Spread the love

Judul: Kitab Cerita: Esai-Esai Anak dan Pustaka
Penulis: Setyaningsih
Tebal: 82 hlm; 12 cm x 18 cm
Penerbit: Bilik Literasi
Cetakan: I, 2020
ISBN: 978-623-7258-43-8

***

Buku anak masih seperti mukjizat. Ia semacam kitab sakral nan suci yang tak boleh disentuh sembarang orang.

Kesakralan itu teralami pada laku pembacaan kita: kedekatan, penghormatan dan tafsiran. Sebuah keberjarakan terhadap buku anak, yang kadangkala menjadi pembentuk resepsi atas anak, mentalitas, dan penentuan nasib (literasi) anak.

Siapakah perempuan kritikus sastra (anak) di Indonesia?

Berapakah yang masih menjadi penghayat buku-buku anak?

Di Indonesia, kita dengan sangat yakin menjawab masih minim jumlahnya. Mungkin bisa dihitung jari. Kita akrab menjumpai kritikus masih kaum laki-laki.

Setyaningsih mungkin pengecualian. Melalui buku Kitab Cerita: Esai-Esai Anak dan Pustaka (Bilik Literasi, 2020) tak ingin membebek pada lakon zaman itu.

Bagi dia, bacaan anak bukan sekedar mampir lewat untuk mengisi keluangan hidup. Tapi ia perlu dihayati kendati bisa menentukan nasib setiap generasi untuk memantapkan diri bertarung dalam kehidupan sosial, intelektual dan kemanusiaan.

Ketajaman menalaah bacaan anak dapat menyorot kontestasi politik buku anak-anak di Indonesia, dari masa ke masa. Selain itu, ia mengantarkan Setyaningsih mendapatkan sejumlah penghargaan, salah satunya memenangkan Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2017.

Konsistensinya pun terlihat dalam beberapa karyanya, Wangi dari Rumah Mbah Surti (2017), Koki Petualang dari Desa Orke (2018), Kacamata Onde (2018), Konferensi Musim Sejagat (2018), dan termasuk buku ini yang berisi 10 esai anak setebal 82 halaman.

Tilikan tajam pada buku anak menjadi penjenguk dan pembongkar kelam sejarah Indonesia dan kontestasi buku-buku anak.

Setyaningsih melihat ada politisasi bacaan anak terjadi sejak masa Orde Baru. Praktik itu di terjemahkan lewat agenda proyek bacaan-bacaan anak.

Dalam esai Negara dan Bacaan Anak (halaman 31), kita jadi tahu bahwa pengadaan buku anak Inpres pada 70-an bercap “Milik Negara Tidak Diperdagangkan” adalah bersifat politis.

Agenda bombastis tersebut menjadi arena politik kekuasaan. Dengan program itu, bagi Setyaningsih, anak ”dipaksa” paham tentang koperasi, modernisasi, transmigrasi, pemberantasan buta aksara dan kemajuan negara (halaman 27). Penguasa menggunakan buku anak sebagai propaganda pembangunan.

Mental budak propaganda ciptaan Orde Baru tidak mudah dilupakan. Ia masih tertanam kuat hingga sekarang.

Mata kita harus menerima segala pesanan lewat program penulisan buku cetak dan digital. Segala konsep dan hadirnya buku-buku anak selalu ada tangan kekuasaan.

Ketika negara mengadakan acara-acara gerakan literasi nasional (GLN) misalnya, pada tanggal 17-18, 2018 di Aula Bamboo Hotel Ibis Stules, Jakarta Utara,  kita masih mendapati itu dari standar pilihan ‘tema’ antara negara dan penulis cerita anak.

Setyaningsih sebagai pelaku yang turut diundang merasakannya. Ia menulis: “meski berjarak sekian tahun Orde Baru berkuasa, ciri bacaan negara yang terlalu berambisi birokratis tetap sulit dihapuskan” (halaman 33).

Tema-tema yang diajukan masih tentang kemajuan desa dan kota. Serta, bagaimana menjadi anak Indonesia.

Seolah tabu jika mengubah kriteria buku anak dari yang terkesan moralis dan nasionalis menjadi yang menyenangkan, tampil manis ala buku penerbit mayor-indie dan enak di baca.

Sedemikian jauh politisasi bacaan anak, Setyaningsih menemukan di tempat lain. Di esai Politik Ilustrasi Bacaan Anak (halaman, 13), dia melihat politisasi bacaan anak tidak hanya terjadi di buku, tapi juga di ilustrasi dan majalah.

