Spread the love

“Apa yang Anda pikirkan?” Saya kira itu pertanyaan yang sangat familiar bagi kita, khususnya pengguna setia facebook. Jika Anda ingin atau sekadar iseng menjawab pertanyaan tersebut, apakah Anda pernah memikirkan lagi tentang COVID-19 selama kurang lebih sebulan terakhir?

Jawaban atas pertanyaan itu bisa iya, bisa juga tidak—tergantung kita mau jujur dan terbuka atau tidak. Tapi, sebagai upaya untuk mendapatkan gambaran secara umum, mari kita uji kembali protokol kesehatan yang sudah menjadi pengetahuan umum itu dengan perilaku nyata kita sehari-hari.

Kita sudah tahu, ketika vaksinasi COVID-19 mulai gencar dijalankan di Indonesia, pemerintah tetap memperingatkan, “Jangan kendor terapkan protokol kesehatan!” Kita tetap diingatkan dan diminta untuk mematuhi tiga pesan utama ini: memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun.

Pertama, apakah kita masih menggunakan masker dengan benar? Masker memang tetap menjadi barang yang laris di pasaran, dan setiap orang selalu membawanya ke mana-mana. Dari rumah, mungkin masker itu dipakai dengan benar; menutupi semua area mulut dan lubang hidup. Posisinya sangat rapat, dan hal itu sangat bagus. Tapi, bagaimana nasib selanjutnya?

Amatan sepintas yang saya lakukan, ketika orang berada di tempat umum, maskernya justru dibuka atau diletakkan begitu saja di sembarang tempat. Misalnya ketika bicara dengan teman atau sedang makan dan minum, masker dilepaskan dan dibiarkan tergeletak begitu saja di meja. Pas mau foto untuk kepentingan unggah di medsos, masker tadi dipakai lagi. Lepas-pakai, hal itu bisa terjadi berulang-ulang sepanjang hari dengan masker yang sama.

Praktik penggunaan masker seperti itu tentunya mubazir. Lebih baik tidak usah pakai sama sekali. Sebab ketika masker itu diletakkan di sembarang tempat, bisa saja virus atau agen penyakit lainnya melekat di masker tersebut, lalu ketika kita memakai masker itu kembali, itu sama halnya mendekatkan sumber penyakit itu ke lubang hidung dan mulut kita. Kita tahu, lubang hidung dan mulut adalah jalan tol masuknya berbagai sumber penyakit ke dalam tubuh.

Pendek kata, kita sudah kendor dalam melaksanakan protokol kesehatan yang pertama ini. Hal itu diperparah lagi dengan tidak adanya contoh yang baik dari pemimpin lokal kita. Kalau Anda sempat mengikuti sebuah video viral yang menunjukkan kita punya Gubernur NTT—Bapak Dr. Viktor Bungtilu Laiskodat, S.H.,M.Si—sedang memarahi tokoh adat di Sumba, di situ kita melihat beliau tidak memakai masker.

Ketika kita marah-marah, banyak droplet (air liur yang terciprat dari mulut) yang tanpa sadar menyebar sampai jauh. Belum lagi kalau diteruskan angin, bisa menyebar ke mana-mana. Andai saja beliau pakai masker, selain menjadi contoh, dropletnya juga bisa tertahan.

Kedua, tentang menjaga jarak. Ini juga sama dengan urusan masker, kita sudah kendor banyak. Contohnya sangat banyak. Tapi yang paling menarik perhatian saya, ada beberapa video di lokasi pesta yang, ketika operator musik memutar lagu remix “Susu saya, susu bendera,” itu sontak membuat orang-orang berdiri, berkumpul ke tengah, lalu bergoyang dengan jarak yang begitu dekat. Dan sebagian besar seperti kasus pertama, tidak memakai masker.

Ketiga, bagaimana dengan cuci tangan? Saya pikir hal ini juga sama saja, kendor di mana-mana. Dulu kita melihat banyak tong air untuk cuci tangan di semua tempat umum. Kini, kalau wadah airnya tidak raib, mungkin kerannya yang rusak atau airnya tidak ada. Begitu juga sarana pelengkapnya seperti sabun dan tisu atau kain lap, hampir sulit ditemukan lagi saat ini. Sudah begitu, kita tetap yakin ketika makan nasi bungkus, “Makan pakai tangan lebih enak.”

