Spread the love

Judul: Badai Pasti Berlalu: Anak Sawah Menggapai Mimpi
Penulis: Viktorinus Rema Gare
Tebal: 86 hlm
Penerbit: P3SDM Melati Publishing
Cetakan: I, 2020

***

Tokoh-tokoh besar tidak pernah menulis tentang dirinya sendiri. Buddha Gautama, Yesus Kristus, dan Muhammad SAW tidak pernah menulis. Mereka hanya berbicara, mengajar, dan bertindak.

Di antara manusia-manusia besar “biasa”, hanya segelintir saja yang berbicara, bertindak, dan menulis tentang dirinya sendiri. Gaius Julius Caesar (100-44 SM), Panglima Perang Imperium Romanum, menulis semacam memoir perang “Commentarii de Bello Gallico”.

Winston Leonard Spencer Churcill (1874-1965), Negarawan dan Perdana Menteri Britania Raya,  menulis biografi “My Early Life” dan “The Second World War”.

Penulis Jerman Abad – XIX, Karl Friedrich May, (1842-1912) menulis “Winnetou”, sebuah cerita perjalanannya dengan Suku Indian di Amerika Serikat.

Di Indonesia, manusia-manusia terkenal “biasa” seperti Sukarno dan Suharto tak pernah menulis tentang dirinya sendiri. Dengan seluruh perbedaan kualitas yang bagaikan langit dan bumi, keduanya hanya “menulis” biografi jenis “as told as” atau “sebagaimana diceritakan kepada”.

Biografi Sukarno ditulis Wartawati Amerika Serikat Cindy Adams dalam “Sukarno, An Authobiography, As Told to Cindy Adams”, sedangkan biografi Suharto ditulis dua kali masing-masing oleh Penulis Jerman O.G. Roeder dan G. Dwipayana dan Ramadhan K.H. dalam “Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya”.

Suharto mungkin bisa dimengerti kalau tak menulis otobiografi sendiri karena tak pernah sekalipun tunjukkan kemampuan menulis yang mumpuni secara publik. Namun, sebaliknya, dengan segala kemampuan menulisnya yang mengesankan, Sukarno toh tak pernah menulis otobiografinya sendiri.

Hal yang berbeda mungkin bisa dikatakan tentang biografi dalam bentuk catatan harian, terutama catatan harian yang dipublikasi. Dalam dunia internasional, kita mengenal Anne Frank melalui catatan hariannya, yang ia panggil dengan nama manis “Kitty”.

Di Indonesia, sekurang-kurangnya kita mengenal dua catatan harian yang diterbitkan oleh LP3S, yaitu “Catatan Seorang Demonstran” Soe Hok Gie (1983) dan “Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian” Ahmad Wahib (1981). Dalam seluruh biografi jenis catatan harian itu, pribadi bersangkutan menulis kisahnya sendiri.

Di tengah keterbatasan publikasi tentang biografi atau otobiografi manusia-manusia besar “biasa” yang terkenal itu, di hadapan kita disajikan sebuah otobiografi yang ditulis langsung oleh orangnya sendiri. Penulisnya bukan manusia besar “biasa”. Hanya manusia biasa “kecil.” Kecil dalam artian stratifikasi sosial: lahir dari orang tua kelas buruh tani.

Penulis sadar sepenuh-penuhnya tentang status sosial dia sebagai manusia biasa “kecil” saat dalam lembaran awal kisahnya, dia memperkenalkan diri kepada dunia luas: “Namaku Viktor. Aku bukan siapa-siapa. Aku bukan tokoh hebat yang pernah dan sudah ada. Aku bukan tokoh yang berpengaruh.

Aku hanya orang biasa yang dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga petani. Aku lahir di sebuah kampung kecil. Libunio nama kampung itu. Hari Jumat malam tanggal lima bulan Februari tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tujuh, aku diperkenankan oleh Tuhan Sang Pemberi Kehidupan untuk boleh mengalami indahnya dunia melalui rahim seorang ibu muda dan sederhana” (p. 3).

