Spread the love

Kita sudah memasuki tahun baru 2021, dan biasanya awal tahun seperti ini kita sangat akrab dengan aktivitas ini: memikirkan-menetapkan-meluncurkan resolusi.

Entah dari mana asal-usulnya, satu hal yang pasti, kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari cara kita merayakan masa-masa permulaan tahun yang baru.

Resolusi dalam konteks ini merupakan pembuatan pernyataan tertulis tentang target yang diharapkan dapat tercapai dalam jangka waktu tertentu.

Pada umumnya resolusi tahun baru berkaitan dengan perubahan perilaku positif, seperti menghentikan kebiasaan buruk dan membentuk kebiasaan baru yang lebih bermanfaat.

Apakah budaya membuat resolusi tahun baru ini memang penting dan patut diikuti?

Sekadar informasi dari beberapa hasil penelitian, disebutkan kalau salah satu resolusi yang paling banyak diimpikan banyak orang berkaitan dengan kesehatan.

Sebut saja salah satu contohnya, penelitian yang dilakukan Rozental, dkk di Swedia, dari total 1.066 peserta yang dilibatkan dalam penelitian mereka, 70% membuat resolusi tahun baru berkaitan dengan kesehatan fisik.

Misalnya keinginan untuk berhenti merokok, mengurangi konsumsi minuman beralkohol, menjalani diet sehat, dan hal yang dianggap lebih positif lainnya.

Sayangnya, dari sekian banyak orang yang membuat resolusi pada awal tahun, tidak semuanya dapat dipertahankan hingga mencapai tahap sukses.

Sebagian besar tujuan-tujuan tersebut malah tidak diperhatikan lagi seiring berjalannya waktu. Hangat-hangat tahi ayam. Kebanyakan orang hanya heboh pada awal penetapannya, tapi kemudian tidak konsisten dan tidak gigih untuk meraihnya.

Dulu, Norcross dan Vangarelli pernah mengobservasi 200 orang yang membuat resolusi untuk menurunkan berat badan, berhenti  merokok, dan niat khusus lainnya. Satu minggu kemudian, hanya 77% peserta yang masih mempertahankan resolusi tersebut.

Sebulan kemudian, jumlahnya menurun menjadi 55%. Persentasenya merosot terus hingga 43% setelah tiga bulan, 40% setelah enam bulan, dan sisa 19% pada dua tahun masa tindak lanjut.

Penyebab Gagalnya Resolusi

Persoalan di atas kemudian ditelusuri oleh peneliti selanjutnya, kenapa banyak orang gagal mempertahankan atau mewujudkan resolusinya? Martin Oscarsson, dkk., lantas melakukan eksperimen yang terbilang unik.

Responden penelitian yang berjumlah 1.066 dibagi menjadi tiga kelompok dengan perlakuan yang berbeda. Kelompok pertama tidak diberi dukungan sama sekali; kelompok kedua diberi dukungan sedang; dan kelompok ketiga diberi dukungan penuh. Kelompok yang menerima beberapa dukungan secara eksklusif dan signifikan lebih berhasil dibandingkan dengan dua kelompok lainnya. 

Selain lemahnya dukungan orang terdekat atau agen pendukung lainnya, urusan mengubah perilaku memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada tahapan yang akan dilalui seseorang untuk bisa berubah, entah itu ke arah positif maupun negatif.

Menurut psikolog James Prochaska dan Carlo DiClemente, pengembang model tahapan perubahan, ada beberapa tahap yang dilalui orang untuk berubah yaitu: tahap pra-kontemplasi, kontemplasi, persiapan, tindakan dan pemeliharaan–kemungkinan untuk kambuh pada keadaan semula juga merupakan bagian proses tersebut.

Penjelasan detail mengenai tahapan tersebut akan disajikan langsung dengan contoh kasus sesuai pengalaman penulis pada bagian selanjutnya.

Jalan Pagi

Meski setiap perubahan tidak pernah mudah untuk dicapai, bukan berarti hal itu menjadi alasan yang mantap untuk absen membuat resolusi tahunan. Setidaknya kita sudah punya niat awal yang bagus, hanya dengan sedikit dukungan dari lingkungan sekitar dan alam semesta, cepat atau lambat impian itu akan terwujud juga.

Setidaknya begitulah yang pernah saya alami selama ini, dari sekian resolusi yang pernah ditulis, hanya beberapa saja yang dapat terealisasi. Saya tetap bersyukur, setidak-tidaknya masih ada berhasil.

