Spread the love

 

Warganet langsung gempar ketika mengetahui suami Bunga Citra Lestari (BCL) meninggal dunia. Bagaimana tidak, kabar duka itu terjadi mendadak. Lebih mengherankan lagi, baik keluarga BCL maupun rekanan artis yang punya hubungan dekat dengan mendiang Ashraf Sinclair (AS), menganggap AS selama ini tidak pernah mengeluh sakit. Justru dirinya sering menunjukkan pola hidup sehat, salah satunya dengan rutin berolahraga.

Keterangan manajer BCL kepada media menyebutkan wafatnya AS terjadi karena serangan jantung. Tentu saja informasi itu bersumber dari dokter yang memeriksa AS ketika dilarikan di RS MMC Kuningan, Jakarta.

Informasi detail mengenai bagaimana serangan jantung itu bisa terjadi, barangkali dokter yang menangani bersama keluarga terdekat yang lebih tahu. Riwayat pemeriksaan kesehatan sebelumnya yang terkait, –misalkan ada—kemungkinan disimpan di pusat layanan kesehatan yang menjadi langganan keluarga mereka.

Data rekam medis itu, tidak mungkin dipamerkan oleh dokter untuk memenuhi kepuasan informasi dari para awak media maupun warganet. Hal itu berkaitan dengan etika profesi tenaga kesehatan yang menjaga privasi kliennya dengan rapat.

Hanya keluarga terdekat pasien yang punya akses terhadap informasi tersebut. Mereka punya hak untuk menanyakan hal terkait sakit atau sebab-sebab kematian keluarganya kepada petugas kesehatan, khususnya dokter.

Kalau pun keluarga tahu, dalam situasi duka seperti itu, tidak mungkin mereka sibuk menjelaskan kepada publik. Apalagi menyangkut informasi pribadi, tentunya tidak pantas dijadikan pengetahuan umum. Meskipun mereka artis yang biasanya tidak ada batasan dengan penggemar, pada hal-hal tertentu, mereka juga menutup rapat apa yang tidak perlu diketahui khalayak.

Ketika rasa penasaran yang melanda publik itu belum terjawab, maka munculah berbagai spekulasi. Berikut ini beberapa rumor informasi kesehatan yang menyertai kepiluan BCL dan keluarganya. Kita akan membahasnya lebih mendalam, berdasarkan kajian kesehatan terkini.

Apakah GERD Menjadi Penyebab Serangan Jantung?

Kabar burung pertama yang paling banyak dibagikan di media sosial, serangan jantung yang dialami almarhum AS terjadi karena GERD yang menekan jantung hingga tidak berfungsi.

Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi ketika asam lambung mengalami refluks atau alirannya berbalik arah, kembali ke atas; di bagian kerongkongan atau yang disebut esofagus. Asam lambung itu bersifat korosif atau melukai dinding esofagus, sehingga tumbul nyeri di bagian dada.

Tim cek fakta media Tempo telah mengonfirmasi pesan berantai itu sebagai informasi yang keliru. Ternyata tulisan yang dipenuhi tanda pagar (#) itu  pernah beredar viral juga, jauh sebelum AS tutup usia pada tahun 2018. Nama penulis yang tertera (dr. Imam Susilo) pun tidak jelas asal-usulnya, sehingga sulit dikonfirmasi.

Kesalahan informasi itu juga terkonfirmasi melalui pernyataan dr. Erta P. Wirawijaya, Sp.JP dalam tulisan di dinding facebook-nya. GERD memang memiliki gejala nyeri dada yang mirip dengan tanda penyakit jantung. Meski begitu, GERD tidak punya hubungan langsung dengan penyakit jantung.

Berdasarkan penelusuran hasil riset terkait GERD dan serangan jantung, penulis menemukan fakta, hubungan kedua penyakit itu masih diliputi perdebatan. Sebagai besar peneliti menyimpulkan keduanya punya korelasi, meski tingkatan hubungan antara berbagai penelitian bervariasi.

