Spread the love

You are what you eat.

“Kamu adalah apa yang kamu makan,” kalimat ini barangkali sudah tidak asing bagi kita, khususnya yang punya ketertarikan pada bidang nutrisi dan kesehatan.

Pernyataan itu menggambarkan kalau tubuh atau diri kita, sangat ditentukan oleh apa yang kita makan.

Makan tidak sekadar urusan mengenyangkan perut tatkala lapar, tapi lebih jauh dari itu, apa yang dimasukkan dalam mulut sangat menentukan masa depan kita.

Ketika asupan nutrisi dari bahan makanan dan minuman yang kita konsumsi kurang dari kebutuhan tubuh, maka dampak yang terjadi adalah masalah gizi buruk atau pada anak-anak kita sering mendengar istilah stunting.

Sebaliknya, ketika asupannya berlebih, kita akan cenderung mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Kondisi ini juga berbaya karena memicu terjadinya berbagai Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke, penyakit jantung koroner dan masalah terkait lainnya.

Termasuk ketika apa yang kita makan itu tidak aman,—mengandung berbagai substansi berbahaya seperti bakteri, virus, parasit atau bahan kimia—dapat menjadi pemicu berbagai keracunan pada tubuh dan penyakit.

WHO memperkirakan, makanan yang tidak aman itu menyebabkan lebih dari 200 penyakit, mulai dari diare hingga kanker.

Pada tulisan kali ini, kita akan fokus pada masalah yang terakhir itu, tentang keamanan pangan. Kita bergeser sejenak dari isu pandemi Covid-19, toh, kalau misalnya masalah keracunan makanan ini terjadi berbarengan dengan infeksi SARS-CoV-2, tentunya makin memperberat masalah atau kondisi penderitanya.

Masalah Keamanan Pangan

Keamanan pangan juga menjadi salah satu isu yang menjadi perhatian warga di seluruh dunia. Bagaimana tidak, seperti yang telah disinggung sebelumnya, pangan yang tidak aman bisa mengakibatkan sekitar 200-an jenis masalah kesehatan atau penyakit. Dampak lanjutannya, seseorang akan menderita sakit; beban secara ekonomi bertambah; dan bisa mengakibatkan kematian.

Di seluruh dunia, diperkirakan 1 dari 10 orang pernah jatuh sakit lantaran mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi bakteri, virus, parasit atau bahan kimia. Setiap tahun diperkirakan 420.000 orang meninggal dunia karenanya. Karena bagian dari masyarakat dunia, penduduk di Indonesia tentunya menjadi bagian dari masalah tersebut.

Berdasarkan studi kajian sistematis yang dilakukan Arisanti, dkk., antara tahun 2000 hingga 2015 terdapat 1.176 KLB (kejadian luar biasa) keracunan pangan yang terekam dalam berbagai penelitian di Indonesia. Sebagian besar terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Laporan itu juga  menyebutkan kalau NTT menempati posisi teratas untuk kategori jumlah kasus kematian terbanyak akibat keracunan makanan. Lebih lengkapnya tercatat ada 38 kejadian, 6.449 kasus dan 40 kematian.

Makanan Bergizi

Oleh: Saverinus Suhardin

Hingga saat ini, NTT masih tercatat sebagai daerah yang sering mengalami keracunan makanan. Coba Anda masukan kata kunci “Keracunan Makanan di NTT” di mesin pencarian Google, akan ditemukan banyak laporan yang  terjadi di wilayah Timor.

Paling tinggi terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tercatat ada delapan kasus keracunan massal dengan korban mencapai 326 orang dengan 3 orang meninggal dunia pada tahun 2019.

Penyebab masalah keracunan makanan yang terjadi di NTT belum terjelaskan dengan pasti. Sebagian besar laporan masih sebatas dugaan, misalnya karena makanan yang kedaluwarsa; pengelolaan makanan yang kurang bersih; dan mengonsumsi dari hewan yang sudah mati.

Pada beberapa berita menyebutkan kalau ada sampel yang dikirim ke laboratorium kesehatan Provinsi NTT, namun tindak lanjut atau hasil dari pemeriksaan tersebut tidak lagi dikabarkan di media massa. Kalau saja informasinya dibuka, barangkali menjadi bahan pelajaran yang baik untuk masyarakat.

