Spread the love

Apa yang Anda pikirkan ketika menyebut bulan Februari? Barangkali kita sudah sangat akrab dengan Valentine Day, sebab Hari Kasih Sayang ini sering menjadi bahan kontroversi tentang perlu dirayakan atau tidak. Selain itu, bulan kedua tahun Masehi ini layak juga disebut sebagai bulan kanker internasional.

Bagaimana tidak, tanggal 4 Februari kemarin kita merayarakan Hari Kanker Sedunia. Kemudian dilanjutkan dengan perayaan Hari Kanker Anak Sedunia pada 15 Februari mendatang. Ini menandakan kanker menjadi isu yang penting, dan Februari menjadi sangat identik dengan bulan kewaspadaan pada penyakit tersebut.

Perayaan pada tahun 2021 ini mengusung tema, “I Am and I Will.” Barangkali kesannya agak aneh, sebab kalau diterjemahkan secara harfiah berarti: saya adalah dan saya akan.

Tema tersebut sebenarnya menjadi panduan bagi kita semua dalam menjawab pertanyaan, “Siapa Anda dan apa yang akan Anda lakukan dalam konteks pencegahan, deteksi dini, dan penanganan kanker?”

Sebagai contoh, bila pertanyaan itu ditujukan pada saya, maka jawabannya bisa seperti ini: Saya adalah Saverinus atau perawat dan saya akan terus mengampanyekan informasi kesehatan yang valid supaya penderita kanker dan kelurganya tidak termakan kabar hoaks.

Anda juga punya kontribusi yang besar, tidak peduli siapa Anda dan apa yang akan Anda lakukan. Inti dari tema di atas pada dasarnya ingin mengakui peran dari setiap orang –sama pentingnya dalam penanganan masalah kanker.

Makanya ada pula seruan atau slogan tambahan dari tema tersebut: “Bersama-sama, semua tindakan kita penting.”

Supaya Anda bisa ikut berperan dalam “Saya adalah….dan saya akan….,” ada baiknya perlu memahami informasi dasar berikut ini. Kita adalah pembelajar dan kita akan mengenal bersama apa itu kanker, bagaimana perilaku masyarakat dalam mencari pengobatan, dan apa pilihan pengobatan yang terbaik.

Gambaran Umum Kanker

Kanker atau biasa juga disebut tumor ganas, pada dasarnya merupakan gangguan pembelahan sel. Normalnya, sel membelah diri secara teratur dan terkendali. Pada kanker, selnya membelah diri tanpa terkendali, kemudian sel tersebut membesar, dan dapat menyebar ke tempat lain atau disebut ber-metastase.

Karena tubuh kita pada dasarnya terususun atas sel-sel, maka pertumbuhan sel ganas itu bisa terjadi di mana saja. Itu makanya kita mengenal banyak jenis kanker, karena disesuaikan dengan lokasi kejadiannya. Misalnya, kita mengenal ada kanker payudara, kanker serviks, kanker paru-paru, dan kanker pada organ atau lokasi tubuh yang lainnya.

Berdasarkan laporan WHO, saat ini kasus kanker payudara paling mendominasi daripada kanker jenis lainnya. Selama dua dekade terakhir, pertumbuhan kasus kanker di seluruh dunia hampir dua kali lipat dari yang diperkirakan. Pada masa mendatang, kasusnya diprediksi akan terus melonjak.

Penyebab kanker memang tidak spesifik, namun ada begitu banyak faktor risiko yang membuat sel tubuh berubah ganas. Ketika sudah divonis menderita kanker, responsnya tidak hanya menekan kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi aspek kehidupan lain seperti psikologis, sosial, spiritual, finansial, dan sebagainya.Obat KankerBeban yang ditimbulkan karena kanker tidak hanya dirasakan individu yang sakit, tetapi juga merembet pada keluarga, komunitas dan sistem kesehatan. Beban tersebut makin bertambah ketika masalah terjadi berbarengan dengan situasi pandemi global seperti yang terjadi saat ini.

Wabah COVID-19 membuat penderita kanker tidak mudah lagi mengakses layanan kesehatan. Selain itu, laporan The Lancet Oncology menyebutkan bahwa penderita kanker lebih rentan terinfeksi SARS-CoV-2. Gejala COVID-19 yang dialami penderita kanker juga dilaporkan lebih berat bila dibandingkan dengan pasien tanpa kanker.

