Spread the love

Cerita mengenai kehebatan dukun penyembuh patah tulang mungkin sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari.

Cerita itu bisa berasal dari sumber primer, artinya si pencerita itu melihat atau mengalami langsung kejadiaannya.

Namun, tidak sedikit pula cerita-cerita tersebut merupakan pengembangan dari mulut ke mulut.

Sependek yang saya ikuti, ada satu cerita yang agak sulit dicerna dengan nalar. Saya sebagai perawat—setidaknya pernah mempelajari struktur tubuh seperti tulang, otot, pembuluh darah, saraf, dan jaringan lainnya—tidak yakin dengan cerita penyembuhan patah tulang tradisional dengan cara meremukan tulang itu dengan palu, sampai hancur, kemudian baru disambung kembali.

Apakah Anda pernah mendengar kisah yang sama? Kalau sekadar mendengar kisah dari orang kesekian, berarti kita senasib.

Tapi, kalau misalnya Ada melihat atau bahkan mengalami langsung pengobatan seperti itu, mungkin bisa berbagi di kolom komentar.

Terlepas dari satu tuturan yang agak sangsi tersebut, pada umumnya metode penanganan patah tulang secara tradisional memang menjadi andalan banyak masyarakat, khsusunya lagi bagi mereka yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan yang memadai.

Bahkan—bila kita  merunut ke belakang pada catatan sejarah—metode pengobatan modern ortopedi merupakan pengembangan dari  metode tradisional non-medis.

Di negara maju, praktik tradisional itu mungkin sudah ditinggalkan. Sedangkan di negara berpenghasilan rendah dan menengah, seperti kita di Indonesia, praktiknya masih terus dipertahankan.

Pertanyaannya, dari dua pilihan penanganan masalah patah tulang oleh spesialis tradisional vs modern, manakah yang paling baik?

Metode Tradisional

Nama metode penyembuhan patah tulang secara tradisional itu sangat beragam; setiap daerah atau negara punya sebutan tersendiri.

Di Jawa terkenal dengan nama sangkal putung—sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Ada metode ba’urut di Kalimantan Selatan; topu bara di Maluku Tengah; mbeko patah tulang di Manggarai; dan masih banyak istilah lainnya.

Nama boleh beda, namun prinsip penanganan patah tulang dengan memanfaatkan kearifan lokal di masing-masing daerah itu kurang lebih sama.

Mereka mendapatkan keterampilan pengobatan biasanya diwariskan dari nenek moyang atau orang tua. Entah itu dilatih secara langsung maupun disampaikan lewat perantaraan mimpi.

Mereka juga memanfaatkan ramuan yang bersumber dari tumbuhan di sekitar. Tidak lupa disertai dengan doa, mantra atau prosesi adat tertentu.

Belum lama ini, kanal Youtube AWVisual—salah satu media di bawah naungan Yayasan Arnoldus Wea—menayangkan sebuah video “Dokter Tulang” yang mengisahkan sepak terjang salah satu pengobat patah tulang tradisional di Ngada, Bapak Yoseph Lizu.

Om Ose, begitu sapaan akrabnya, telah menjalani profesi tersebut sejak 1993. Hingga saat ini, lebih dari 1.000 pasien telah ditanganinya.

Salah seorang keluarga pasien mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan Om Ose. Apalagi beliau tidak menetapkan tarif khusus.

Meski demikian, keluarga pasien tetap memberikan uang semampunya, atau lebih sering hanya buah tangan berupa ayam, kopi, jagung dan sebagainya.

Selain menjanjikan kesembuhan, kemudahan pelayanan seperti itu membuat masyarakat lebih dominan memilih pengobatan tradisional ketika mengalami masalah patah tulang.

Hal itu terkonfirmasi dengan hasil penelitian, alasan ekonomi dan kemudahan pelayanan menjadi pertimbangan paling dominan dalam memilih metode pengobatan. Kemudian disusul faktor lain seperti kebudayaan atau kepercayaan masyarakat.

Mulyono Notosiswoyo, dkk., meringkas lebih rinci alasan orang memilih pengobatan tradisional (Batra) untuk masalah fraktur di antaranya:

(1) batra diklaim lebih cepat sembuh daripada rumah sakit;

(2) biaya lebih murah;

(3) kegiatan pengobatan tidak menakutkan seperti di rumah sakit;

(4) metode batra diyakini memiliki kekuatan suparanatural;

(5) ada pengalaman kurang menyenangkan di rumah sakit sebelumnya; dan 

(6) jarak tempuh ke batra lebih dekat dibanding fasilitas kesehatan.

Metode Modern

Kalau masyarakat awam memandang batra penanganan patah tulang sebagai solusi yang terbaik, petugas medis—khususnya ahli ortopedi—jutru berpandangan lain.

Perbedaan keyakinan ini tentu saja dipengaruhi oleh pengatahuan atau pengalaman masing-masing.

Hal yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat luas, selama ini batra untuk masalah patah tulang sering menimbulkan masalah lain sebagai akibat atau efek sampingnya.

Salah satu masalah yang bisa terjadi adalah efek dari keterlambatan penanganan awal atau yang biasa disebut sebagai neglected fracture.

Akibatnya, kondisi menjadi lebih buruk dan bahkan menimbulkan kecacatan permanen.

