Spread the love

Judul: Nilai budaya timur dan barat : konflik atau harmoni
Penulis: Thi Anh; di Indonesiakan oleh John Yap Pareira
Tebal: 102 hlm
Penerbit: Gramedia
Cetakan: 1974

***

“Kau hebat dalam kecepatan, tetapi tidak memikirkan tujuan akhir.

Kau lebih meningkatkan proses dan lupa hasil terakhir. Kau pikir jiwamu telah diselamatkan karena dapat menemukan radio.

Siapa manusia yang dapat kau pengaruhi dengan omonganmu yang tolol?

Peradaban macam apa yang menghasilkan majalah berhalaman seratus dua puluh dalam satu malam tetapi tak dapat memuat dua kolom yang bernilai?

Apa nilai ilmu penerbangan bagi manusia kalau hanya berfungsi membinasakan diri?

Kau seperti anak kecil yang bermain dengan pisau cukur!” (Gandhi).

Apa yang sedang Saudara/i baca adalah kritik Mahatma Gandhi atas orientasi masyarakat Barat modern pada kepemilikan barang yang berlebihan, pada produksi berbasis mesin yang semata-mata ingin memenuhi tujuan teknik, dan pada konsumsi kelewat batas yang semata-mata ingin memuaskan keinginan alias keserakahan tak terbatas.

Kepemilikan barang yang berlebihan, mode produksi yang semata-mata teknis, dan konsumsi yang tanpa batas memang dapat memuaskan ego manusia modern.

Namun, dari perspektif Timur, pemuasan ego melalui barang dan teknik seperti itu justru memperbudak jiwa manusia.

Jiwa manusia menjadi tidak bebas karena diperbudak nafsu keserakahan.

Padahal, dalam pandangan Timur, terutama Budhisme, keserakahan adalah tanha, yaitu salah satu sebab penderitaan.

Artinya, semakin seorang manusia terobsesi pada barang, mesin produksi, dan konsumsi semakin dia menderita.

Mengutip Vivekananda, garis batas antara dunia kaya dan dunia miskin dijelaskan sebagai berikut:

“Di Barat orang coba memecahkan persoalan berapa banyak manusia dapat memiliki, dan kita di Asia coba memecahkan persoalan bagaimana manusia dapat hidup dengan yang sedikit. Perjuangan ini dan perbedaan ini masih akan berlanjut selama beberapa abad.”

Oleh karena itu, bagi Gandhi, modernisme Barat seperti pisau cukur yang dipegang anak kecil.

Kita tahu, pisau cukur punya banyak sekali manfaat yang baik: dipakai untuk memotong benda-benda dan lain sebagainya.

Namun, jika dipakai oleh anak kecil, pisau cukur bisa sangat berbahaya: bisa memotong tubuhnya sendiri.

Seperti pisau cukur di tangan anak kecil, modernisme melahirkan banyak kemajuan teknik seperti temuan teknologi mesin yang mempermudah hidup manusia dan kemajuan peradaban etis seperti demokrasi dan hak-hak asasi manusia, tetapi juga serentak pada saat yang sama membawa akibat teknis yang mengerikan seperti Perang Dunia, bom atom, senjata pembunuhan massal, kamp konsentrasi, dan akibat etis yang sangat berbahaya seperti krisis ekologi dan lain sebagainya.

Dengan analogi pisau cukur dan anak kecil, Gandhi sesungguhnya mengolok-olok modernisme atau Pencerahan tepat pada jantungnya.

Kita tahu, Immanuel Kant mendefinisikan Pencerahan sebagai keluarnya manusia dari ketidakdewasaan yang diciptakannya sendiri.

Ketidakdewasaan yang dimaksud adalah ketidakberanian untuk menggunakan akal budi sendiri. Oleh karena itu, semboyan Pencerahan adalah Sapere Aude! atau beranilah berpikir sendiri!

Sebelum Kant, semangat Pencerahan itu secara amat gamblang sudah dikumandangkan oleh Rene Descartes.

Seluruh filsafat rasionalisme Cartesian berupaya mencari dan berpangkal pada satu kebenaran clara et distincta ini, yaitu cogito ergo sum atau saya berpikir, maka saya ada.

Cogito Descartes menandaskan dua hal penting, yaitu pertama, “saya”, manusia yang sedang berpikir adalah pusat segala sesuatu dan, “cogitans“, aktivitas berpikir adalah kebenaran yang tak tersangkal.

