Spread the love

 

Judul: Letters from a Stoic (Epistulae morales ad Lucilium)
Penulis: Lucius Annaeus Seneca (Terjemahan Inggris: Robin Campbell)
Tebal: 256 halaman
Penerbit: Pinguin Books
Cetakan: XXVI, 2004
ISBN: 0140442103 (ISBN13: 9780140442106)

**

Dalam waktu kurang dari delapan bulan, sejak dilaporkan pada awal Januari lalu, COVID-19 telah berubah dari kekhawatiran periferi yang nyaris tidak terdaftar dalam perkiraan, menjadi krisis global terbesar sejak Perang Dunia II yang menyedot begitu banyak energi dan perhatian.

Hari-hari ini, kita hidup di masa yang luar biasa, dan hampir tidak ada negara yang lolos dari dampak buruk virus. 

Di Amerika Serikat, misalnya, Federal Reserve memperkirakan bahwa tingkat pengangguran bisa meroket hingga 32 persen—angka pengangguran ini mungkin yang tertinggi dialami negara itu selama sejarah depresi hebat berlangsung.

Di Indonesia, depresi ekonomi diperkirakan akan menyentuh level minus tiga persen, kejatuhan yang jauh lebih dalam dari krisis manapun yang dialami bangsa ini.

Tekanan yang sama juga berlaku untuk Uni Eropa dan mungkin saja meluas hingga seluruh dataran di Asia maupun Afrika.

Orang-orang, banyak mengalami kehilangan mata pencaharian atau terputus dari kolega. Sementara yang lain mungkin juga sedang takut tentang apa yang akan terjadi ketika mereka mengalami demam atau batuk.

Meskipun demikian, penyakit, kesulitan keuangan, dan kesepian tidak selalu berarti pertanda akhir dunia.

Adalah seorang pria yang sangat menginspirasi, mengajarkan kita untuk bertahan dalam kesulitan itu; Lucius Annaeus Seneca,—seorang  filsuf dan negarawan Romawi yang hidup sezaman dengan Yesus—yang kumpulan tulisannya dapat kita baca dalam buku Letters from a Stoic

Seneca diceritakan menderita asma, dan kondisinya terkadang membuatnya harus terbaring di tempat tidur dan terengah-engah dalam waktu lama. 

Seiring bertambahnya usia, ia bahkan berpikir untuk bunuh diri karena kesengsaraan yang ia rasakan begitu hebat. 

Penyakit seumur hidup dan tak pernah sembuh yang dialami Seneca, serta latar belakangnya dalam filsafat Stoic, memberinya wawasan yang ia butuhkan untuk menemukan martabat dan kegembiraan dalam masa-masa kesulitan yang panjang, ia  bahkan pernah menulis, “Hidup adalah tindakan keberanian.”

Di masa pandemi Anda tidak harus dinyatakan positif COVID-19 untuk menghargai penghiburan yang ditawarkan oleh kebijaksanaan Seneca. 

Pandemik adalah krisis multitiered—virus itu sendiri hanyalah satu di antara banyak gangguan serius dalam hidup kita yang boleh jadi telah mendatangkan penderitaan. 

Mungkin Anda kehilangan pekerjaan setelah ekonomi di negara Anda jatuh terkulai. 

Atau mungkin Anda baru-baru ini didiagnosis menderita diabetes dan Anda khawatir tentang bagaimana virus ini dapat memperburuk kondisi Anda.

Anda juga mungkin tidak yakin bagaimana bertahan dalam periode isolasi fisik yang serba tidak menentu.

Ditengah situasi semacam itu, Seneca, yang pernah diasingkan ke Corsica oleh Kaisar Claudius, akan mengatakan satu atau dua hal tentang perpisahan dari teman dan keluarga.

Titik awalnya adalah memiliki belas kasih untuk diri kita sendiri. Bagaimanapun, kita tidak sepenuhnya dengan mudah mengendalikan reaksi awal kita terhadap diagnosis atau segala macam hal yang tidak kita duga.

