Spread the love

Judul: Panggil Pulang yang Terbuang: Kumpulan Esai Tentang Keseharian

Penulis: Reinard L. Meo

Tebal: xii + 72 halaman

Penerbit: Ledalero

Cetakan: I, 2021

ISBN: 978-623-6724-11-8

***

Sekarang sedang musim mangga. Ketika ada buahnya yang jatuh di halaman rumah, apakah yang Anda lakukan? Kalau saya, tentu saja segera memakannya jika memang masih layak. Kalau sudah busuk, lempar saja ke kandang babi, hitung-hitung sebagai kudapan sebelum memberinya makanan utama. Kemungkinan aksinya hanya seputaran itu saja.

Tapi, jika Anda meresponsnya dengan cara yang berbeda seperti yang dilakukan Isaac Newton ketika melihat apel jatuh di halaman rumahnya, saya kira Anda spesial—tidak seperti kerumunan pada umumnya. Jika Anda memiliki perangai semacam itu, saya pikir itu perlu dipertahankan dan dikembangkan, sebagaimana yang dilakukan saudara yang akan kita bahas buku terbarunya ini: Reinard L. Meo.

Bro Reinard barangkali belum sehebat atau seterkenal Om Isaac Newton saat ini, tapi menurut saya, kebiasaan yang mereka lakukan dalam merespons sesuatu hampir sama. Reinard, dalam biodata singkat yang tertulis pada lipatan halaman sampul belakang buku terbarunya itu, menuliskan kalau dirinya sedang mengembangkan semacam hobi baru: mencuragai segala sesuatu.

Bila kita menyimak esai-esai pilihan yang terangkum dalam buku barunya “Panggil Pulang yang Terbuang,” sebenarnya kita juga bisa mencurigainya, bahwa hobi mencurigai segala sesuatu itu bukan hal yang baru. Tapi hal itu sudah menjadi sidik jari dirinya sejak dulu, atau setidaknya ketika ia mulai menulis esai-esai tersebut antara tahun 2016 hingga 2020.

Hobi langka itu, bila kita cari padanan maknanya, kurang lebih sama dengan apa yang disebut sebagai sikap skeptis. Penulis “Segala Detikmu” itu adalah penganut skeptisisme sejati. Dan kamu tahu, Om Isaac Newton dan para ilmuwan lainnya bisa menghasilkan teori atau penemuan baru itu berawal dari sikap yang sama: skeptis. Tanpa mencurigai segala sesuatu, barangkali Om Isaac tidak pernah dikenal sebagai penemu hukum gravitasi.

Mencurigai Peristiwa Keseharian

Empat belas esai dalam buku ini, menurut cerapan saya, merupakan hasil dari hobi mencurigai segala sesuatu yang dikembangkan penulisnya. Reinard, sebagaimana sub judul bukunya—Kumpulan Esai tentang Keseharian—memang mengangkat hal atau peristiwa remeh-temeh sebagai objek kajian tulisannya.

Saya bilang itu “remeh-temeh” bukan berarti tidak penting atau menyepelekan konten tulisan tersebut. Maksud saya, mungkin kita sering melihat, merasakan, mengalami, atau mendengar pengalaman serupa—tapi kita menganggap sebagai sesuatu yang lumrah. Karena terkesan begitu biasa, kita tidak sempat memikirkannya lebih jauh. Hanya sepintas lalu, tanpa harus menjadikannya bahan renungan atau berpikir.

Baca Juga: (Politik) Buku Bacaan Anak

Sebagai contoh pada esai nomor satu, ia menguraikan tentang hal yang mungkin tidak kita sadari selama menggunakan media sosial Facebook. Kita barangkali tenggelam dalam ayiknya menggunggah foto atau tulisan, menunggu like dan comment, serta hal lazim lainnya dalam bermedsos. Di mata Reinard, main FB tidak sesederhana dan selalu menyenangkan seperti itu. Dalam amatannya, FB itu membuat penggunanya menjadi tidak autentik. Seseorang bisa menampilkan dua kepribadian yang berbeda: saya dalam dunia riil, dan “saya” dalam dunia maya.

Contoh kedua saya pilih dari esai urutan keenam, “Mengapa Masih Sering Terjadi Baku Hantam di Tempat Pesta?” Baku hantam memang bukan peristiwa biasa, tapi Reinard menjelaskan kalau di Bajawa, perkelahian di tempat pesta sudah menjadi bagian dari acara. “Sukses tidaknya sebuah pesta di Bajawa,” begitu ia menulis pada halaman 25, “diukur pula dari ada atau tidaknya baku hantam pada jam-jam tertentu.”

