Spread the love

Judul: Ammonite
Tahun: 2020
Sutradara: Franncis Lee
Rumah Produksi: BBC Films, British Film Institute

***

Setelah debut fiturnya dalam God’s Own Country pada 2017 yang lalu, — romansa antara dua pria di sebuah peternakan Yorkshire yang menggondol piala festival Sundance dan British Independent Film Award,— Francis Lee, dipercayakan oleh rumah produksi Neon untuk mengeksekusi Ammonite.

Berbeda dari Portrait of a Lady on Fire

Film ini muncul setahun kemudian setelah Celine Sciamma membesut “Portrait of a Lady on Fire,”—juga garapan rumah produksi Neon—drama yang berfokus pada hubungan romantis-seksual antara dua wanita.

Dua film ini secara umum berbagi sifat material dengan mengisahkan asmara di periode tertentu yang terjadi di tepi pantai, diterpa angin, di tempat tinggal yang kosong, serta tentang upaya mengikuti kekasih tak terduga yang bertemu karena keinginan orang-orang yang mengendalikan hidup mereka. 

Namun, dalam konten emosional, perbedaan mereka tampak besar. Film Sciamma peduli dengan kehidupan interior karakternya (dan tidak hanya pasangan sentralnya, tapi wanita penting lainnya di sekitar mereka), sementara Ammon tidak seperti itu. Singkatnya, Portrait” begitu padat dan mewah, sementara “Ammonite” cendrung lebih luas, hening, dan kasar.

Ammonite menyoroti utopia masyarkat pesisir yang sekilas di mana dua wanita bisa jatuh cinta, jauh dari pandangan dan hak arogan dari pria. Dan seperti Sciamma, Lee bermaksud menyoroti pencapaian luar biasa wanita, terutama yang telah “direklamasi”, diabaikan, dan dihapus oleh pria di sepanjang sejarah hidup mereka. 

Tidak mengherankan jika pengambilan gambar pembuka film ini (sinematografinya Stéphane Fontaine) adalah tentang seorang pelayan yang sedang menggosok lantai sebuah museum, yang dengan cepat disingkirkan sehingga salah satu relik temuan dapat dipindahkan dan dipajang dengan nama seorang pria, alih-alih oleh penemunya seorang wanita, Mery.

Tangan dan Bukan Wajah

“Ammonite” karya Francis Lee boleh jadi merupakan film kontras terbesar yang dimainkan dalam rangkaian Festival Film Internasional Toronto tahun 2020. Kisah percintaan yang penuh gairah putus asa antara dua wanita di Inggris pada abad ke-19, dibungkus dalam plot minimalis yang keras dan diperankan secara mengagumkan oleh Kate Winslet dan Saoirse Ronan.

Muatan perasaan cinta berhasil dipadukan dengan persinggungan seksual yang terperangkap dalam kesakitan, kerinduan, dan perpisahan. Meski begitu, gambaran gairah yang seharusnya tersingkap pada wajah para pemain, justru tidak tampak.

Dengan jenius, Lee menempatkan beberapa closeup paling ekspresif pada tangan. Ahli paleontologi Inggris abad ke-19 Mary Anning (Kate Winslet) memiliki dua belah tangan yang kasar selama bertahun-tahun karena kerja keras yang ia lakukan.

Eksposur keras itu terlihat saat dia mengupas kentang untuk rebusan, membuat sketsa di buku catatannya dengan cahaya api atau meraup batu dari pantai di Lyme Regis, Inggris, kota kecil Dorset yang dia sebut rumah. 

Tak lama kemudian, tangan yang sama itu juga, akan mencengkeram pinggang wanita yang ada didekatnya, Charlotte Murchison (Saoirse Ronan) dan menariknya mendekat dengan gemetar dan rasa lapar yang mentah, ungkapan yang jauh lebih dalam dari sekadar bisikan sayang.

Di depan layar, Ammonite terasa sangat mencolok, kondisi ini diperkuat oleh palet visual monokromatik: wanita pucat dengan topi dan rok hitam, bergantungan di tebing abu-abu dan terperangkap interior berdebu atau cat yang pudar hingga prabot tua.

Riasan Winslet, yang dirancang agar terlihat seperti tanpa riasan sama sekali, cenderung membuatnya tampak kuyu, sedangkan rona wajah muda dan penuh harapan muncul di pipi Ronan yang menunjukkan optimisme bahwa hubungan mereka akan berlanjut.

