Spread the love

Ketika kita masih gamang dengan kabar penyebaran infeksi virus corona baru–SARS-CoV-2—yang terus meningkat akhir-akhir ini, datang lagi kabar tentang adanya gempuran ganda virus flu dan COVID-19 jelang musim dingin di Amerika dan Eropa. Apakah wabah penyerta itu akan sampai juga ke wilayah kita?

Jawabannya bisa iya dan tidak. Satu hal yang pasti, kalau di Amerika Serikat akan dilanda musim dingin yang menjadi faktor pendukung serangan virus influenza, kita di Indonsia dan NTT khususnya sudah memasuki masa pancaroba–menuju musim hujan.

Ada yang bercanda begini, hujan itu terdiri atas satu persen air dan sembilan puluh sembilan persen kenangan. Bagi kita yang berada di NTT, hujan itu terdiri atas satu persen air dan sembilan puluh sembilan persennya adalah kekhawatiran akan wabah Demam Berdarah Dengue (DBD)–sebagaimana yang sering terjadi tiap tahunnya. Nama NTT menjadi salah satu yang sangat familiar di media massa untuk tema DBD.

Masih lekat dalam ingatan kita semua, ketika wabah Covid-19 masih simpang siur kemunculannya di Indonesia pada Maret 2020 lalu, banyak orang berkomentar bahwa daripada galau dengan corona, lebih baik fokus memperhatikan masalah DBD yang sudah nyata di depan mata.

Apa yang dikhawatirkan saat itu memang terbukti. Selain Covid-19, wabah DBD juga menghantam sektor kesehatan kita. Laporan terakhir hingga bulan Juni 2020 lalu, jumlah kasus DBD di Indonesia mencapai 64.251 orang. Kemudian kabar tentangnya kembali mereda. Dan, saat ini musim hujan kembali datang.

Cuaca dan Vektor Penyakit

Musim hujan membuat lingkungan menjadi lembab, kondisi yang paling nyaman buat perkembangbiakan nyamuk (Aedes aegypti dan A. Albopictus) yang menjadi vektor alias pembawa/penyebar virus dengue –penyebab DBD.

Makanya sangat tepat bila permulaan musim hujan menjadi sinyal kehati-hatian untuk selalu waspada menghadapi berbagai penyakit yang ditularkan melalui vektor.

Umumnya seperti itu, namum bukan berarti ketika musim kemarau risikonya tidak ada sama sekali. Kita yang tinggal di NTT dengan ketersediaan air yang agak terbatas, memaksa kita untuk sediakan berbagai macam wadah penampung air.

Ketika wadah air itu tidak dikelola dengan baik, misalnya tidak sesuai anjuran kesehatan agar selalu tertutup, bisa menjadi rumah bagi nyamuk. Pada akhirnya, keberadaan wadah air itu berkontribusi pada kejadian DBD.

Belum selesai sampai di situ. Kondisi rumah yang kurang memadai–misalnya penerangan yang kurang baik, kepemilikan sarana air bersih dan cara penggunaanya, kondisi dinding rumah, ventilasi dan sebagainya—berpeluang menjadi faktor pendukung DBD. Rumah yang berdiri di lingkungan padat dan banyaknya anggota keluarga yang tinggal serumah, juga menjadi faktor yang berkontribusi adanya DBD .

Tidak masalah, kan ada obat nyamuk,”  barangkali ada yang berpikir seperti itu lantaran sudah banyak mengonsumsi keajaiban berbagai iklan insektisida (pembubuh dan pengusir nyamuk) di berbagai media massa.

Apakah upaya pemberantas vektor dengan cara seperti itu cukup efektif? Sayangnya, selain punya efek lain bagi tubuh, berbagai produk tersebut sudah tidak mempan lagi membunuh nyamuk.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Jakarta, misalnya, telah membuktikan kalau penggunaan insektisida piretroid yang rutin digunakan membuat nyamuk Ae . aegypti mengalami resistensi. Maksudnya, pada penggunaan awal memang cukup ampuh mematikan nyamuk.

Berapa lama kemudian, ternyata nyamuk tersebut mampu menyesuaikan diri dengan adanya mutasi genetik. Nyamuk generasi berikutnya menjadi lebih kepala batu atau kebal dengan insektida yang sama.