Satu dari sekian resolusi tersebut, aktivitas jalan pagi, dapat dikategorikan sebagai resolusi tahun baru saya yang berkembang lumayan baik. Saya memulainya sejak tahun 2016. Waktu itu, sebagaimana lazim terjadi pada banyak orang, saya juga menetapkan resolusi berkaitan dengan kesehatan fisik.

Saya punya masalah dengan berat badan, cepat sekali gemuk. Karena itu, saya meniatkan untuk berolahraga ringan seperti jogging tiap pagi dan mengatur pola makan. Khusus untuk kegiatan olahraga pagi, saya berusaha untuk selalu menuliskan kisahnya di media sosial Facebook dengan tagar khusus: #JalanPagi.

Bila kita kaitkan dengan model tahapan perubahan yang sudah disinggung sebelumnya, jauh sebelum tahun 2016 saya masih berada pada tahap pra-kontemplasi. Cirinya, meski kala itu berat badan sudah berlebih, saya tetap merasa aman-aman saja. Belum ada kepikiran untuk berubah.

Seiring berjalannya waktu, karena sudah sering membaca literatur kesehatan, saya makin sadar pola hidup yang tidak sehat seperti “makan-tidur” saja bisa membuat saya makin gemuk (obesitas).

Kalau itu terjadi, maka berbagai penyakit degenertif seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke dan lainnya gampang terjadi. Saya mulai banyak merenung atau mempertimbangkan, apakah perlu berubah atau tetap pada status quo? Inilah tahap kontemplasi.

Setelah banyak berkontemplasi, maka menjelang tahun 2016 saya mulai menyusun rencana untuk mengubah gaya hidup. Salah satu resolusinya saat itu ingin rutin mejalani olahraga.

Sebenarnya resolusi ini merupakan resolusi saya dari tahun-tahun sebelumnya yang terancam gagal. Baru pada saat itu saya merasa sudah cukup siap untuk menerapkannya. Itulah tahap persiapan yang saya lakukan.

Kemudian ketika memulai tahap tindakan dan pemeliharaan, awalnya terasa sangat berat. Sehabis melakukan olahraga ringan yang saya namai #JalanPagi itu, seluruh badan pegal-pegal. Tapi saya terus paksakan, karena sudah terlanjur memamerkan aktivitas baru itu dengan tulisan berseri di Facebook.Pola Hidup SehatSaya kadang memaksa diri untuk jalan pagi lagi demi mendapatkan inspirasi untuk ide tulisan. Memasuki minggu yang kedua, tubuh saya sudah bisa beradaptasi; otot-otonya tidak nyeri lagi. Saya makin senang menjalaninya, apalagi ketika catatan di FB tentang jalan pagi itu mendapat banyak tanggapan positif dari para sahabat.

Selama menjalani habitus baru ini hingga saat ini—masa pemeliharaan—saya juga sering kembali pada gaya hidup lama, yaitu malas berolahraga lagi. Inilah yang disebut sebagai tahapan “kambuh” (relapse) dari proses perubahan. Ini sangat wajar. Tapi untungnya saya segera kembali melakukan jalan pagi yang, selain untuk tujuan kesehatan, juga demi konten di media sosial.

Setelah menjalaninya beberapa tahun terakhir, secara subjektif saya akui jalan pagi ini memberi banyak manfaat positif. Selain memberi kebugaran fisik, saya juga merasa lebih kuat mengahadapi berbagai tekanan stres.

Tiap malam bisa tidur lebih cepat dan sangat lelap, sehingga bisa bangun lebih pagi dan bersemangat untuk jalan pagi lagi. Selain itu, banyak ide-ide untuk bahan tulisan—termasuk untuk rubrik Pojok Sehat—ini saya dapat selama jalan pagi.

Banyak juga hasil penelitian yang mengonfirmasi manfaat baik dari jalan pagi. Secara umum, resolusi tahun baru dengan melakukan olahraga mungkin merupakan awal yang baik untuk menghindari penyakit kardiovaskular seperti hipertensi; membantu untuk mencapai status kesehatan fisiologis yang baik; berdampak signifikan pada rasio lingkar pinggang, indeks massa tubuh, dan denyut jantung yang lebih stabil; menunjukkan adanya manfaat psikologis; dan bermanfaat sehubungan dengan parameter kesehatan.

Ini masih awal tahun baru 2021, masa-masa yang baik untuk membuat resolusi. Kalaupun saat ini belum langsung bertindak, tidak masalah. Semua butuh proses.

Siapa tahu setelah membaca ini Anda akan bergeser dari tahap pra-kontemplasi ke fase kontemplasi.

Bentuk resolusinya juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Tapi, jika kita memiliki masalah yang sama terkait berat badan, tidak ada salahnya memulai dengan resolusi jalan pagi.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin


Spread the love