Sebagai contoh, ada sebuah laporan kasus yang terjadi di RSUD Tertnate, seorang wanita berusia 9 tahun datang dengan tungkai kanan telah menghitam dan beberapa luka terbuka.

Setelah dicek riwayat sebelumnya, ternyata sudah 3 minggu menjalani perawatan di dukun penyembuh patah tulang, namun tidak menunjukkan perkembangan yang baik.

Akibatnya terjadi gangren (ada jaringan yang sudah mati dan membusuk) dan berisiko untuk dilakukan amputasi.

Kasus lain terjadi di RS Akademik UGM. Laki-laki berusia 35 tahun mengalami patah tulang paha karena kecelakaan lalu lintas. Pasien tersebut dianjurkan untuk operasi, tapi keluarga menolak.

Mereka memilih keluar dari RS, pergi mencari pengobatan alternatif. Tujuh bulan kemudian, tidak sembuh juga, malah makin parah.

Keluarga akhirnya kembali mencari pertolongan ke RS, kemudian ditangani dengan operasi hingga kondisinya membaik.

Itu sekadar beberapa contoh yang menunjukkan kalau pengobatan alternatif untuk patah tulang tidak sepenuhnya aman atau baik-baik saja.

Penulis yakin, masih banyak kasus lain yang mungkin tidak terungkap—seperti fenomena gunung es.

Dinas Kominfo Jatim pernah menurunkan laporan bahwa RSUD Dr. Soetomo, Surabaya banyak merawat pasien yang gagal dengan pengobatan tradisional sangkal putung.

Penelitian di RSUP Hasan Sadikin, Bandung menunjukkan komplikasi yang sering terjadi akibat pengobatan patah tulang secara tradisonal, antara lain: sindrom kompartemen, gangren, luka yang terinfeksi, hingga ada yang harus diamputasi.

Ketika ada tulang yang patah, maka jaringan di sekitarnya seperti pembuluh darah ikut rusak. Perdarahan yang masif di dalam balutan otot dan kulit akan membuat area sekitarnya tertekan. Tampak tegang.

Dari luar, area tersebut terlihat membengkak seperti balon yang kebanyakan udara; terlihat seperti mau pecah saja. Itulah tanda mudah mengenal sindrom kompartemen.

Ketika terjadi sindrom kompartemen, selain menimbulkan nyeri hebat, area sebelahnya tidak mendapat aliran darah yang cukup.

Kalau berlangsung lama, maka jaringan di ujung lokasi sindrom kompatemen itu akan mati perlahan-lahan. Jaringan mati yang menghitam itulah yang disebut gangren.

Bila gangrennya meluas, apalagi ditambah infeksi luka yang makin memberat, besar kemungkinan area yang menghitam itu akan diangkat atau dipotong seluruhnya. Itulah yang disebut dengan amputasi.

Itu kan hanya beberapa kasus, dukun tulang di kampung kami sudah menyembuhkan banyak orang,” mungkin ada di antara kita yang menanggapi seperti itu.

Iya, tidak ada yang salah memang. Tapi, pernahkah kita perhatikan kualitas penyembuhan tulang tersebut?

Penulis pernah mengamati hasil pada beberapa teman yang ditangani dukun tulang, hasilnya kurang simetris.

Ada yang terlihat bengkok atau tonjolan abnornal; tidak sama antara yang kiri dan kanan.

Beda halnya kalau melakukan penyambungan tulang dengan metode medis yang lebih modern (operasi, perawatan luka, dll), hasilnya jauh lebih rapi. Memang ada pula kelemahan dari operasi, salah satunya bekas luka dan jahitan yang sulit dihilangkan.

Jalan Tengah

Bila kita menimbang kelebihan dan kekurangan kedua metode penanganan cedera tulang di atas, tentunya sangat dilematis. Kalau kita mau belajar dari tempat lain, negara-negara di Afrika, misalnya, mereka telah berupaya memadukan kedua pendekatan tersebut  menjadi sebuah kekuatan baru.

Mereka mulai memasukan materi pengobatan tradisonal patah tulang dalam kurikulum atau  mata kuliah keahlian ortopedi. Mereka juga sudah mengkaji kemungkinan para penyembuh patah tulang tradisional itu bisa dilatih keterampil medis pendukung atau tidak.

Hasilnya menunjukkan mereka layak untuk dilatih. Semua upaya ini dilakukan untuk meminimalkan komplikasi dan meningkatkan kesembuhan dengan kualitas yang lebih baik.

Kita tentunya berharap, model kolaborasi antara pengobatan tradisional dan penanganan medis yang modern bisa juga diaplikasikan di wilayah kita.

Kalau dari kasus Om Ose pada video yang disinggung sebelumnya, beliau mengaku pernah mendapatkan dukungan dari Dinas Kesehatan Kab. Ngada berupa buku catatan identitas pasien, kain pembalut, kasa, dll.

Sayangnya, tidak ada informasi lebih detail, sejauh mana kolaborasi tersebut dalam hal teknis penyembuhan tulang.

Terlepas dari semua itu, kita tentunya sepakat, hal terbaik dalam hidup ini adalah kolaborasi; bukan kompetisi.

Mungkin prinsip itu baik juga diterapkan dalam bidang kesehatan.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 


Spread the love