Mungkin berlebihan, tetapi baiklah membandingkan gaya Penulis memperkenalkan diri dengan gaya Sukarno memperkenalkan dirinya:

“Aku adalah putera seorang ibu Bali dari kasta Brahma. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi. Raja terakhir Singaradja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti “Lord”.

Bapak adalah keturunan Sultan Kediri… Apakah itu kebetulan atau suatu pertanda bahwa aku dilahirkan dalam kelas yang memerintah, akan tetapi apa pun kelahiranku atau suratan takdir, pengabdian bagi kemerdekaan rakyatku bukan suatu keputusan tiba-tiba. Akulah ahli-warisnya.”

Bedanya adalah Penulis tidak gambarkan silsilah orang tuanya yang berasal dari kasta rendah yang diperintah. Sementara itu, dengan segala kepercayaan dirinya yang tinggi, Sukarno melukiskan secara mendetail silsilah orang tuanya yang berasal dari kasta tinggi yang memerintah, walau dengan waspada.

Tidak seperti Sukarno, Penulis juga tidak memproklamasikan diri sebagai “ahli waris” yang akan menjadi semacam pertanda untuk memperjuangkan nilai-nilai abstrak seperti kemerdekaan rakyat. Sebaliknya, dia perkenalkan diri sebagai “bukan siapa-siapa”, “bukan tokoh hebat yang pernah dan sudah ada”, “bukan tokoh yang berpengaruh”, tetapi sebaliknya “hanya orang biasa yang dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga petani”.

Dengan perkenalan diri yang cenderung merendah, tak mengherankan kalau orang bertanya, mengapa menulis otobiografi?

Tanda heran mungkin kian membesar. Namun, mari cermati kata-kata awal Penulis dalam dua kutipan berikut.

Sejak awal, Penulis mengingatkan, “Setiap anak manusia yang pernah lahir dan pernah ada, pasti memiliki kisah hidup… Aku adalah salah satu pelaku kehidupan yang ada di atas mayapada ini. Pribadi yang memiliki kisah hidup seperti gerak roller coster dengan arah geraknya tak pernah membentuk lingkaran penuh. Namun, aku bersyukur bahwa Tuhan mengaruniakan suatu perjalanan hidup yang begitu mengesankan dan berarti, sangat disayangkan untuk tidak dikisahkan” (p. viii).

Sejak awal pula, Penulis menaruh harap, “buku ini menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi setiap insan yang selalu berjuang untuk bangkit berdiri kembali setelah terjatuh. Untuk kembali melanjutkan perjalanan dalam menggapai mimpi-mimpinya” (p. v).

Sekurang-kurangnya, terdapat dua hal yang mau Penulis tegaskan, yaitu pertama, sebagai seorang anak manusia yang punya kisah kehidupan seperti roller coster, dia bukan saja berhak, tetapi juga berkewajiban mengisahkannya sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah “mengaruniakan suatu perjalanan hidup yang begitu mengesankan dan berarti.”

Seperti catatan harian “Kitty” menjadi persoalan “to be or not to be” Anne Frank, demikian pun kewajiban menuliskan kisah hidupnya “yang sampai detik ini aku masih menjalani kisah itu” menjadi persoalan “to be or not to be” Penulis kisah ini. Menuliskan kisahnya adalah dorongan wajib yang tak dapat dicegah. Status sosial manusia biasa “kecil” pun tak mampu mencegah dorongan hatinya untuk menulis.

Kewajiban itu semata-mata didorong oleh kehendak hati untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang “begitu baik, karena aku diberi kesempatan untuk mengalami setiap kisah perjalanan itu dari titik terendah sampai pada suatu titik, di mana aku tak tahu akan berakhir.” Di sini, sebagai seorang yang berbakat religius (religiös musikalisch), Penulis terpengaruh amat sangat dengan kondisi sosial masyarakat Flores yang mayoritas Katolik. Segala pengalaman hidup dibingkai dalam dan seolah-olah menjadi pengalaman religius.