Seperti yang ditulis Seneca dalam suratnya yang ke 11 kepada Lucilius:

When they face a crowd of people some men, even ones with the stoutest of hearts, break into a sort of sweat one usually sees on persons in an overheated or exhausted state; some men experience a trembling at the knees when they are about to speak; some a chattering of the teeth, a stuttering tongue or stammering lips. These are things which neither training nor experience ever eliminates. Nature just wields her power and uses the particular weakness to make even the strongest conscious of her. (Hal. 54)

Di sini, Seneca sedang mendeskripsikan perasaan gugup yang disebabkan ketika hendak memulai berbicara di depan umum.

Namun, meskipun demikian, ia secara tidak langsung tengah mengajarkan perihal kesadaran diri serentak upaya pengendalian di dalamnya ketika kita berhadapan dengan suatu persoalan yang baru.

Bagimanapun, menurut Seneca, ujian ketahanan yang sebenarnya terletak pada upaya kita mengontrol bentuk subordinasi kesadaran.

Dengan menjadi sadar kita dapat memperjelas dan mengidentifikasi ancaman yang datang.

Dalam suratnya yang ke 78 kepada Lucilius (Hal 130), yang pada saat itu  ia sedang berjuang melawan asma, Seneca menulis tiga ketakutan paling umum yang menyerang kita selama sakit: “sekarat, penderitaan fisik, dan hilangnya kebahagiaan” 

Dengan sifatnya yang terus terang, ia berpendapat bahwa takut akan penyakit bisa membunuh itu sangat tidak rasional. 

“Kamu tidak akan mati karena kamu sakit, tetapi karena kamu masih hidup,” katanya. 

“Akhir itu masih menunggumu saat kau sudah sembuh. Untuk sembuh kembali, Anda mungkin bisa keluar dari sakit tetapi tidak mati.” Pungkas Seneca.

Maksud Seneca bukan berarti bahwa hidup itu tidak penting, atau bahwa kita harus acuh tak acuh terhadap nasihat medis. 

Sebaliknya, ia memperingatkan bahwa ketakutan akan hal-hal yang tak terhindarkan hanya menambah penderitaan kita, karena dalam penyakit, kecemasan yang berkepanjangan adalah cawan petri untuk semua jenis masalah kesehatan yang buruk, termasuk, ironisnya, peningkatan kerentanan terhadap penyakit menular.

Seneca menempatkan pentingnya upaya mengelola kecemasan, ia menginstruksikan Lucilius untuk “always take full note of fortune’s habit of behaving just as she pleases, treating her as if she were actually going to do everything it is in her power to do so.” 

Menghadapi ketakutan, Seneca menyebut praktik ini disebut dengan premeditio malorum, dan ada panduan sederhana untuk mulai menerapkan praktik ini untuk situasi kita sendiri. 

Setelah melakukan ini, “apa pun yang Anda harapkan selama beberapa waktu tidak terlalu mengejutkan,” Seneca berjanji kepada temannya.

Ketakutan akan kematian tidak hanya buruk bagi individu yang bersangkutan. Ini juga menciptakan masalah bagi orang lain. 

Pada beberapa waktu  lalu, seorang dokter dari Farmington memperingatkan tentang gelombang besar penduduk New York yang melarikan diri  ke Maine dari negara mereka untuk menghindari pandemi. 

Seneca filsafat Stoic

Dengan kata lain, orang hampir pasti sudah terpajan COVID-19 dan begitu takut terhadap virus sehingga mereka berisiko menginfeksi populasi negara lain ketika berupaya mencari perlindungan. 

Gangguan kedua yang diidentifikasi Seneca adalah penderitaan fisik.

Dia mengakui bahwa rasa sakit adalah bagian dari penyakit, tetapi dia menjanjikan Lucilius pengalaman yang lebih baik jika dia memisahkan sensasi itu sendiri dari persepsi berlebihan tentang itu:

Provided that one’s thinking has not been adding anything to it, pain is a trivial sort of thing. If by contrast you start giving yourself encouragement, saying to yourself, “it’s nothing—or nothing much, anyway—let’s stick it out, it’ll be over presently,” then in thinking it is a trivial matter you will be ensuring that it actually is. Everything hangs on one’s thinking. The love of power or money or luxurious living are not the only things guided by popular thinking. We take our cue from people’s thinking even in the way we feel pain. (Hal. 135)

Seneca mendorong Lucilius untuk membentengi dirinya dengan memikirkan orang-orang terkenal yang pernah berurusan dengan situasi buruk. “Ini adalah waktu untuk mengingat kembali semua individu dengan keberanian luar biasa yang telah menang karena rasa sakit,” tulisnya. 