Percobaan lain yang tidak kalah menarik, kali ini menggunakan obat nyamuk bakar yang mungkin sudah biasa kita gunakan di rumah. Apalagi dua dari sembilan kabupaten tempat pengambilan sampel nyamuk berasal dari NTT.

Hasilnya, nyamuk dari Sumba Timur ternyata lebih resisten (angka kematiannya <80%).  Sedangkan sampel dari Manggarai Barat masih tergolong rentan dengan angka kematian> 98 %. Secara umum,  peneliti menyimpulkan bahwa efek insektisida obat nyamuk bakar terhadap beberapa nyamuk Ae. aegypti juga menunjukkan perkembangan resistensi piretroid.

Baca Juga: Kita yang Terus Terbelenggu dengan Demam Berdarah Dengue

Khusus wilayah Sumba, ada juga penelitian lain yang menyelidik sejauh mana daya infeksi virus dengue pada nyamuk Ae. aegypti betina maupun jantan. Hasilnya, di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Timur –baik Ae. aegypti betina maupun jantan—sama-sama menularkan virus dengue sehingga menjadi wilayah yang berpotensi tinggi adanya penularan DBD.

Bila kita kaitkan dengan laporan kasus DBD di NTT, setidaknya dua tahun terakhir yang penulis ikuti perkembangannya, wilayah Sumba memang sering menjadi langganan kasus DBD.

Beban Dobel: Corona dan Dengue

Sejak awal, virus corona dan dengue memang sudah dianggap sebagai beban ganda bagi sistem pelayanan kesehatan. Setelah sempat mereda, keduanya akan menjadi beban dobel lagi menjelang musim hujan seperti saat ini.DEMAM BERDARAH DAN COVID-19Penggunaan istilah beban dobel itu sekadar mengikuti kelaziman dalam bidang kesehatan, sebab kita semua sudah paham kalau wabah corona sudah membebani hampir seluruh aspek kehidupan. Tidak hanya dobel, tapi juga tripel, quadruple, quintuple,…dan seterusnya.

Ketika wabah DBD terjadi selama pandemi Covid-19, kita akan dihadapkan pada kondisi gamang. Sebagai contoh, untuk membedakan gejala awal kedua penyakit itu tidaklah mudah. Keduanya sama-sama menunjukkan gejala demam, sakit kepala, dan mialgia (nyeri/pegal otot). Kecuali kalau gangguan pernapasan pada COVID-19 mulai tampak seperti batuk, sakit tenggorokan, dan hilangnya rasa atau bau.

Berikutnya, pembatasan layanan pasien di RS selama pandemi Covid-19, bisa saja membuat kita enggan mendatanginya. Kalau anak-anak kita demam, misalnya, barangkali kita masih berpikir ratusan kali, apakah harus segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau tidak? Mau pergi, takut tertular SARS-CoV-2. Begitu tidak pergi, ternyata sang anak telah dehidrasi berat lantaran digerogoti virus dengue. Serba salah.

Kalau begitu, kita harus bagaimana? Menurut penulis, kita mesti siap-siap menghadapi keduanya dengan terus bersikap waspada.

Pertama, tentu saja kita masih tetap waspada Covid-19 dengan menerapkan seluruh protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah atau otoritas kesehatan.

Kedua, pada saat yang sama, kita juga mesti menerapkan berbagai langkah pencegahan DBD yang, barangkali sudah kita hafal seperti 3M Plus, namun belum dipraktikkan secara konkret dan komplet.

Sementara itu, selagi kita berjuang secara mandiri, kita tentunya tetap berharap besar kepada pemerintah agar tidak kagetan lagi dengan masalah rutin seperti ini.

Sudah saatnya pemerintah yang memiliki kapasitas besar untuk menggerakkan seluruh perangkat kerjanya; bersama-sama siap menghadapi ancaman wabah DBD.

Kita sudah sering mengalami masalah yang sama seperti DBD, jangan sampai nanti malah kagetan lagi. Apalagi saat ini berbarengan dengan wabah Covid-19, itu artinya tidak cukup dengan program rutin yang biasa dikerjakan selama ini.

Perlu adanya persiapan ekstra untuk mengantisipasi semua kemungkinan terburuk. Semoga kosentrasi para (calon) pemimpin kita tidak hanya pada urusan pilkada, sebab jika demikian, kita semua siap-siap menelan pil pahit.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 

 

 


Spread the love