Di ilustrasi, kita mendapati gambar buku anak yang tak sedap. Dalam sejarah, ada dua ilustrator Belanda, C. Jetse dan W.K de Bruin, pada abad ke-19 dan ke-20 yang sering menggambar dengan rasis.

Kaum pribumi digambar seperti babu dan budak. Dan mereka digambar seperti majikan, yang kemudian dijadikan ilustrasi.

Dari ilustrasi itu, mata anak “dipaksa” menerima diskriminasi rupa lewat ragam sampul buku tercetak. Padahal, pertumbuhan anak turut dipengaruhi ilustrasi. Kendati pertemuan awal anak dimulai dari ilustrasi ketimbang isi. Oleh mata ketimbang telinga. Ia menjejak di antara yang realis dan imajinatif.

Pada tingkat yang paling makro, menurut Setyaningsih, buku anak seharusnya didasarkan pada etika dan pewajahan yang manis dan puitis. Sehingga dapat menyebabkan limpahan penasaran keaksaraan dan bernilai edukasi.

Anak-anak (bisa) melampaui kertas dan warna-warna, tetapi sekaligus merasakan magisnya gambar dan kata-aksara.

Jika melihat perbukuan anak di Indonesia, kita semacam bertarung dalam politik dan laku kritis. Sebab peranan keduanya tidak sama tinggi.

Seperti peranan ilustrasi buku, tidak lebih tinggi atau rendah daripada teks. Sama-sama manautkan.BUKU CERITA ANAKSituasi seputar kondisi perbukuan anak yang begitu problematis, Setyaningsih menukik pada pembacaan buku anak dan biografi bacaan anak.

Setyaningsih menyodorkan sejumlah masalah bahwasanya orang tua di Indonesia juga melakukan politisasi terhadap bacaan anaknya.

Anak-anak dijejali pilihan buku menurut versi orang tuanya. Dengan pengharapan ketika anak membaca buku itu dapat menentukan apa yang diinginkan orangtauanya.

Pemilihan buku-buku anak dan penulisan buku anak yang serampangan, menurut Setyaningsih, membuat anak kehilangan greget, kehilangan gelora untuk membaca atau sekadar mendekati buku-buku selanjutnya. Padahal, buku cerita anak adalah kitab cerita dan kitab yang musti terbaca.

Ratusan, hingga ribuan karya buku-buku anak yang tersimpan di perpustakaan atau di toko buku, orang tua harus mampu menyusaikan diri dengan perkembangan minat baca anak. Anak-anak yang sekira mungkin tak membuat merasa terpaksa untuk membeli dan membacanya.

Terlepas dari keluhan dan kegetiran di atas, Setyaningsih dengan sigap mengatakan dalam esai Kartini: Ibu Gagasan Bacaan Anak (halaman 45), bahwa kita harus mencontoh Kartini, ibu gagasan bacaan anak.

Secara luwes nan adiluhung, putri asal Jepara itu, selalu memberikan percikan rangsangan dan spirit pada anak-anak untuk tidak berhenti beriang membaca.

Dari segi bahasa, ketajaman memilih buku dan kecerdasan bercerita membuat anak berdecak kagum. Kendati itu mereka tak henti-hentinya menderas dan berlaku kritis terhadap gambar, bahasa dan kata-kata.

Alhasil, buku ini mengajak kepada seluruh orang dewasa-tua atau yang biasa menemani anak-anak untuk tidak sekedar memfungsikan buku anak sekedar bacaan belaka.

Buku bacaan anak seharusnya dikembangkan pada pengembangan wacana dan edukasi sebagai cara pandang pembacaan yang otentik dan humanistik.

Buku anak sebagai konsepsi realitas memanglah bacaan. Namun, dalam praksisnya buku anak mengandung nilai-nilai positif-humanis untuk aktif dalam mengurai kesalahan-kenegatifan bacaan, pilihan dan lelaku menuju pendewasaan yang bermaslahat.

Buku ini sengaja hadir untuk menbedah hal itu. Sayangnya, dari pemilihan bahasa dan format esai, buku ini dipersembahkan bukan untuk dibaca para anak, tapi untuk orang dewasa-tua, pembaca buku anak. 

 

Oleh: Agus Wedi

 

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari Agus Wedi


Spread the love