Mengidentifikasi panutan kita adalah praktik penting dalam Stoicism, karena orang yang berhasil keluar dari tekanan menginspirasi kita dan menjadi tolok ukur untuk mengukur perilaku kita sendiri. 

Dalam hal ini, mereka juga dapat memberi kita perspektif, yang pada gilirannya membentuk cara kita berhadapan dengan penderitaan kita sendiri.

Tentu saja, rasa sakit yang sesungguhnya bukan satu-satunya cara penyakit dapat melemahkan tubuh kita. 

Kita juga bisa kehilangan kemampuan untuk tidur, berjalan, atau dalam kasus COVID-19 yang paling ekstrem, kehilangan kemampuan bernafas. 

Pada kesempatan yang lain Seneca menetapkan batas obyektif untuk apa yang dapat kita capai saat kita sakit. 

Jawaban Seneca mungkin saja membantu untuk menggeser prioritas kita saat berhadapan dengan tekanan. Atau, seperti yang dikatakan oleh penulis Stoic modern, Massimo Pigliucci, “kita perlu fokus pada kemampuan, bukan pada disabilitas.”

Dalam satu bagian yang sangat mengharukan, Seneca menulis:

“If you meet sickness in a sensible matter, do you really think you have accomplished nothing? You will be demonstrating that even if one cannot always beat it one can always bear an illness. There is room for heroism, I assure you, in bed as anywhere else. War and the battlefront are not the only spheres in which proof is to be had of a spirited and fearless character: a person’s bravery is no less evident under the bedclothes.” (Hal. 138)

Gangguan terakhir yang diakui Seneca adalah hilangnya kebahagiaan. Kita semua mengetahui hal ini, terutama jika kita hidup di negara yang memberlakukan aturan penjarakan sosial yang ketat.

Bertindak mengikuti saran terbaik dari ahli epidemiologi dan kesehatan, banyak pemerintah telah menutup bioskop, pernikahan, pantai, dan semua bisnis tidak penting lainnya. 

Penjarakan sosial ini benarbenar menyelamatkan nyawa. Namun, kondisi ini berpotensi menimbulkan stres. 

Seneca berpendapat bahwa pada akhirnya, kita akan berhenti mendambakan apa yang dulu kita inginkan. “And there is nothing harsh about having to do without things for which you have ceased to have any craving,” simpulnya. (Apa yang Seneca gambarkan adalah adaptasi hedonis, fenomena yang dibuktikan dengan baik dalam psikologi manusia.)

Namun, bahkan dengan teknologi modern, isolasi fisik dari keluarga dan teman-teman sangat tidak menyenangkan. Tidak tergoyahkan, Seneca meminta kita untuk merenungkan keunggulan unik jarak fisik dalam surat lain kepada temannya:

“There’s nothing to stop you from enjoying the company of absent friends, as often as you like, too, and for as long as you like. This pleasure in their company—and there’s no greater pleasure—is one we enjoy the more when we’re absent from one another… Possession of a friend should be with the spirit: the spirit’s never absent. It sees daily whoever it likes. So share with me my studies, my meals, my walks. Life would be restricted indeed if there were any barrier to our imaginations, I see you, my dear Lucilius. I hear you at this very moment. I feel so very much with you at this moment that I wonder whether I shouldn’t start writing you notes rather than letters!” (Hal. 109)

Sepanjang hidup dan tulisannya, Seneca menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kekuatan untuk bertindak heroik—bahkan jika itu berarti melakukan sesuatu yang sederhana seperti tetap terpaku dan diam di atas sofa rumah Anda. 

Kita semua dapat menunjukkan kepada keturunan kita bahwa kita adalah generasi yang menghentikan segalanya untuk melindungi masyarakat kita yang paling rentan. Dan tentu saja, itu harus dimulai dengan ketabahan.

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage 

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari  Petrus Kanisius Siga Tage

 

 


Spread the love