Spread the love

Bila Anda termasuk salah satu pengguna aktif media sosial, khususnya Facebook, tentunya sudah tahu apa yang paling viral di lini masa pada tanggal 2 Oktober 2020 lalu. Jika tidak, atau Anda mungkin tidak begitu peduli dengan berbagai keriuhan dunia maya, berikut ini gambaran singkatnya.

Hari itu, banyak sekali netizen yang membagikan unggahan dari sebuah halaman FB yang bernama: Pahamilah.com–sebuah nama yang menyiratkan pesan tentang pentingnya memahami sesuatu secara komprehensif. Jika penasaran seperti apa kondisi lini masa FB saat itu, Anda bisa KLIK DI SINI untuk menyaksikan cuplikan singkatnya.

Ketika menelisiknya lebih detail, unggahan tersebut berisi 251 foto yang dikemas dalam sebuah album khusus dengan nama: Obat Segala Macam Penyakit. Akun itu sudah mengeposnya sejak 29 November 2015, pukul 12.21 dan tentu saja diatur untuk bisa diakses oleh publik luas.

Sepintas kita akan melihat 4 foto atau gambar teratas yang sangat akrab dalam keseharian. Paling atas adalah gambar seledri atau daun sup, kemudian disusul lidah buaya, singkong rebus dan buah kurma. Bila foto-foto itu kita klik, terdapat tulisan yang menerangkan manfaat kesehatan dari tumbuhan atau bahan makanan tersebut.

Tulisan pengatar pos tersebut tidak kalah menarik meski secara gramatikal terdapat kekeliruan, persis seperti kutipan berikut: “Kini tiap tahun RIBUAN dokter diwisuda, RUMAH SAKIT pun TUMBUH berkembang bak CENDAWAN di musim hujan, Tapi fakta menyatakan bahwa penyakit semakin banyak dan beragam, akhirnya sehat menjadi BARANG LANGKA & BERHARGA, apa salah kita??? ….. Adalah tidak ‘Back to Nature’,” kemudian pada paragraf selanjutnya diberi ajakan, “Silahkan di share, saling berbagi dan saling membantu sesama, semoga bermanfaat bagi kita semua.”

Secara umum, respons warganet terbelah menjadi dua. Ada yang menganggap informasi tersebut sangat berguna, karenanya tidak heran bila banyak orang yang tergerak untuk terus membagikannya supaya makin diketahui publik luas. Meski begitu, ada juga segelintir orang yang menganggapnya hanya sebagai bualan saja –kemudian ada juga yang menjadikannya sebagai bahan candaan. Manakah yang benar? Tulisan ini berusaha mengulasnya lebih jauh.

Memindai Keakuratan Informasi

Ada beragam cara untuk mendalami kesahihan informasi di atas. Kita bisa mulai dengan menelaah seluk-beluk sumber pesan itu berasal. Keterangan umum pada halaman Pahmilah.com hanya tertulis sebagai situs web berita dan media. Tidak ada keterangan lain yang lebih memadai tentang siapa dan apa latar belakang atau tujuan pembuatan halaman tersebut. Di sana hanya menampilkan sebuah alamat website atau blog yang akan membawa kita ke situs yang bernama sama, pahamilah.com.

Baik halaman FB maupun blog, keduanya sama-sama menyajikan informasi atau berita dari beragam segmen. Sebagian besar menginformasikan tentang kegiatan #Aksi212 yang sempat ramai ketika Pak Ahok dituduh sebagai penista agama.

Jejak lain yang masih tersimpan, halaman itu juga merupakan salah satu media pendukung pasangan Prabowo-Sandi ketika pilpres 2019 lalu. Dari fakta singkat itu saja, kita tentunya mulai ragu ketika mereka ujuk-ujuk menyebarkan informasi kesehatan, tanpa rekam jejak yang jelas pada bidang tersebut.

Langkah kedua, bisa kita interpretasi dari kalimat atau cara penulisan mereka yang terkesan umpan klik (clickbait) dan provokatif. Coba baca kembali nama album foto dan deskripsi singkat pada unggahan mereka seperti yang sudah dikutip di atas, bukankah itu sangat menarik?

Ketika kondisi pengobatan konvensional selama ini kurang memuaskan –khususnya pada penyakit kronis seperti kanker, gagal ginjal, penyakit jantung, dll—kemudian muncul sebuah tawaran baru “obat segala macam penyakit” yang tentunya menggiurkan, apalagi ketika tahu obatnya ternyata berupa tumbuhan dan makanan yang sehari-hari gampang kita temukan.

Kesannya menjadi lebih mudah, dan biasanya kita sangat gampang menerima dan memercayai sesuatu simpel, apalagi dengan janji adanya jaminan pada hasil. Justru di sinilah tantangannya. Apa yang terdengar muluk kadang malah banyak menjebak.