Pada Descartes, fajar humanisme yang mulai berhembus pada zaman Rennaisance bersinar jauh lebih terang dan radikal.

Manusia yang berpikir adalah segala-galanya.

Revolusi Prancis dalam bidang politik dan Revolusi Industri dalam bidang ekonomi adalah buah-buah awal dari humanisme secular ini. Itulah sebabnya Descartes didapuk sebagai Bapak Modernisme.

Pada sisi yang lain, bagi Gandhi, modernisme sama sekali tidak membuat masyarakat modern menjadi dewasa. Manusia malah menjadi budak nafsunya sendiri: budak produksi dan konsumsi.

Secara Marxian, kritik Gandhi tampak dalam fenomena pereduksian manusia menjadi hanya sekadar salah satu faktor produksi semata (exchange-value) dalam mesin besar bernama kapitalisme.

Secara Baudrillardan, kritik Gandhi tampak dalam fenomena konsumerisme masyarakat modern yang tidak mengkonsumsi barang/jasa karena nilai pakai (use-value), tetapi terutama karena nilai tanda (sign-value).

Itulah kritik Gandhi atas modernisme Barat yang meminjam ungkapan Jurgen Habermas “modernitas yang menyimpang dari rel yang sebenarnya.”

Kritik Mahatma Gandhi di atas bisa Saudara/i Pembaca temukan dalam buku “Nilai Budaya Timur dan Barat: Konflik atau Harmoni?” karangan To Thi Anh (1974).

Dengan latar belakang pengalaman Perang Vietnam–dan uniknya sedikit sekali menyinggung soal pengalaman berdarah itu–, wanita Vietnam yang menimba ilmu di Prancis & AS ini, melakukan studi perbandingan antara nilai budaya Timur dan Barat.

Maksud Thin Anh menerbitkan catatan ini adalah agar “lewat “Tao” saya, Anda dapat menemukan “Tao” Anda, dan menyesuaikannya secara lebih sempurna dengan “Tao” alam semesta.”

Maksud Thi Anh bisa dimengerti karena dia pernah hidup di tengah kebudayaan Timur dan Barat.

Dia menyerap kebudayaan Timur karena dibesarkan dalam keluarga Konfusianis di Vietnam Selatan yang cara hidupnya merupakan perpaduan harmonis antara ajaran Taoisme dan Budhisme.

Dia menyerap kebudayaan Barat karena pernah menimba ilmu filsafat selama lima tahun di Sorbonne, Paris dan melanjutkan studi di Amerika Serikat pada 1972.

Menyerap dua nilai budaya yang berbeda menumbuhkan unsur-unsur yang saling bertentangan dalam diri Thi Anh.

Dia ingin mengenal dan memadukan unsur-unsur yang bertentangan itu dalam suatu kesatuan.

Seperti filsafat Yin dan Yang, Thi Anh yakin, nilai budaya Timur dan Barat dapat disintesiskan untuk menghasilkan suatu perpaduan nilai budaya baru yang lebih padu dan agung.

Dari Timur, Barat dapat belajar tentang partisipasi yang terarah pada harmoni.

Dari Barat, Timur dapat belajar tentang individualisasi yang terarah pada kebebasan dan aktualisasi pribadi.

Istilah Timur itu sendiri merujuk pada India, China, Korea, Jepang, dan Negara-negara Asia Tenggara yang dipengaruhi India dan China, sedangkan istilah Barat merujuk pada Eropa Barat, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Mengutip Denis de Rougemont, Thi Anh lebih sering menggunakan istilah Timur dan Barat dalam pengertian simbolis dari pada geografis. Timur dan Barat secara simbolis menunjuk pada pengakuan eksistensi historis dan spiritual dari dua pengalaman, dua tipe petualangan manusia, dan dua jalan yang berbeda yang berselisih sejak dahulu kala.

Oleh karena itu, studinya dalam buku ini difokuskan untuk menjawab pertanyaan berikut:

Apa yang menjadi nilai khas kebudayaan Timur bila dibandingkan dengan kebudayaan Barat?

Apakah ada perbedaan dasar antara pandangan hidup Timur dan Barat?

Apakah perbedaan-perbedaan ini terletak dalam perbedaan penekanan pada kemungkinan-kemungkinan manusia yang sama?

Apa yang dapat dipelajari orang Timur dari orang Barat, dan sebaliknya?

