Spread the love

Judul: Rusuk Sepi Adam
Penulis: Derry Saba
Penerbit: Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora
Tebal: 83 Halaman

***

You’re gonna live forever in me,” kata John Mayer. Seseorang yang besar dan misterius terus tumbuh di dalam dirimu.

Seseorang yang bisa jadi lebih rimbun dari sebentang hutan lindung.  Seseorang, sekali lagi, mencoret sketsa tebal di kenangmu.

Pada sketsa itu, garis batas antara ingatan dan segala hal di luar ingatan saling melumat satu sama lain. Kita tahu, mengingat secara harfiah maupun metaforik selalu terkoneksi dengan sistem kerja kepala.

Karena itu, kepala dalam puisi adalah sebuah wilayah permainan. Menyimpan jarum jam dan memberi makna pada ingatan yang pusparagam.

Seperti John Mayer, Derry Saba berujar, “Sebab masa lalu jantungmu ditulis dari rusuk-sepi-adam yang terlelap di tepi aliran rindunya sendiri”.

Kerja ingatan menjadi urusan personal yang sering dihantui oleh bayang-bayang kesepian. Akan tetapi ingatan personal dalam kenyataannya bertaut dengan ingatan kolektif yang sarat dengan pemalsuan kebahagiaan.

Akibatnya, titik temu antara ingatan personal dan kolektif dalam puisi melahirkan penggandaan kesepian di satu sisi, dan meragamkan ingatan di sisi yang lain. Dalam penggandaan kesepian dan peragaman ingatan tersebut, percakapan tentang puisi akan berujung pada narasi luka dan akibat-akibatnya. Masalahnya, luka selalu tak bisa dicegah.

Sekuat apapun kita berupaya menghindarinya, luka selalu bertamu dan berdomisili sebagai ingatan yang paling dominan. Kita sepakat, luka dalam puisi bermuara pada ingatan yang pusparagam.

Ingatan yang pusparagam menjadi pintu masuk untuk memahami puisi-puisi Derry yang terhimpun dalam buku puisinya “Rusuk Sepi Adam” (2021).

Dalam buku puisi ini, warna-warni ingatan berada dalam dua tegangan: Pertama, puisi-puisi Derry secara eksplisit berupaya menjunjung tinggi religiositas sehingga menyandingkan kitab suci sebagai ladang pemaknaan. Kedua, puisi-puisi Derry justru menyembunyikan nada-nada erotika dalam langgam pengucapannya.

Dua tegangan ini bisa dibilang saling silang sengkarut dalam tahapan pemaknaan. Alih-alih tampak seperti penyair menuliskan pengalamannya mencintai Tuhan, dalam titik “lelah” tertentu penyair justru asyik memeluk seorang manusia. Berikut akan dinukilkan puisi Hawa yang menurut penulis menjadi hipogram dalam buku puisi ini:

Hawa

1/

Tuhan suka puisi

dituliskannya amat singkat di atas alismu

diejakannya lamat-lamat di uban ubun-ubunmu

pada bait pertama, dibiarkan-Nya purnama

jatuh ke dalam matamu. sedang bait-baitnya setelahnya

kau dibiarkan lelah menebak jeda antara dada dan isi kepalamu

jangan tanyakan mengapa dadamu dilanda dingin bertalu-talu

sebab masa lalu jantungmu ditulis dari rusuk-sepi-adam

yang terlelap di tepi aliran rindunya sendiri

Alusi biblikal tentang kisah penciptaan menjadi latar yang memperkuat puisi ini. Dengan gaya narasi dan sisipan aliterasi, kita seolah mendengarkan penyair menyanyikan kesepiannya.

Kita menebak, di balik sunyi yang disingkap itu ada akumulasi bunyi. Rumusan rasa sakit yang ditransformasi menjadi letupan kata-kata. Tuhan dihadirkan di awal puisi sebagai tokoh yang menyukai dan menulis puisi.

Tuhan menulis dalam tubuh manusia. Organ-organ tubuh bermunculan: alismu, ubun-ubunmu, matamu, kepalamu, dadamu, jantungmu. Di sini ada “inkarnasi” bentuk lain: Tuhan menjadi penyair untuk menuliskan sabda-Nya. Sabda menjadi manusia. Di sini ada transformasi subjek Tuhan menjadi penyair. Secara simultan, pengalaman yang profan pun menjadi pengalaman yang sakral.

