Spread the love

Hanya tiga bulan yang lalu setelah pemerintah pusat dinilai menganggap sepele masalah COVID-19 dan beberapa pekan lalu pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur sesumbar mengatakan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai zona hijau, kini, pandemi ini telah sangat mengancam dengan cepat di NTT.

Laporan terakhir telah terjadi 76 kasus positif COVID-19  di NTT (data per 20/5/2020) dan sekitar 6.518 pekerja di NTT mengalami PHK (data per 30/4/2020).

Data ini bisa lebih besar, mengingat secara berbeda Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTT, mengatakan jumlah pekerja yang di PHK di NTT berkisar 8 ribuan.

Efek riak dari pandemi ini bisa jadi akan menghancurkan ekonomi NTT yang perlahan melemah, sebab diawal ancaman wabah pada Maret lalu saja, pertumbuhan ekonomi NTT menurun 5,02-5,42 persen ini lebih rendah dari prakiraan sebelumnya yakni pada kisaran 5,20-5,60 persen.

Hingga kini, satu demi satu penjabat di beberapa kabupaten mengumumkan paket stimulus ekonomi untuk menjaga dapur perekonomian tetap mengepul.

Tetapi, efek dari langkah-langkah ini akan dibatasi oleh dampak pandemi, yang tidak akan hilang dalam waktu dekat. Sebagian besar sektor jasa seperti angkutan, toko, rumah makan, pasar, dll. Semuanya akan sangat terpukul karena masyarakat akan memilih menghindari tempat-tempat konvergensi publik.

Lebih Dalam

Sementara itu, kondisi di lapangan, dalam kelompok populasi yang luas sedikit berbeda. Persoalan tekanan pandemi bahkan jauh lebih rumit. Data-data yang tidak muncul ke permukaan, kemungkinan, jauh lebih besar dari laporan statistik yang ada. Di banyak tempat di NTT, data kualitatif dapat berbicara lebih luas saat diselisik.

Hari itu masih pagi, Matilda Soares telah bersiap-siap, namun, belum sempat ia memupuri seluruh wajahnya dengan bedak, mobil bak terbuka Om Lukas telah datang menjemput. Itu hari pertama ia memulai rutinitas barunya, berjualan di pasar Lili, Kabupaten Kupang

Sejak beberapa pekan yang lalu, Matilda kehilangan pekerjaannya setelah pihak Toko Roti, di Kota Kupang, tempat ia bekerja, memutuskan untuk mengurangi tenaga pelayan kebersihan karena sepinya pengunjung setelah wabah penyakit yang belum diketahui obat penawarnya, COVID-19, diprediksi akan melindas kota itu.

Matilda tidak sendiri, ia mengikuti beberapa kerabat lain dari Naibonat yang sama-sama ekspetariat Timor-Timor, mereka menumpang kurang lebih tiga orang untuk sekali jalan, sebab, di atas mobil angkut itu, mereka harus berbagi tempat dengan barang jualan seperti sayuran, hasil kebun atau bahkan bersama hewan jualan seperti babi atau anjing.

Di tempat lain, di Nagekeo, Om Selus tampak sibuk mengurus berkas surat di Kantor Desa, untuk mendapat bantuan induk sapi dari Pemda setempat, ia tampak sibuk dan menenteng aktentas kemana kaki membawanya pergi, maklum, ini kali pertama ia tampak antusias untuk mengejar bantuan dari pemerintah, sebab, selama ini, ia bekerja sebagai supir angkutan yang sehari-hari hidupnya berada di atas putaran roda.

Pembatasan masuk bagi kendaraan angkut penumpang yang diterapkan oleh pemerintah kabupaten Ende membuat Om Selus yang mengemudi kendaraan lintas Ende-Nagekeo terpaksa harus berhenti.

Tuan kendaraan tempat ia bekerja hanya mengupahinya setengah dari jumlah yang mestinya ia peroleh tepat sebelum ia harus diberhentikan secara terpaksa karena rendahnya pendapatan dalam dua bulan terakhir.