Unsur universal kebudayaan manakah yang dapat memperkaya kemanusiaan?Resensi Buku Buku To Thi Anh Nilai Budaya Timur Dan Barat Konflik Atau HarmonThi Anh menjawab pertanyaan itu dengan mencoba melakukan sintesis antara kebudayaan Timur yang cenderung mengkultuskan harmoni di satu sisi dan kebudayaan Barat yang cenderung mengkultuskan persona di sisi lain.

Untuk kebudayaan Timur, dia menimba inspirasi dari Konfusianisme, Taoisme, dan Budhisme.

Untuk kebudayaan Barat, dia menimba inspirasi dari kebudayaan masyarakat Yunani (filsafat), Yerusalem (Yudaisme dan Kekristenan), Romawi (hukum dan organisasi modern), dan Amerika Serikat kontemporer (kebebasan dan penguasaan teknologi).

Thi Anh melihat konfusianisme sebagai suatu humanisme dengan tujuan kesejahteraan manusia dalam hubungan yang harmonis dengan masyarakat.

Tema utama Thia Anh tentang Taoisme adalah keselarasan manusia dengan Tao dan realisasi suatu model kosmis yang tampak dalam semua benda.

Akhirnya, Budhisme merupakan jawaban atas persoalan penderitaan manusia dengan menunjukkan langkah-langkah menuju keselamatan yang pertama kali dialami Sidharta Gautama alias Budha.

Berdasarkan studi atas tiga tradisi besar budaya Timur itu, Thi Anh menyimpulkan bahwa harmoni merupakan ciri paling khas budaya Timur. Ini adalah kutipan lengkap pendapatnya:

“Rasa harmoni menurut saya merupakan ciri paling khas psikologi Asia. Ia menjelaskan nilai-nilai berharga yang timbul daripadanya tetapi sekaligus menjelaskan kelemahan-kelemahan yang ada.

Di satu pihak mereka ramah, baik hati, bijak, menghargai dan mempertenggangkan orang lain, mereka ingin hidup akrab bersama dengan keluarga, kenalan dan tetangga, dan kadang-kadang mereka rela melepaskan hak demi menjaga hubungan baik itu. Idealnya ialah bahwa hidup personal mereka, hubungan-hubungan antara mereka dan hal-hal yang bertalian dengan itu harus kelihatan damai dan harmonis.

Tetapi, di lain pihak, harga yang harus dibayar untuk ideal semacam ini sangat tinggi. Mereka hidup dalam ketakutan akan kehilangan muka; mereka kelihatan tidak menunjukkan perasaan yang sebenarnya, air muka mereka tak dapat diduga, mereka menekan perasaan-perasaan yang mengganggu: tak setuju, marah, tak menghargai, benci; mereka saling menarik diri secara diam-diam atau bersikap pura-pura.

Dalam kebudayaan Timur, ada semacam peraturan tak tertulis bahwa seorang individu tidak boleh merusakkan harmoni dan damai dengan lingkungannya.

Adalah lebih baik seorang individu menderita secara diam-diam dari pada berani secara terbuka mengubah tatanan harmoni yang ada. Dengan kata lain, harmoni masyarakat atau komunitas jauh lebih berharga dari pada kebebasan individu”.

Hal yang sangat kontras diperoleh Thi Anh saat mendalami kebudayaan Barat yang dialaminya sebagai pengkultusan terhadap persona atau pribadi.

Mengutip Denis de Rougemont, Thi Anh berpendapat, dua kenyataan paling spesifik dari masyarakat Barat adalah persona dan mesin.

Pada satu sisi, masyarakat Barat sangat menjunjung tinggi persona. Pengertian tentang persona itu sendiri berkembang melalui tiga tradisi, yaitu tradisi Yunani yang memproposalkan kebebasan intelektual, tradisi Kristen yang menyimbolkan idealisme manusia, dan tradisi Romawi yang mempelopori ketertiban pemerintahan.

Selanjutnya, tradisi humanisme sekular yang menempatkan martabat manusia sebagai titik pusat refleksi kemudian melahirkan nilai-nilai besar di Barat seperti demokrasi, institusi sosial, dan kesejahteraan ekonomi.

Sementara itu, pada lain sisi, dengan kepercayaan yang begitu besar pada kemampuan individu untuk mencipta, mesin dan teknologi berkembang semakin pesat.

