Spread the love

Pengarusutamaan cuci tangan selama pandemi Covid-19 begitu masif digalakkan oleh semua pihak, hampir di setiap tempat.

Selain anjuran secara verbal maupun visual, di beberapa tempat umum kita mudah menemukan adanya tong air dan sarana pelengkap cuci tangan.

Setiap orang selalu diingatkan untuk cuci tangan. Terakhir, supaya mudah diingat, kita dikenalkan dengan 3M, di mana salah satu dari “M” tersebut adalah: Mencuci tangan.

Kegiatan mencuci tangan sebenarnya sederhana saja. Tidak perlu sekolah atau latihan yang terlalu rumit. Hanya dengan mencontohkan beberapa menit saja, kita supa bisa menirunya secara presisi.

Tantangannya justru pada kepatuhan orang untuk mengikuti anjuran tersebut. Kalau niat sudah ada, barangkali sarana dan prasarana tidak tersedia. Akibatnya, mau tidak mau, kita harus terus membicarakannya.

Tujuannya untuk memberi keyakinan kepada semua orang, bahwa mencuci tangan sudah terbukti lewat berbagai penelitian yang meyakinan, mampu mencegah masuknya mikoorganisme ke dalam tubuh, sehingga berbagai penyakit infeksi dapat dicegah.

Sebenarnya, anjuran mencuci tangan ini sudah ada sejak lama dalam sejarah kehidupan manusia.

Dalam Alkitab sebagai salah satu buku tertua, misalnya, terdapat beberapa kisah yang secara jelas menyebutkan tentang ritual cuci tangan.

Karena apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama itu dianggap sebagai aturan hidup oleh orang Yahudi, maka ketika mereka bermigrasi ke wilayah lain, pola hidup seperti itu tetap dipertahankan.

Memang satu itu mereka melakukannya sekadar memenuhi seremonial adat atau dengan alasan keyakinan, belum terpikirkan tentang teori kuman yang kelak menjadi salah satu alasan rasional di balik rekomendasi cuci tangan.

Meski demikian, dari beberapa kejadian wabah saat itu, kelompok masyarakat yang menerapkan anjuran tersebut jauh lebih terlindungi.

Setelah itu, tercatat seorang dari Hongaria yang diberi julukan “Bapak cuci tangan modern” bernama Ignaz Semmelweis.

Sebagai seorang dokter di bidang kebidanan, ia mengamati kejadian demam pada ibu-ibu nifas. Kemudian ia mengusulkan supaya dokter atau penolong persalinan untuk cuci tangan.

Hasilnya memang mengagumkan, setelah itu angka kematian ibu jauh lebih berkurang. Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima sarannya, bahkan ia dianggap gila, kemudian meninggal secara tragis di RS jiwa.

Ide Semmelweis yang dianggap tanpa alasan ilmiah yang meyakinkan itu, pada akhirnya tetap diakui beberapa tahun setelah dirinya wafat.

Berkat Louis Pasteur yang tekun mengamati mikroorganisme, hingga kemudian menelurkan teori kuman. Sejak itu sudah mulai dipahami, kalau suatu penyakit bisa disebabkan oleh kuman.

Akhirnya, anjuran cuci tangan memiliki alasan ilmiah untuk mengurangi kuman penyebab penyakit.

Sebagaimana Semmelweis, temuan Pasteur itu juga tidak berjalan mulus; tidak mudah diterima begitu saja oleh kalangan ilmuwan.

Kala itu, komunitas ilmiah-medis menentang advis praktik sederhana seperti mencuci tangan dan merebus alat untuk sterilisasi.

Perkembangan selanjutnya kurang lebih mengikuti pola yang sama. Setiap ada temuan baru, pasti terinspirasi atau pengembangan dari ilmuwan sebelumnya, dan sesuatu yang baru itu tidak mudah diterima begitu saja. Selalu ada kelompok yang menentang, atau bersikap masa bodoh dengan saran sesuai hasil riset.

Hingga saat ini, perkembangan penelitian tentang cuci tangan sebagai salah satu cara pencegahan penyakit infeksi, sudah sangat maju dan banyak jumlahnya.

Karena itu, hasilnya sudah menjadi rekomendasi yang sangat meyakinkan; sebagian besar sudah diakui dan diadopsi sebagai bagian dari gaya hidup warga dunia.

Sebuah organisasi yang menyelanggarakan Global Handwashing Day (GHD) alias Hari Cuci Tangan Sedunia, globalhandwashing.org, telah mengumpulkan berbagai fakta hasil penelitian tentang pentingnya cuci tangan bagi pencegahan penyakit.