Lee telah mengambil langkah yang agak berani dalam menempatkan Mary Anning sebagai seorang lesbian, tetapi dia tidak berani membuat pemenuhan emosionalnya menjadi fantasi yang mudah untuk dicapai, dan adegan terakhir film kemungkinan akan memecah belah mereka yang belum melihatnya.

Baca Juga: Patriarki, Kenikmatan Visual Adegan Seks, dan Batas Aristokrasi

Ammonite bersifat linier tetapi mengambang. Sepenuhnya, film ini mengandalkan kemampuan penonton untuk menghargai isyarat halus dan subteks yang dikirimkan oleh Winslet dan Ronan melalui bahasa tubuh, terutama saat kesopanan menahan lidah mereka.

Pada akhirnya lebih simbolis daripada memuaskan, film ini membuat orang bersyukur bahwa dua bintang sekaliber Winslet dan Ronan akan mengeksekusi cerita seperti itu, sambil berharap upaya mereka dapat meninggalkan artefak cerita yang lebih bergema bagi kita.

“Saya merasa sangat tidak beruntung,” kata Mary, di salah satu dari beberapa momen ketika dia merasa harus berbicara. Dia lebih terbiasa berkomunikasi secara nonverbal, dengan tatapan tajam dan atau jeda yang tidak nyaman, dan setiap kebisuannya menjadi penuh makna. 

Berjalan dengan gaya yang berat, sering kali dengan mantel tebal dan rok kotak-kotak polos (di antara kostum bagus yang dirancang oleh Michael O’Connor), Mary bergerak melalui gambaran sebagai wanita pembangkang.

Bagi saya, sangat tepat bahwa ini adalah akting layar terbaik Winslet sejak film Mildred Pierce,—alih-alih The Reader yang mengantarnya menyabet Oscar—di mana dia berperan sebagai pahlawan wanita kelas pekerja yang menolak untuk membiarkan orang lain mendikte apa yang akan ia kerjakan.

Alur

Dalam sejarah peradaban manusia, ada bidang tertentu dari aktivitas manusia di mana seorang amatir yang brilian dapat memberikan kontribusi penting. Bidang-bidang ini termasuk arkeologi, astronomi, dan, pada tingkat yang menggelikan, hal ini juga bisa terjadi pada area politik. 

Salah satu amatir itu adalah Mary Anning (1799-1847), seorang wanita Inggris yang tinggal di Lyme Regis, di pantai Dorset—atau, seperti yang kadang-kadang dan tidak cukup dikenal, Jurassic Coast.

Tebing yang runtuh di sepanjang pantai, yang berasal dari periode Trias, Jurassic, dan Cretaceous, adalah tempat berburu yang menyenangkan bagi siapa saja yang mencari sisa-sisa fosil makhluk purba.

Mary, putri seorang pembuat lemari, adalah satu dari sepuluh bersaudara, dan seorang pencari fosil yang luar biasa, yang menggali kerangka ichthyosaurus sebelum dia mencapai usia remaja. 

Mary adalah wanita yang kasar dan keras kepala yang menghargai keterasingannya dan lebih memilih kerja kasar daripada mengobrol. Dia seperti makhluk di bumi, umang-umang manusia yang sesungguhnya. 

Salah satu hal pertama yang kita lihat dia lakukan adalah memanjat sisi tebing, membongkar batu besar dan kemudian meluncur ke bawah, mendarat dengan suara keras, disamping bebatuan fosil yang nyaris menghantam bagian tubuhnya.

Pecahan batunya mengungkap peninggalan fosil di dalamnya: amon,—jadi dasar judul film—moluska yang punah dengan pola spiral yang mirip tanda. Salah satu elemen desain alam yang lebih mempesona, amon juga merupakan simbol, untuk kebebasan emosional yang memusingkan di mana Mary akan segera menemukan dirinya sendiri.

Dan Amon, meskipun kasar dan taktil, tidak seutuhnya terleps dari abstraksi atau implikasi metaforis dari profesi Mary. Seorang ilmuwan otodidak, dia menjalankan toko cindramata bersama ibunya yang sakit, Molly (Gemma Jones), serta menjual pernak-pernik kerang dan tchotchkes. 

Tapi semangatnya yang sebenarnya adalah menggali bebatuan besar dengan hati-hati dan keahlian yang luar biasa, mengekspos peninggalan indah di dalamnya. 

Anda dapat mengatakan film ini mempraktikkan sisi emosional paleontology serentak menggali rahasia Mary yang telah lama terkubur dan perlahan-lahan mengungkapkannya. Lapis demi lapis yang menarik.

