Spread the love

Sepak bola bisa dianggap sebagai olahraga paling populer di seluruh dunia karena berhasil menarik banyak penggemar.

Tetapi, lebih dari itu, sepakbola membentuk identitas kolektif masyarakat bangsa dan menyatukan berbagai kelompok manusia—orang-orang dapat bersatu dari desa-desa kecil ke kota-kota besar dalam kebersamaan kerena satu rasa cinta terhadap satu keseblasan atau pemain sepak bola.

Masyarakat dari dari Legalapu, misalnya, bisa bergabung dengan masyarakat lain dari Aimere untuk mendukung PS Ngada, atau masyarakat dari Zepe bisa bergabung dengan masyarakat dari Sydney dan New York untuk mendukung Barcelona atau Real Madrid.

Di bagian yang lain, kita juga bisa melihat seorang di Waebela bersama dengan seorang lain di Buenos Aires yang bahkan tidak bisa menendang bola memilih untuk sama-sama menyukai Messi dan membenci Ronaldo setengah mati

Meski syarat akan nilai positif, serentak, bola sepak menyimpan masalahnya sendiri. Selama beberapa dekade terakhir, investigasi dan laporan media telah mengungkap berbagai praktik buruk dalam industri sepak bola.

Infiltrasi mafia ke dalam sepak bola melalui kontrol terhadap regulasi dan asosiasi telah merusak seluruh sistim tata kelola bola sepak. Dan, lebih buruk dari itu, seluruh praktik mafia justru dibiarkan begitu saja seperti yang terjadi di Indonesia, misalnya.

Mafia, yang masuk ke dalam sepak bola tidak terbatas pada tataran klub semata, kelompok kejahatan terorganisir ini hadir dalam banyak struktur.

Setiap tahun, di Indonesia ada perputaran uang dalam jumlah besar terjadi di dalam sepak bola—sebagian  besar berasal dari penonton, hak siar, sponsor dan kontrak iklan, apparel dan merchandise hingga subsidi dari pemerintah daerah melalui APBD.

Sudah jelas bahwa sebuah industri yang menarik uang dalam jumlah besar akan menjadi tujuan yang menarik bagi kelompok-kelompok kriminal yang berusaha mengeruk keuntungan dengan cara-cara yang jauh dari adab.

Di Indonesia, misalnya, pada tahun 2018 yang lalu, dilaporkan perputaran uang judi mencapai 70 miliar dalam kompetisi sepak bola yang memungkinkan terjadinya proses manipulasi sistim, serentak merusak nilai sportifitas.

Kelompok mafia ini tidak berdiri sendiri tetapi juga  digerakkan melalui sistim kekuasaan, dengan tujuan mendapatkan pengaruh melalui intimidasi atau perlindungan yang pada akhirnya dapat bekerja melalui praktik kekerasan atau KKN. 

Kelompok ini bahkan menggunakan platform sepak bola untuk meningkatkan reputasi dan prestise individu di ranah politik.

Beberapa kelompok yang memiliki modal melimpah berusaha mengrogoti sepakbola melalui sponsor, membeli atau membentuk tim hingga “menyelamatkan” sebuah tim jika mereka dalam kesulitan keuangan. 

Sebuah komite khusus Komisi Anti mafia di Italia membuktikan asumsi di atas dengan mengeksplorasi kejadian ini di seluruh Italia pada tahun 2017.

Kasus PS Ngada

Kisruh sepak bola Liga 3 yang merugikan PS Ngada baru-baru ini, agaknya juga tidak luput dari cengkraman mafia yang pertama-tama hadir melalui asosisasi (PSSI) yang selanjutnya bergerak untuk mengangkangi regulasi.

Kondisi yang dialami PS Ngada meski meninggalkan luka yang mendalam di satu sisi, pada sisi yang lain turut menuntun kita untuk mulai berpikir lebih jauh. Pembenahan perlu untuk dilakukan jika kita mau belajar dari kejadian yang tidak beradab itu.

Dari berbagai macam variabel pembenahan, saya mengusulkan satu, sesuai kompetensi saya sebagai pengelola perusahan, yakni, lakukan pembenahan struktur manajerial terlebih dahulu.

Dalam pandangan saya, membangun klub bola profesional, secara manajerial sama seperti membangun suatu perusahaan. Selain financial dan man power (karyawan/pemain), kita butuh dukungan eksternal. Sebab, jika kondisi eksternal ini tidak kuat, usaha kita akan selalu dijegal oleh mafia.

Sudah saatnya PS Ngada melibatkan “orang lain” di dalam sistim tata kelola, yang paling mungkin di sini, tentu saja purnawirawan petinggi kepolisian dan militer sebagai dewan pembina atau dewan penasihat.

Langkah di atas dianggap penting untuk memberikan tekanan kepada mafia, meski saya juga tidak mengatakan ini sebagai langkah yang paling baik, tetapi, sejauh pengalaman di lapangan, langkah ini cukup efektif. Kita bisa menempatkan orang-orang ini secara professional dengan mempertimbangkan regulasi yang ada.

Kita semua sangat mencintai PS Ngada, untuk itu, segala upaya untuk membuat klub kebanggaan ini menjadi lebih baik dan mampu bersaing di level nasional, harus terus kita pikirkan.

Ketika klub ini berkali-kali dikalahkan oleh sistim yang manipulatif, tidak cukup bagi kita hanya untuk terus mengutuk, tetapi, melampaui itu, kita harus bergerak untuk melawan melalui perubahan tata kelola. PSN terbaik. Meju!

 

Salam hangat Ngada Mania

Arnoldus Wea

Co-Founder Gerakan DHEGHA NUA dan Yayasan ARNOLDUS WEA

 


Spread the love