Spread the love

Kasus-kasus penyimpangan perilaku pelajar menimbulkan perdebatan. Ketika terjadi perkelahian antar sekolah dan tindakan kriminal oleh pelajar, berbagai pihak yang terlibat dalam pendidikan saling melempar tanggung jawab. Demikan juga ketika angka kehamilan remaja usia sekolah meningkat.

Sekolah berpendapat bahwa perilaku menyimpang itu terjadi di luar jam sekolah dan karena itu merupakan tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Keluarga justru bersikap sebaliknya.  

Menanggapi fenomena ini, Kementrian Pendidikan Nasional telah mendorong penguatan pendidikan karakter. Tulisan ini mencoba mengeksplorasi bagaimana pengembangan karakter siswa dapat dilakukan melalui mata pelajaran matematika.

Pendidikan Karakter

Karakter adalah atribut personal seseorang yang tercermin dalam sifat, sikap dan tindakan. Karakter membedakan seseorang tersebut dari orang lain. Karakter dipelajari dan bertumbuh melalui pendidikan formal dan informal.

Secara formal melalui sekolah dan secara informal melalui prose sosialisasi dalam keluarga dan komunitas. Megawangi (2007), menyebut sembilan unsur karakter yang meliputi (1) cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; (2) tanggung jawab, disiplin dan mandiri; (3) jujur/amanah dan arif; (4) hormat dan santun; (5) dermawan, suka menolong, dan gotong-royong; (6) percaya diri, kreatif dan pekerja keras; (7) kepemimpinan dan adil; (8) baik dan rendah hati; (9) toleran, cinta damai dan kesatuan.

Baca Juga: SDK Malapedho dan Karakter Kepeloporan 

Peran pendidik sangat sentral dalam pengembangan 9 karakter di atas. Pendidik itu bisa guru, orang tua atau siapa saja, yang penting memiliki kepedulian  untuk membentuk karakter manusia.

Menurut Ki Hajar Dewantara, peran pendidik meliputi antara lain: (1) Ing Ngarso sung tulodho, pembelajaran karakter tidak mungkin berlangsung jika tidak ada keteladanan dan contoh dari orang tua dan guru.  Pendidik bertanggung jawab untuk menjadi model pembelajaran karakter dan moral melalui pelajaran dan interaksi harian dengan peserta didik. (2) Ing madyo mangun karso, dalam hal ini pendidik membantu perkembangan karakter siswa melalui keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran demokratis, diskusi dan kerjasama dengan siswa;  (3) Tut wuri handayani,  pendidik mendorong siswa untuk mengadopsi karakter dan perilaku positif.

Selain itu, implementasi pendidikan karakter membutuhkan beberapa strategi yang perlu diterapkan pendidik (Djalil dan Megawangi, 2006), Srategi tersebut meliputi (1) penerapan metode pembelajaran yang melibatkan partisipatif aktif siswa, (2) penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, (3) dilakukan secara eksplisit, sistematis, dan berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the good, and acting the good, dan (4) memperhatikan keunikan siswa masing-masing. 

Dengan demikian, upaya menumbuhkan karakter siswa melalui lembaga pendidikan menuntut peran pendidik yang kuat. Pendidik (1) harus terlibat dalam proses pembelajaran, yaitu melakukan interaksi dengan siswa dalam mendiskusikan materi pembelajaran, (2) harus menjadi contoh tauladan kepada siswanya dalam berperilaku dan bercakap, (3) harus mampu mendorong siswa aktif dalam pembelajaran melalui penggunaan metode pembelajaran yang variatif, (4) harus mampu mendorong dan membuat perubahan sehingga kepribadian, kemampuan dan keinginan guru dapat menciptakan hubungan yang saling menghormati dan bersahabat dengan siswanya, (5) harus mampu membantu dan mengembangkan emosi dan kepekaan sosial siswa agar siswa menjadi lebih bertakwa, menghargai ciptaan lain, mengembangkan keindahan dan belajar soft skills yang berguna bagi kehidupan siswa selanjutnya, dan (6) harus menunjukkan rasa kecintaan kepada siswa sehingga guru dalam membimbing siswa yang sulit tidak mudah putus asa.