Tenaga kesehatan pada umumnya jarang atau bahkan haram menjanjikan hasil apapun dari setiap tindakan yang diberikan pada pasien. Hanya kalimat klise ini yang biasanya disampaikan, “Kami hanya berusaha sebaik mungkin sesuai kapasitas, biarlah Tuhan yang menyempurnakan.” Maka ketika ada oknum yang menjanjikan dengan gampang, anggap saja itu sebagai alarm perlunya meninjau lebih jauh.

Selanjutnya kita masuk pada bagian substansi, yaitu isi informasi dari setiap gambar yang tertera. Dari sekian banyak gambar yang ada, dalam tulisan ini, kita hanya akan membahas satu saja, yaitu gambar teratas tentang daun seledri (Apium Graveolens L.) yang katanya berfungsi membersihkan ginjal atau mengobati gagal ginjal.

Sebuah studi tinjauan sistematis yang dilakukan Kooti & Daraei (2017) memang menunjukkan betapa kandungan penyusun daun seledri berpotensi memiliki peran penting bagi kesehatan manusia karena antioksidannya tinggi.Bahaya Obat Tubuh kita membutuhkan antioksidan sebagai pengahalau radikal bebas–molekul yang kehilangan elekreon sehingga menjadi tidak stabil dan selalu berusaha mengambil elektron sel lain atau singkatnya sebagai salah satu pengganggu kestabilan kerja sel—dalam tubuh.

Karena tingginya kandungan antioksidan dalam daun seledri, maka bahan pelengkap sayur sup ini kemudian diyakini mampu mencegah atau mengurangi risikonya terjadinya sindroma metabolik–kumpulan berbagai kondisi yang meliputi hipertensi, kadar lemak meningkat, obesitas perut, dan gangguan kadar gula darah.

Kemudian, hasil studi lain menunjukkan kalau daun seledri itu berpotensi menurunkan obesitas; mengurangi kadar asam urat; mencegah anemia; dan mampu mengurangi kadar BUN (salah satu indikator bila ada gangguan pada ginjal). Sayangnya, semua studi-studi yang tampak menunjukkan hasil positif itu, baru dilakukan pada hewan coba (mencit alias tikus). Apakah sudah bisa kita anggap efektif untuk manusia?

Sebaiknya jangan buru-buru mengklaim sebagaimana contoh kasus unggahan Pahamilah.com di atas. Saya pikir, kita semua lumayan mendapat banyak pelajaran dari proses pembuatan vaksin Covid-19. Ada tahapan yang panjang untuk menguji suatu bahan obat sebelum ditetapkan layak dikonsumsi secara luas oleh kita semua.

Bila kita rajin memeriksa, ada begitu banyak informasi kesehatan yang berisi klaim bahan A bisa menyembuhkan penyakit B, hanya berdasarkan hasil penelitian in vitro (menguji bahan aktif suatu bahan di laboratorium) atau penelitian in vivo tapi baru tahap awal dengan eksperimen pada hewan coba. Selain menyesatkan, hal ini bisa berbahaya bila yang membacanya langsung percaya tanpa melakukan verifikasi ulang.

Misalnya, kita meyakini daun seledri bisa membersihkan ginjal seperti contoh kasus yang kita pakai. Kemudian ada kerabat yang didiagnosis mengalami gagal ginjal dan dianjurkan untuk melakukan hemodialisa (cuci darah) oleh dokter. Karena sudah mendapat kabar daun seledri bisa membersihkan ginjal, maka anjuran dokter itu ditolak dan memilih untuk keluar dari rumah sakit.

Tiba di rumah, penderita gagal ginjal itu diberi minuman air ekstrak seledri, dengan takaran atau dosis yang tidak pasti. Padahal, penderita gagal ginjal mestinya ada pembatasan atau pengaturan jumlah cairan yang masuk (minum).

Ketika jumlah cairan yang diberikan terlalu banyak dalam kondisi ginjal tidak berfungsi, maka terjadilah penumpukan cairan dalam tubuh. Kondisi ini bisa berakibat fatal dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.

Kalau sekadar diyakini sebagai pencegahan dan dikonsumsi bersama sayur sup, ya, tentu saja tidak masalah. Malahan aneh rasanya membuat sayur sup tanpa taburan potongan seledri. Sambil menyatap sup yang lezat itu, kita berharap baik saja, daun seledri yang ikut tertelan itu bemanfaat bagi kesehatan tubuh.

Inilah gambaran umum cara verifikasi yang bisa kita lakukan ketika membaca atau mendengar informasi kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan khasiat bahan tertentu untuk penyembuhan penyakit tertentu pula. Pahamilah baik-baik setiap informasi sebelum diterapkan atau dibagikan ke media sosial, karena justru kabar yang terverifikasi benar itulah “obat segalam macam penyakit” yang sesungguhnya.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 

 


Spread the love