Melalui mesin dan teknologi, manusia dapat menguasai dan menundukkan materi.

Alam lingkungan dapat diobjektivikasi dengan teknologi demi perkembangan pribadi manusia.

Pengkultusan persona dan mesin tentu menggerogoti kehidupan dan solidaritas sosial masyarakat Barat. Sebab, solidaritas sosial tak dapat ditenun dalam sebuah komunitas yang dihuni oleh para egois.

Ekses buruk modernisme itulah yang kemudian dikritik baik oleh para pemikir dari kebudayaan Timur maupun oleh para pemikir dari kebudayaan Barat itu sendiri seperti telah diwanti dalam bagian awal catatan ini.

Jika budaya Timur dan Barat selalu punya plus-minus masing-masing, apa dan bagaimana pola relasi antarbudaya tersebut?

Apakah Timur dan Barat dapat bertemu? Kalau bertemu, apakah Konflik atau harmoni?

Menurut Thi Anh, hubungan antara Timur dan Barat tak dapat dibikin mudah dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan yang ada.

Sikap yang pas adalah mengenal dan menempatkan masing-masing kebudayaan itu dalam konteks sosial dan psikologinya untuk dapat mengenal kecenderungan-kecenderungan manusiawi yang tersembunyi di dalamnya.

Perbedaan itu bukan hanya hal yang biasa, tetapi juga memperkaya dan memperlihatkan kemampuan manusia dalam menjawabi tantangan lingkungan geografis dan sejarah tempat dia hidup.

Pada akhirnya, konflik antarbudaya adalah konflik antarkemampuan kodrati manusia untuk bertahan hidup sesuai dengan kondisi objektif lingkungan masing-masing.

Namun, Thi Anh optimis: Timur dan Barat bisa saling melengkapi dan memperkaya justru karena perbedaan mereka. Hal itu terjadi dalam dua tingkat.

Pada level pertama, menerjemahkan sintesis Timur dan Barat ke dalam struktur politik, ekonomi, dan sosial sesuai konteks negeri masing-masing, seperti yang pernah dilakukan Gandhi di India.

Kedua, mengharmoniskan nilai-nilai budaya Timur dan Barat dalam diri sendiri dan menampakkannya dalam gaya hidup sehari-hari.

Yin dan Yang ditakdirkan untuk saling melengkapi. Begitu juga Timur dan Barat, demi kesempurnaan manusia,” tulis Thi Anh.

Selain saling belajar antara Timur dan Barat, studi Thi Anh juga fokus pada dua (2) soal berikut:

(1) Bagaimana Dunia Ketiga (Asia, Amerika Latin, dan Afrika) memodernisasi negeri mereka dengan industrialisasi dan mengambil alih struktur sosial Barat tanpa kehilangan keunikan mereka?

(2) Di hadapan pilihan atau penyatuan politis atau pembunuhan massal, apa usaha yang mesti manusia tempuh agar bisa mempersatukan semua penghuni planet kecil ini sehingga tidak akan ada lagi dikotomi Timur dan Barat, tetapi hanya ada satu keluarga besar bumi manusia?

Hampir empat dekade telah berlalu sejak buku Thi Anh terbit. Namun, relevansi pemikirannya masih tetap bertahan.

Pandemi COVID – 19 membuat dua soal, terutama soal (2), yang dikemukakan Thi Anh menjadi sangat mendesak untuk dijawab; bukan hanya oleh para pemimpin di masing-masing Negara di Timur atau di Barat, tetapi oleh suatu kepemimpinan bersama Timur-Barat yang terkoordinasi.

Meminjam ungkapan Marthin Luther King yang dikutip Slavoj Žižek “kita mungkin datang dengan kapal yang berbeda, tetapi kita berada dalam perahu yang sama sekarang”.

Berada di dalam perahu yang sama di tengah badai penderitaan fisik dan badai ekonomi akibat korona serta badai kekerasan akibat perburuan sumber daya ekonomi, Timur dan Barat mesti melakukan kerja sama dan koordinasi secara bersama-sama untuk menyelamatkan kehidupan umat manusia dari barbarisme.

Buku ini layak baca bagi para mahasiswa, dosen, cendikiawan, politikus, militer, dan budayawan yang masih merindukan pembangunan tata dunia baru yang adil dan damai.

Oleh: Silvano Keo Bhaghi

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari Silvano Keo Bhaghi


Spread the love