Kedua, kisah hidupnya yang begitu mengesankan dan berarti diyakini dapat memberi inspirasi dan motivasi bagi semua orang untuk bangkit dari kejatuhan, melanjutkan perjalanan, dan akhirnya menggapai mimpi-mimpi. 

Jika penegasan pertama tadi bersifat personal, maka penegasan kedua ini bersifat sosial. Penulis mau agar kekayaan kisah hidupnya bisa memperkaya hidup orang lain. Jika soal pertama tadi berangkat dari dorongan hati untuk menyatakan syukur tiada henti kepada Tuhan sebagai Wujud Tertinggi yang memberi anugerah kehidupan, maka soal kedua bertolak dari semacam keprihatinan atas kondisi sosial masyarakat di kampung Penulis yang masih dililit oleh problem kemiskinan dan ketidakadilan.

Penulis menggambarkan kondisi sosial masyarakat di kampungnya saat itu dengan sedikit melankolis: “Keadaan ketika aku masih kecil kehidupannya sangat susah. Untuk makan saja susah. Sawah dan kebun hanya dikerjakan sekali setahun. Hasilnya tidak seberapa, karena pola pengerjaannya masih sangat tradisional. Sehingga hasil panennya tidak maksimal.

Dalam sekali panen, hasilnya paling banyak dua puluh bhalu. Bhalu adalah tempat untuk mengisi padi yang terbuat dari anyaman daun lontar. Satu bhalu kira-kira isinya tiga puluh kilogram. Dengan keadaan seperti itu, kebutuhan pangan sudah pasti tidak mencukupi selama setahun.

Sehingga ketika persediaan padi maupun hasil kebun lainnya sudah tidak ada, yang biasanya terjadi pada bulan Oktober hingga Maret, rata-rata penduduk di kampungku pergi ke hutan mencari umbi hutan dan kacang hutan untuk dimakan. Dengan itulah kami makan sekeluarga. Dan biasanya bapakku atau ibuku mengunyahnya dulu baru diberikan kepadaku untuk aku makan” (pp. 4-5)

Itulah keadaan Libunio dahulu kala, setidaknya menurut perspektif Penulis buku ini. Sebagai bahan perbandingan, baiklah dikemukakan selayang pandang tentang kampung Libunio kini, yang sebagian besar datanya saya ambil dari Sekretariat Desa Libunio dan sebagian kecil lainnya dari Badan Pusat Statistik (BPS) (PDF) Kabupaten Ngada Tahun 2019.

Libunio merupakan 1 dari 135 desa di Kabupaten Ngada dan 1 dari 14 desa di Kecamatan So’a. Libunio adalah desa dengan luas wilayah terkecil di Kecamatan So’a, yaitu 1,72 Km2 atau 1,89% dari total luas wilayah Kecamatan So’a , yaitu 90,92 Km2.

Ibu kota Desa Libunio adalah Mongesu. Mekar pada tahun 2005 dari Desa Seso, Desa Libunio sebelah barat berbatasan dengan Desa Seso dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Ngabheo. Penetapan batas wilayah desa dilakukan berdasarkan Keputusan Bersama Panitia Pemekaran Desa Libunio Nomor 1 Tahun 2011.

Jumlah penduduk Desa Libunio 552 jiwa yang terdiri atas Laki-laki 277 dan perempuan 275 atau 3,98% dari total penduduk Kecamatan So’a sebanyak 13.836 jiwa. Libunio adalah desa dengan jumlah penduduk terkecil setelah Desa Meliwaru (479 jiwa).

552 penduduk itu tersebar di 4 dusun dan 16 Rukun Tetangga. Jumlah Rumah Tangga di Desa Libunio 119 dengan jumlah keluarga 115.