Beberapa fenomena tersebut menunjukkan kalau kita sudah sangat kendor menerapkan protokol kesehatan. Hal itu akan diperparah lagi kesadaran orang mengikuti vaksinasi COVID-19 yang masih rendah.  Capaian vaksin kita secara umum memang sudah baik, setidaknya memenuhi target minimal dari WHO, yakni sekurangnya 40% pada akhir tahun 2021 ini dan 70% populasi dunia pada pertengahan 2022.

Data per tanggal 30 November 2021, pukul 18.00 WIB, menunjukkan capaian vaksinasi nasional dosis 1 sudah 66,92% dan dosis 2 sudah 45,85%. Tapi sayangnya, capaian itu tidak merata ke setiap provinsi. Paling tinggi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta, dan lainnya. Kita di NTT, vaksinasi dosis 1 sudah mencapai 53,82%, tapi dosis 2 baru mencapai 27,33%.

Kombinasi antara lemahnya implementasi protokol kesehatan dan rendahnya kesadaran mengikuti vaksinasi COVID-19, tentunya akan menimbulkan kekhawatiran adanya lonjakan kasus gelombang selanjutnya. Apalagi kita tahu, virus SARS-CoV-2 ini terus bermutasi dari waktu ke waktu. Virus berubah, kita tidak. Kondisinya persis judul tulisan sebelumnya di rubrik Pojok Sehat ini, “COVID-19 Terus Berubah dan Kita Masih ‘Kepala Batu.’” Kita tahu, informasi terbaru mengabarkan ada lagi varian baru bernama: Omicron.

Sekilas Tentang Omicron

Saya kira kita semua tahu, bahwa yang namanya virus, punya kemampuan untuk bermutasi atau berubah bentuk dan sifat infeksinya. Sebelumnya kita mendengar ada varian Delta, lalu yang paling baru ini dinamai Omicron.

Varian Omicron ditemukan pertama kali di Afrika Selatan pada tanggal 9 November 2021. Setelah dibahas oleh tim ahli khusus yang bernama Technical Advisory Group on SARS-CoV-2 Virus Evolution (TAG-VE), maka tanggal 26 November 2021 kemarin, WHO mengumumkan kepada publik tentang adanya potensi infeksi baru dari Omicron.

Karena memang masih sangat baru, belum banyak hal yang diketahui tentang karakteristiknya. Saat ini, virus hasil mutasi dari SARS-CoV-2 itu sedang diteliti lebih lanjut. Saat menyiapkan tulisan ini, saya sempat berselancar ke berbagai database penelitian ilmiah, tapi belum ada satu pun laporan penelitian terkaitnya. Informasi primer tentang Omicron ini hanya tersedia di situs resmi WHO.

Meski masih banyak teka-tekinya, kita tetap diminta untuk lebih—atau tepatnya kembali—waspada lagi. Secara umum, WHO memberikan beberapa saran terkait Omicron, tapi pada kesempatan ini saya cukup menuliskan dua hal yang menurut saya paling penting.

Pertama, peringatan untuk pemerintah. WHO mengingatkan agar masing-masing negara perlu waspada, khususnya untuk memindai setiap orang yang baru datang dari luar negeri. Pemeriksaan ketat perlu diberlakukan kembali, khusus tes PCR, sebab untuk saat ini varian Omicron itu hanya bisa terlacak lewat pemeriksaan tersebut. Lalu ketika ada kasus yang menjurus ke varian baru tersebut, setiap negara dianjurkan untuk segera melapor ke WHO.

Kedua, tentunya untuk kita semua sebagai warga masyarakat umum. WHO tidak meminta kita hal-hal yang baru dan aneh. Mereka hanya menyarankan kita untuk kembali memperketat protokol kesehatan COVID-19 yang sudah kita hafal baik, namun dalam pelaksanaannya belum benar-benar baik. Prokesnya perlu diperkencang dan diperpanjang lagi, jangan sampai kendor!

Yah, semoga kita bisa kembali lagi ke jalan yang benar. Meski saya masih agak ragu, apakah kita bisa kembali konsisten pada prokes COVID-19 atau tidak. Sebab godaan lagu remix “Susu Saya, Susu Bendara” di berbagai tempat pesta tentunya membuat kita lupa prokes dan ingin goyang terus…., “Hingga tetes terakhir.”

 


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 


Spread the love