Mereka menyimpulkan bahwa cuci tangan dapat mengurangi penyakit diare; infeksi saluran pernapasan akut; penularan berbagai wabah seperti kolera, ebola, shigellosis, SARS dan hepatitis E; melindungi diri darip infeksi terkait perawatan kesehatan dan mengurangi resistensi antimikroba; mengurangi penyakit tropis; mengurangi penularan berbagai penyakit: dan menjadi kunci dalam perang melawan Covid-19.Cuci TanganWHO melaporkan sekitar 829.000 orang meninggal dunia setiap tahun karena diare yang disebabkan air minum kotor, sanitasi yang kurang baik, dan kebersihan tangan. Itu baru dari satu jenis penyakit, padahal, penyakit infeksi itu sangat beragam.

Meski demikian, lembaga kesehatan dunia itu sangat percaya diri menyatakan bahwa cuci tangan dapat menyelamatkan banyak jiwa. Cuci tangan yang, sederhana dan gampang itu, juga dapat menghemat lebih banyak biaya untuk urusan kesehatan.

Sejak dulu hingga saat ini, kita (atau lebih tepatnya sebagian besar orang) percaya kalau cuci tangan mampu menjauhkan diri dari penyakit infeksi. Terlebih sekarang, ketika penyebaran SARS-CoV-2 begitu masif di seluruh wilayah, kedasaran akan pentingnya cuci tangan diprediksi makin meningkat dan menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. 

Fakta tersebut memunculkan padangan positif pada Covid-19, bahwa selain memberi banyak efek buruk, di sisi lain, penyakit tersebut membentuk pola hidup atau kebiasaan baru, yaitu mencuci tangan.

Kecakapan baru ini sangat penting untuk modal masa depan, sebab banyak ilmuwan yang memprediksi kalau kelak akan muncul berbagai penyebab penyakit infeksi baru.

Belum lama setelah Covid-19, misalnya, kita dihadapkan lagi dengan isu wabah baru flu babi. Atau yang paling baru, ada kabar kalau di China sudah ada virus baru lagi, namanya Norovirus, menjadi pemicu infeksi saluran pencernaan sehingga terjadi diare.

Kabar baiknya, semua masalah itu dapat dicegah, lagi dan lagi, dengan cuci tangan. Pendek kata, setiap ada masalah (penyakit infeksi), cuci tangan!

Saking pentingnya cuci tangan itu, sampai-sampai setiap 15 Oktober, kita merayakan Hari Cuci Tangan Sedunia.  Tahun ini, tema utamanya adalah “Hand Hygiene for All,” sebuah ajakan bagi semua untuk membiasakan diri cuci tangan.

Meski demikian, bukan berarti kita harus cuci tangan terus-terusan –terlalu berlebihan. Rupanya rumusan  hidup “Too much….will kill you” berlaku juga untuk cuci tangan.

Ada temuan pada orang yang mencuci tangan secara berlebihan, mereka mengeluh adanya gangguan kulit yang disebut eksem–biasanya terasa sangat gatal, menimbulkan bintik-bintik atau gelembung-gelembung kecil, dan bercak yang kemerah-merah.

Permasalahan itu bisa terjadi, selain frekuensinya terlalu sering, juga dipengaruhi oleh bahan dasar berbagai produk yang dipakai untuk cuci tangan seperti sabun cair atau batangan, deterjen sintetis, pencuci tangan antiseptik, dan hand sanitizer berbahan dasar alkohol.

Kita yang memiliki masalah sensitivitas pada kulit, perlu menyadari dan memahami aneka ragam pilihan bahan yang biasa dipakai, kemudian sesuaikan dengan karakter kulit. Jika Anda bingung, mungkin perlu melakukan konsultasi dengan ahli penyakit kulit.

Sebab, bila kulit kita yang berfungsi sebagai pertahanan primer itu rusak, cuci tangan yang awalnya kita anggap mencegah penyakit, malah memudahkan masuknya kuman ke dalam tubuh –lewat celah kulit yang rusak tadi.

Karenanya, kita perlu melakukan cuci tangan yang rasional. Saran umum yang dianjurkan ahli kulit di antaranya, gunakan produk yang tidak mengandung alergen (penyebab alergi), produk yang memilik pelembab tambahan atau mengoleskan pelembab setelah cuci tangan atau sebelum pakai sarung tangan. Bila sakit berlanjut, hubungi…?


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 


Spread the love