Spread the love

Judul Novel: Ilalang Tanah Gersang

Penulis: Kopong Bunga Lamawuran

Penerbit: Kuncup (Malang)

Tahun Terbit: 2019

Jumlah Halaman: xiv + 266 Halaman

ISBN: 978-623-7283-29-4

***

Tokoh kunci yang mewarnai seluruh Ilalang Tanah Gersang karya Kopong Bunga Lamawuran ialah Daruk.

Berlatar utama di Witihama, Adonara, NTT, Daruk ditampilkan sebagai pemuda putus sekolah yang terombang-ambing di antara begitu banyak pilihan untuk survive, bertahan hidup.

Dari mengurus babi dan kambing sampai memasak buat sesama pekerja proyek di Larantuka, dari bantu membuat kue di Kios Rembulan sampai kembali mengurus kebun, dari menyekolahkan anaknya sampai membuka “Daruk Menggenggam Dunia”, kios pribadinya.

Daruk begitu menjengkelkan, penuh optimisme, dan tidak segan-segan melancarkan kritik. Menjengkelkan karena malas dan suka memerintah Ibu juga istrinyanya membuatkan kopi. Penuh optimisme karena selalu menceritakan macam-macam impian pada Ajal dan Herun, dua sahabatnya.

Selain itu, ia tidak segan-segan melancarkan kritik, karena, bagi Daruk, sekolah dan Negara itu banyak tidak beresnya. Guru-guru suka memukul dan memaki, pemerintah tidak ambil pusing pada penderitaan warganya juga jalan yang nganga berlubang.

Karakter ketiga yang inheren pada Daruk inilah satu-satunya poin yang membuatnya tampak istimewa, dipadukan dengan ketabahannya ditinggal mati oleh ayah juga ibunya.

Daruk kemudian menikah dengan seorang gadis Mudakeputuk, Larantuka. Memiliki seorang anak laki-laki, Sili, yang berhasil dibiayai sampai wisuda di Universitas Nusa Cendana Kupang, lalu bekerja di Kantor Gubernur.

Daruk kemudian wafat di rumah yang baru saja ia bangun, di Witihama, di hadapan kedua menantu, istri, juga anak semata-wayangnya. Daruk didera sakit akibat terlalu banyak merokok sejak usia muda.

Keunggulan novel ini ialah lokalitasnya (Lokalität). Kopong berhasil meramu realitas sehari-hari menjadi sebuah karya sastra yang sarat kritik juga auto-kritik. Meski berputar-putar, Kopong sukses mengocok dinamika tokoh sehingga mengalir saat dibaca.

Orisinalitas disajikan sedemikian, dipoles dengan bumbu improvisasi, menjadikan novel ini seolah berbicara mewakili kita semua. Yah, kita semua, Orang Timur Indonesia.

Potret Perempuan Timur

Selepas membaca Ilalang Tanah Gersang, alih-alih tertarik pada Daruk, saya justru terpikat pada segala apa yang menimpa Deran dan Golu. Deran adalah ibu kandung Daruk. Golu adalah istrinya. Kedua perempuan ini dilukiskan oleh Kopong sebagai–boleh saya katakan–“korban”, dengan segala keserbaserbian mereka.

Deran adalah korban. Korban dari tanggung jawab yang mesti ia pikul, setelah ditinggal oleh suaminya. Setiap ibu Orang Timur mesti pada gilirannya merangkap ayah, bila kekasihnya wafat. Bukan dalam artian fisikalitas tapi responsibilitas.

Deran, sebagaimana kebanyakan perempuan Timur, mesti mengurus segala hal. Dapur, kebun, ternak, kopi, acara adat, hingga tingkah-laku anak dengan aneka kemauan mereka.

Kopong berhasil melukiskan–tepatnya membentangkan kenyataan–secara gamblang sosok Deran sebagai perempuan Timur yang didera begitu banyak persoalan, harus tabah, dan seperti Maria, meyimpan semua perkara dalam hatinya. Save everything on her heart.

Deran adalah perempuan Timur, seorang ibu sederhana, yang sepanjang hidupnya mesti menanggung derita akibat kemalasan dan kecenderungan menuntut dari Daruk, anaknya yang begitu menjengkelkan.

Deran rela saat ditinggal pergi oleh suaminya dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, Deran tabah disendirikan sementara oleh Daruk yang banyak sekali kemauannya dalam memilih pekerjaan.

Deran adalah perempuan Timur yang kokoh bagai batu karang, meski dihantam gelombang ganas adat-istiadat juga keputusan keluarga yang tanpa didahului dengan musyawarah berkaitan dengan tanah warisan.