Di sisi lain, penampakkan tubuh dalam puisi ini menunjukkan kecenderungan erotisme penyair. Bahwa pada alismu, pernah ada yang menabung rasa di lekukannya, pada ubun-ubunmu pernah ada ciuman yang mendarat, pada matamu, pernah ada mata lain bercermin, pada kepalamu, ada seseorang yang pernah menjadikannya rumah, pada dadamu, pernah ada degup yang gempa, pada jantungmu, pernah ada denyut yang terhenti karena kehilangan.

Karena itu, lewat penghadiran tubuh, penyair memberitahu kita bahwa luka, pertama-tama, selalu muncul dari sentuhan fisik dengan “sesuatu yang melukai” sebelum akhirnya melayang-layang di awang-awang kalbu. Karena itu, pemaknaan ini kontras dengan pemaknaan yang pertama.

Pemaknaan tersebut hendak mengatakan bahwa bukan Tuhan yang menjadi penyair, tetapi penyairlah yang meminjam otoritas Tuhan untuk menulis ingatannya sendiri. Siasat tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa ingatan penyair sangatlah dalam dan kompleks.

Kedalaman ingatan itu terkonfirmasi lewat penggunaan subjek aku (-ku) dan kamu (-mu) dalam mendaraskan puisi-puisinya. Hal ini menjadi metode penjarakkan penyair dengan situasi dalam puisi sekaligus penjarakkan dengan pembaca.

Derry tidak serta merta terjebak dalam situasi puisi, tetapi menjadikannya jebakan-jebakan reflektif bagi pembaca. Dengan demikian, Derry meredam ambisi untuk menceritakan dirinya dalam puisi sembari memberi ruang refleksi bagi pembaca. Inilah yang kita sebut penjarakkan.

Dan ingatan, bagi Derry, menjadi jembatan yang selalu menghubungkan “-ku dan -mu” sekaligus memberi penegasan bahwa rindu yang melukai dan cinta yang menikam selalu menjadi teritori penderitaan masing-masing kita. Sebagaimana yang dimunculkan dalam salah satu puisinya, “Tubuhmu Waktu”, Derry menulis:

Apa pun yang dipijakinya membekaskan puisi paling oranye di pori-pori ingatanku

Ketika ia berhenti berlangkah, kudapati diriku seumpama desa paling sepi

Dan jari-jemarimu adalah bibir kota yang harus kuciumi seriuh-riuhnya rindu

Dalam situasi seriuh-riuhnya rindu, puisi-puisi Derry menjadi formasi kesepian yang memberi ruang bagi hal-hal yang meraung dalam diri penyair.

Formasi kesepian yang dipermainkan letupan-letupan metafora dan secara simultan memberi lanskap pemaknaan bagi puisi-puisinya. Ada sibakan rindu yang nyaris obsesif dalam puisi-puisinya, dan terasa ada yang paradoks.

Keambigiuan itu membuat puisi-puisi Derry menjadi warna-warni ingatan yang rahasia. Puisi-puisi Derry melicinkan batas antara cinta penyair kepada perempuan dan cinta kepada Tuhan yang sungguh demikian kabur. Karena itu, ingatan yang pusparagam tersebut terframing dalam dua matra besar: erotika dan religiositas, termasuk persentuhan antara keduanya. Lebih dari itu, puisi Derry adalah doa dan luka yang khusyuk-ngaga dalam benak pembaca.

Akhirnya, mencintai ingatan serupa menjalani hidup yang paradoks. Menjadi manusia yang pulang di saat manusia lainnya beramai-ramai pergi.

Manusia membawa dirinya pada kesepian-kesepian yang kompleks.

Kita terluka di dalam dan di luar puisi. Tetapi, ingatan selalu lebih luas dari luka. Dan puisi, pikir kita, adalah ingatan yang pusparagam.

 

Oleh: Dunstan Maunu Obe 

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari Dunstan Maunu Obe 


Spread the love