Spread the love

November kemarin, kita diramaikan lagi dengan silang pendapat mengenai penting dan tidaknya Rancangan Undang-Undang Larangan Minuman Beralkohol (RUU Larangan Minol) untuk terus dibahas, hingga menjadi UU yang sah.

Seluk-beluk mengenai RUU tersebut beserta segala kontrovensinya, barangkali sudah menjadi pengetahuan umum. Intinya, ketika nanti rencana itu benar-benar berlaku, maka aktivitas produksi, jual-beli, simpan dan konsumi minuman beralkohol bisa terancam pidana.

Beberapa hari sebelum isu tersebut mencuat di lini masa media sosial warganet Indonesia, tepatnya 2 November 2020, AWVisual meluncurkan sebuah video yang mengusung tajuk, “Bakar Menyala: Geliat Ekonomi Penyadap Nira.”

Entah hanya kebetulan belaka, isinya menjadi semacam “teguran” bagi pembuat regulasi, supaya bisa menyesuaikan dengan praktik yang sudah diterapkan masyarakat lokal turun-temurun.

Mereka mengisahkan kehidupan petani di Desa Boba, Bajawa, NTT yang sebagian besar menyandarkan perekonomian keluarganya dari pembuatan moke atau arak –minuman keras hasil penyulingan nira.

Hasil penjualannya digunakan masyarakat setempat untuk biaya pendidikan anak-anak, biaya kebutuhan sehari-hari, biaya pembangunan rumah, dan kebutuhan lainnya.

Setelah isu RRU Pelarangan Minol itu makin banter, rupanya AWVisual kembali memperdalam liputan tentang moke tadi. Kali ini mereka berkolaborasi dengan Watchdoc—sebuah media yang getol menayangkan liputan hasil investigasi berbagai isu ketidakberesan impelementasi kebijakan pemerintah.

Pada video kedua yang ditayangkan 16 Desember kemarin, selain tetap menonjolkan moke sebagai penopang ekonomi masyarakat, di sana juga ditampilkan bagaimana moke sudah begitu melekat dengan urusan adat masyarakat setempat.

Bapak Yohanes Nuka, salah satu petani moke di Boba yang mereka wawancarai, menerangkan kalau setiap acara adat di Bajawa, harus ada moke! Minuman lokal ini tidak bisa digantikan dengan minuman lain, apapun jenis dan mereknya.

Harus moke! Makanya ketika tahu ada isu larangan minol, dia hanya berharap, “…pemerintah perlu berpikir 1001 macam untuk bisa mempertahankan ini moke…”

Suara sederhana dari petani Boba itu tentunya menyiratkan banyak pesan yang mesti dicermati pengambil kebijakan. Satu hal yang pasti, moke atau minol jenis lainnya agak mustahil untuk dilarang secara total.

Banyak aspek dalam kehidupan manusia, khususnya lagi pada daerah-daerah tertentu, sudah melekat erat dengan keberadaan moke.

Lalu, kalau misalnya minol tetap dikonsumsi, apakah tidak memberi efek buruk pada kesehatan? Nah, untuk itulah kehadiran rubrik Pojok Sehat di website arnolduswea.com ini. Edisi kali ini kita akan sama-sama mencari tahu, sejauh mana kegunaan minol dalam kehidupan manusia dan seberapa buruk efeknya bagi kesehatan.

Efek Buruk

Kita mulai dari efek buruk terlebih dahulu. Khusus untuk bagian ini, penulis menelaah hasil penelitian yang sudah dirangkum dalam studi tinjauan sistematis.

Dalam piramida praktik berbasis bukti, studi tinjauan sistematis berada pada level kepercayaan tertinggi dibanding dengan hasil penelitian individual atau jenis studi lainnya. Studi tinjauan sistematis dianggap sudah bisa diimplementasikan dalam praktik atau menjadi landasan pembuatan kebijakan.

Berdasarkan studi yang meyakinkan tersebut, minum alkohol yang berlebihan memiliki risiko sebagai berikut: penggunaan alkohol oleh ibu hamil dapat membawa masalah kesehatan mental pada anaknya kelak dan kecacatan pada anak; mudah mengalami tekanan darah tinggi; meningkatkan risiko terjadinya pneumonia (radang paru-paru); risiko utama terjadinya sirosis (pengerasan) hati dan kanker hati; kanker prostat; berisiko mengalami apnea tidur yang lebih tinggi; berisiko tinggi mengalami atrium fibrilasi (gangguan jantung); dan masih banyak lagi yang lainnya.

