Spread the love

Judul: Subuh
Penulis: Selahattin Demirtas (Penerjemah: Mehmet Hassan)
Tebal: 118 halaman
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: Maret, 2020
ISBN: 975979-126097-8

***

Sebuah polemik bergulir di media sosial mengenai keterlibatan perempuan dalam nominasi penghargaan sastra, yakni nominasi Penghargaan Sastra 2020 Badan Bahasa.

Febi Indirani, penulis kumpulan cerita Bukan Perawan Maria, menulis di situs magdalene.co, bahwa “… Nominasi penghargaan sastra 2020 dari Badan Bahasa Kemendikbud dipenuhi penulis laki-laki.”

Hal itu juga untuk menanggapi pernyataan Linda Christanty, penulis dan jurnalis, sebagai salah satu dewan juri di akun media sosialnya bahwa, “Belum ada karya penulis perempuan yang lolos atau memenuhi kriteria tahun ini.”

Padahal, menurut Febi, “Ini mengherankan, bahkan sulit dipercaya karena dalam kurun waktu lima tahun terakhir, jumlah perempuan penulis bertambah banyak.

Ketimpangan terhadap peran dan posisi perempuan yang terjadi di dunia sastra, sebut saja seperti contoh di atas, adalah satu dari banyak sekali gejala pengesampingan posisi perempuan yang terjadi secara sistematis dan melembaga.

Di Indonesia, suara perempuan yang mendapat kekerasan seksual seringkali terbungkam. Selain karena beban mental korban yang takut bersuara, tetapi juga karena dominasi patriarki yang kuat.

Pelaku pemerkosaan sering kali melenggang bebas tanpa sanksi sosial dari masyarakat. Berbeda dengan perempuan yang tertindih oleh dominasi patriarki yang telah membudaya, sehingga membuatnya trauma dalam bergaul dan berinteraksi dengan lawan jenis.

Perempuan sering kali terabaikan. Padahal berhadapan dengan kondisi ketidakadilan, perempuan adalah suara yang paling keras melawan ketidakadilan. Sebut saja, Suciwati Munir, istri dari pejuang HAM Munir, yang tak henti-hentinya bersuara agar kasus kematian Munir benar-benar dituntaskan.

Di Nusa Tenggara Timur, kita menemukan bahwa suara perempuan yang paling keras berteriak. Dalam perlawanan masyarakat adat di Pubabu misalnya.

Perempuan adalah simbol perlawanan. Mereka melawan dengan segigih-gigihnya diri mereka, dengan sehabis-habisnya dalam melawan petugas keamanan yang mengepung mereka.

Permasalah perempuan adalah permasalahan universal. Di tengah kondisi ketimpangan pada perempuan inilah, buku kumpulan cerita berjudul Subuh karya Selahattin Demirtas ini hadir.

Selahattin Demirtas, lahir pada 10 April 1973, adalah pemimpin Partai Demokratik Rakyat (HDP) yang dipenjara karena persoalan politik pada masa pemerintahan Presiden Tayyip Erdogan. Bagi Erdogan, Demirtas adalah suara damai orang Turki, dan karena itu ia adalah ancaman besar bagi pemerintahannya.

Baca Juga: Kritik Atas Patriarkat yang Terjebak dalam Praktik Kolonialisme Indonesia

Sastrawan dan politikus progresif Turki ini menyoroti persoalan ketidakadilan secara umum, terutama stereotip pada perempuan yang keliru lewat sejumlah cerita yang terkumpul dalam kumpulan ceritanya ini. (Sementara politikus Indonesia, kita tahu, jarang menulis tentang keberpihakan pada perempuan, alih-alih menulis karya sastra yang baik.)

Karya Selahattin Demirtas ini bukan traktat politik, tetapi kumpulan cerita yang menarik tentang kehidupan sehari-hari, dari orang-orang biasa, tapi memiliki nilai refleksi yang amat dalam.

Selahattin Demirtas dipengaruhi oleh Sevgi Soysal, yang menulis dengan humor dan keprihatinan yang besar tentang kehidupan dalam penjara politik perempuan, dan juga dari Yasar Kemal, penulis besar epik modern Turki, yang menghabiskan seluruh hidupnya bagi mereka yang tertindas.

Karena itu, buku ini menarik karena penguasaan penulis atas tema yang diangkatnya dan juga kemampuan tekniknya menulisnya yang mumpuni.

Buku ini menjadi menarik sebab ditulis oleh laki-laki Turki dari dalam penjara. Ia meraih penghargaan Montluc Resistance and Liberty Award 2019 lewat karya fiksi pertamanya ini.

Karya Selahattin Demirtas dalam buku ini diterjemahkan langsung dari bahasa Turki oleh Mehmet Hasan. Penerjemahan ini menempatkan Selahattin Demirtas dari beberapa penulis Turki yang karya-karyanya telah lebih dahulu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti Orhan Pamuk dan Nazim Hikmet, seorang penyair besar Turki.