114 rumah tangga menggunakan sumber penerangan listrik PLN, sedangkan 3 rumah tangga lainnya masih menggunakan sumber penerangan pelita/petromaks. Jenis dinding rumah tangga tembok (70) dan bambu (49).  Atap rumah tangga seng (94) dan bambu (15).

Jumlah penduduk usia 7 – 15 tahun yang masih bersekolah 220, yang terdiri atas laki-laki (220) dan perempuan (176). Ada empat sekolah di Desa Libunio, yaitu PAUD, SD Negeri (1), SLTP Negeri (1), dan SMK Swasta (1).

Di Libunio, ada penyandang disabilitas fisik (1), tuna netra (1), tuna rungu (2), jiwa (2), fisik dan jiwa (1), dan lain-lain (2). Pada 2018, dari 13 penderita gizi buruk di Kecamatan So’a, 3 di antaranya berasal dari Libunio.

Mata pencaharian penduduk Libunio berumur 10 tahun ke atas adalah petani (13), industri (2), pedagang (6), angkutan (2), tukang kayu (4), PNS (6), pegawai swasta (6), wredatama (4), purnawirawan (5), sekolah (190), mengurus rumah tangga (53), lainnya (1). Dengan demikian, penduduk Libunio berumur 10 tahun ke atas umumnya bergerak di bidang pertanian (13), industri (2), konstruksi (2), perdagangan (6), angkutan (2), dan jasa (4). Perusahaan industri kerajinan rumah tangga anyaman (3) dan batako (1). Perusahaan perdagangan menurut status badan hukum koperasi (1), yaitu Koperasi Kredit Na’a Nepe.

Jarak Desa Libunio ke ibu Kota Kecamatan So’a Waepana 1 Km dengan lama jarak tempuh sekitar 0,03 jam. Jarak ke Ibu Kota Kabupaten Ngada 25 Km dengan lama jarak tempuh sekitar 0,25 jam. Jarak ke Ibu Kota Provinsi Kupang dan Ibu Kota Negara Jakarta belum terdata.

Bentangan wilayah Desa Libunio berbentuk dataran rendah seluas 3 Ha/m2. Tidak berbukit-bukit. Tidak ada lereng gunung. Tidak ada aliran atau bantaran sungai. Desa ini boleh dikatakan bebas banjir. Desa Libunio bukan merupakan kawasan perkantoran, bisnis, wisata, atau kawasan campuran.

Menurut Data Statistik dari Sekretariat Desa Libunio, Libunio terletak 1.500 mdl di atas permukaan air laut. Namun, angka berbeda disajikan BPS Kabupaten Ngada, yang menyebutkan ketinggian Desa Libunio sekitar 501 – 750 mdl.

Seperti daerah lainnya di So’a dan Indonesia pada umumnya, Libunio beriklim tropis. Curah hujan di wilayah ini 0,25 mm. Jumlah bulan hujan 6 bulan. Suhu rata-rata harian 28 derajat Celcius. Tingkat kelembaban udara belum diukur.Badai Pasti Berlalu: Anak Sawah Menggapai MimpiDesa Libunio terdiri atas wilayah pemukiman (25 Ha/m2), persawahan (160 Ha/m2), perkebunan (53 Ha/m2), kuburan (0,4 Ha/m2), pekarangan (11,5 Ha/m2), dan perkantoran (1,54 Ha/m2). Tanah-tanah di Desa Libunio diperuntukkan untuk tanah sawah, tanah kering, tanah perkebunan, dan tanah fasilitas umum.