Pembatasan yang direncanakan selama sebulan itu, membuat ia cukup terpukul. Sebentar lagi istrinya akan melahirkan, ia membutuhkan banyak biaya, sementara satu-satunya sumber pendapatan telah menguap jauh, ia berpikir sapi bantuan bisa membantu, minimal sebagai jaminan jika kelak ia terpaksa harus meminjam uang saat istrinya lahir.

Om Selus tahu bahwa menggadaikan sapi bantuan akan melanggar aturan dengan konsekuensi hukum yang jelas tetapi ia tidak punya pilihan lain dalam benaknya. Selain itu, ia tak ingin kepalanya penggar jika terus memikirkan jalan keluar.

Di Koperasi simpan pinjam di Bajawa, Ngada, Tanta Roslin dan Om Teus mengantri sejak pagi, menunggu manajer koperasi yang belum juga datang, mereka berniat mengajukan penundaan pembayaran cicilan dan penambahan kredit.

Sebulan lalu, mereka meminjam lima juta untuk memulai bisnis ayam pedaging, rendahnya jumlah pembeli akibat meledaknya ancaman wabah, membuat mereka kesulitan mencicil bunga.

Mereka juga terpaksa mengajukan akhazah baru setelah anak sulung mereka di Jogja yang akan sidang skripsi meminta tambahan uang belanja dalam jumlah yang tidak biasa. Mereka sangat kewalahan.

Upaya penjarakan sosial yang dilakukan pemerintah, mungkin bisa menekan laju kasus tetapi langkah ini juga jelas dapat mengirim banyak orang ke dalam beragam persoalan lain yang sebetulnya juga berbahaya.

Bagimanapun untuk daerah miskin semacam NTT, setiap kenaikan persoalan pendapatan ekonomi, betapa itu dalam jumlah kecil akan dengan cepat memperdalam persoalan hidup dalam satu populasi.

Efek ekonomi NTT sekarang berputar di luar kendali. Gangguan rantai ekonomi di sektor-sektor tertentu ternyata lebih sistemik dan substansial daripada yang diperkirakan di kalangan masyarakat bawah. 

Efek jangka panjangnya dipastikan akan memperpendek atau mendiversifikasi rantai pasokan barang dan jasa.

Gangguan pada rantai produksi mencakup pemutusan hubungan kerja atau pengurangan pekerja, yang mengurangi permintaan akhir, sementara permintaan bahan baku mengurangi konsumsi produktif. 

Dampak-dampak pada sisi permintaan ini sendiri akan menghasilkan ancaman resesi besar dalam konteks NTT

Lamban dan Mubazir

Baru-baru ini, pemerintah pusat telah mengeluarkan paket stimulus ekonomi dalam bentuk BLT, sementara pemerintah daerah juga telah menyiapkan dana talangan untuk meringankan beban hidup kelompok miskin tetapi proses penyaluran hingga penyerapannya berjalan sangat lamban dengan mekanisme birokrasi yang berbelit dan juga membingungkan.

Bantuan lain semacam kartu pra kerja yang dikritik secara luas di level nasional karena disinyalir sebagai proyek akal-akal antara pihak pengelola dan pemerintah, meski sudah mulai berjalan, di NTT diprediksi justru akan menjadi mubazir atau bahkan bisa meninggalkan kemudaratan besar.

Dari tiga ratusan lebih peserta yang melaksankan ujian prasyarat di Nagekeo, misalnya, jumlah peserta yang lulus tidak lebih dari tiga orang. Selain prosesnya dinilai sulit, pendekatan baru semacam ini sangat tidak peka situasi dan kebutuhan masyarakat serta merepotkan bagi yang gagap internet.

“Sa sudah daftar dan pilih pelatihan yang tersedia, dari semua tidak cocok dengan sa, sa sebetulnya ingin pelatihan beternak babi karena memang selama ini saya sedang coba memelihara babi, tapi di dalam itu aplikasi tidak ada latihan jenis itu, sa terpaksa pilih pelatihan microsoft exel untuk UMKM, dan jelas itu tidak cocok dengan kebutuhan saya

Ungkap salah seorang peserta yang sedang berproses mengikuti pelatihan daring kartu pra kerja.