Kehidupan keras Mery dengan cepat diadu dengan kedatangan Charlotte. Pasca depresi karena keguguran, Charlotte diantar suaminya yang kaya, Roderick Murchison (James McArdle yang nakal), seorang ahli geologi untuk bertemu Mery agar Mery bisa mengurangi “Melankoli ringan” istrinya.

Baca Juga: Lubang Besar Jaminan Sosial dan Jebakan Politik Orwellian pada Masa Krisis

Awalnya kedatangan Charlotte sangat membebani Mery—tugas yang dengan enggan disetujui oleh karena dia sudah memiliki pasien tetap lainnya, yakni ibunya yang sakit. Namun perlahan, situasi berubah, oleh Mery, Charlotte diberi resep perawatan udara laut yang asin dan berenang diantara buih gelombang laut.

Untungnya, kondisi Charlotte membaik dengan cepat, sebagian berkat salep yang diterapkan Mary dengan keterampilan yang terlatih. Tapi obat yang paling mujarab mungkin adalah Mary itu sendiri.

Meskipun ada beberapa gesekan serius di awal perjumpaan dan beberapa air mata putus asa, Charlotte akhirnya menikmati perjumpaannya dengan Mery. Dia membantu pekerjaan Mary yang terbukti dapat memberi energi lebih bagi Mery.

Secara umum, masalah sentral dalam “Amon” tidak mudah diidentifikasi, apalagi diselesaikan. Perbedaan jelas dalam usia, kelas, kepribadian, dan fisik yang memisahkan kedua wanita ini tetapi juga serentak perbedaan ini justru dapat juga membuat mereka, dalam banyak hal, bisa menjadi pasangan yang ideal.Ammonite FilmKetika Mary melakukan pekerjaan rumah sehari-hari, kita justru melihat tampilan yang kontras dari tangan Charlotte, ia melakukan hal-hal seperti bermain piano atau menyulam sapu tangan.

“Tulang halus” Charlotte secara alami membangkitkan rasa untuk melindungi dari Mary, serentak juga membuat sikap kasarnya melembut.

Penampilan Ronan semakin bersinar saat depresi ringan Charlotte surut dan kekuatan alaminya serta nafsu untuk hidup muncul kembali. Mary terpikat oleh kekuatan itu; dia juga menyadari bahwa itu bertentangan dengan temperamen masamnya sendiri dan keengganan kronisnya untuk membiarkan dunia luar masuk.

Tentang Kehidupan

Meskipun ceritanya berakar pada sejarah, ikatan romantis di intinya sebagian besar adalah masalah interpretatif. Pada kehidupan sejarah yang nyata Murchison yang asli adalah teman dekat Anning (dan akhirnya menjadi ahli geologi sendiri), tidak jelas apakah Charlotte dan Mery adalah sepasang kekasih.

Tapi Amon, yang hadir sebagai sebuah karya seni daripada sains atau sejarah, tidak ragu untuk menyimpang dari catatan yang diketahui serentak tampil dengan kecerdasan, keindahan, dan modernisme yang terasa semakin menguatkan.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang wanita dari masa lalu Mary (Fiona Shaw yang sempurna), hambatan utama bagi kebahagiaan pasangan itu bukanlah gosip lingkungan atau stigma sosial homoseksualitas; tetapi datang dari Mery sendiri. Keengganannya untuk berkompromi atau menyerahkan kendali.

Baca Juga: Atlantics: Potret Bahaya Wajah Ganda Kapitalisme dan Migrasi

Dan wawasan inilah yang mengungkapkan “Amon” untuk apa akhirnya: bukan sebuah kisah cinta terlarang yang luas dan transenden dari potret memilukan kesendirian yang dipaksakan, tetapi kepada kisah tentang seorang wanita yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menemukan pemenuhan dalam benda mati.

Pekerjaan yang kita lakukan, pernak-pernik dan harta karun yang kita pegang teguh, bisa menjadi gudang penting dari memori, perasaan, data dan sejarah hidup kita sendiri

Fosil, sebagaimana dalam “Amon” sebetul-betulnya adalah catatan kehidupan yang dijalankan dengan baik bukan kematian. Seperti banyak hal lainnya—genggaman tangan, berenang di ombak, pelukan kekasih—itu  juga bisa menjadi bukti bahwa kita menjalani kehidupan dengan baik.

 

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage 

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari  Petrus Kanisius Siga Tage

 


Spread the love