Tanah sawah terdiri atas sawah sawah irigasi ½ teknis (135 Ha) dan sawah tadah hujan (20 Ha). Seperti wilayah Kecamatan So’a lainnya, tidak ada sawah irigasi teknis di wilayah desa ini. Tanah kering terdiri atas tegal/ladang (53 Ha), pemukiman (25 Ha), pekarangan (11,5 Ha). Tanah perkebunan hanya merupakan tanah perkebunan perorangan (6 Ha/m2). Tidak ada tanah perkebunan rakyat dan tanah perkebunan Negara. Tanah fasilitas umum terdiri atas lapangan olahraga (0,90 Ha), bangunan sekolah, perkantoran pemerintah (0,35 Ha), dan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa (0,40 Ha). Belum ada tanah fasilitas umum lain seperti tanah kas desa (tanah bengkok, kebun desa, dan sawah desa), ruang publik atau taman, Tempat Pembuangan Sampah (TPS), dan tanah usaha-usaha lainnya.

Sebagian besar warna tanah hitam. Tekstur tanah debuan. Tingkat kemiringan tanah 10 derajat. Di Desa Libunio, tidak ada lahan kritis dan lahan terlantar. Tingkat erosi tanah tergolong tanah erosi ringan (0,50 Ha/m2). Tidak ada tanah erosi sedang dan erosi berat.

Di Desa Libunio, jumlah Kepala Keluarga (KK) memiliki tanah pertanian 112 KK. Dari 112 KK, memiliki kurang dari 1 Ha (16 KK atau 13,67%), memiliki 1,0 – 5,0 Ha (76 KK atau 64,95%), dan memiliki 5,0 – 10,0 Ha (20 KK atau 17%). Sementara itu, KK tidak memiliki tanah pertanian (5 KK atau 4,27%).

Tanah pertanian ditanami tanaman pangan, buah-buahan, dan apotik hidup. Tanaman pangan terdiri atas jagung (50 Ha menghasilkan sekitar 4,5 ton/Ha), kacang kedelai (1 Ha menghasilkan sekitar 0,7 ton/Ha), kacang tanah (0,5 Ha menghasilkan sekitar 0,3 ton/Ha), kacang panjang (0,25 Ha menghasilkan sekitar 0,10 ton/Ha), padi sawah (197 Ha menghasilkan sekitar 1.120 ton/Ha), ubi kayu (2 Ha menghasilkan sekitar 12 ton/Ha), ubi jalar (2 Ha menghasilkan sekitar 12 ton/Ha), tomat (1 Ha menghasilkan sekitar 1,2 ton/Ha), sawi (1 Ha menghasilkan sekitar 0,50 ton/Ha), mentimun (0,25 Ha menghasilkan sekitar 3,10 ton/Ha), terung (0,50 Ha menghasilkan sekitar 0,10 ton/Ha), bayam (1 Ha menghasilkan sekitar 0,80 ton/Ha), kangkung (0,50 Ha menghasilkan sekitar 0,25 ton/Ha), selada (0,50 Ha menghasilkan sekitar 0,25 ton/Ha), talas (1 Ha menghasilkan sekitar 0,50 ton/Ha), umbi-umbian (2 Ha menghasilkan sekitar 1,0 ton/Ha), dan tumpang sari (1 Ha menghasilkan sekitar 0,50 ton/Ha).

Buah-buahan terdiri atas mangga (0,25 Ha menghasilkan sekitar 0,25 ton/Ha), papaya (0,20 Ha menghasilkan sekitar 0,25 ton/Ha), pisang (5 Ha menghasilkan sekitar 35 ton/Ha), nenas (0,25 Ha menghasilkan sekitar 0,10 ton/Ha), nangka (0,25 Ha menghasilkan sekitar 0,10 ton/Ha), dan sirsak (0,10 Ha menghasilkan sekitar 0,05 ton/Ha).

Apotik hidup terdiri atas jahe (0,50 Ha menghasilkan sekitar 0,25 ton/Ha), kunyit (1 Ha menghasilkan sekitar 1 ton/Ha), lengkuas (0,50 Ha menghasilkan sekitar 0,25 ton/Ha), kumis kucing (0,05 Ha menghasilkan sekitar 0,05 ton/Ha), temulawak (0,05 Ha menghasilkan sekitar 0,05 ton/Ha), kencur (0,02 Ha 0,05 Ha menghasilkan sekitar 0,010 ton/Ha), temu hitam (0,01 Ha), dan daun sereh (0,25 Ha 0,05 Ha menghasilkan sekitar 0,10 ton/Ha).