Cerita-cerita Selahattin Demirtas menunjukkan pentingnya fiksi dalam hal ini sastra, untuk mengecam kekerasan yang dilanggengkan oleh kekuasaan dan budaya patriarki.

Kisah-kisah Demirtas seolah menyadarkan kita akan kondisi perempuan sekarang ini yang tertindas dan berupaya menggonggong kemapanan kita yang nyaman berhadapan dengan kondisi itu.

Cerita-cerita yang ia tulis cenderung tragis dan pendek–jika ukurannya adalah cerpen koran sekarang ini– namun dengan keterampilannya, ia mampu memadukan humor dan aneka gaya cerita untuk membuat tema yang kompleks menjadi ringan dan menarik. Kekelaman penjara dan tirani kekuasaan, tak membuat semangat menulisnya pudar dan tak mampu meredam suaranya melawan ketidakadilan.Resesni Buku Selahattin DemirtasKisah-kisah dalam buku ini berlatar belakang Turki, negara yang diperjuangkan seutuhnya oleh Selahattin Demirtas baik melalui politik dan sastra.

Namun, lebih luas dari itu, cerita, sebagaimana sastra punya medan penafsiran yang lebih luas dari itu. Sehingga kisah yang agaknya berjarak dari kehidupan kita, tetapi sebenarnya memiliki nilai yang universal.

Cerita pembuka adalah cerita yang memakai gaya fabel yang berjudul “Laki-laki dalam Jiwa Kami.” Selahattin Demirtas mengisahkan sepasang burung gereja yang sedang menghadapi tekanan karena dituduh membangun sarang tanpa izin.

Tapi berhadapan dengan kondisi itu, justru perempuan yang paling getol melawan tirani itu, sementara lelaki bertindak layaknya pengecut.

Cerita ini menyoroti persoalan perempuan dalam relasi kuasa lelaki dan negara. Perempuan hendaknya mendapat posisi yang utama sebab perempuan itu pun sebenarnya kokoh dan kuat.

Baca Juga: Patriarki, Kenikmatan Visual Adegan Seks dan Batas Aristokrasi

Sosok tokoh ini adalah tokoh ideal yang mampu menghancurkan konsep patriarki. Perempuan pun memiliki hak, martabat dan derajat yang sama dengan lelaki, bahkan tak jarang dengan beban hidup yang berlipat ganda. Demirtas menunjukkan kepicikan dan kelicikan jiwa laki-laki. Namun, dalam keseharian, malah suara perempuan-perempuan pemberani inilah yang ingin dibungkam.

Cerita-cerita yang menarik, dengan teknik bercerita yang indah dan humor yang cerdas, bisa kita temui dalam kisah-kisah lainnya pula. Cerita “Surat Untuk Petugas Pembaca Surat di Penjara” dan cerita “Gadis Laut” menggambarkan kedalaman relasi dan afeksi antar tokoh berhadapan dengan maut. Cerita “Membikin Perhitungan Bersama Ibu” dan cerita “Ah, Asuman” adalah cerita jenaka dan juga emosional yang tetap berkesan lama meski telah habis dibaca.

Selain tema yang begitu penting diangkat, teknik menulis Selahattin Demirtas dari dalam penjara pun patut mendapat perhatian. Ia menampilkan emosi tokoh dengan sewajarnya, tanpa melebih-lebihkan.

Peristiwa yang mempesona ia ceritakan apa adanya, dan menyisakan ruang bagi pembaca untuk mengambil sisi tersendiri untuk menafsir.

Tak semua kisah ditampilkan dengan melebih-lebihkan peran perempuan. Dalam cerita “Subuh” atau Seher yang menjadi judul buku ini, Selahattin Demirtas menampilkan ketidakberdayaan perempuan yang amat gamblang berhadapan dengan patriarki, berhadapan dengan budaya, berhadapan dengan negara. Yang tersisa dari diri perempuan hanya kepasrahan.

Perempuan terimpit antara keinginan untuk memperjuangkan diri, dan dominasi laki laki (negara) yang begitu kuat. Betapa hal ini kelihatan sederhana, tetapi akan terus berlangsung dan terjadi di sekitar kita.

Perempuan seringkali menjadi warga kelas dua dan hanya mengurusi perkara domestik. Padahal semua manusia, apa pun jenis kelamin, suku, ras, agama, dan latar belakangnya, sama-sama berhak mendapat keadilan dan dihargai.

Buku ini menyuarakan hal penting dan istimewa itu. Selamat membaca!

Maria Magdalena Riti Nele

 

Oleh: Maria Magdalena Riti Nele

 

 

Baca juga tulisan lain di kolom Resensi atau tulisan menarik lainnya dari Maria Magdalena Riti Nele

 


Spread the love