Spread the love

Bulan Juli 2021 lalu, grup WA keluarga kami digemparkan dengan kabar salah seorang anggota keluarga, sebut saja namanya Tanta Mersi, mengeluh nyeri dan ada benjolan pada payudara kanan, kemudian berdasarkan rekomendasi dokter di salah satu RS di Labuan Bajo, ia harus dirujuk ke Kupang untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

Karena dalam grup WA keluarga itu hanya saya yang berdomisili di Kupang, saya langsung mendukung rekomendasi dokter tersebut. “Datang ke Kupang saja, nanti kami yang urus di sini,” kata saya saat itu.

Memang serba kebetulan. Berapa bulan sebelumnya, tepatnya tanggal 9 Februari 2021, tulisan saya berjudul “Kanker: Pilih Terapi Medis atau Alternatif? terbit di rubrik Pojok Sehat arnolduswea.com ini.

Tulisan tersebut pada intinya ingin mengajak masyarakat agar, kalau ditemukan adanya benjolan atau tumor yang seharusnya tidak ada pada kondisi normal, maka sebaiknya cari pertolongan ke fasilitas kesehatan resmi atau orang bilang “pengobatan medis.”

Maka ketika Tanta Mersi sekeluarga memutuskan cari pertolongan medis sampai ke Kupang, saya sangat mendukungnya. Tanta Mersi akhirnya terbang dari Manggarai Barat ke Kota Kupang, ditemani salah satu anggota keluarga lain—sebut saja namanya Mama Deti.

Setiba di Kupang, saya menelusuri lebih jauh riwayat sakitnya. Ternyata benjolan di payudara itu sudah mulai terasa sejak tahun 2016 silam. Tapi karena awalnya masih kecil dan belum terasa nyeri atau mengganggu, Tanta Mersi diamkan saja. Dia menganggap itu bukan hal yang serius, meski sebenarnya dia juga mengaku kadang-kadang cemas.

Seiring berjalannya waktu, Tanta Mersi mulai terbuka dengan orang-orang terdekat. Dan sebagian besar dari mereka menyarankan berbagai jenis terapi alternatif, tapi tampaknya semua sia-sia. Hingga yang terakhir dia mendapatkan pengobatan alternatif berupa adonan berwarna putih yang dioleskan pada payudara.

“Aduh, panas sekali rasanya,” kenangnya saat itu. “Malah bikin tambah sakit.”

Mungkin gara-gara pengobatan alternatif itu juga, warna kulih di sekitar areola payudara agak menghitam. Kemudian di situ timbul sebuah lubang kecil seperti terowongan. Cairan bercampur darah keluar dari situ, dan itu membuat Tanta Mersi makin gelisah dan memutuskan kembali ke pengobatan medis.

***

Kami pun menemani Tanta Mersi untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes, Kupang. Sebelumnya, RS di Labuan Bajo tidak bisa memastikan apakah benjolan itu bersifat jinak atau ganas? Itulah alasan utama sehingga perlu dirujuk ke Kupang.

Sebagaimana kita ketahui, kalau tumor atau benjolan itu berisi sel jinak, berarti relatif lebih aman. Tapi kalau selnya bersifat ganas, itulah yang disebut kanker, penanganannya lebih lama dan lebih rumit.

Selama mengikuti proses pemeriksaan yang mendebarkan itu, saya juga baru menyadari ternyata pusat pengobatan kanker (kemoterapi) di NTT baru ada di rumah sakit rujukan tertinggi di NTT tersebut. Semua pasien kanker dari seluruh daerah di NTT yang membutuhkan kemoterapi, harus  mengantre di sana.

Perihal lamanya antre di rumah sakit, apalagi di RS milik pemerintah, tidak perlu saya deskripsikan lebih detail karena sudah menjadi pengetahuan umum. Pemeriksaan itu juga tidak hanya selesai satu hari; kalau tidak salah hampir dua minggu.

Setelah kunjungan ketiga baru ada rencana operasi. Dokter menjelaskan, pembedahan itu nantinya bertujuan untuk mengangkat benjolan sekaligus membersihkan nanah yang selalu keluar selama ini. Selain itu, jaringan yang diangkat itu akan diperiksa di laboratorium Patologi Anatomi (PA), untuk mengetahui apakah selnya jinak atau ganas.

Kami mulai lega, tapi untuk menuju tahap operasi tersebut, kami harus melewati berbagai pemeriksaan penunjang terlebih dahulu. Hari selanjutnya ikut pemeriksaan darah. Hari berikutnya foto thoraks. Berikutnya lagi harus pemeriksaan darah ulang, ada bagian yang lupa. Terus hari lain konsultasi spesialis ini, hari lain lagi konsultasi dengan spesialis itu, dst.