Deran akhirnya jatuh sakit tanpa pernah mengenal rumah sakit. Sakit tanpa pernah ke rumah sakit bagi warga kelas menengah ke bawah sama biasanya dengan sakit lalu berobat ke luar negeri bagi rakyat kelas atas.

Mirip dengan Deran, Golu mulai menghadapi sejumlah tekanan setelah dibawa ke Witihama oleh Daruk. Perjumpaan perdana mereka di Pasar Baru, Larantuka, akhirnya sampai pada perkawinan dan hadirnya Sili.

Beban yang selama ini dipikul Deran seorang diri, akhirnya terbagi juga pada Golu. Memasak, membikinkan kopi, mengurus Sili, dan mulai tegar menerima kenyataan bahwa laki-laki yang menikahinya bukanlah laki-laki dengan pekerjaan pasti.

Golu mesti memikul tanggung jawab sebagai seorang ibu bagi anak yang mulai nakal juga istri bagi laki-laki semenjana yang terlalu banyak rencana tapi sangat lemah dalam eksekusi.

Rumah sederhana yang sudah lapuk dan bocor peninggalan orang tua Daruk akhirnya terbakar. Daruk, Golu, dan Sili mesti kembali ke Mudakeputuk.

Setelah melewati rupa-rupa kehidupan sampai berhasil mengumpulkan uang lalu kembali membangun rumah di Witihama, Golu tetaplah seorang perempuan Timur.

Perempuan dengan segala tantangan (Herausforderung), tanggung jawab (Verantwortung), dan beban (Last) yang harus dipikulnya, sehingga sah bila ia pingsan saat Daruk menghembuskan napas terakhirnya, pada akhir novel ini.

Ikhtiar Mendobrak Patriarki

Patriarki sebagaimana terlampir dalam situs Merriam-Webster, diartikan sebagai social organization marked by the supremacy of the father in the clan or family, the legal dependence of wives and children, and the reckoning of descent and inheritance in the male line.

Daruk jelas menjadi tokoh yang paling menarik perhatian, tetapi mengabaikan posisi Deran dan Golu juga Lin–istri Ajal, sahabat dekat Daruk–yang underpreasure jelas bukan pilihan tepat bagi setiap kita yang tengah berjuang menegakkan tali kesetaraan.

Baca Juga: Kritik Atas Partriarkat yang Terjebak dalam Praktik Kolonialisme Indonesia

Seruan “Kopi!” atau “Rokok!” yang ditujukan pada Deran, Golu, atau Lin menegaskan budaya patriarki yang masih subur dalam kebudayaan dan realitas sosial kita. Suatu kondisi control by men of a disproportionately large of power. De facto, kebudayaan mengizinkan kita untuk menerima begitu saja tiap “Cepat!” atau perintah suami atau laki-laki, bahkan oleh perempuan itu sendiri.

Urusan dapur, sumur, dan kasur yang mesti dijalani Deran, Golu, atau Lin, agaknya dimaklumi begitu saja bahwa memang itulah tugas dan fungsi perempuan. Tantangan terberat dan terbesar feminisme yang berjuang menegakkan keadilan dan kesetaraan, hari-hari ini, jatuh tepat pada anggapan model ini. Permisif dan menganggap bahwa semua itu normal.

Saya membaca Ilalang Tanah Gersang sambil mempertimbangkan wajah budaya dan kondisi sosial-kemasyarakatan kita dewasa ini. Sikap permisif telah menempatkan kita pada posisi yang sulit membedakan antara fakta yang mesti diterima atau dilawan, antara realitas yang mesti disibak atau dipupuk.

Hegemoni kejantanan mewarnai seluruh cerita yang ditawarkan Kopong. Ditawarkan, karena bagi saya, pemaknaan atasnya diberikan seluas-luasnya pada pembaca. Memaklumi keadaan atau mendobrak establishment sebagaimana digambarkan Marianus Kleden dalam Pengantar novel ini.

Ilalang Tanah Gersang bagi saya adalah sebuah karya yang akan selalu relevan selama sikap permisif masih menjiwai, masih berurat-akar dalam pola laku dan pikir kita. Ilalang Tanah Gersang hadir semacam cambuk (Peitsche) yang melabrak status quo ketidakadilan.

Pesona Daruk memang lebih kuat. Namun, dalam kesederhanaan dan kepasrahannya, Deran dan Golu berbicara kuat sekali, bahkan berteriak, bahwa ada yang salah dalam budaya dan sosial-kemasyarakatan kita. Kopong Bunga Lamawuran telah dengan sangat baik membantu kita. Khususnya kita Orang Timur. 

 

Oleh: Reinard L. Meo

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari Reinard L. Meo

 

 

 

 


Spread the love