau gejala lanjutan akan lebih buruk dan dapat berakhir fatal.

Kebiasaan merokok juga secara perlahan mengurangi kemampuan fungsi paru-paru. Sehingga ketika ada tambahan serangan dari SARS-CoV-2, kemampuan organ pernapasan manusia itu semakin rentan, sehingga menunjukkan tanda dan gejala yang lebih berat. Karenanya, anjuran untuk tidak merokok sebagai bagian dari ikhtiar pencegahan corona, masih sangat relevan dan perlu terus digaungkan.

Pro-Kontra Merokok

Kontroversi antara kelompok pro versus kontra dalam urusan merokok bukan baru saja terjadi. Barangkali ini salah satu topik yang terus memancing perdebatan sejak dulu, hingga…, entah sampai kapan.

Perdebatannya pun dimulai dari kalangan elit, kelompok menengah, hingga masyarakat akar rumput. Semua bersuara sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Gambaran mengenai perseteruan tingkat elit telah dicontohkan pada bagaian awal tulisan ini, antara perusahaan rokok dan lembaga kesehatan saling beradu argumen, hasil penelitian dan metode pendekatan untuk menarik minat masyarakat umum.

Terlihat ketika lembaga kesehatan menyampaikan bahaya penggunaan produk tembakau, perusahaan rokok raksasa juga rela mengeluarkan sumber daya besar untuk penelitian atau pengembangan produk andalannya itu.

Masing-masing mempertahankan pendapat; sama-sama berusaha menyakinkan masyarakat umum sebagai kelompok sasaran dari berbagai upaya tersebut.

Pada kelompok menengah, kita juga bisa mengikuti bagaimana para tokoh berpengaruh (influencer) dari tim pro maupun kontra merokok saling mempertahankan keyakinan masing-masing.

Tidak jarang lembaga kesehatan menyewa para bintang iklan untuk mengampanye gaya hidup sehat, termasuk untuk menghentikan kebiasaan merokok. Tapi, rupanya pemilik perusahaan rokok juga tidak mau kalah. Mereka juga banyak menggunakan jasa influencer tersebut untuk merebut hati para konsumen.

Contoh lain misalnya, kalau kita anggap rubrik Pojok Sehat dari media arnolduswea.com ini sebagai bagian dari kelompok kontra karena penulisnya seorang perawat yang merupakan bagian dari tenaga kesehatan atau lembaga kesehatan; di luar sana juga sudah ada media sejenis yang berisi tulisan yang mendukung atau mempromosikan aktivitas merokok.

Di kalangan masyarakat sebagai konsumen produk tembakau itu pun muncul perdebatan yang sama, meski topik sudah agak beda. Barangkali kita semua pernah mendengar ada perokok yang membela diri dengan mengatakan: “Ada kakek saya, merokok dari kecil hingga usianya sudah hampir 90 tahun, tidak pernah sakit-sakitan. Malah ada tetangga kami yang tidak merokok, masih muda dia sakit-sakitan, kemudian meninggal dunia.”

Atau mungkin Anda cukup familiar dengan yang ini: “Merokok mati, tidak merokok mati.  Lebih baik merokok sampai mati.” Masih banyak lagi ungkapan lain dengan makna sejenis. Kalimat bernada defensif seperti itu biasanya muncul sebagai respons terhadap anjuran rekan sebaya yang berisi larangan untuk merokok.

Silakan Memilih

Kalau saya sebagai penulis lantas memberi saran kepada Anda supaya sebaiknya tidak atau berhenti merokok untuk tujuan kesehatan,—supaya tidak tertular virus corona dan memperberat kondisi bila terkena Covid-19— belum tentu Anda menurut begitu saja.

Apalagi bila Anda termasuk perokok berat yang sudah kecanduan, pasti akan resisten dan melawan dengan argumen lain sebagaimana contoh berbagai pertentangan di atas.

Meski begitu, saya tetap menyampaikan fakta penelitian lain yang mungkin bisa menyakinkan Anda. Bila kita terkecoh dengan satu penelitian yang menyimpulkan merokok tidak ada hubungannya dengan Covid-19 pada awal tulisan ini, sebaiknya tidak langsung percaya begitu.

Baca Juga: Negara Berbisnis Melalui Cukai Rokok

Setelah melakukan pengecekan lebih lanjut, masih ada studi tinjauan sistematis yang lain dengan melibatkan lebih banyak hasil penelitian (19 artikel yang sudah dilakukan peer review atau penelaahan oleh ilmuwan lain yang kompeten) dan responden (11.590 pasien Covid-19), hasilnya sejalan dengan anjuran WHO.

Menurut Roengrudee Patanavanich dan Stanton A Glantz, merokok merupakan faktor risiko terjadinya COVID-19, dengan perokok memiliki peluang lebih tinggi  mengalami COVID-19 daripada yang tidak pernah merokok.

Selain dengan alasan tersebut, sebagai orang tua, kita juga diingatkan untuk peduli dengan kelangsungan masa depan anak-anak kita. Relakah kita bila membiarkan mereka merokok (apalagi dimulai usia anak-anak)?

Bila kita membaca data tentang perilaku merokok  dan  konsumsi tembakau, jumlah perokok dari setiap kelompok umur di Indonesia selalu menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Banyaknya orang dewasa yang meninggal dunia akibat merokok mestinya bisa mengurangi jumlah perokok, tapi nyatanya jumlah perokok selalu meningkat karena selalu ada pendatang baru dari kelompok usia anak dan remaja.

Tahun ini, pada perayaan World No Tobacco Day (WNTD) atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang jatuh pada 31 Mei lalu, WHO lebih fokus mengampanyekan tentang perlindungan kelompok anak dan remaja dari bujukan atau rayuan berbagai produk tembakau dan nikotin.

Dari berbagai metode yang pernah diteliti tentang pencegahan merokok anak-anak dan remaja, Duncan, dkk., menyimpulkan pendekatan yang paling efektif harus menggunakan komunikasi interpersonal dan dukungan penuh dari teman sebaya, orang tua dan tenaga kesehatan.

Tapi, kalau kita sebagai orang tua termasuk golongan pro-rokok, mana mungkin bisa mendukung anak-anak untuk tidak merokok? Demi masa depan anak dan pengendalian Covid-19, silakan memilih.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari  Saverinus Suhardin


Spread the love