Perilaku Mencari Pengobatan

Menurut analisis berbagai hasil penelitian, masalah kanker tidak akan menjadi momok  jika: (1) melakukan berbagai upaya pencegahan, misalnya dengan menerapkan pola hidup sehat; (2) melakukan upaya deteksi dini dan penanganan yang tepat dan cepat ketika penyakit masih dalam stadium awal; dan (3) menjalani pengobatan medis yang ditopang dengan perawatan paliatif (komplementer) jika kasusnya diketahui sudah parah.

Masalahnya, apa yang kita anggap agak ideal tersebut, nyatanya tidak mudah dijalankan. Ada banyak penyebabnya, tapi salah satu yang perlu kita sadari bersama adalah perilaku kita dalam mencari pengobatan atau pertolongan ketika sakit. Di mana biasanya kita mencari pertolongan pertama?

Sebuah survei nasional di Indonesia menunjukkan satu dari empat responden pernah menggunakan dukun dan / atau obat tradisional ketika mengalami sakit tertentu. Khusus untuk masalah kanker, sebagian besar orang lebih memilih obat tradisional sebagai keputusan pertama daripada terapi medis.

Hasil survei tersebut juga didukung dengan beberapa penelitian lainnya. Pada umumnya sama, sebagain besar penderita kanker akan mencari pengobatan alternatif sebagai langkah awal. Jika langkah pertama itu tidak berhasil, kemudian ketika kondisi kesehatannya makin memburuk, barulah  kemudian mencari pertolongan medis.

Apakah pemilihan terapi tradisional itu sepenuhnya tidak tepat? Tidak juga! Namun, alangkah lebih jika berbagai pendekatan tradisional itu menjadi bagian dari terapi komplementer (pelengkap), bukan sebagai pengganti (alternatif) dari terapi medis. Bila terapi medis menjadi pilihan utama, kemudian ditopang dengan pengobatan tradisional, kualitas hidup pasien kanker akan menjadi lebih baik.

Kekeliruan pengambilan keputusan ini tidak sepenuhnya terjadi karena kesalahan persepsi masyarakat. Pada sisi lain, layanan kesehatan yang kita miliki juga kurang memadai dan tidak memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan. Makanya orang malas menjadikannya sebagai pilihan pertama.

Orang enggan memilih fasilitas kesehatan umum karena prosedur adminitrasi yang terlalu rumit, gaya komunikasi sepihak dari tenaga kesehatan, dan waktu tunggu yang lama. Kemudian berbagai pengobatan tradisional yang sangat melekat dengan masyarakat kita, kadang tidak dipahami oleh tenaga medis, sehingga jalinan kerja sama yang baik kadang tidak berhasil dilakukan.

Pilihan di Tangan Kita Semua

Kemajuan iptek dalam bidang pencegahan, deteksi dini, maupun penanganan masalah kanker sudah sangat maju. Berbagai hasil penelitian terkait metode kesehatan modern (medis) itu menunjukkan hasil positif, dan diprediksi akan semakin baik pada masa mendatang.

Masalahnya ada pada kita, mau atau tidak memilih pengobatan medis sebagai pilihan utama? Begitu pula harapan pada kualitas layanan kesehatan, semoga bisa diperbaiki menjadi lebih baik, sehingga masyarakat sebagai pengguna semakin kerasan saat berkunjung.

Pengobatan tradisional pada saat ini pun mulai diakomodir pada semua tatanan layanan kesehatan yang ada. Selain karena pendekatan tradisional itu tidak mungkin dilepaskan begitu saja dari budaya masyarakat, berbagai hasil studi juga menunjukkan kalau metode alamiah tersebut juga turut punya andil dalam mendukung proses kesembuhan. Termasuk sudah diatur dalam udang-udang kesehatan.

Sampai di sini, kita sudah tahu bagaimana peran dua pendekatan tersebut sama-sama baik, tinggal dikombinasikan dengan bijaksana. Semoga dengan sedikit gambaran situasi masalah kanker seperti yang diulas di atas, kita sudah bisa menentukan untuk: “Saya adalah….dan saya akan….”


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin


Spread the love