Lei, dkk. dalam studinya yang melibatkan 54.422 pasien, menyimpulkan kalau GERD yang tidak tertangani dengan baik bisa berkembangan mencetus gangguan jantung (IMA: Infark Miokard Akut) dalam waktu kurang lebih 3,3 tahun.

Bila temuan itu dikaitkan dengan kasus AS, tentu saja keliru. Sebab gejala GERD biasanya mulai terasa gejalanya secara perlahan, dan tidak langsung menyebabkan serangan jantung dalam waktu singkat. Waktu yang lama tersebut mengonfirmasi temuan Coutinho, dkk., kalau hubungan antar kedua penyakit itu lemah.

GERD bisa punya hubungan dengan gangguan jantung karena posisi kerongkongan yang begitu dekat dengan jantung, khususnya bagian atrium/serambi kiri. Letak yang berdekatan itu membuat gejala keduanya kadang bikin salah persepsi.

Supaya tidak ambigu, setiap ada keluhan nyeri di bagian dada, sebaiknya diperiksakan secara lengkap di pelayanan kesehatan yang memadai. Sebab hanya dengan pemeriksaan diagnostik yang lengkap, kita bisa memastikan setiap sumber dari gejala tersebut dengan presisi.

Apa Masih Bermanfaat Rajin Olahraga, Hidup Sehat, dan Tidak Merokok?

Tulisan Denny Siregar yang mengulas tentang kejadian meninggal mendadak yang terjadi pada AS dan beberapa artis atau tokoh publik lainnya, bisa saja menimbulkan salah persepsi bagi pembaca.

Memang secara umum tulisannya bermaksud untuk menyadarkan pembaca agar waspada dengan penyakit jantung yang dikenal sebagai pembunuh senyap (silent killer). Tidak ada yang salah sebenarnya. Hanya saja, dua kali influencer media sosial itu menyebutkan kalimat kurang lebih seperti ini: “Mereka menjalani hidup sehat, rajin olahraga, dan tidak merokok; tapi malah kena serangan jantung.”

Kalimat itu bisa saja dijadikan pembenaran bagi orang yang malas atau tidak mau menjalani hidup sehat, untuk semakin tidak peduli dengan kesehatannya. Kekhawatiran ini terbukti dari beberapa komentar orang di FB, –terlepas itu serius atau sekadar guyonan—mereka dengan berani menulis kurang lebih seperti ini: “Lebih baik tidak usah olahraga dan merokok terus, pada akhirnya sama juga.”

Bila dalil ini dipakai untuk melenggangkan beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan anjuran kesehatan seperti merokok, minum minuman beralkohol, tidak olahraga, makan berlebih sehingga obesitas, dll., maka tentu saja hal tersebut sangat keliru.

Bila kita merujuk desas-desus lain terkait penyebab ajal AS, beberapa sumber mengaitkan dengan kebiasaannya ketika masih hidup, sering melakukan olahraga keras (dalam artian menguras banyak tenaga) di gym dan latihan CrossFit.

Laporan kematian pada usia muda dalam kegiatan olahraga memang bukan hal baru. Sebuah laporan di junal The Lancet pada 1 Februari 1975 misalnya, diketahui dari 21 kematian saat melakukan atau setelah olahraga, 18 atlet disebabkan serangan jantung.

Meski begitu, bukan berarti olahraga sepenuhnya membahayakan jantung. Program latihan aerobik 12 minggu memiliki efek positif pada peningkatan elastisitas pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah subjek hipertensi berat. Olahraga dengan intensitas sedang selama 30 menit per hari  seperti anjuran dalam Germas, tetap baik bagi kesehatan.

Kita perlu waspada bila latihan atau olahraga dilakukan secara intens dan dalam jangka yang lama, sebab pada beberapa orang bisa menyebabkan gangguan jantung berupa pembesaran otot jantung. Apalagi bila dari awal kita sudah diketahui mengalami kelainan jantung, maka sebaiknya berolahraga yang ringan saja seperti jalan cepat; tidak dianjurkan melakukan olahraga berat atau yang kompetitif.