Kalau baku hantam sudah dianggap sebagai agenda rutin seperti itu, harusnya itu tidak menjadi objek tulisan menarik lagi. Tapi di tangan Reinard, semuanya jadi berbeda. Ia mengulas persoalan dari perspektif sosio-psikologis. Lalu sebagai guru sosiologi, ia mendiskusikan masalah itu bersama para muridnya, dan menyimpulkan penyebabnya menjadi 4 hal: adanya dendam pribadi; efek alkohol; baku senggol saat goyang dan puntung rokok yang bikin risih; dan soal salah paham.

Berikutnya soal arisan dan Natal, ini untuk contoh ketiga. Bagi saya, dua peristiwa itu hanya berkisar pada urusan makan dan kumpul-kumpul. Reinard merefleksikannya lebih jauh dari itu, bahwa keduanya sama-sama mengajarkan tentang nilai solidaritas. Arisan merupakan wadah atau aksi solidaritas sesama manusia sebagai makhluk sosial. Lalu Natal menjadi simbol bagaimana Allah bersolider dengan menjadi manusia lewat Yesus Putra-nya.

Perpaduan Kemampuan Analisis dan Menulis

Tiga contoh yang menunjukkan kepiawaian Reinard “mencurigai segala sesuatu” di atas, menurut saya tidak perlu diperpanjang lagi. Sebagai kumpulan esai, buku tersebut memang memuat tulisan dengan beragam tema. Jika ingin dikelompokkan, tema keseharian yang dimaksud penulis itu mencakup perkembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan dampak sosialnya; isu politik; masalah pendidikan; dunia perbukuan; konflik; dan persoalan sosial lainnya.

Tadi sudah disebutkan, topik tulisannya menyangkut peristiwa keseharian yang mungkin dianggap receh. Tapi, ketika hal itu dianalisis dengan teori yang menarik serta ditulis dengan cara yang kreatif, semuanya menjadi istimewa. Reinard berhasil mengemas isu-isu keseharian tersebut menjadi sajian yang bemutu, sekaligus memancing pembacanya untuk merenung; untuk berpikir; sekaligus untuk sama-sama mulai mengembangkan kebiasaan baru—mencurigai segala sesuatu.

Reinard L. Meo sudah dikenal sebagai penulis muda NTT. Makanya saya tidak terlalu heran bila kualitas tulisannya baik yang, bila kita meminjam istilah Tempo, enak dibaca dan perlu. Ia mengaku belajar menulis esai sejak 2008. Tapi terbatas pada satu genre saja, ia juga menulis bentuk yang lain. Laporan jurnalistik, cerpen, puisi, tulisan ilmiah, dan tentunya status facebook.

Baca Juga: Yang Mencegat, Yang Mendorong, Itu Namanya Rindu

Saya tentunya tidak mengarang soal kemampuan menulisnya itu. Kumpulan esai dalam buku ini sebelumnya pernah terbit di berbagai media massa. Artinya sudah melewati proses seleksi pihak lain. Kemudian, saya kira kamu tahu, Penerbit Ledalero tentunya memiliki mekanisme yang ketat dalam menyeleksi naskah yang akan terbit.

Tidak hanya itu, Pater John Mansford Prior, SVD juga memuji gaya tulisannya. Tokoh yang disebut sebagi guru oleh  Reinard itu mengungkapkannya dalam kata pengantar, “Kumpulan esai Reinard L. Meo ini membawa saya dalam menimbang-nimbang tentang diri, tentang nilai hidup, tentang apa yang sesungguhnya bermakna.” (hal.iii).

Secara umum, buku ini bagus. Tapi, saya agak terngganggu dengan esai yang terakhir, khususnya pada kesimpulan: “Semua yang sudah Anda baca ini, 14 esai dalam buku ini, adalah juga hasil dari merokok. Merokok tak selamanya buruk!”

Saya menghargai ia sebagai perokok, itu haknya. Tapi pernyataan itu seolah-olah menunjukkan bahwa kemampuannya menulis saat ini hanya dihasilkan dari satu aktivitas, yaitu merokok. Kesenangan ia membaca, belajar filsafat secara formal, belajar menulis, berdiskusi, dan masih banyak variabel lain yang membentukknya jadi penulis tiba-tiba hangus bersama asap rokok.

Terlepas dari hal yang tidak saya setujui itu, buku ini tetap saya rekomendasikan untuk dibaca bagi semua orang yang telah melek aksara. Buku ini secara tidak langsung mengajak kita berpikir; berfilsafat; atau mencurigai segala sesuatu. Dan itu keterampilan yang baik untuk dikembangkan.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 


Spread the love