Matematika dan Pendidikan Karakter

Mata pelajaran matematika tidak secara langsung berisi materi pendidikan karakter. Pengaruh pelajaran matematika pada pertumbuhan karakter siswa umumnya terjadi melalui proses pembiasaan.

Pembiasan ini berlangsung dalam dua aspek yakni isi mata pelajaran dan proses pembelajaran. Dari aspek isi, pelajaran matematika adalah pelajaran tentang (1) keteraturan bentuk, ruang, kuantitas dan tatanan dari semua bendak yang menyusun alam semestas; (2) keteraturan ini diterjemahkan  dalam dalil-dalil dan teorema yang dibuktikan, disepakati dan diterapkan secara konsisten. Setiap hukum dan rumus menuntun pada jawaban tertentu yang bersifat eksak, tidak ambigu dan tidak multi tafsir.  (3) Pemahaman akan hukum-hukum dan rumus-rumus itu dilakukan melalui aktivitas menghitung dan memecahkan soal-soal; (4) pemahaman akan proses dan hukum-hukum alam yang bersifat eksak adalah kunci kemajuan peradaban manusia.

Karakterterisik pelajaran matematika di atas dapat menuntun siswa pada karakter sebagai (1) religius. Pengetahuan bahwa alam digerakkan oleh hukum-hukum tertentu menuntun siswa pada kesadaran bahwa alam digerakkan oleh suatu kekuatan maha besar yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Kesadaran ini mendorong penguatan iman dan takwa peserta didik; (2) matematika menanamkan karakter jujur dan disiplin. Sebuah perhitungan memiliki jawaban yang pasti. Pelajaran matematika mendorong siswa untuk jujur dan menujukkan fakta apa adanya; (3) aktvitas berhitung menanamkan karakter kreatif dan kerja keras. Perhitungan kadang-kadang membutuhkan waktu, kreativitas, kesabaran dan kerja keras  yang merupakan karakter penting yang dimiliki siswa, (4) karakter eksak dan pemahaman hukum alam mempengaruhi perkembangan karakter  disiplin dan taat aturan yang membantu siswa dalam kehidupan bermasyarakat.

Proses belajar matematika juga membantu perkembangan beberapa karakter siswa, terutama, ketika guru menerapkan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa. Salah satu metode belajar matematika adalah peer tutoring (tutor teman sebaya).

Model ini berbasis pada kerja kelompok. Dalam model tutor teman sebaya, guru memilih sejumlah siswa untuk dilatih. Siswa-siswa ini kemudian diminta mengajar teman-teman satu kelompok.

Pengalaman pribadi penulis sebagai guru menunjukkan bahwa model ini memiliki efek pada karakter kepemimpinan, suka menolong, gotong royong dalam tim, toleran terhadap perbedaan pendapat, karakter dan budaya orang lain. Karakter ini bertumbuh karena siswa harus belajar dalam kelompok dengan kemampuan intelektual, latar belakang keluarga dan etnis, agama serta sifat yang berbeda-beda.

Peran guru memang bersifat sentral dalam proses di atas.  Guru harus mampu mengaitkan isi pembelajaran matematika dengan karakter yang hendak dikembangkan. Misalnya pada akhir jam pelajaran, guru menunjukkan pada siswa tentang hubungan matematika dengan penciptaan alam semesta. Ketika memilih metode, guru juga juga harus mampu menyeleksi metode pembelajaran yang menggabungkan siswa dengan latar belakang heterogen. Dengan cara ini karakter psoitif siswa berkembang tanpa disadari.

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi

Oleh: Maria Ernawati M. Tana

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari Maria Ernawati M. Tana


Spread the love