Pada kegiatan olahraga yang profesional, upaya pencegahan paling baik dilakukan dengan pemeriksaan fungsi jantung (elektrokardiogram), termasuk menanyakan riwayat sakit dan pemeriksaan fisik lainnya. Pemeriksaan atlet sebelum berpartisipasi dalam olahraga tertentu seperti ini telah menjadi kebijakan di berbagai negara.

Apa itu Emsculpt?

Isu lain yang masih berkaitan dengan olahraga, ternyata AS juga menjalani terapi dengan Emsculpt, sebuah alat bantu untuk mengencangkan otot. Dalam sebuah unggahan video Intagram-nya, AS menunjukkan cara penggunaan alat yang ditempelkan pada dinding perut tersebut.

AS menjelaskan kalau penggunan Emsculpt selama 30 menit, itu setara dengan melakukan 20.000 kali sit-up. Pada sesi pemanasan awal, getaran alat tersebut merangsang jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.

Setelah AS wafat, banyak warganet yang memberi komentar pada unggahan tersebut, intinya mencurigai alat Emsculpt tersebut sebagai pemicu serangan jantung yang dialaminya. Apakah hal itu mungkin terjadi?

Emsculpt merupakan bagian dari terapi High-intensity focused electromagnetic (HIFEM) atau elektromagnetik fokus intensitas tinggi, yaitu alat yang digunakan di luar tubuh untuk membentuk otot dan mengurangi lemak tubuh.

Alat Emsculpt ini sudah mendapatkan rekomendasi dari FOA (Pengawasan obat dan makanan) di Amerika. Efektifitasnya dalam hal pembentukan tubuh terbilang sangat baik, di antaranya bisa untuk memperbaiki estetika bokong; mengurangi lemak dan meningkatkan massa otot; mengurangi lingkar pinggang dan mengencangkan otot perut; dan mengencangkan kulit. Hampir semua studi tersebut melaporkan kalau hasil maksimal yang diperoleh tersebut, tidak memiliki efek samping yang berarti.

Namun, temuan terbaru yang diteliti Duncan dan Dinev (2019) perlu diperhatikan lebih jauh. Mereka melakukan ekperimen pada hewan coba (babi), kemudian melakukan pemeriksaan histologi (sel atau jaringan tubuh). Ternyata setelah 2 minggu mendapat terapi Emsculpt, terjadi hipertofi (pembesaran ukuran) otot sebesar 20,56% dan hiperplasia (penambahan jumlah serat otot) sebanyak 8%. Sedangkan pada sampel kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan.

Hasil penelitian termutakhir ini membuat saya (penulis) curiga, ketika AS menempatkan Emsculpt di atas perut, reaksinya tidak saja memengaruhi otot perut. Lokasi jantung yang tidak berjauhan dengan perut, kemungkinan besar ikut terpengaruh mengalami hipertrofi (pembesaran) otot.

Bila otot jantung mengalami hipertrofi, maka elastisitasnya mulai berkurang seperti pada kasus kardiomiopati (kematian otot jantung). Hal itu akan memicu terjadinya henti jantung.

Dugaan saya ini tentu saja bisa keliru. Hasil penelitian yang berkaitan dengan penggunaan Emsculpt memang belum banyak tersedia. Semoga dengan adanya kejadian seperti ini, meningkatkan minat peneliti untuk menguji lebih jauh efek samping penggunaan alat tersebut.

Sebab meninggalnya AS tentu saja masih misteri. Keterangan dari hasil wawancara dokter dan pemeriksaan sesaat setelah serangan, belum cukup kuat dijadikan kesimpulan. Kecuali kalau keluarganya ingin melakukan autopsi, sehingga bisa dianalisa lebih dalam, apa sebenarnya yang terjadi pada organ jantungnya. Seperti dalam berbagai kasus kematian akibat olahraga, penyebabnya dipastikan lewat autopsi.

Selama belum melakukan autopsi, kita hanya bisa menduga-duga. Ulasan yang lumayan panjang ini pun belum memberi jawaban yang memuaskan. Kita kembali pada keyakinan ini: Hanya Tuhan yang tahu.

 

Oleh: Saverinus Suhardin

 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari  Saverinus Suhardin

 


Spread the love