Jumlah KK memiliki tanah perkebunan 112 KK. Jumlah KK tidak memiliki tanah perkebunan 5 KK. Dari 112 KK pemilik tanah perkebunan, tak ada satu pun yang memiliki tanah perkebunan kurang dari 5 Ha, 10 – 50 Ha, 50 – 100 Ha, dan lebih ari 100 Ha.

Tanah perkebunan ditanami kelapa (2 Ha menghasilkan sekitar 4.400 Kw/Ha), kopi (2 Ha menghasilkan sekitar 1.100 Kw/Ha), coklat (1 Ha menghasilkan sekitar 495 Kw/Ha), pinang (1 Ha menghasilkan sekitar 495 Kw/Ha), jambu mente (20 Ha menghasilkan sekitar 24.000 Kw/Ha), kemiri (5 Ha menghasilkan sekitar 12.500 Kw/Ha), asam (0,25 Ha menghasilkan sekitar 0,15 Kw/Ha).

Luas tanah kehutanan milik masyarakat perorangan 3 Ha. Tidak ada tanah kehutanan milik Negara, milik adat/ulayat, dan milik Perhutani/instansi sektoral. Tanah kehutanan ditanami bambu (5 Ha), jati (5 Ha), enau (0,25 Ha), dan mahoni (0,50 Ha).

Seperti wilayah So’a pada umumnya, fauna-fauna yang hidup di Libunio adalah kuda, kerbau, dan sapi (hewan besar), babi, kambing (hewan kecil), ayam, itik, bebek (unggas), ular dan lain sebagainya (hewan melata), babi hutan, rusa, dan kera (binatang liar yang terutama hidup di kebun-kebun penduduk Libunio).

Di antara fauna itu, babi, kuda, kerbau, dan sapi memiliki arti penting bagi penduduk Libunio karena biasa digunakan sebagai hewan persembahan dalam berbagai upacara adat.

Sebagai salah satu suku tertua di So’a, Libunio sendiri punya tradisi budaya tahunan yang sangat kaya. Mulai dari Sagi (tinju adat), Woe Sada (sunat adat), Kiki (potong gigi gadis), Sapu (upacara pendewasaan laki-laki), Rori Lako (berburu adat), dan lain-lain. Kecuali bulan Januari – Februari, seluruh bulan dalam kalender Masehi adalah bulan perayaan adat bagi masyarakat adat Libunio Waru. Pada Oktober 2020 ini, masyarakat adat Libunio Waru sedang menyelenggarakan upacara adat pemugaran kembali Nua Olo (Kampung Lama) Libunio di Nunugaza.

Cukup sekian dulu cerita singkat tentang Kampung Libunio.

Kembali ke kisah Penulis buku ini. Problem kemiskinan tempo dulu – seperti tampak dalam ketidakcukupan pangan dan ketimpangan kepemilikan dan penguasaan lahan pertanian – begitu menghantui Penulis buku ini sampai-sampai dalam usianya yang masih empat belas tahun, Penulis nekat “merantau” ke Kota Bajawa (Ibu Kota Kabupaten Ngada) untuk bekerja menjadi buruh penjual kue keliling pada Baba Lorenz.

Sebutan Baba biasanya disematkan pada pengusaha keturunan China yang membuka usaha pertokoan. Dalam psikologi massa di Libunio atau So’a pada umumnya, Baba biasanya punya status ekonomi yang lebih baik dari penduduk di sekitar dan tidak jarang menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduk tempatan.

Singkat kata, situasi kemiskinan menempa pribadi Penulis sejak usia dini untuk berjuang memperoleh tingkat kehidupan yang lebih layak. Ia bertekad melakukan mobilitas kelas sosial. Melalui jalur pendidikan. Berhasil. Dari anak sawah yang saban hari menunggangi punggung kerbau untuk membajak sawah, kini dia menjadi guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang saban hari berpeluh mencerdaskan anak bangsa di pelosok mayapada Ngada.