Saya perhatikan, Tanta Mersi mulai lelah dengan proses yang panjang itu, apalagi tanpa ada kepastian kapan dioperasi. Ditambah waktu itu ada rumor, tindakan operasi akan dikurangi gara-gara COVID-19. Tanta Mersi sempat putus asa dan berencana pulang ke Manggarai Barat meski belum mencapai tujuan utama.

Tanta Mersi makin bimbang, apalagi mendengar banyak masukan dari keluarga atau orang-orang terdekat. Saya tidak menyangka, Mama Deti yang menemani Tanta Mersi dari Manggarai ke Kupang ternyata tidak setuju dengan rencana operasi tersebut. Entah dia mendapat informasi dari mana, tapi Mama Deti sangat yakin kalau penderita tumor yang dioperasi akan mengalami nasib buruk.

“Jangan sampai kena piso,” katanya waktu itu. “Kalau sudah kena piso, bahaya itu…”

Piso yang dimaksud adalah pisau bedah. Mama Deti meyakinkan kami dengan berbagai contoh kasus yang dia ketahui. Demi sopan-santun, saya tidak berkomentar banyak. Kami lebih banyak mendengarkan saat itu.

Keesokan harinya saya tetap meyakinkan Tanta Mersi untuk melanjutkan proses pemeriksaan di RS. Untungnya dia bersedia. Sepanjang perjalanan, sebagai tenaga kesehatan, saya makin meyakinkan Tanta Mersi kalau operasi tumor itu tidak seseram seperti rumor yang sempat kami dengar.

Sampai di RS, ketika kami beristirahat sejenak di salah satu kantin, kami berbincang santai dengan salah satu pengunjung. Ternyata dia menderita kanker, tapi sangat bersemangat. Ternyata dia sudah lama berobat di sana, dan saat itu dia memberi kesaksian bahwa tindakan operasi dan kemoterapi yang dia jalani selama ini membuat kondisinya jadi lebih baik.

Tanta Mersi makin termotivasi, dan saya ikut lega. Singkat cerita, Tanta Mersi akhirnya bisa menjalani operasi. Sebulan kemudian, hasil pemeriksaan jaringan tumornya menunjukkan kalau isinya berupa sel jinak.

Ketika tulisan ini dibuat, Tanta Mersi semakin sehat. Tidak ada lagi luka atau nanah yang merembes di payudara. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau tumor itu dibiarkan? Anda tahu, tumor walaupun awalnya jinak, bisa saja berubah ganas kalau dibiarkan.

Menutupi Kesenjangan Perawatan Kanker

Cerita pengalaman Tanta Mersi di atas makin menegaskan pada kita tentang fenomena penanganan tumor hingga berkembang jadi kanker di masyarakat. Semua orang mungkin sudah tahu, tumor yang awalnya kecil, pada akhirnya bisa bertumbuh besar dan menimbulkan nyeri yang berkepanjangan.

Tapi anehnya, tidak semua orang mau bertindak cepat mencari pertolongan. Keberhasilan penanganan tumor atau kanker, sangat bergantung dari tingkat keparahan (stadium) dan cara penanganan yang dipilih. Tindakan operasi merupakan salah satu yang direkomendasikan, baik untuk tumor jinak maupun ganas.

Sampai saat ini, kesenjangan antara harapan dan kenyataan masih menganga lebar. Pada umumnya penderita tumor masih lebih dominan menggunakan terapi alternatif. Hal itu membuat mereka makin lambat mendapatkan pengobatan medis yang tepat. Kalau gejalanya makin buruk, barulah timbul penyesalan dan kembali ke pengobatan medis.

Tanggal 4 Februari 2022 lalu, kita merayakan Hari Kanker Sedunia. Tema yang diusung kali ini adalah: “Close The Care Gap.” Kesejangan perawatan atau penanganan kanker ini memang masih parah, kita perlu sama-sama berjuang.

Pertama, kita perlu memastikan informasi yang kita ceritakan atau sebarkan ke orang lain itu merupakan fakta yang sahih. Anda tahu, saat ini hoaks berkenlindan dengan kepentingan penjual obat atau oknum yang membuka praktik pengobatan bodong demi keuntungan finansial semata.

Kedua, kita perlu mendorong pemerintah untuk terus menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang, selain memadai dan bermutu baik, memberikan pelayanan yang cepat, tepar, dan bisa dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Jika tidak, kita akan selalu mendengar kisah pilu yang sama tentang tumor dan/atau kanker.


Oleh: Saverinus Suhardin
 

Baca juga tulisan lain di kolom Pojok Sehat atau tulisan menarik lainnya dari Saverinus Suhardin

 

 

 

 


Spread the love