Di saat bencana semacam ini, pekerjaan utama dari kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah sedianya bukanlah stimulus untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan PDB.

Sebaliknya, untuk menyediakan dukungan kelangsungan hidup dan membatasi kesulitan masyarakat NTT yang sementara waktu kehilangan pendapatan mereka.

Oleh sebab itu, bantuan kartu pra kerja yang berbelit dalam kondisi wabah bukan saja tidak efektif tetapi bisa saja menjadi sebuah kejahatan.

Di waktu mendatang, wabah ini diprediksi akan semakin menyulitkan, semakin banyak orang akan berjalan menuju kondisi yang runyam. 

Kehilangan pekerjaan, rendahnya daya beli dan mahalnya kebutuhan pokok di NTT dari waktu ke waktu akan menjadi agen katalisator yang hebat bagi kegaduhan sosial.

Secara global, ribuan orang telah kehilangan nyawa dan ratusan ribu orang kemungkinan telah terinfeksi. Tetapi tidak ada indikasi bahwa pandemi telah memuncak. Jumlah kematian naik 20-30 persen setiap hari.  Tidak ada tanda-tanda pemulihan yang cepat. 

Beberapa sarjana memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia bisa melambat menjadi 1 persen, yang berarti sejumlah negara sedang dalam resesi. Dan NTT kemungkinan akan mengalami krisis yang mungkin sulit diprediksi sebagai imbas kondisi global.

Apa yang kita saksikan adalah pembukaan periode baru dalam sejarah dunia.  Seperti batu besar yang dilemparkan ke genangan air, efek dari krisis ini akan menciptakan riak gelombang yang akan menyebar ke setiap penjuru dunia. Tak terkecuali NTT.

Hal ini akan menciptakan dislokasi terbesar dalam masyarakat. Cepat atau lambat jika pemerintah bergerak lamban dengan bentuk kebijakan yang mubazir, kita akan didorong masuk ke dalam borok kekacauan seperti gangguan keseimbangan sosial, ekonomi dan keamanan.

Mengunyah Simalakama

Namun, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pemerintah NTT tampaknya tidak pernah menyelesaikan kontradiksi atas tindakan yang mereka ambil untuk menuntaskan persoalan ini.

Di satu sisi, pemerintah melakukan upaya mitigasi wabah dengan menekan masyarakat untuk disiplin melakukan penjarakan sosial seperti tetap berada di rumah, sementara, di sisi yang lain, pemerintah tampak lamban memberi stimulus ekonomi bagi masyarakat yang terdampak oleh tindakan penjarakan sosial di rumah

Dalam situasi ini, karena kegagapan pemerintah, masyarakat diperhadapkan pada “simalakama”. Berada di luar rumah mati, di dalam rumah juga pasti akan mampus.

Tetapi, agaknya pilihan ini tidak berlaku bagi kebanyakan orang, beberapa diantaranya telah membuat keputusan untuk “mengunyah simalakama”. Mereka mengambil resiko untuk tetap bekerja dan berada di luar rumah.

“Kami harus kerja, bahkan sekarang mungkin lebih keras kalau mau tetap bisa makan dan kirim uang untuk anak di Jogja”

Kata Tanta Roslin dan Om Teus.

“Sa tahu korona memang bahaya, tetapi untuk saat ini sa rasa kalau tidak ada uang sa pu istri yang hamil dan akan melahirkan mau makan apa?, dan kalau tiap hari kami makan jagung saja, sa pu anak nanti bisa bodoh macam sa to?

Demikian pernyataan Om Selus saat menjelaskan pilihan yang ia buat.

Pertanyaannya, sesudah masyarakat mengunyah simalakama, jajaran pemerintahan di NTT akan berbuat apa?

*) Gagasan kolumnis ini adalah sepenuhnya tanggungjawab penulis seperti tertera dan tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi

Oleh: Petrus Kanisius Siga Tage

 

Baca juga tulisan lain di kolom Gagasan atau tulisan menarik lainnya dari  Petrus Kanisius Siga Tage

 


Spread the love