Hati-hati dengan Makanan Anda

Sejak tahun 2019, WHO bersama FAO (Food and Agriculture Organization) menetapkan tanggal 7 Juni sebagai Hari Keamanan Pangan Dunia atau World Food Safety Day. Tahun 2020 ini masih mengusung tema yang sama dengan tahun lalu, yaitu: “Food safety, everyone’s business.”

Keamanan pangan memang menjadi urusan semua orang. Setidaknya ada 4 komponen yang bertanggung jawab yaitu mulai dari unsur pemerintah, produsen pertanian dan makanan, operator bisnis, dan konsumen.

Pemerintah bertanggungjawab dalam membuat regulasi dan memastikan aturan itu berjalan, sehingga mampu memastikan makanan yang beredar itu aman dikonsumsi.

Pihak produsen diharapkan mampu mennghasilkan produk tanpa diberi bahan yang terbukti berbahaya dan terlarang bagi konsumen.

Baca Juga: Bahaya Pestisida di Ngada dan Pemerintah yang Tidak Cakap

Pebisnis yang mengatur distibusi bahan pangan juga mempunyai tanggung jawab agar semua barang tidak terkontaminasi atau kedaluwarsa. Lalu sebagai konsumen, setiap orang punya hak menentukan bahan pangan yang berkualitas untuk dikonsumsi.

Mereka semua diharapkan mampu bekerja sama demi keselamatan bersama juga. Keamanan Pangan adalah tanggung jawab bersama.

Semua aspek tersebut diharapkan bisa bekerjasama, tapi bila masih ditemukan banyak kendala, maka pertahanan terakhir tetap ada di tangan kita semua sebagai konsumen.

Kementerian Kesehatan RI menekankan, rumah tangga sebagai konsumen menjadi lini terakhir keamanan pangan. Rumah tangga sebagai konsumen berhak atas makanan yang aman, sehat dan bergizi. Kita tidak bisa asal makan; selalu hati-hati dalam memilih bahan dan cara pengolahannya.

Bagaimana kita bisa menentukan suatu bahan makanan itu aman? WHO sudah menganjurkan lima kunci untuk mendapatkan makanan yang lebih aman, yaitu: jaga kebersihan; pisahkan mentah dan matang; masak sampai matang; simpan makanan pada suhu yang aman; dan gunakan air dan bahan baku yang aman.

Selain prinsip tersebut, kita yang tinggal di NTT dan Timor khususnya, memiliki peribahasa yang bisa menjadi inspirasi dalam mengambil keputusan, yaitu: Tmeup On Ate, Tah On Usif (kerja seperti hamba, makan seperti raja).

Menurut Antonius Nesi, peribahasa dalam bahasa Dawan tersebut bisa menjadi prinsip hidup (filosofi) dan nasehat bagi kita semua yang kurang lebih bermakna: bekerjalah yang rajin untuk mendapat hidup yang layak.

Meski hanya dimaknai secara harfiah, penulis meyakini kalimat seperti itu menyimpan kekuatan yang besar untuk menggerakan kita ke arah yang lebih baik.

Kita memang harus bekerja keras dan cerdas untuk mewujudkan semua impian. Sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan buat diri sendiri, bukankah wajar kalau kita rayakan dengan makan seperti raja?

Sebagai “raja”, kita tidak mungkin asal makan. Raja selalu identik dengan orang terpilih dan memiliki kemampuan di atas rata-rata orang pada umumnya. Orang seperti itu biasanya selektif, tidak sekadar memilih makanan yang enak, tapi harus dipastikan mengenai keamanan dan kandungan nutrisinya.  

Kerja seperti hamba makan seperti raja boleh-boleh saja, tapi tolong perhatikan kualitas apa yang kita makan.

Kita adalah apa yang kita makan. Keputusan tentang makan apa saat ini, menentukan nasib Anda selanjutnya. Semoga dengan adanya peringatan Hari Keamanan Pangan Dunia setiap 7 Juni, menjadikan kita sebagai pribadi yang makin sadar dengan pentingnya memastikan keamanan bahan pangan sebelum dikonsumsi. Salam sehat.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari  Saverinus Suhardin


Spread the love