Ia boleh berbangga bukan karena PNS adalah profesi terbaik tetapi karena ia adalah PNS kedua di kampungnya. Ia hendak membangkitkan semangat pada semua penduduk kampung bahwa anak dari keluarga miskin pun bisa menjadi pegawai negeri. Belasan tahun kemudian, puluhan sarjana lahir dari desa terkecil di Kecamatan So’a ini.

Ratusan lainnya sedang menempuh pendidikan. Sebuah kemajuan luar biasa dibandingkan dengan kondisi penidikan pada masa kecil Penulis buku ini. Sekarang, tinggal para sarjana ini memberdayakan potensi intelektualnya dan segenap sumber daya lainnya untuk membangun kampung. Aliansi para sarjana dan masyarakat adat akan sanggup mengubah Libunio menjadi desa yang adil, sejahtera, dan makmur.

Hemat saya, dua hal di atas adalah sekurang-kurangnya alasan yang mencukupi bagi Penulis untuk berani menulis otobiografinya sekalipun sadar diri bahwa kehidupannya belum kelar tertunaikan.

Menutup catatan ini, baiklah dibikin perbandingan super singkat antara kisah otobiografi ini dan Roman “Keluarga Gerilya” Pramoedya Ananta Toer. Jika “Keluarga Gerilya” mengisahkan fiksi keluarga Amilah dalam tiga hari tiga malam yang penuh derita khas pada masa-masa awal Revolusi Kemerdekaan Indonesia, maka kisah ini merupakan otobiografi yang ditulis dengan gaya fiksi tentang perjalanan hidup seorang anak manusia dalam beribu-ribu malam yang penuh suka pun duka khas masa-masa Orde Baru. Jika “Keluarga Gerilya” ditutup dengan akhir tragis keluarga Amilah, maka kisah ini seperti kata Penulis “tak tahu akan berakhir”.

Pada sekitar akhir tahun 1998 (saya tak ingat persis tahunnya), Penulis buku ini berlibur di kampung halaman di Libunio. Saya ada di kampung. Sebagai bocah yang baru duduk di bangku Kelas I SD, saya terkesan dengan penampilan necis Penulis ini: celana jeans biru panjang dan baju kaus oblong putih.

Beliau ajak semua kami, yang adalah adik-adik kandung dan sepupunya, untuk menonton atraksi yang akan ia peragakan: memecahkan batu bata dengan kedua belah tangan kosong. Batu-bata itu memang pecah terbagi dua.

Kami terpana. Dalam hati, saya berpikir, “kuliah ternyata bisa memampukan seseorang untuk memecahkan batu bata dengan tangan kosong.”

Kenangan masa lalu itu tetap terkenang kini. Dengan pemaknaan yang semakin canggih: bukan saja gutta cavat lapidem, non vi sed saepe cadendo, tetapi kerja keras dan latihan terus menerus akan sanggup memecahkan persoalan hidup dengan segera dan bijaksana. Hidup yang keras dapat ditaklukkan dengan kerja yang keras dan cerdas. Mungkin itulah nilai yang mau Penulis buku ini tanamkan pada kami untuk diteladani: kerja keras dan kerja cerdas menggapai mimpi melalui jalur pendidikan.

Fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi. Kisah ini adalah imajinasi tentang sebuah kehidupan seorang anak manusia yang telah menjadi kenyataan.

Namun, imajinasi yang menjadi kenyataan bukan lagi fiksi karena telah menjelma menjadi suatu kenyataan baru. Sebuah kenyataan yang kemudian menjadi titik star lagi untuk berimajinasi tentang masa depan, yang entah kapan akan kiamat.

Oleh: Silvano Keo Bhaghi

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari Silvano Keo Bhaghi

 

 


Spread the love