Itu beberapa daftar risiko kesehatan yang bisa kita alami bila mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Barangkali masih ada masalah lain yang luput dari pengamatan, tapi apa yang sudah berhasil terindentifikasi di atas, sudah cukup membuat kita ketar-ketir untuk terus mengonsumsinya secara berlebihan. Tapi, itu kan kalau dikonsumsi berlebihan, bagaimana kalau secukupnya saja?

Sisi Lain Minol

Sebagai tenaga kesehatan yang seringkali memberi penyuluhan tentang bahaya konsumsi alkohol, saya agak kaget ketika menemukan sebuah frasa yang disarankan oleh mesin pencarian di sebuah database penelitian, tulisannya seperti ini: manfaat kesehatan minum alkohol sedang. Maksudnya minum alkohol yang tidak terlalu berlebihan, pas-pas saja, ternyata malah menguntungkan bagi kesehatan.

Secara umum, menurut beberapa penelitian tersebut, minum alkohol dalam takaran rendah hingga sedang terbukti mengurangi risiko kematian. Saya makin penasaran, kemudian mencari lebih lanjut, dan menemukan artikel penelitian lain yang kurang-lebih mendukung atau sejalan dengan kesimpulan tersebut.Pada kelompok dewasa muda dan tua, misalnya, konsumsi alkohol rendah hingga sedang dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih baik dan berperan meningkatkan kesehatan secara umum. Secara psikologis juga menunjukkan efek positif yang ditandai dengan peningkatan suasana hati, pengurangan stres, kemampuan bersosialisasi, integrasi sosial, kesehatan mental, fungsi kognitif jangka panjang, dan sebagainya.

Lebih lanjut, konsumsi minol yang terukur dalam takaran sedang juga menguntungkan bagi sistem kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang yang mengonsumsinya secara berlebihan atau bila tidak minum sama sekali.

Manfaat kesehatan lainnya: tingkat infark miokard yang lebih rendah, penurunan tingkat gagal jantung, penurunan risiko stroke iskemik, risiko demensia yang lebih rendah, penurunan risiko diabetes dan penurunan risiko osteoporosis.

Dalam skala lokal NTT, penelitian Annytha Ina Rohi Detha dan Frans Umbu Datta menunjukkan kalau sopi dan moke, memiliki kandungan yang bersifat antimikroba sehingga berpotensi dijadikan  calon desinfektan alternatif. Dan kita semua sudah paham, kebutuhan desinfektan selama pandemi COVID-19 ini cukup banyak. Bila kesulitan mendapatkan dari toko obat, kita bisa gunakan bahan lokal tersebut sebagai pengganti sementara waktu. Tapi, itu untuk cuci tangan, bukan untuk cuci mulut-tenggorokan-lambung-dan-seterusnya.

Ketika makin yakin dengan manfaat positif dari alkohol seperti itu, tanpa sengaja saya menemukan sebuah artikel lain yang diterbitkan April 2020, isinya menyinggung soal keterlibatan industri alkohol dalam penelitian yang menguji hubungan antara konsumsi alkohol dalam takaran sedang dengan kesehatan kardiovaskular. Pemberian dana penelitian oleh perusahaan alkohol seperti itu sangat rentan terjadinya bias. Hasilnya bisa saja menuruti keiinginan pemberi dana.

Kondisi tersebut membuat saya kembali skeptis. Jangan sampai hasil penelitian yang menunjukkan efek positif dari mengonsumsi alkohol dalam takaran rendah dan sedang itu hanya dibuat-buat sesuai pesanan pemberi dana. Makin bimbang.

Meski demikian, saya masih meyakini prinsip yang mengatakan, “Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.” Bagi saya, hal itu juga berlaku untuk konteks konsumsi minol ini. Jika kita minum saat acara adat tertentu, misalnya seperti acara adat di Bajawa yang ditampilkan dalam video AWVisual, saya yakin tidak memberi pengaruh buruk. Tapi bila setiap hari rutin minum dalam jumlah yang berlebihan, mau Bang Jago dari manapun, pasti cepat keok juga.

Minol ini netral. Kitalah yang menentukan dia menjadi bahan yang baik atau menjadi agen yang berbahaya. Karena kita meyakini minol lokal seperti sopi dan moke sebagai peninggalan nenek moyang, maka sebagai penghargaan tertinggi kepada leluhur, mari kita minum.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 


Spread the love